Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *17
Rin terus memperhatikan Bayu secara sembunyi-sembunyi. Mulai dari makan malam, hingga saat bersiap-siap untuk tidur. Rin terus memperhatikannya setiap punya kesempatan.
Bayu menyadari akan hal tersebut. Namun, dia membiarkan Rin melakukan apa yang wanita itu inginkan. Bukannya tidak peka, bukan juga tidak ingin perduli. Hanya saja, Bayu ingin membiarkan Rin melakukan apa yang dia suka dengan leluasa.
"Mm ... Bay."
"Iya?"
"Ada yang ingin kamu bicarakan padaku tidak?"
Pertanyaan Rin langsung mengalihkan fokus Bayu seketika. Karena seharusnya, yang bertanya seperti itu adalah dirinya, bukan Rin.
"Ee ... rasanya ... tidak. Tapi, jika ada yang ingin kamu tanyakan, maka aku akan menjawabnya dengan sejujur mungkin."
"Aa ... baiklah. Mm ... Bayu, bagaimana pendapat mu sekarang tentang kita?"
"Tentang kita? Maksud kamu?"
Rin tidak langsung menjawab. Dia perbaiki posisi duduknya di atas ranjang tersebut supaya benar-benar berhadapan dengan Bayu.
Pandangan mata Bayu yang teduh langsung bertabrakan dengan mata Rin yang saat ini sudah mulai punya banyak cahaya.
Ada harapan dari manik mata indah tersebut. Harapan yang dulu tidak pernah sedikitpun terlihat. Karena sekarang, Rin bukan hanya sudah bisa berdamai dengan hidup yang sedang ia jalani, tapi juga sudah punya harapan yang nyata untuk masa depan yang akan ia tempuh dari hidup yang dulunya dia jalani dengan sangat terpaksa.
"Bayu. Mm ... pernikahan kita awalnya adalah pernikahan karena terpaksa. Aku ingin tahu, apakah saat ini, kamu juga masih terpaksa dalam menjalani hidup ini, Bayu?"
Wajah Bayu serius. Tapi pandangannya tidak berubah sedikitpun. Tetap tenang, teduh, dan penuh dengan kehangatan. Sesaat terdiam, akhirnya Bayu berucap. "Sejak awal, aku tidak pernah menjalani hidup dengan mu dengan terpaksa, Rin."
"Ma-- maksudnya?"
"Pernikahan ini memang karena perjodohan. Tapi aku tidak merasa terpaksa saat menjalaninya. Aku hanya berpikir, bahwa inilah takdir yang Allah berikan untukku. Dan aku merasa nyaman untuk menjalaninya."
"A-- aku ... masih tidak memahami apa yang kamu maksudkan." Sejujurnya, bukan Rin tidak paham. Hanya saja, ada kata lain yang ingin dia dengar dari Bayu. Bukan sekedar kata takdir yang Bayu terima.
Namun, untuk ke batas kata itu, mungkin masih butuh banyak waktu. Karena perasaan, tidak datang dengan cara yang singkat. Butuh banyak waktu, butuh banyak cara agar bisa dirasakan oleh hati.
Bayu mengalihkan pandangan dari Rin.
"Singkatnya, aku tidak merasa terpaksa, Rin. Aku senang. Hanya saja, terkadang, aku juga punya rasa takut. Tapi aku siap jika suatu hari nanti, rasa takut itu benar-benar harus ku hadapi."
"Takut? Karena apa?"
"Karena hidup yang sedang aku jalani berubah."
"Berubah seperti apa?"
"Hm? Iya ... seperti, jika suatu hari nanti kamu memilih untuk pergi, aku siap untuk melepaskannya. Karena aku tidak ingin memaksamu untuk tetap tinggal di sini. Walau sejujurnya, hal itu cukup menakutkan buat aku, Rin."
Rin menatap wajah Bayu semakin lekat. "Kamu ... takut aku pergi?"
"Tentu saja. Karena aku sadar, ini bukan tempatmu, Rin. Kamu datang karena terpaksa. Kamu tidak menginginkan hidup yang sedang kamu jalani saat ini. Karena itu, aku siap jika suatu hari kamu ingin pergi. Walau membayangkannya saja membuat aku merasa takut. Tapi aku tidak akan bisa menahannya. Jika kamu ingin pergi, maka pergilah. Karena aku sadar, kebahagiaan mu adalah hal yang lebih penting dari keegoisan yang aku miliki."
Perkataan Bayu membuat Rin tidak punya kata untuk membalasnya. Hatinya terasa sedikit punya perbedaan sekarang. Perbedaan yang sulit untuk ia jelaskan.
Percakapan itupun berakhir di sana tanpa ada kata penutup yang jelas. Malam itu, mereka tidur dengan jarak yang sudah semakin dekat. Meskipun begitu, perlu banyak waktu untuk menyatukan dua anak manusia agar bisa saling memiliki, bukan? Jadi, jalan yang akan mereka tempuh masih sangat panjang.
...
Setelah obrolan tadi malam, semua berjalan kembali seperti semula. Hari-hari berlalu pun sama seperti biasanya. Walau saat ini agak sedikit berbeda, karena kemunculan Mela yang sering mencari cara agar bisa dekat dengan Bayu, tapi seperti sebelumnya, dunia Bayu tetap tidak bisa untuk wanita itu jejaki. Karena sepertinya, dunia Bayu hanya ada Rin di dalamnya.
Begitulah hari-hari tenang yamg Rin jalani hingga beberapa hari ke depan. Tapi ketenangan itu akhirnya rusak gara-gara jaringan yang membawa pesan singkat dari Mila. Pesan yang tidak ingin Rin lihat sedikitpun.
*Kak Rin. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud buat kak Rin dalam masalah. Kak, jangan marah padaku.*
Pesan singkat yang membuat terdiam sangat lama. Namun, tangannya tidak berniat untuk membalas pesan itu sedikitpun. Rin hanya membaca dua kali, kemudian menyingkirkan ponselnya kembali.
"Heh ... maaf." Rin berucap singkat.
Kata maaf terdengar lucu di telinga Rin. Bagaimana tidak? Adik yang telah merusak mimpi indah itu datang dengan kata maaf. Kerusakan yang telah ia timbulkan itu mana bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf.
Rin pun memilih untuk mengabaikan pesan dari Mila. Tapi, ternyata, itu tidak cukup. Beberapa hari kemudian, pesan dari Mila datang lagi. Tapi kali ini, tidak hanya Mila yang mengirim pesan, mamanya juga sama.
*Rin. Jangan marah, Nak. Mama punya kabar untukmu. Besok, Mila akan menikah dengan Marvel.*
Tangan Rin langsung bergetar hebat. Matanya seketika berkaca-kaca. Dia tidak ingin menangis. Tapi, air mata kenapa jatuh? Dia sudah bisa berdamai dengan keadaan. Menerima takdir yang telah datang padanya. Tapi, kenapa hatinya masih harus merasakan perasaan sakit, sesakit saat dunianya hancur untuk pertama kalinya.
Mata menangis, tapi bibir tertawa. Satu tangan menyentuh dada, satu tangan lagi mencengkram erat ponsel yang ada di tangan. Ternyata, terlalu sakit rasanya. Sungguh, tawa dalam terluka itu rasanya sangat-sangat tidak enak.
"Rin."
Rin langsung menatap lurus ke pintu kamar. Pria itu kini berdiri tegak di depannya. Rin langsung bergegas mendekat. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung menghambur ke dalam pelukan Bayu.
"Bayu .... "
Rin tergugu sambil memeluk erat tubuh suaminya. Sementara si suami, langsung membelai punggung Rin dengan lembut. Tidak ada pertanyaan yang Bayu lontarkan. Dia hanya membelai punggung itu dengan penuh kasih.
Beberapa saat waktu berlalu, hanya terdengar isak tangis dari Rin. Hingga akhirnya, pelukan itu Rin longgarkan. Hanya di longgarkan saja, tidak Rin lepas sama sekali.
Rin mendongak untuk melihat wajah teduh Bayu. "Bay, kenapa aku masih merasakan perasaan sakit? Padahal, aku sudah melepaskannya?"
"Karena kamu manusia, Rin. Walaupun sudah melepaskannya, tetap saja, jika hatimu tidak benar-benar rela, maka rasa sakit itu masih ada."
Rin terus menatap Bayu. Dari sudut matanya, air mata masih jatuh. "Mereka menikah besok. Aku tidak marah. Tapi kenapa aku menangis?"