NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tak Terduga

Pewaris Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Percintaan Konglomerat / Konflik etika / CEO Amnesia
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Her midda

Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Sore itu, matahari mulai condong ke barat, meninggalkan semburat jingga di balik gedung-gedung perkantoran. Jam pulang kerja telah lewat ketika Zane menghentikan langkah Nadia di lobi.

“Nadia...kalau tidak keberatan, temani aku makan sebentar,” ucapnya santai, seolah hanya ajakan biasa dari seorang atasan.

Nadia sempat ragu, namun akhirnya mengangguk. “B-baik Pak.”

Mereka memilih sebuah restoran yang tenang, jauh dari keramaian. Zane sengaja memilih tempat itu---cukup nyaman untuk berbincang, namun cukup sepi untuk menyimpan rahasia. Setelah pesanan datang, Zane membuka percakapan dengan nada ringan.

“Kau tampak dekat dengan seseorang akhir-akhir ini,” katanya sambil mengaduk minumannya. “Namanya...Gibran.”

Sendok di tangan Nadia terhenti. Ia menatap Zane dengan mata membesar.

“Pak Zane tahu Gibran?” tanyanya heran. “Dari mana anda tahu saya mengenalnya?”

Zane tersenyum kecil, seolah pertanyaan itu tak berarti apa-apa. “Tenang saja. Gibran itu partner bisnis perusahaanku. Beberapa hari lalu aku tak sengaja melihat kalian bersama. Dunia ini sempit.”dalihnya.

“Oh…” Nadia mengangguk pelan, meski masih ada rasa canggung di dadanya.

“Jadi,” lanjut Zane, nada suaranya tetap tenang namun penuh selidik, “kalian kenal sejak kapan?”Zane sengaja memancing Nadia, ia penasaran awal mula Nadia bertemu Gibran.

Nadia ragu sejenak, lalu menjawab jujur. “Tidak lama. Kami bertemu secara tidak sengaja. Awalnya saya tidak tahu siapa beliau.”

Zane kembali mengaduk minumannya. Suaranya terdengar santai, seolah percakapan sebelumnya tak menyisakan apa pun yang berarti. Namun sorot matanya tajam, menunggu celah.

“Kalau boleh tahu,” ucapnya pelan, “kau tahu asal-usul Gibran?”

Nadia terdiam. Pertanyaan itu datang tiba-tiba, membuatnya kembali menegakkan punggung. Ia menatap Zane dengan raut heran.

“Asal-usul?” ulangnya. “Maksud Pak Zane?”

Zane mengangkat bahu ringan. “Keluarganya. Perjalanan hidupnya. Cara dia bisa berada di posisinya sekarang.” Ia tersenyum tipis. “Kupikir kau yang dekat dengannya pasti tahu lebih banyak.”

Nadia menggeleng pelan. “Tidak banyak. Gibran tidak pernah bercerita panjang lebar. Saya juga tidak pernah memaksa.”

Zane mengangguk, berpura-pura menerima jawaban itu. Padahal justru di situlah ia melihat celah yang diinginkannya.

“Menarik,” gumamnya. “Padahal banyak orang mengira dia sangat terbuka.”

Nadia mengerutkan kening. “Saya rasa setiap orang punya privasi yang ingin disimpan sendiri.”

“Benar,” sahut Zane cepat. “Dan privasi Gibran… cukup kompleks.”

Nadia menatapnya lekat. “Pak Zane tahu sesuatu?”

Zane tersenyum samar. Senyum yang sama sekali tak sampai ke matanya.

“Bukan tugasku untuk menceritakannya,” katanya tenang. “Lagipula, lebih baik kau mendengarnya langsung darinya.”

Jawaban itu membuat Nadia semakin bingung. Ada sesuatu dalam cara bicara Zane---seperti sengaja melempar umpan, lalu menarik tangannya sebelum kail benar-benar tertancap.

“Kalau memang ada hal penting,” ucap Nadia hati-hati, “saya percaya Gibran akan mengatakannya sendiri.”

Zane menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah menimbang.

“Kau gadis yang langka,” katanya akhirnya. “Kebanyakan orang akan langsung menuntut penjelasan.”

Nadia tersenyum kecil. “Saya hanya tidak ingin mencampuri hidup orang lain.”

Zane meneguk minumannya, menutupi senyum licik yang nyaris muncul. Bagus, batinnya. Biarkan rasa penasaran itu tumbuh sendiri. Ia tidak perlu mengatakan apa pun. Cukup menanamkan pertanyaan--keraguan kecil yang suatu saat bisa berkembang menjadi jurang.

“Kalau begitu,” ucap Zane,“aku harap kau tidak keberatan jika suatu hari kebenaran itu datang dengan caranya sendiri.”

“Selama itu bukan fitnah, saya siap mendengarnya.”

Zane tertawa kecil. “Tentu saja.”

Zane kembali mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah Nadia. Lugu. Jujur. Tepat seperti dugaanku, batinnya.

“Kau tahu, Gibran bukan orang sembarangan,” ucap Zane kemudian, sengaja menurunkan suaranya. “Hidupnya penuh intrik. Banyak orang yang terluka karena berada di dekatnya.”

Nadia mengernyit. “Maksud Pak Zane?”

“Pria sepertinya terbiasa memanfaatkan orang lain,” lanjut Zane. “Dan biasanya, perempuan seperti kau… hanya akan dijadikan pelarian atau alat.”

Nada suara itu mulai terasa asing di telinga Nadia. Ia meletakkan sendoknya perlahan.“Pak Zane,” katanya hati-hati, “saya tidak merasa Gibran orang yang seperti itu.”

Zane menyunggingkan senyum tipis. “Kau terlalu percaya, Nadia. Dunia bisnis tidak seindah yang kau bayangkan.”

“Mungkin,” jawab Nadia lembut namun tegas, “tapi saya menilai seseorang dari sikapnya pada saya, bukan dari cerita orang lain.”

Zane sedikit mencondongkan tubuhnya. “Bagaimana kalau aku bilang, kedekatanmu dengannya bisa berbahaya?”

Nadia menggeleng pelan. “Saya menghargai Pak Zane sebagai atasan. Tapi soal perasaan dan kepercayaan, biar saya yang menentukan.”

Untuk sesaat, udara di antara mereka terasa menegang. Senyum Zane membeku, meski hanya sepersekian detik.

“Kau tidak percaya padaku?” tanyanya.

“Saya hanya tidak ingin membenci seseorang tanpa alasan yang jelas,” jawab Nadia jujur.

Zane bersandar kembali ke kursinya. Di balik wajah tenangnya, pikirannya bergejolak. Gadis ini tidak semudah yang kukira. Namun satu hal sudah pasti—kelemahan Gibran kini telah berada tepat di hadapannya.

“Baiklah,” ujar Zane akhirnya, kembali memasang nada ramah. “Anggap saja ini peringatan dari partner bisnis.”

Nadia mengangguk sopan. “Terima kasih. Saya akan berhati-hati.”

Mereka meninggalkan restoran dengan perasaan yang berbeda. Nadia melangkah pulang dengan hati yang masih jernih, sementara Zane berdiri sejenak di depan restoran, menatap jalanan yang mulai gelap.

“Tidak apa-apa kalau kau belum percaya,” gumamnya pelan. “Yang penting aku sudah tahu… kau adalah titik lemahnya, Gibran.”

****

Sejak sore itu, ucapan Zane kerap muncul tanpa diundang di benak Nadia.

Asal-usul Gibran… cukup kompleks.

Awalnya, Nadia menganggapnya tak lebih dari obrolan sepintas. Bukankah wajar jika seseorang tak ingin membuka masa lalu? Selama beberapa kali pertemuan dengan Gibran, pria itu selalu bersikap hangat dan sederhana. Mereka berbincang tentang hal-hal ringan---pekerjaan, kopi favorit, buku yang sedang dibaca, bahkan candaan kecil yang membuat Nadia tertawa tanpa beban.

Gibran tak pernah menghindar. Hanya saja… ia juga tak pernah bercerita lebih jauh.Tentang keluarganya, Gibran hanya menyebutkan sepintas.Tentang masa lalunya, ia memilih diam.Tentang dirinya yang sebenarnya, seolah ada dinding tak terlihat yang membatasi.

Dulu, Nadia tidak mempermasalahkan itu. Ia menikmati kebersamaan tanpa tuntutan. Namun kini, setiap jeda dalam percakapan terasa berbeda. Diamnya Gibran bukan lagi sekadar pilihan---melainkan tanda tanya.

Kenapa Zane bisa mengenalnya?

Seperti apa hubungan mereka sebenarnya?

Dan siapa Gibran sebelum semua yang ada sekarang?

Malam itu, Nadia duduk di kamarnya, menatap layar ponsel yang menyala. Nama Gibran terpampang di sana, namun jempolnya tak kunjung bergerak.

“Apa aku terlalu jauh memikirkan ini?” gumamnya pelan.

Ia mengingat kembali tatapan Zane---tenang, tapi penuh makna. Seolah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan, bukan untuk dilindungi, melainkan untuk suatu tujuan yang lebih besar.

Malam itu, Nadia menatap layar ponselnya cukup lama. Jantungnya berdetak tidak teratur, seolah tahu bahwa satu pesan sederhana bisa mengubah banyak hal. Ucapan Zane kembali terngiang di kepalanya, bercampur dengan senyum tenang Gibran yang selalu membuatnya merasa aman.

Dengan napas tertahan, Nadia akhirnya mengetikkan sebuah kalimat singkat.

Nadia: bisa bertemu besok malam?

Pesan itu terkirim.

Nadia langsung meletakkan ponselnya di atas meja, seakan takut menatapnya terlalu lama. Beberapa detik terasa seperti menit. Ia menggenggam jemarinya sendiri, berusaha menenangkan debar di dadanya.

Tak lama kemudian, layar ponselnya menyala kembali.

Gibran: tentu. jam berapa?

Nadia menelan ludah. Ada rasa lega sekaligus gugup.

Nadia: Setelah jam tujuh. dimana pun kamu mau.

Balasan itu datang lebih cepat dari yang ia kira.

Gibran: Aku jemput. kita makan malam.

Nadia terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil tanpa sadar. Ia menatap pesan itu lama, sebelum akhirnya membalas.

Nadia: baik.

Ponsel itu kembali ia letakkan. Nadia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit kamar yang sunyi. Ia tahu, pertemuan besok bukan sekadar makan malam biasa. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan---tentang Gibran, tentang masa lalunya, tentang hubungan pria itu dengan Zane.

Namun di balik semua rasa penasaran itu, ada satu hal yang membuat Nadia paling takut, bagaimana jika jawaban Gibran justru mengubah caranya memandang pria itu?

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!