“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
"Sudah aku bilang, jangan kirim uang lagi! Aku di sini mau kuliah. Bukan mau jadi pajangan, yang kalian beri makan supaya kalian nggak merasa bersalah karena nggak pernah pulang!"
Suara lantang itu membelah keramaian di depan Galleria Vittorio Emanuele II. Cahaya, dengan ponsel yang ditempelkan erat ke telinga, berjalan mondar-mandir dengan napas memburu. Ia tidak peduli pada tatapan orang Italia yang lewat. Emosinya sudah di ubun-ubun.
"Kerja saja terus sampai lupa kalau punya anak! Aku bisa cari uang sendiri di sini! Nggak usah sok peduli!"
Cahaya mematikan sambungan telepon dengan kasar. Matanya panas, namun ia menolak untuk menangis di tempat umum. Dengan langkah yang tergesa-gesa dan kepala yang masih menunduk karena sibuk memasukkan ponsel ke dalam tas ranselnya, ia berlari kecil mengejar waktu untuk jadwal wawancara kerja part time nya.
Di saat yang bersamaan, sebuah sosok tinggi tegap baru saja keluar dari butik mewah. Jeremy sedang melangkah menuju mobilnya dengan raut wajah sekaku es, pikirannya masih dipenuhi oleh kekesalan sisa perdebatan dengan Elio pagi tadi.
"Aduh!"
Tubuh mungil Cahaya menghantam dada bidang Jeremy yang sekeras batu. Cahaya terhuyung ke belakang, tasnya merosot, dan beberapa lembar kertas formulir pendaftarannya berhamburan di atas trotoar Milan yang bersih.
Jeremy membeku. Aroma parfum yang tidak asing tiba-tiba merasuki indra penciumannya. Itu adalah aroma mendiang istrinya. Namun, saat ia menunduk, ia melihat seorang gadis yang sedang menatapnya dengan api kemarahan di matanya.
"Heh! Kalau jalan pakai mata, dong!" bentak Cahaya refleks dalam bahasa Indonesia, sebelum sadar ia sedang di Italia. "Eh, maksudku... look at where you're going!"
Jeremy menatap gadis di hadapannya dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun.
"Kau yang menabrak ku, Nona. Kau yang harusnya melihat jalan," ketus Jeremy.
Cahaya tertegun sejenak. Pria di depannya ini luar biasa tampan, tapi auranya sangat menyebalkan. Terlalu angkuh. Dan yang paling membuat Cahaya kesal, pria ini hanya berdiri tegak tanpa niat sedikit pun membantunya memunguti kertas-kertasnya.
"Wah, luar biasa ya. Sudah menabrak, bukannya minta maaf malah berdiri kayak patung?" Cahaya berdiri, menepuk-nepuk celana jeansnya, lalu menunjuk dada Jeremy dengan telunjuknya yang mungil.
Jeremy mengernyit. Belum pernah ada orang di Milan, atau siapapun yang berani menunjuk-nunjuk dadanya dengan begitu tidak sopan.
"Turunkan tanganmu!"
"Enggak mau! Lagian, Om ini penampilannya saja yang rapi, jas mahal, jam tangan mewah, tapi etikanya nol! Orang tua Om nggak pernah ngajarin sopan santun, ya?"
Darah Jeremy seolah mendidih mendengar makian itu. "Om?"
"Iya, Om! Habisnya Om sudah kelihatan... ya, sudah berumur sih. Lagian sikap Om kaku banget kayak kanebo kering. Harusnya Om itu minta maaf, bukan malah menatapku kayak mau makan orang!" Cahaya berkacak pinggang, menatap Jeremy tanpa rasa takut sedikit pun.
Jeremy merasa dunianya sedikit jungkir balik. Gadis ini sangat pendek, wajahnya sangat mirip dengan wanita yang ia tangisi setiap malam, tapi mulutnya... mulutnya benar-benar seperti petasan. Berisik dan tajam.
"Dengar, Nona. Aku tidak punya waktu untuk meladeni kegilaanmu. Minggir dari jalanku," suara Jeremy merendah, memberi peringatan.
"Oh, silakan lewat, Om Sombong! Lewat saja!" Cahaya memberi jalan dengan gerakan tangan yang dramatis. "Semoga harimu sial terus!"
Jeremy tidak membalas. Ia melangkah melewati Cahaya dengan hati yang bergemuruh. Ada perasaan aneh yang bergejolak di dadanya, marah karena dihina, namun ada sedikit rasa penasaran karena wajah itu. Wajah yang membuat jantungnya yang sudah mati tiba-tiba berdenyut nyeri lagi.
Cahaya menjulurkan lidahnya ke arah punggung Jeremy yang menjauh. "Idih, ganteng-ganteng kok kayak monster es. Kasihan banget kalau ada yang jadi istrinya, pasti setiap hari sarapannya dibentak doang."
Cahaya segera memunguti kertas-kertasnya yang tersisa. Ia melihat jam di pergelangan tangannya dan memekik.
"Mampus! Aku telat wawancara!" Ia berlari menuju alamat yang diberikan oleh agen tenaga kerja di ponselnya.
Sementara di dalam mobilnya, Jeremy terus memegangi dadanya. Bayangan gadis itu terus berputar di kepalanya. Terutama caranya menunjuk-nunjuk dan memanggilnya dengan sebutan yang sangat menghina itu.
"Siapa gadis kurang ajar itu? Tidak punya sopan santun sama sekali!" gumam Jeremy pada dirinya sendiri.
"Ada apa dengan wajahmu, Jer? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu," tanya Edgar yang sejak tadi duduk di samping Jeremy.
Jeremy tidak langsung menjawab. Matanya menatap tajam ke luar jendela mobil yang menyusuri jalanan Milan.
"Bukan apa-apa, Ed. Hanya saja tadi ada tikus pengganggu," jawab Jeremy dingin.
Edgar mengernyitkan alis, sedikit terkejut dengan nada bicara Jeremy yang lebih lembut dari biasanya.
"Tikus pengganggu? Lalu, kau sudah memusnahkan tikus itu? Biasanya kau tidak akan membiarkan siapa pun mengusik ketenanganmu."
"Tidak!" jawab Jeremy cepat, bahkan sebelum Edgar kembali bertanya.
"Tumben sekali. Seorang Jeremy membiarkan pengganggunya pergi begitu saja? Siapa sebenarnya tikus itu sampai kau mendadak jadi pemaaf?"
Jeremy terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa tikus itu memiliki wajah yang sama dengan alasan di balik seluruh kesedihannya selama enam tahun ini.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭