Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pengungkapan & Hukuman
Suara derap langkah kaki Ji Zhen menghantam lantai marmer Aula Utama dengan mantap. Setiap ketukan sepatunya seakan memacu detak jantung para murid yang berkerumun di sepanjang selasar. Suasana di pusat Sekte Qingyun pagi ini terasa bermuatan listrik setelah rumor tentang sidang darurat telah menyebar seperti api yang ditiup angin kencang, membawa aroma kehancuran bagi mereka yang selama ini bertahta di atas kelicikan.
Di balik layar, Ji Zhen dan Lian Shu telah menenun jaring yang sempurna. Berkas-berkas berisi catatan korupsi, bukti penggelapan ramuan alkimia tingkat tinggi, hingga surat rahasia mengenai pesanan racun Debu Meridian Ungu telah dikirimkan secara anonim ke meja Patriark Fei Wang semalam. Lian Shu menggunakan jaringan informannya untuk memastikan tidak ada celah bagi keluarga Ma untuk berkelit. Bagi Ji Zhen, ini bukan sekedar soal keadilan, melainkan pembersihan jalur menuju puncak yang selama ini tersumbat oleh sampah-sampah birokrasi.
Tak berselang lama, Aula Utama kini telah dipenuhi oleh ratusan pasang mata. Di podium tertinggi, Patriark Fei Wang duduk dengan wajah sekeras batu karang, sementara di bawahnya, Tetua Ma berdiri dengan keringat dingin yang membasahi dahi bersama putranya, Ma Yingjie yang tampak tidak bertenaga akibat racun dan mimpi buruk duel terakhirnya dengan Ji Zhen .
“Tetua Ma,” ketegasan itu keluar dari bibir Patriark Fei Wang setelah sekian lama bermain-main dengan jenggotnya. “Laporan yang kuterima sangatlah mengerikan. Kita mulai dari penggelapan ramuan alkimia selama lima tahun, sabotase pilar penguji qi milik murid luar, dan yang paling menjijikkan adalah penggunaan racun terlarang untuk melumpuhkan pesaing putramu. Apa penjelasanmu?”
Tetua Ma sampai terbelalak, wajahnya memerah padam sambil menggeleng. “Patriark, ini fitnah! Semua bukti itu palsu! Justru putraku yang menjadi korban! Tubuhnya membeku dan qi-nya berantakan setelah turnamen! Jelas ada orang lain yang meracuninya untuk menjatuhkan keluarga kami!”
Tanpa basa-basi Patriark Fei Wang melemparkan gulungan kertas bertanda tangan Tetua Ma ke lantai. “Pedagang pasar gelap ‘Si Tangan Besi’ sudah ditangkap tadi malam. Dia mengakui semuanya. Masih mau membantah?”
Lantas saja wajah Tetua Ma mendadak pucat pasi. Seluruh dalihnya musnah seketika.
“Karena pengkhianatanmu terhadap prinsip kemurnian sekte,” Patriark bangkit berdiri, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru aula. “Mulai detik ini, jabatanmu dicabut. Seluruh fondasi kultivasimu akan dihancurkan, dan kau akan diusir dari Sekte Qingyun selamanya. Tidak ada ampun bagi tikus yang memakan lumbungnya sendiri!”
Baru saja hebdak membuka mulutnya untuk kembali menyanggah, dua pengawal senior lebih dulu maju dan memukul titik vital di punggung Tetua Ma. Jeritan memilukan terdengar saat energi qi yang dikumpulkannya selama puluhan tahun meledak keluar, meninggalkan tubuhnya lemas tanpa tenaga. Adapun Ma Yingjie melihat pemandangan itu dengan mata melotot, sadar bahwa tahta ayahnya telah porak-poranda.
Di tengah kekacauan itu, Yang Huiqing melangkah maju. Ia melepaskan lencana keluarga Ma yang tersemat di bajunya dan melemparkannya ke arah Ma Yingjie.
“Aku selesai denganmu, Ma Yingjie,” ucap Yang Huiqing dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang. “Aku tidak akan lagi menjadi bagian dari kebusukanmu. Kau ternyata jauh lebih kejam dan egois daripada yang pernah kubayangkan.”
Ma Yingjie, yang sudah hancur, meledak dalam amarah yang tidak berdaya. “Kau… dasar jalang! Kau meninggalkan aku saat aku jatuh?! Kau pikir kau suci?!”
Ma Yingjie terhuyung-huyung mendekat, menunjuk-nunjuk dengan telunjuk. “Kalian lihat dia?! Dia seekor ular! Dia pelacur murahan yang hanya mencari tempat bersandar paling kuat!”
Dari sudut lain, Ji Zhen melangkah dengan tenang dan berdiri tepat di belakang Yang Huiqing. Kehadirannya yang dominan, ditambah aura dingin yang samar membuat Ma Yingjie tersedak kata-katanya sendiri.
“Hati-hati dengan mulutmu, Sampah Abadi,” tegas Ji Zhen kepada pemuda itu sebelum menatap massa yang mulai berbisik-bisik menghina Yang Huiqing. “Selama ini Yang Huiqing tidak bersalah. Dia terancam oleh kekuatan keluarga Ma, dipaksa meninggalkan aku demi keselamatan jiwanya sendiri. Namun, aslinya dia selalu mencintaiku. Itulah alasan mengapa dia berani kembali dan membantuku membongkar kebusukan keluarga Ma dari dalam.”
Kebohongan yang disusun Ji Zhen begitu rapi sehingga orang-orang mulai berubah pikiran. Mereka menatap Ma Yingjie dengan jijik. “Jadi selama ini keluarga Ma menggunakan ancaman untuk mendapatkan wanita?” bisik salah satu murid.
“Sampah busuk!” teriak seorang murid luar dari barisan belakang, melemparkan sebuah batu kecil yang mengenai dahi Ma Yingjie.
“Pergi dari sini! Bawa ayahmu yang korup itu!”
Dalam sekejap, Ma Yingjie dan ayahnya yang sudah tidak berdaya dihujani cemoohan dan lemparan benda-benda kecil oleh massa yang marah. Mereka yang dulu memuja Ma Yingjie kini menjadi yang paling keras m Sementara Ji Zhen berdiri diam, menyaksikan pemandangan itu dengan senyuman lebar yang tersembunyi. Kepuasan ini terasa jauh lebih nikmat daripada sekadar kemenangan fisik, ia telah berhasil menghancurkan nama, martabat, dan masa depan musuhnya hingga ke akar-akarnya.
Setelah aula mulai sepi dan massa bubar dengan amarah yang masih tersisa, seorang pengawal mendekati Ji Zhen. “Saudara Ji Zhen, Patriark ingin menemuimu secara pribadi di ruang kerjanya.”
Tanpa pikir panjang, Ji Zhen segera melangkah menuju ruang pribadi Patriark. Di sana, Fei Wang berdiri menghadap jendela, memandangi puncak gunung Bingfeng yang bersalju.
“Aku salah menilaimu,” ucap Patriark tanpa berbalik. “Aku selalu berpikir bakat dari lahir adalah segalanya. Tapi bakatmu bukan berasal dari garis keturunan atau takdir yang diberikan. Itu berasal dari kegigihan yang tak pernah kulihat sebelumnya selama aku memimpin sekte ini. Kau adalah naga yang lahir dari lumpur.”
Ji Zhen berdiri dengan punggung tegak, matanya berkilat penuh ambisi. Ia tidak merasa perlu berpura-pura rendah hati di depan pria yang dulu mengabaikannya.
“Terima kasih atas pengakuanmu, Patriark,” jawab Ji Zhen penuh keyakinan. “Tapi aku belum selesai. Sekte Qingyun hanyalah tempat singgah bagiku. Kekuatan sejati ada di luar sana, dan aku akan mengejarnya sampai ke puncak dunia.”
Mendengarnya, Patriark Fei Wang pun berbalik, menatap Ji Zhen dengan tatapan yang sulit diartikan, antara bangga dan sedikit rasa takut akan potensi pemuda di depannya. Sedangkan Ji Zhen tahu, mulai hari ini, tidak ada lagi yang bisa menghalangi langkahnya.