Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.
Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Dafin duduk dengan gelisah, terus-menerus menatap layar ponselnya yang tetap bungkam setelah ancaman semalam. Namun, ketegangannya memuncak saat pintu ruangan itu terbanting terbuka.
Bramantyo melangkah masuk dengan wajah yang lebih keras daripada semalam. Ia tidak duduk, melainkan langsung berdiri di depan meja kerja Dafin dan menggebrak permukaannya hingga pulpen di atas meja bergetar.
"Jaga sikapmu, Dafin!" desis Bramantyo dengan suara rendah namun penuh penekanan yang mematikan.
Dafin tersentak dan berusaha memperbaiki posisi duduknya. "Apa lagi, Pa? Aku sedang bekerja."
"Bekerja?" Bramantyo tertawa sinis. "Aku baru saja mendapat kabar bahwa kamu membatalkan jemputan Alea pagi ini. Arkan Maheswari itu orang yang sangat sensitif terhadap detail. Kamu pikir dengan bertingkah aneh seperti ini, dia tidak akan curiga?"
Bramantyo mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam mata putranya. "Aku tidak peduli seberapa takutnya kamu sekarang karena ancaman anonim itu. Tapi kalau sampai kamu melakukan kesalahan kecil saja yang membuat pertunangan ini batal, aku sendiri yang akan membuangmu dari keluarga Danuar. Jaga sikapmu, bersikaplah seolah-olah kamu pria paling sempurna di depan mereka!"
"Pa, orang itu tahu tentang kejadian gadis SMA itu!" seru Dafin dengan suara gemetar, tak tahan lagi memendam ketakutannya sendiri.
Bramantyo terdiam sejenak, namun matanya tidak menunjukkan simpati. "Maka dari itu, tutup mulutmu dan tetaplah berada di samping Alea. Selama kamu menjadi menantu Arkan, tidak ada yang berani menyentuhmu. Pahami itu, Dafin! Sekarang, hubungi Alea dan minta maaf."
Setelah ayahnya keluar dengan bantingan pintu yang keras, Dafin mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merasa seperti tikus yang terpojok di tengah perang antara ayahnya dan musuh misterius yang memegang rahasianya.
......................
Setelah pembicaraan mereka di taman tadi, Alea merasa sedikit lebih tenang meski pikirannya masih penuh dengan tanda tanya tentang ayahnya dan juga Kenan. Karena tidak ada kegiatan di kampus dan ia sudah lulus, Alea memutuskan untuk kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Alea berhenti di depan pintu kamarnya, lalu menoleh ke arah Kenan yang masih berdiri tegak di belakangnya dengan sikap waspada.
"Kenan, aku mau tidur siang sebentar. Sebaiknya kamu istirahat saja di paviliun atau di mana pun yang nyaman," ucap Alea dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.
Kenan sedikit membungkukkan tubuhnya. "Saya akan berjaga di depan pintu kamar Anda, Nona. Itu sudah prosedur tetap."
Alea menghela napas, ia sedikit gemas dengan kekakuan pria ini. "Dengar, aku di dalam rumah, ada Papa, ada Mama, dan banyak penjaga lain di luar. Kamu juga butuh istirahat, Kenan. Tadi malam kamu kurang tidur karena menemaniku beli bakso, kan?"
Kenan terdiam sejenak. Ia memang merasa sedikit lelah, tapi tanggung jawabnya selalu menjadi prioritas utama. "Saya baik-baik saja, Nona."
"Ini perintah," sela Alea cepat sebelum Kenan sempat membela diri. "Pergilah istirahat. Aku tidak mau pengawalku pingsan karena kelelahan hanya karena menungguku tidur."
Kenan akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Nona. Jika Anda butuh sesuatu, silakan tekan tombol panggil atau telepon saya. Saya akan kembali dalam satu jam."
Alea tersenyum puas, lalu masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Di dalam kamar, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Namun, alih-alih langsung terlelap, bayangan Kenan yang memakai kaos hitam dan otot lengannya yang terlihat saat pamer di depan cermin tadi malam kembali melintas di pikirannya.
'Aduhh, kenapa wajahnya malah muncul terus sih!' batin Alea sambil menutup wajahnya dengan bantal.
Alea baru saja memejamkan matanya, mencoba mencari ketenangan di tengah kemelut pikirannya, saat ponsel di atas nakas bergetar. Ia mendengus kesal, namun saat melihat nama Dafin di layar, ia menggeser tombol hijau dengan malas.
"Halo?" ucap Alea ketus.
"Alea, Sayang... aku benar-benar minta maaf soal pagi tadi," suara Dafin terdengar sedikit serak dan gelisah di seberang sana.
"Pekerjaan di kantor tiba-tiba menumpuk dan Papa sangat menuntut. Aku benar-benar menyesal tidak bisa datang menjemputmu."
Dafin mencoba memberikan nada termanisnya, berharap Alea akan luluh seperti biasanya.
"Sebagai gantinya, malam ini aku jemput ya? Kita makan malam di tempat favoritmu."
Alea memutar bola matanya, ia bangkit duduk dan bersandar pada kepala tempat tidur. Ingatannya kembali pada kata-kata Kenan tentang pria yang membangun hidup di atas kebohongan.
"Aku juga tak mau ikut denganmu," jawab Alea datar, memotong kalimat Dafin begitu saja.
Hening sejenak di seberang sana. Dafin tampak terkejut dengan penolakan yang begitu dingin. "Alea? Kamu masih marah soal tadi pagi? Aku janji akan menebusnya...."
"Bukan soal pagi tadi, Dafin," sela Alea lagi.
"Aku hanya sedang ingin sendiri. Dan sejujurnya, aku lebih merasa aman dan nyaman pergi dengan pengawalku daripada harus mendengarkan alasan-alasanmu yang membosankan."
"Pengawal? Maksudmu Kenan?" suara Dafin tiba-kira meninggi, terselip nada cemburu sekaligus benci.
"Alea, dia itu cuma pelayan! Kenapa kamu malah lebih membanggakan dia daripada tunanganmu sendiri?"
"Setidaknya dia tidak pernah memberiku alasan palsu," balas Alea tajam. "Sudahlah, aku mau tidur siang. Jangan hubungi aku dulu."
Klik.
Alea mematikan sambungan telepon itu sepihak. Ia merasa puas bisa berkata jujur, meskipun jantungnya sedikit berdebar. Ia kembali merebahkan tubuhnya, tersenyum kecil saat membayangkan betapa kesalnya wajah Dafin saat ini.
Di kantornya, Dafin membanting ponselnya ke sofa. "Sialan! Berani-beraninya dia mematikan teleponku!" teriaknya frustrasi.
Pikirannya kini bercabang. Antara ketakutan akan ancaman masa lalunya dan rasa cemburu yang membakar karena Alea terang-terangan lebih memilih ditemani oleh Kenan.