Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Baru
Farel bergerak lebih dulu. Dengan cekatan, ia membantu melepaskan ikatan perban yang melilit kedua tangan Kael.
Begitu ikatan terakhir terlepas, Kael langsung bangkit berdiri.
Tangannya terangkat kasar, menarik paksa dasi hitam yang menutup matanya. Kain itu jatuh ke lantai tanpa ia pedulikan. Napasnya terdengar berat, tidak teratur. Dadanya naik turun cepat, rahangnya mengeras, jelas menahan kekesalan yang menumpuk sejak tadi.
Ia berbalik, lalu menyibak tirai pertama di kamar rawat inap itu.
Kosong.
Tirai kedua. Kosong.
Ketiga. Tidak ada siapa-siapa.
“Eh, eh, eh—!” Farel refleks mengangkat kedua tangan, tubuhnya sedikit condong ke depan. Nada suaranya panik tapi setengah bercanda. “Santai dikit, Kael. Ini masih rumah sakit, jangan ngobrak-ngabrik di sini."
Kael tidak menggubris.
Ia terus berjalan, langkahnya cepat dan berat. Tirai keempat ia tarik dengan kasar.
Kosong.
Hanya suara mesin infus dan detak jam dinding yang terdengar, seolah mengejek.
Kael berhenti di tengah ruangan. Bahunya naik turun sekali lagi, lalu ia terkekeh pendek.
“Hah…”
Ia menghembuskan napas perlahan.
“Menarik.”
Nada suaranya rendah, hampir seperti gumaman. Tapi justru itu yang membuat bulu kuduk berdiri.
Farel menatapnya dengan alis terangkat. Ia mengenal Kael terlalu lama untuk tidak tahu, ekspresi itu bukan sekadar kesal. Itu wajah seseorang yang tertantang.
“Farel,” kata Kael tiba-tiba.
“Hmm?”
“Sekarang juga periksa CCTV kamar pasien ini.”
Ia menunjuk ke sudut ruangan, ke arah kamera kecil yang terpasang nyaris tak mencolok. Tatapannya tajam, fokus.
“Dan aku mau tahu,” lanjutnya dingin, “di mana Mirea Rothwell berada sekarang.”
Nada itu tidak memberi ruang untuk ‘nanti’.
Farel menatapnya beberapa detik. Lalu, bukannya tegang. Ia malah terkekeh kecil, mengeluarkan ponselnya dengan santai.
“Baiklah, Tuan Kael,” katanya ringan, sambil menggeser layar. “Perintah diterima.”
Ia melirik Kael dari sudut mata, senyum miring menghiasi wajahnya. “Tapi jujur saja… aku penasaran.”
“Hah?"
“Kenapa kamu tiba-tiba ribut begini soal tunanganmu?” Farel mendekat sedikit, nada suaranya sengaja dibuat menggoda. “Bukannya tadi kamu bilang dia tipe cewek lemah? Penurut, dan Bikin kamu cepet bosan?”
Kael terdiam sejenak.
Bayangan kilasan kejadian beberapa saat lalu melintas di benaknya, gerakan cepat, tekanan singkat di titik vital, dan ketenangan aneh yang tidak seharusnya dimiliki gadis ‘lemah’ seperti itu.
“Lemah?” Kael menoleh setengah, matanya menyipit.
Ia tidak menjawab panjang.
“Belum tentu.” ujarnya Singkat. Padat. Menutupi gengsi.
Farel tersenyum makin lebar.
“Oh? Menarik.”
......................
Tak jauh dari rumah sakit.
Di trotoar yang lengang, Mirea berjalan santai. Langkahnya ringan, ritmenya stabil sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang baru saja ‘masuk rumah sakit karena pingsan ketakutan’.
Ia menyelipkan kedua tangannya ke saku mantel, bahunya sedikit terangkat menahan dingin.
“Untung aku kabur cepat,” gumamnya pelan.
Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya berputar cepat.
“Harusnya dia nggak sadar,” batinnya. “Kalau orang yang menyerangnya… itu aku.”
Ia menghela napas kecil.
“Tunangannya yang katanya lemah, pingsan, dan tak berguna.”
Ada senyum tipis di sudut bibirnya dingin, nyaris sinis.
Tiba-tiba suara mesin mobil mendekat.
Sebuah Mercedes-Benz S-Class hitam melaju perlahan dari belakang. Refleks, Mirea menghentikan langkahnya, tubuhnya sedikit menegang. Matanya menyapu cepat—plat nomor, kaca gelap, bodi mengilap.
Mobil itu melewatinya.
Mirea mengendurkan bahunya sedikit.
Namun detik berikutnya.
Mobil itu berhenti.
Lampu rem menyala.
Lalu… mundur.
Jantung Mirea berdetak lebih cepat, tapi wajahnya tetap tenang.
Mobil itu berhenti tepat di depannya.
Kaca jendela turun perlahan.
Tiga wajah muncul hampir bersamaan.
“Dik Mire?”
Nada khawatir bercampur heran.
“Eh… Dik Mire?” Theo mengernyit, matanya membesar.
“Kenapa kamu keluar sendirian dari rumah sakit?” tanya Noel, jelas panik.
“Ngapain kamu jalan sendirian di jalan begini?” Theo menambahkan cepat.
Aren ikut menyela, suaranya paling tegas. “Kenapa kamu di sini?”
Dalam sepersekian detik, otak Mirea bekerja cepat.
Ia menurunkan bahu. Menarik napas.
Lalu, tubuhnya goyah.
“Ah—!”
Ia menjatuhkan diri ke depan.
“MIREE!”
Ketiganya langsung keluar dari mobil, nyaris bersamaan.
Aren menangkap tubuh Mirea sebelum benar-benar jatuh. Noel dan Theo langsung mengelilinginya, wajah mereka panik.
“Jangan… jangan tinggalkan aku sendirian di rumah sakit,” ucap Mirea dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca, napasnya terdengar pendek. “Aku takut sekali…”
Suaranya seperti pisau kecil yang menusuk langsung ke dada mereka.
Hati ketiga kakaknya runtuh seketika.
“Sudah… sudah,” Aren mengusap punggungnya lembut. “Kita pulang.”
“Iya, pulang,” Noel mengangguk cepat.
Mereka membawanya masuk ke mobil. Mesin menyala. Kendaraan itu melaju menjauh, meninggalkan rumah sakit di belakang.
Di kursi belakang, Mirea menyandarkan kepala ke bahu Noel.
Matanya terpejam.
Wajahnya tampak rapuh.
......................
Rumah keluarga Rothwell berdiri megah saat mobil mereka tiba.
Begitu turun, ketiga kakaknya langsung mengantar Mirea ke dalam, nyaris tidak membiarkannya berjalan sendiri.
Mereka berhenti di depan sebuah kamar.
“Dik Mire,” kata Noel dengan wajah cerah, “kamar ini khusus disiapkan ibu untukmu. Kamu suka?”
Pintu dibuka.
Mirea melangkah masuk dan langsung terdiam.
Pink.
Segalanya pink.
Seprai. Bantal. Tirai. Karpet. Bahkan dindingnya bergradasi lembut, seperti dunia manisan.
Ia berkedip sekali.
“Eee… wah,” katanya pelan, ragu. “Ini pertama kalinya aku lihat warna pink sebanyak ini.” berusaha terlihat kagum.
Ketiga kakaknya tertawa puas.
“Karena kamarku yang sebelumnya…” Mirea terdiam sejenak.
Bayangan ruang gelap, dingin, penuh koleksi senjata dan monitor pengawas melintas cepat di benaknya.
“…jelas berbeda,” lanjutnya halus. “Aku agak kurang terbiasa.”
Aren tersenyum, lalu menyodorkan segelas susu hangat.
Mirea menerimanya. Meneguk dengan susah payah.