Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Langkah kaki Araluna terdengar berirama saat ia menyusuri koridor Fakultas Seni Budaya. Siang itu, ia tampil dengan gaya yang lebih santai namun tetap terlihat "mahal". Tujuannya hanya satu: kelas Sejarah Seni, tempat di mana Arsen Sergio sedang bergelut dengan teori-teori estetika. Sebagai mahasiswi semester satu yang sudah dicap sebagai "Cegil Nasional" di fakultas itu, Luna sama sekali tidak merasa risih saat beberapa mahasiswa tingkat atas memperhatikannya.
Ia berdiri di samping pintu kelas, bersandar pada tembok sambil melipat tangan. Begitu dosen keluar dan disusul oleh gerombolan mahasiswa yang tampak layu karena kuliah tiga sks, mata Luna langsung berbinar. Targetnya muncul.
Arsen berjalan keluar sambil memasukkan bolpoin ke dalam tas selempangnya. Wajahnya yang kaku terlihat sedikit lelah, namun tetap tampan dengan rambut yang agak berantakan.
"Hai, kakakku yang paling ganteng sedunia!" sapa Luna dengan suara yang cukup nyaring, lengkap dengan lambaian tangan yang penuh semangat.
Arsen hampir saja tersandung kakinya sendiri. Ia mendengus kesal saat menyadari semua mata di koridor tertuju padanya. "Araluna, bisa nggak sehari aja lo nggak bikin pengumuman kalau gue ini ada di sini?"
Tentu saja, teman-teman Arsen yang ada di belakangnya tidak membiarkan momen itu lewat begitu saja. Galaksi, Rian, dan beberapa anggota himpunan langsung bersiul menggoda.
"Wih, Sen! Disambut 'pacar' tiri nih!" goda Rian sambil menyenggol bahu Arsen. "Gue rela deh kuliah empat sks berturut-turut kalau penyambutannya kayak gini."
"Hush, jangan deket-deket Rian, Lun! Dia belum mandi dari pagi," sahut Galaksi sambil tertawa, meski dalam hatinya ia masih sedikit iri dengan perhatian Luna yang hanya tertuju pada Arsen.
Luna hanya nyengir lebar, sama sekali tidak merasa terganggu. Ia justru semakin menempel pada Arsen, menarik ujung jaket cowok itu. "Bodo amat. Yuk, Kak! Laper nih, mau makan mie ayam!"
Arsen hanya bisa pasrah. Sifat kakunya yang sulit mengekspresikan penolakan (terutama pada Luna) membuatnya membiarkan gadis itu menyeretnya menuju kantin, meski di sepanjang jalan ia terus-menerus digoda oleh teman-temannya yang mengikuti dari belakang.
Kantin siang itu sangat ramai dan gerah. Bau aroma kuah kaldu dan sambal memenuhi udara. Luna, yang memiliki nafsu makan luar biasa meski tubuhnya mungil, langsung memesan mie ayam dengan tambahan topping bakso urat dan pangsit goreng ekstra.
"Lo beneran sanggup habisin itu semua?" tanya Arsen saat melihat porsi gunung di depan Luna. Ia sendiri hanya memesan nasi goreng porsi biasa dan segelas es teh manis yang sudah ia minum setengah karena kehausan.
"Ngeremehin perut Araluna ya? Lihat aja nanti," jawab Luna sambil mulai mencampur sambal dengan porsi yang cukup berani—mengingat kejadian semalam, tapi tampaknya ia tidak kapok.
Luna makan dengan sangat lahap. Baginya, makanan adalah kebahagiaan kedua setelah Arsen. Saking asyiknya mengunyah bakso urat yang kenyal, Luna baru menyadari tenggorokannya terasa sangat kering dan panas karena sambal. Ia meraba-raba meja, mencari gelas minumnya, tapi ia baru sadar kalau tadi ia lupa memesan minum.
"Aduh, pedes... minum mana minum..." gumam Luna sambil mengipasi mulutnya dengan tangan.
Arsen sedang sibuk membalas pesan di ponselnya, sehingga tidak terlalu memperhatikan. Tanpa pikir panjang, Luna menyambar gelas es teh manis milik Arsen yang tergeletak di tengah meja. Gelas itu masih berisi setengah, dengan butiran es yang mulai mencair.
Tanpa ragu sedikit pun, Luna menempelkan bibirnya tepat di pinggiran gelas, di titik yang sama di mana tadi Arsen meminumnya. Ia meneguk sisa teh itu dengan cepat hingga habis tak bersisa.
Arsen mendongak tepat saat Luna meletakkan gelas kosong itu kembali ke meja. Ia terdiam, matanya menatap gelas kosong itu, lalu beralih menatap bibir Luna yang masih sedikit basah terkena sisa es teh.
"Itu... gelas gue, Araluna," ucap Arsen dengan suara yang mendadak sedikit serak. Sifat kakunya kembali muncul, namun kali ini ada semburat merah tipis di telinganya.
Luna menyeka bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap Arsen dengan tatapan menantang yang nakal. "Gue tau. Emangnya kenapa? Berbagi air liur dikit nggak bakal bikin lo hamil, Kak."
"Araluna! Mulut lo!" Arsen mendengus, mencoba memalingkan wajah untuk menutupi rasa canggung yang luar biasa. Ia merasa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. "Itu namanya indirect kiss, lo tau nggak?"
"Ya emang itu tujuannya!" Luna tertawa puas, jiwa cegilnya merasa menang telak. Ia memajukan wajahnya ke arah Arsen, hingga jarak mereka sangat dekat di tengah keramaian kantin. "Anggap aja itu latihan sebelum yang aslinya, Kak Arsen Sergio yang kaku."
Arsen tertegun. Ia ingin marah, tapi melihat wajah Luna yang tampak begitu ceria dan tanpa beban, kemarahannya menguap begitu saja. Ia hanya bisa mengacak-acak rambut Luna dengan kasar untuk menutupi kegugupannya.
"Makan tuh mie ayam lo sampai habis! Jangan banyak omong!"
Luna kembali makan dengan senyum kemenangan. Ia tahu, setiap detail kecil yang ia lakukan—mulai dari memakai jaket Arsen, tidur di lengannya, hingga berbagi gelas minum—adalah cara perlahan untuk meruntuhkan dinding kaku yang dibangun Arsen. Bagi Luna, setiap tegukan es teh itu terasa jauh lebih manis karena ada "rasa" Arsen di dalamnya.