Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Sisa-sisa amarah dari malam puncak di ruangan Siska masih terasa panas di telapak tangan Arga. Sepanjang malam, ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Di sampingnya, Nabila tertidur dengan napas yang tidak tenang, seolah-olah jiwanya pun merasakan badai yang akan datang.
Arga tahu, tamparan itu bukan sekadar reaksi fisik, itu adalah deklarasi perang terbuka melawan seorang wanita yang tidak mengenal kata kalah.
Pagi menyingsing dengan warna abu-abu yang suram di atas langit Jakarta. Arga berangkat ke kantor lebih awal, berniat menemui bagian legal perusahaan sebelum Siska melakukan pergerakan. Namun, ia tidak menyadari bahwa Siska Roy tidak pernah menunggu fajar untuk menyusun kehancuran.
Pukul 08:00 WIB. Lobi Airborne Group biasanya dipenuhi oleh aroma kopi mahal dan obrolan ringan para staf yang baru datang. Namun, pagi ini suasana terasa berat dan asing. Dua unit mobil kepolisian terparkir tepat di depan pintu putar kaca. Beberapa petugas berseragam dan penyidik berpakaian sipil berdiri siaga di dekat meja resepsionis.
Saat Arga melangkah masuk, keheningan seketika menyelimuti ruangan. Ratusan pasang mata staf - mulai dari petugas kebersihan hingga manajer tingkat menengah - tertuju padanya. Ada bisik-bisik yang merayap seperti ular, memenuhi udara dengan kecurigaan.
"Saudara Arga Mandala?" Seorang penyidik senior melangkah maju, menghalangi jalan Arga menuju lift.
Arga menghentikan langkahnya, jantungnya berdegup kencang. "Iya, saya sendiri. Ada apa ini?"
Penyidik itu mengeluarkan sebuah surat resmi dengan stempel kepolisian yang masih basah. "Kami memiliki surat perintah penangkapan atas nama Anda. Anda dilaporkan atas tuduhan Pelecehan Seksual dengan Kekerasan dan Penggelapan Dana Perusahaan."
Dunia Arga seolah runtuh dalam sekejap. "Apa? Pelecehan? Itu fitnah! Siapa yang melaporkan ini?"
"Ibu Siska Roy. Beliau sudah memberikan keterangan resmi dan hasil visum pagi ini," jawab penyidik itu tanpa ekspresi.
Tepat saat itu, pintu lift eksekutif terbuka. Siska Roy keluar didampingi oleh asistennya dan seorang pria asing yang tampak seperti pengacara. Siska mengenakan pakaian berwarna hitam berkabung, memberikan kesan sebagai korban yang rapuh.
Yang paling mencolok adalah wajahnya. Di pipi kanannya, bekas tamparan Arga semalam sengaja tidak ditutupi dengan makeup. Bekas itu kini membiru dan sedikit membengkak, terlihat sangat kontras di kulitnya yang putih. Ia juga mengenakan gips ringan di pergelangan tangannya, seolah-olah terjadi pergulatan hebat semalam.
Siska berhenti beberapa meter dari Arga. Ia tidak berteriak. Ia justru menatap Arga dengan air mata yang mulai menggenang, sebuah akting yang sangat meyakinkan bagi siapa pun yang melihatnya.
"Kenapa, Arga?" suara Siska bergetar, cukup keras untuk didengar oleh seluruh staf di lobi. "Aku hanya ingin membicarakan pekerjaan semalam, tapi kau... kau mencoba memaksaku. Dan saat aku menolak, kau memukulku. Aku sangat mempercayaimu, Arga. Pak Roy sangat mempercayaimu."
"Siska! Berhenti berbohong!" Arga mencoba mendekat, namun para petugas segera menahannya. "Kau yang menjebakku semalam! Kau yang melepas pakaianmu sendiri!"
"Bawa dia," perintah penyidik.
Kedua petugas meraih tangan Arga dan menariknya ke belakang. Bunyi klik dari borgol besi yang mengunci pergelangan tangan Arga terdengar sangat nyaring di lobi yang sunyi itu.
Di saat yang paling memalukan itu, sebuah mobil taksi berhenti di depan lobi. Nabila keluar dengan terburu-buru. Ia merasa gelisah sejak Arga pergi tadi pagi dan memutuskan untuk menyusul suaminya.
Langkah Nabila terhenti di ambang pintu masuk. Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya. Arga, suaminya, pria yang paling ia hormati, sedang digiring oleh polisi dengan tangan diborgol di belakang punggung.
"Mas Arga!" Nabila berteriak, suaranya pecah. Ia mencoba menerobos kerumunan staf, namun petugas keamanan menghalanginya. "Apa yang kalian lakukan? Lepaskan suamiku!"
"Nabila!" Arga menoleh, wajahnya penuh keputusasaan. "Nabila, ini fitnah! Siska berbohong soal semuanya!"
Nabila menatap Siska yang berdiri dengan gaya yang sangat terluka. Ia melihat bekas tamparan di wajah Siska dan segera menyadari bahwa suaminya telah terjebak dalam skenario yang paling jahat.
"Siska Roy!" Nabila menunjuk ke arah wanita itu dengan jari yang gemetar karena amarah. "Kau tidak akan bisa lolos dengan ini! Aku tahu apa yang kau lakukan semalam!"
Siska tidak menjawab. Ia justru menyembunyikan wajahnya di bahu asistennya, berpura-pura terisak. Namun, saat Arga digiring melewati Nabila menuju mobil polisi, Siska mengangkat kepalanya sedikit.
Mata Siska bertemu dengan mata Nabila. Dari kejauhan, Siska memberikan sebuah senyum tipis, senyum kemenangan yang sangat dingin, sebuah pesan tanpa suara yang mengatakan - Aku sudah bilang, aku akan menghancurkan hidupmu.
Polisi mendorong Arga masuk ke dalam mobil. Sirine dinyalakan, memecah kesunyian pagi di kawasan bisnis itu. Para staf mulai berbisik lebih keras.
"Tidak menyangka ya, Pak Arga yang kelihatannya alim begitu ternyata predator."
"Kasihan Bu Siska, mukanya sampai lebam begitu."
"Katanya dia juga korupsi miliaran rupiah. Pantas saja hidupnya mewah."
Nabila mendengar semua itu. Ia merasa seolah-olah ribuan pisau menusuk telinganya. Ia berdiri sendirian di tengah lobi, menjadi tontonan publik, sementara suaminya dibawa pergi menuju sel tahanan.
Ia menatap Siska yang kini berjalan kembali menuju lift dengan langkah yang tiba-tiba tegak, seolah beban kesedihannya hilang saat mobil polisi itu menjauh. Siska berhenti sejenak di balkon lantai mezanin lobi, menatap Nabila yang berada di bawah.
Siska memberikan gestur kecil, ia mengusap pipinya yang lebam lalu melambai pelan ke arah Nabila sebelum menghilang di balik pintu lift.
Nabila terduduk di kursi lobi, mengabaikan tatapan sinis orang-orang di sekitarnya. Ponselnya terus bergetar. Pesan dari rekan kerjanya, dari grup keluarga, dan dari media mulai masuk.
Berita tentang penangkapan manajer operasional Airborne Group karena pelecehan seksual terhadap istri pemilik perusahaan menyebar lebih cepat daripada api di musim kering.
Ia tahu, mulai detik ini, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi. Arga tidak hanya sedang dipenjara secara fisik, tapi mereka berdua sedang dipenjara oleh fitnah yang dirancang dengan sangat sempurna.
Nabila mengepalkan tangannya. Ia menghapus air matanya dengan kasar. "Kau pikir kau sudah menang, Siska," gumam Nabila dengan nada yang sangat rendah namun penuh dendam. "Tapi kau lupa satu hal. Aku adalah pengacara. Dan aku tidak akan berhenti sampai aku melihatmu sendiri yang memakai borgol itu."
Nabila berdiri, membusungkan dadanya, dan berjalan keluar dari gedung Airborne dengan kepala tegak, meskipun ribuan kamera ponsel sedang merekam kehancurannya. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
...----------------...
Next Episode....
Pengen nonjok mulutnya Siska sampai bonyok Gedeg banget melihat tingkah laku manusia satu ni ..memaksa kemauannya sendiri yg kelewat batas wajar 😤😏
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰