NovelToon NovelToon
Dad, Where'S Mom?

Dad, Where'S Mom?

Status: tamat
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Pengasuh / Duda / Beda Usia / Tamat
Popularitas:255.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Senja

​“Dad, di mana Mommy?”

​“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”

​Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.

​Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.

​Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.

​Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

"Sudah aku bilang, jangan kirim uang lagi! Aku di sini mau kuliah. Bukan mau jadi pajangan, yang kalian beri makan supaya kalian nggak merasa bersalah karena nggak pernah pulang!"

Suara lantang itu membelah keramaian di depan Galleria Vittorio Emanuele II. Cahaya, dengan ponsel yang ditempelkan erat ke telinga, berjalan mondar-mandir dengan napas memburu. Ia tidak peduli pada tatapan orang Italia yang lewat. Emosinya sudah di ubun-ubun.

"Kerja saja terus sampai lupa kalau punya anak! Aku bisa cari uang sendiri di sini! Nggak usah sok peduli!"

Cahaya mematikan sambungan telepon dengan kasar. Matanya panas, namun ia menolak untuk menangis di tempat umum. Dengan langkah yang tergesa-gesa dan kepala yang masih menunduk karena sibuk memasukkan ponsel ke dalam tas ranselnya, ia berlari kecil mengejar waktu untuk jadwal wawancara kerja part time nya.

Di saat yang bersamaan, sebuah sosok tinggi tegap baru saja keluar dari butik mewah. Jeremy sedang melangkah menuju mobilnya dengan raut wajah sekaku es, pikirannya masih dipenuhi oleh kekesalan sisa perdebatan dengan Elio pagi tadi.

"Aduh!"

Tubuh mungil Cahaya menghantam dada bidang Jeremy yang sekeras batu. Cahaya terhuyung ke belakang, tasnya merosot, dan beberapa lembar kertas formulir pendaftarannya berhamburan di atas trotoar Milan yang bersih.

Jeremy membeku. Aroma parfum yang tidak asing tiba-tiba merasuki indra penciumannya. Itu adalah aroma mendiang istrinya. Namun, saat ia menunduk, ia melihat seorang gadis yang sedang menatapnya dengan api kemarahan di matanya.

"Heh! Kalau jalan pakai mata, dong!" bentak Cahaya refleks dalam bahasa Indonesia, sebelum sadar ia sedang di Italia. "Eh, maksudku... look at where you're going!"

Jeremy menatap gadis di hadapannya dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun.

"Kau yang menabrak ku, Nona. Kau yang harusnya melihat jalan," ketus Jeremy.

Cahaya tertegun sejenak. Pria di depannya ini luar biasa tampan, tapi auranya sangat menyebalkan. Terlalu angkuh. Dan yang paling membuat Cahaya kesal, pria ini hanya berdiri tegak tanpa niat sedikit pun membantunya memunguti kertas-kertasnya.

"Wah, luar biasa ya. Sudah menabrak, bukannya minta maaf malah berdiri kayak patung?" Cahaya berdiri, menepuk-nepuk celana jeansnya, lalu menunjuk dada Jeremy dengan telunjuknya yang mungil.

Jeremy mengernyit. Belum pernah ada orang di Milan, atau siapapun yang berani menunjuk-nunjuk dadanya dengan begitu tidak sopan.

"Turunkan tanganmu!"

"Enggak mau! Lagian, Om ini penampilannya saja yang rapi, jas mahal, jam tangan mewah, tapi etikanya nol! Orang tua Om nggak pernah ngajarin sopan santun, ya?"

Darah Jeremy seolah mendidih mendengar makian itu. "Om?"

"Iya, Om! Habisnya Om sudah kelihatan... ya, sudah berumur sih. Lagian sikap Om kaku banget kayak kanebo kering. Harusnya Om itu minta maaf, bukan malah menatapku kayak mau makan orang!" Cahaya berkacak pinggang, menatap Jeremy tanpa rasa takut sedikit pun.

Jeremy merasa dunianya sedikit jungkir balik. Gadis ini sangat pendek, wajahnya sangat mirip dengan wanita yang ia tangisi setiap malam, tapi mulutnya... mulutnya benar-benar seperti petasan. Berisik dan tajam.

"Dengar, Nona. Aku tidak punya waktu untuk meladeni kegilaanmu. Minggir dari jalanku," suara Jeremy merendah, memberi peringatan.

"Oh, silakan lewat, Om Sombong! Lewat saja!" Cahaya memberi jalan dengan gerakan tangan yang dramatis. "Semoga harimu sial terus!"

Jeremy tidak membalas. Ia melangkah melewati Cahaya dengan hati yang bergemuruh. Ada perasaan aneh yang bergejolak di dadanya, marah karena dihina, namun ada sedikit rasa penasaran karena wajah itu. Wajah yang membuat jantungnya yang sudah mati tiba-tiba berdenyut nyeri lagi.

Cahaya menjulurkan lidahnya ke arah punggung Jeremy yang menjauh. "Idih, ganteng-ganteng kok kayak monster es. Kasihan banget kalau ada yang jadi istrinya, pasti setiap hari sarapannya dibentak doang."

Cahaya segera memunguti kertas-kertasnya yang tersisa. Ia melihat jam di pergelangan tangannya dan memekik.

"Mampus! Aku telat wawancara!" Ia berlari menuju alamat yang diberikan oleh agen tenaga kerja di ponselnya.

Sementara di dalam mobilnya, Jeremy terus memegangi dadanya. Bayangan gadis itu terus berputar di kepalanya. Terutama caranya menunjuk-nunjuk dan memanggilnya dengan sebutan yang sangat menghina itu.

"Siapa gadis kurang ajar itu? Tidak punya sopan santun sama sekali!" gumam Jeremy pada dirinya sendiri.

"Ada apa dengan wajahmu, Jer? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu," tanya Edgar yang sejak tadi duduk di samping Jeremy.

Jeremy tidak langsung menjawab. Matanya menatap tajam ke luar jendela mobil yang menyusuri jalanan Milan.

"Bukan apa-apa, Ed. Hanya saja tadi ada tikus pengganggu," jawab Jeremy dingin.

Edgar mengernyitkan alis, sedikit terkejut dengan nada bicara Jeremy yang lebih lembut dari biasanya.

"Tikus pengganggu? Lalu, kau sudah memusnahkan tikus itu? Biasanya kau tidak akan membiarkan siapa pun mengusik ketenanganmu."

"Tidak!" jawab Jeremy cepat, bahkan sebelum Edgar kembali bertanya.

"Tumben sekali. Seorang Jeremy membiarkan pengganggunya pergi begitu saja? Siapa sebenarnya tikus itu sampai kau mendadak jadi pemaaf?"

Jeremy terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa tikus itu memiliki wajah yang sama dengan alasan di balik seluruh kesedihannya selama enam tahun ini.

1
Mukeseh
ngakak 🤣🤣🤣
Mukeseh
hajar om hantu itu cahaya 🤣🤣🤣
Mukeseh
hajar terus aya 🤣🤣🤣 biar gak jadi kanebo kering lagi
Esther
Om monstermu es nya sudah meleleh semua Aya😂
Esther
Kasihan Alvino
dasar Jeremy kalau ngomong asal
Esther
🤣🤣🤣🤣 kapok kamu Jeremy
Esther
Ada yang cemburu ini😂
Yuni Wiarti
/Rose//Rose//Rose//Rose/
ceuceu
kasihan bgt lio/Sob//Sob//Sob/
ceuceu
menyedihkan banget kamu lio/Sob/
awesome moment
dewa gengsi dipiara
awesome moment
smp chapter n msh sll 😭😭😭 basah di bantal jd.nya
LENY
OH CAHAYA SDH PUNYA KEKASIH RUPANYA
LENY
TEMAN NYA AJA GAK BERPIHAK SAMA JEREMY RASAKAN 😅😅
LENY
GILA ISTRI MENINGGAL SALAHIN ANAKNYA MEMANG ANSK MINTA DILAHIRKAN. JEREMY SEPERTI ORANG GAK PUNTA TUHAN AMIT2 KEJAM KASAR JAHAT
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
yh berarti yg pembunuh itu lo dong jer, secara yg punya Musuh kan situ😒
Bundanya Pandu Pharamadina
terimakasih sudah di ijinin baca marathon TAMAT kak Authir🙏❤
Senja: Sama2 bundaaa terima kasih kembali
total 1 replies
Liza Syamsu
ini sekuel mencuri benih mafia ya thor, knp jeremy membenci anaknya, harusnya sayang dan protektif karena elio yg paling berharga peninggalan darii stella
Mukeseh: hubungane apa kak
total 2 replies
Rumi Yati
Terima kasih thor, semangat sllu
maya sari
sanvat bagua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!