NovelToon NovelToon
Falling In Love Again: First Love, First Hurt

Falling In Love Again: First Love, First Hurt

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia / Tamat
Popularitas:609k
Nilai: 5
Nama Author: Demar

Sejak kecil Celine Attea selalu berdiri di sisi Ethan Solomon Montgomery, Presiden Direktur Montgomery Group sekaligus pemimpin organisasi dunia gelap Amox. Celine adalah satu-satunya perempuan yang mampu masuk ke semua pintu keluarga Montgomery. Ia mencintai Ethan dengan keyakinan yang tidak pernah goyah, bahkan ketika Ethan sendiri tidak pernah memberikan kepastian. Persahabatan, warisan masa kecil, ketergantungan, dan cinta yang Celine perjuangkan sendirian. Ketika Cantika, staf keuangan sederhana memasuki orbit Ethan, Celine merasakan luka bertubi-tubi. Max, pria yang tiba-tiba hadir dalam hidup Celine membawa warna baru. Ethan dan Celine bergerak dalam tarian berbahaya: antara memilih kenyamanan masa lalu atau menantang dirinya sendiri untuk merasakan sesuatu yang baru. Disclaimer: Novel ini adalah season 2 dari karya Author, “Falling in Love Again After Divorce"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenyataan yang Menyakitkan

Seorang pramugari mendorong troli perak di lorong kabin first class.

“Apa Anda ingin menikmati minuman atau makanan, Mam?” tanyanya lembut.

Celine mengangkat tangan sedikit, “No, thank you.”

Pramugari mengangguk, tersenyum professional lalu berlalu. Celine menarik selimut kasmir, hingga menutupi bahunya. Dari balik jendela pesawat, gugusan bintang tampak bertebaran di langit gelap, berkilau indah namun jauh dan tak terjangkau.

Tangannya bergerak tanpa sadar. Jemarinya menyentuh sesuatu yang dingin, cincin yang melingkari jari manisnya. Celine menunduk, mengangkat tangan perlahan. Berlian di sana masih berkilau yang terlalu indah untuk sebuah akhir. Ia mengelusnya, gerakan halus yang sarat kenangan, lalu berhenti. Ia menatap cincin itu lama, kemudian dengan tenang melepasnya.

Celine memasukkan cincin itu ke dalam tasnya, menutup ritsleting perlahan, seakan menutup satu bab hidupnya sendiri.

“Mama ibumu, Mama yang paling mengerti perasaanmu.”

Kalimat itu meluncur dari penumpang ibu dan anak di kursi belakang, sederhana namun sarat makna. Celine terdiam, hatinya bergetar. Ia mencondongkan telinga ke sandaran kursi, seolah jarak beberapa senti itu mampu membawanya lebih dekat pada kalimat yang begitu ia rindukan.

“Selama ada Mama, duniamu akan baik-baik saja, sayang,” suara itu terdengar lagi, begitu hangat dan penuh perlindungan.

Celine mengangkat pandangannya perlahan ke langit-langit kabin. Cahaya temaram memantul di bola matanya yang mulai berkaca.

“Mama…” bisiknya lirih.

“Ladies and gentlemen, we have just landed at John F. Kennedy International Airport, New York City. The local time is seven forty-five in the evening. Please remain seated with your seatbelt fastened until the aircraft has come to a complete stop and the seatbelt sign has been turned off. On behalf of the captain and the entire crew, welcome to New York, and thank you for flying with us.”

“Bapak dan Ibu sekalian, pesawat kita baru saja mendarat di Bandara Internasional John F. Kennedy, New York City. Waktu setempat menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima malam. Mohon tetap duduk di tempat dengan sabuk pengaman terpasang hingga pesawat berhenti sepenuhnya dan tanda sabuk pengaman telah dipadamkan. Atas nama kapten dan seluruh awak kabin, kami mengucapkan selamat datang di New York dan terima kasih telah terbang bersama kami.

Celine menutup matanya sesaat. New York, orang yang akan mengerti perasaannya ada di sini.

Ia merapatkan syalnya saat salju turun perlahan, butirannya menempel di rambut dan mantelnya. Udara New York menggigit, namun dinginnya kalah jauh dari sakit di dadanya. Ia menyeret koper keluar dari taksi, berhenti di depan sebuah rumah yang alamatnya ia ketahui satu jam sebelum naik pesawat.

Lampu-lampu hangat menyala di balik jendela. Celine menarik napas, berharap kehangatan itu akan memeluk kesedihannya malam ini.

Perlahan ia mengangkat tangannya, menekan bel sebanyak tiga kali. Langkah-langkah kecil terdengar berlari dari dalam. Ketika pintu terbuka, seorang anak laki-laki berambut pirang terang, kulit putih pucat, pipi kemerahan, mata berwarna biru yang bulat, menatapnya penuh rasa ingin tahu.

“Yaa?” katanya polos, suaranya lembut dan ceria.

Entah untuk alasan apa, Celine membeku.

“Sam, siapa di sana?” Suara seorang wanita menyusul dari dalam, ringan dan terdengar terlalu familiar.

Celine mengangkat pandangannya. Wanita itu muncul di ambang pintu dengan senyum yang langsung runtuh. Ornamen pohon natal di tangannya terlepas begitu saja.

“C-Celine…”

“Ada tamu, honey?”

Seorang pria menyusul dari dalam, merangkul pinggang wanita itu dengan gerakan alami. Pria itu menunduk ke arah bocah kecil di depan pintu.

“Sam, kau di sini?” katanya lembut. “Tidak mau ikut Papa dan Mama menghias pohon Natal?”

Papa dan Mama. Dua kata itu menghantamnya lebih keras dari ledakan mana pun. Celine tersenyum, senyum yang kosong dan… bodoh. Sepertinya hidupnya memang ditakdirkan menjadi permainan bagi orang lain. Namun bukankah ini terlalu berlebihan? Bahkan permainan pun punya batas.

Celine menurunkan pandangannya, menarik gagang koper dengan gerakan tenang yang dipaksakan, lalu berbalik pergi tanpa meninggalkan satu kata pun.

“Celine!” teriak wanita itu histeris.

“Celine, tunggu!”

Namun langkah Celine tidak berhenti, pandangannya lurus seolah rumah ini bukanlah tujuannya sejak awal.

“Honey, ada apa?”

Pria itu mengguncang lengan sang wanita kebingungan. “Siapa dia?”

Wanita itu, Veronika, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar hebat,

“Dia… dia putriku, Jack.”

Detik itu juga, Jack langsung terdiam kaku.

Celine melangkah di bawah salju yang kian rapat. Langkahnya goyah, bukan karena dingin, melainkan karena kenyataan yang baru saja meremukkan sisa harapan dalam  dirinya. Ia benar-benar dibodohi. Bukan hanya oleh Ethan tapi juga oleh ibunya sendiri.

Selama ada Mama, duniamu akan baik-baik saja. Kalimat itu kembali terngiang, jika tadi penuh dengan harapan maka detik ini terasa pahit dan menjijikkan.

Baik-baik saja?

Lalu apa ini?

Dengan tangan gemetar, Celine menyalakan ponselnya. Ia langsung menekan satu nama tanpa ragu. Suara di seberang sana langsung terdengar bahkan sebelum panggilan berdering lama.

“Celine, akhirnya kau menghubungi Papa. Katakan kau sekarang ada dimana, sayang?”

Suara Golda terdengar panik, ia sudah menunggu panggilan ini sejak lama.

“Papa,” suara Celine datar, dingin, nyaris tanpa emosi. “Aku bertemu Mama… di New York.”

“Apa?” napas Golda tersendat. “New York? Jangan bercanda, sayang…”

“Apa Papa tahu?” potong Celine.

“Apa maks…”

“Apa Papa sudah tahu semuanya? Pria itu, anak itu, dan Mama. Apa Papa sudah tahu?” ulangnya, lebih lirih. Suaranya bergetar meski ia berusaha menahannya.

Keheningan menggantung dalam waktu yang lama.

“Maafkan Papa,” ucap Golda lirih.

Tit.

Celine memutus panggilan tanpa pamit, lalu mematikan ponselnya kembali. Ia berhenti di tengah trotoar yang sepi, dadanya bergerak naik turun. Kata ‘maaf’ sudah menjawab semuanya.

“Brengsek!” teriaknya keras.

Ia menendang kopernya hingga terjatuh, lalu membungkuk, mengambil segenggam salju dan melemparkannya ke udara tanpa arah.

“Kalian semua brengsek!”

Suara itu pecah, tenggelam bersama angin dan salju.

“Arghhhh!”

Celine berjongkok, tangannya mengepal kuat di atas salju. Kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga nyeri, seolah rasa sakit fisik itu satu-satunya cara agar ia tetap sadar.

“Kalian semua… pengkhianat,” bisiknya lirih.

Pertahanannya runtuh, napasnya tersendat. Dadanya naik turun tak beraturan seperti kehilangan ritme. Ia menunduk, bahunya bergetar hebat. Isakan pertama lolos tanpa suara, hanya getaran kecil yang mengguncang tubuhnya. Lalu yang kedua dan berikutnya, tangis itu akhirnya pecah.

Celine terisak, napasnya pendek-pendek seperti seseorang yang tenggelam dan berusaha mengambil udara. Ia menutup mulutnya dengan punggung tangan, mencoba meredam suara, tapi sia-sia karena rasa sakit itu terlalu penuh untuk disimpan sendiri.

Dadanya terasa seperti diremas dari dalam. Setiap tarikan napas terasa menyayat, setiap embusan napas membawa keluar potongan demi potongan hatinya yang hancur. Ia membungkuk lebih dalam, dahinya bersandar pada lututnya sendiri.

Di bawah langit yang dingin dan asing, Celine menangis sendirian seperti anak kecil yang kehilangan rumahnya.

1
JR Rhna
akhirnya ceeita mereka end bahagia..terima kasih thor..aku suka..suka..dan suka ceritanya😍
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ethan kalo udah mode bucin ternyata se sweet ini 😜
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
wkwkwk kok bisa alya mikir jauh banget 🤣😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
jujur aku baca dialog ini bernada sesuai yg sering aku denger dr anak2 timur di gereja 😄
Demar: Iya, karakter mereka juga baik. Betul-betul pandai bersyukur.
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
aku tebak ini karakter asli cantika wkwk asli nya ga sebaik itu emang 🙂🙏
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
sebenernya si ethan juga salah menurutku, dia pernah bales pelukan si cantika pas habis baku hantam sama barlex waktu itu ya jadilah si cantika merasa ngelunjak di pikir ethan emang ada rasa sama dia 😏 ya kalo aku tetep aja ethan bakal ku umpat, orang bodo nya ga ketulungan dr awal terlalu too much, kalo cewek nya baperan ya jdnya kayak cantika 😏
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
coba dia begini dr awal kan ga ada drama celine sm max sampe celine pergi jauh jd relawan 🤣 si bodo 😏
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
dulu bales chat celine cuma semenit aja gabisa, biarin aja cuma 117 miscall kan, nanti kalo udah 1000 dapet ganci sama mug cantik 😜
Dessy Candra Mahisa
terimakasih untuk cerita nya
GISTHA
terimakasih kasih Kak thor ^⁠_⁠^💜
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
wkwk bahkan nenek nya yg bisa ngelawan satu dunia demi ethan skrg aja ga mihak ethan, bayangin seketerlaluan apa berarti menurut neneknya 🤣
Vanni Sr
yaaaaah endd , sedihhh
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
dr kalimat ini aja udah bisa kebaca secinta apa celine sampe ethan nyepelein, dia pikir cinta celine ratusan kayak lapisan wafer tango wkwk aku yg baca aja emosi, apalagi kalo ada tokoh celina irl, bisa bayangin secapek & semuak apa dia, move on nya ga bakal setengah2, sekali mutusin buat berhenti ga ada puter balik 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
"dimini celine" halah basi, urusin noh cantika, terusin aja pelukan sana 🤬
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bodo amat tan setan, gampang banget rasa kasihan nya ke perempuan lain 😏
murni ali
Aaaahhhh akhirnya cerita indah berakhir bahagia 🤭seneng nya makasih mbak penulis... Setiap ceritanya bagus banget sukakkk dehhh

Semangattt terus mbak penulis sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹
pipi gemoy
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼🙏🏼☕
pipi gemoy
welcome baby girl 🌹
Ivy
ngk ada bonchap y thor 😄
Ivy
happy ending celine ethan ❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!