NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEGALAUAN YANG MEMUNCAK

Hujan gerimis menyirami pelataran kos Murni, tetesan air seperti titisan air mata yang tak pernah mau berhenti mengalir dari sudut matanya. Jendela kaca menjadi kanvas kabur yang menyembunyikan kota yang kini terasa begitu jauh dari tempat tinggal Khem di pulau lain. Setiap tetes hujan yang jatuh seolah mengukir kembali setiap kesalahpahaman yang pernah terjadi—kata-kata yang tersalah artikan, janji yang terlambat terpenuhi, dan rasa rindu yang semakin membelenggu hingga menjadi beban tak tertahankan.

"Rindu itu seperti lautan yang luas, Khem," bisik Murni sambil menatap layar ponsel yang menampilkan chat terakhir mereka. "Aku berusaha menyebrangnya dengan perahu kata-kata, tapi ombak kesalahpahaman selalu menghanyutkanku ke tengah yang tak bertepi."

Kemarin malam, suara Khem di telepon terdengar serak dan penuh dengan kecemasan. "Kenapa kamu tidak pernah bisa mengerti aku, Murni? Aku bekerja keras bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi untuk kita berdua!" Kata-katanya seperti duri yang menusuk hati Murni, padahal sebenarnya dia hanya khawatir kondisi kesehatan Khem yang sering mengabaikan makan karena kesibukan.

Murni mengingat hari ketika mereka berjanji akan menjaga hubungan ini meskipun jarak memisahkan. "Jarak hanyalah angka di peta, cinta kita adalah benang yang menghubungkan kita," ujar Khem saat itu dengan mata penuh harap. Tapi seiring waktu, benang itu semakin tipis—tertarik oleh waktu yang tidak selaras, oleh pesan yang tak kunjung terbaca tepat waktu, oleh kebahagiaan orang lain yang mereka lihat di media sosial dan membuat hati mereka penuh dengan keraguan.

Kali terakhir mereka bertemu adalah di bandara. Pelukan mereka begitu erat seolah ingin menyatu menjadi satu, tapi ketika Khem pulang ke kampung halamannya, Murni merasakan seolah bagian dirinya juga pergi bersama. Saat pintu pesawat tertutup, dia menangis sambil menyimpan foto selfie mereka di dompetnya—suatu bukti bahwa mereka pernah bersama di ruang dan waktu yang sama.

"Aku tidak bisa lagi seperti ini, Khem," ketik Murni dengan jari yang gemetar. Setiap huruf terasa berat seperti batu. "Kita seperti dua bintang yang terjebak di lintasan berbeda—saling menyinari tapi tak mungkin bertemu. Kesalahpahaman kita sudah seperti awan tebal yang menutupi cahaya cinta kita. Mungkin ini yang terbaik untuk kita berdua."

Di ujung lain, Khem membaca pesan itu sambil merasakan dunia seolah berhenti berputar. Tangan nya gemetar saat mengetik balasan, tapi kata-kata yang keluar hanya "Aku mengerti, Murni. Maafkan aku jika tidak pernah cukup baik untukmu. Semoga kamu menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya."

Ketika pesan itu terkirim, Murni menutup mata dan merasakan beban yang selama ini menyiksa hatinya perlahan hilang—tapi bersama-sama dengan itu, juga hilang rasa hangat yang pernah membuat hatinya terasa hidup. Hujan masih terus turun, menyirami bumi yang seolah meratapi akhir dari sebuah cinta yang terjebak di antara jarak dan kesalahpahaman.

Beberapa hari kemudian, Murni keluar dari kosnya saat matahari mulai bersinar setelah hujan. Ia berjalan ke pantai yang pernah mereka kunjungi bersama. Ombak laut menyapa pasir dengan lembut, seperti ingin menyampaikan pesan bahwa hidup akan terus berlanjut. Ia mengambil sebuah kerang kecil dan menyimpan nya di saku jaketnya—sebagai pengingat bahwa cinta yang pernah ada memang indah, meskipun tak selalu bertahan lama seperti apa yang diharapkan.

"Semoga kamu bahagia di mana pun kamu berada, Khem," ujarnya sambil menghadap laut yang luas. Angin pantai menyapu rambutnya, membawa dengan nya bisikan harapan bahwa suatu hari nanti, kedua hati yang pernah terluka akan menemukan cara untuk menyembuhkan diri sendiri—bahkan jika mereka harus melakukannya di jalur yang berbeda.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Hati Murni seperti sebuah keranjang bunga yang telah diinjak-injak oleh badai—kelopak-kelopak indahnya hancur berantakan, tangkai yang kuat kini membungkuk patah, dan aroma manis yang dulu memikat kini hanya tersisa rasa pahit tanah basah. Ruang kos yang dulu terasa hangat dengan kenangan dan doa-doa tentang masa depan bersama Khem, kini hampa seperti gurun yang tak pernah disentuh hujan. Setiap sudut ruangan berbisik kenangan yang menusuk—bantal yang pernah dia peluk sambil berbicara lewat telepon, mug kopi pasangan yang kini hanya digunakan sendiri, buku catatan yang penuh dengan rencana perjalanan yang tak akan pernah terlaksana.

"Awalnya, kamu seperti sinar matahari yang menerangi lorong gelap hidupku," bisik Murni sambil menatap ke arah dinding yang ditempel foto-foto mereka berdua. "Setiap pesanmu adalah obat untuk rasa sepi, setiap panggilanmu adalah irama yang membuat hatiku berdetak dengan penuh harapan. Kau bilang kita adalah dua kapal yang menemukan satu sama lain di lautan luas—kini aku merasa seperti kapal yang telah karam di tengah lautan yang tak bertepi, tanpa pelampung pun untuk menyelamatkan diriku."

Kembali lagi ingatan tentang hari-hari awal hubungan jarak jauh mereka menghantui pikirannya. Saat itu, setiap tantangan jarak terasa seperti batu loncatan menuju kebahagiaan yang lebih besar. Khem selalu menemukan cara untuk membuatnya tersenyum—mengirimkan paket penuh dengan makanan khas kampung halamannya, menulis surat panjang dengan tulisan tangan yang rapi, bahkan menyusun lagu kecil tentang mereka berdua yang dia nyanyikan lewat panggilan video. Pada masa itu, kegalauan hanya sebatas kekhawatiran kecil tentang jadwal yang tidak selaras, tentang sinyal yang sering putus-putus di tengah pembicaraan penting. Semuanya terasa bisa diatasi, karena cinta mereka seperti gunung yang kokoh—tak tergoyahkan oleh angin maupun hujan.

Namun lambat laun, batu loncatan itu berubah menjadi jurang yang semakin dalam. Setiap kesalahpahaman adalah sebuah celah yang terus membesar—saat Murni merasa diabaikan karena Khem terlambat merespons pesan, padahal dia sedang membantu rekan kerja yang mengalami kesulitan; saat Khem merasa cemburu melihat foto Murni bersama teman laki-laki di acara pabrik, padahal itu hanya rekan kerja yang sedang membantunya menyelesaikan proyek penting; saat mereka berdebat tentang masa depan yang ingin mereka bangun.

"Kita seperti dua pelukis yang diberikan kanvas yang sama, tapi kita melukis dengan warna dan gaya yang berbeda sekali," gumam Murni sambil menggenggam erat sepucuk surat yang pernah dia tulis tapi tak pernah dikirimkan. "Kamu melukis pemandangan pedesaan yang damai dengan rumah kecil di pinggir sawah, Aku melukis gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di tengah keramaian kota. Kedua lukisan itu indah dengan caranya sendiri, tapi tak mungkin menyatu menjadi satu."

Semua penyemangat yang dulu membara di dalam dirinya kini hancur berkeping-keping seperti kaca yang jatuh dari ketinggian. Ia yang dulu selalu bersemangat menghadapi hari baru, kini hanya merasa lelah bahkan sebelum matahari muncul di ufuk timur. Makanan yang dulu dia nikmati kini terasa hambar, musik yang dulu membuatnya riang kini hanya membuatnya menangis, bahkan taman kota yang dulu dia kunjungi untuk merenung kini terasa seperti penjara yang membatasi langkahnya.

Suatu malam, ketika badai datang dengan deras menghantam kota , Murni berdiri di depan jendela sambil melihat kilat yang menerangi langit kegelapan. Bunyi guntur yang bergemuruh seolah mencerminkan kegelapan yang terjadi di dalam hatinya. Ia merenungkan semua usaha yang telah dia lakukan untuk menyelamatkan hubungan itu—mengubah jadwal tidurnya agar bisa berbicara dengan Khem saat dia pulang kerja, belajar memasak hidangan kesukaannya meskipun harus mencoba berkali-kali hingga berhasil, bahkan menyimpan uang demi membeli tiket pesawat untuk bertemu dengannya. Tapi semua itu seolah percikan api yang dicoba nyalakan di tengah badai—cepat padam tanpa meninggalkan bekas apapun.

"Aku sudah berusaha sekuat tenaga, tapi sepertinya cinta saja tidak cukup," ujarnya dengan suara yang meratap, air matanya bercampur dengan tetesan hujan yang menetes di kaca jendela. "Semua impian yang kita bangun bersama seperti kastil pasir yang terbawa oleh ombak—cantik saat ada, tapi hilang begitu saja ketika ombak datang menyapuinya."

Ia mengambil kotak kecil yang penuh dengan kenang-kenangan mereka—cincin janji yang pernah diberikan Khem, tiket pesawat dari perjalanan terakhir mereka bertemu, amplop kosong yang pernah berisi surat cinta, dan foto-foto yang menangkap senyuman terbahagia dalam hidupnya. Dengan hati yang penuh kesedihan, dia menyusun semua barang itu di atas meja dan mulai membungkusnya dengan kain putih yang lembut. Setiap gerakan terasa berat seperti membawa gunung, setiap barang yang disentuh membawa rasa sakit yang menusuk ke dalam tulang punggungnya.

Ketika pagi hari tiba dan badai mulai reda, Murni keluar rumah dengan kotak kenang-kenangan di tangannya. Ia berjalan menuju pantai yang pernah menjadi tempat mereka membuat janji setia. Matahari mulai muncul dari balik awan, memberikan sentuhan emas pada permukaan laut yang masih bergelombang karena sisa badai. Ia menemukan sebuah tempat yang sunyi di antara batu karang dan mulai menggali lubang kecil di pasir hangat. Dengan hati yang penuh doa dan rasa terima kasih atas setiap momen indah yang pernah mereka bagi, dia meletakkan kotak itu ke dalam lubang dan menutupinya dengan pasir.

"Terima kasih untuk semua kebahagiaan yang kamu berikan padaku, Khem," ucapnya sambil menutup mata dan merasakan angin pantai menyapu wajahnya. "Meskipun jalan kita harus berpisah di sinilah, aku tidak akan pernah melupakan bagaimana kamu membuat hatiku hidup. Semoga suatu hari nanti, kita bisa melihat kembali masa lalu ini dengan senyuman dan rasa syukur, bukan dengan rasa sakit dan penyesalan."

Saat dia berdiri dan berjalan kembali menjauhi pantai, matahari mulai bersinar lebih terang, menerangi jalan yang ada di depannya. Meskipun hati masih penuh dengan luka dan kegalauan yang mendalam, rasanya ada secercah harapan yang mulai muncul di dalam dirinya—seperti bunga yang tumbuh dari puing-puing reruntuhan, atau matahari yang muncul setelah badai paling deras. Hidupnya masih berantakan, penyemangatnya masih buyar, tapi dia tahu bahwa suatu hari nanti, dia akan menemukan cara untuk menyusun kembali potongan-potongan hidupnya menjadi sesuatu yang baru, sesuatu yang miliknya sendiri.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Matahari sudah mulai memancarkan sinarnya ke atas atap pabrik makanan ringan di pinggiran kota, ketika Murni tiba dengan jas hujan yang masih basah karena sisa embun pagi. Pintu besi pabrik yang besar itu terbuka lebar, seperti mulut raksasa yang menyambutnya ke dalam dunia yang jauh berbeda dari kegalauan yang menghantui dirinya setiap malam. Bunyi mesin yang berdenyut dengan ritme teratur seolah menjadi irama baru yang mencoba menggantikan deru kegelisahan di dalam dadanya.

"Di sini, setiap biji tepung adalah janji akan rasa manis yang akan dihasilkan, setiap putaran roda mesin adalah langkah menuju hasil yang pasti," bisik Murni sambil melepas jasnya dan memasang seragam kerja yang putih bersih. Dunia di dalam pabrik ini terasa begitu teratur—semua ada tempatnya, setiap proses memiliki tahapan yang jelas, tak seperti hati yang kini seperti adonan yang terlalu banyak diberi air, lembek dan tak bisa dibentuk sesuai keinginan.

Sejak awal bekerja di sini, pabrik ini selalu menjadi pelarian bagi Murni. Ketika dunia luar terasa penuh dengan ketidakpastian, ia menemukan ketenangan di antara aroma wijen yang menggoda, gula yang manis, dan tepung yang halus yang memenuhi udara. Ia mengenal setiap mesin seperti mengenal bagian dari dirinya sendiri—mesin pencampur yang menggoyang adonan dengan lembut seperti pelukan yang menyelimuti, mesin pembentuk yang membentuk kue dan keripik menjadi bentuk yang rapi, oven yang menghangatkan dengan panas yang tepat untuk menghasilkan tekstur yang sempurna.

Pada masa ketika hubungan dengan Khem masih penuh dengan warna-warni, Murni sering membawa hasil karya pabriknya untuk dikirimkan melalui kurir. "Ini seperti rasa cinta kita, Khem—campuran dari banyak hal yang berbeda, tapi ketika disatukan dengan benar, akan menghasilkan sesuatu yang indah," katanya dulu saat mengirimkan paket berisi kue kering khas kota yang dibuat dengan tangannya sendiri. Khem selalu bilang bahwa setiap gigitan rasanya seperti rasa rumah yang jauh dari sana. Sekarang, setiap kali ia menyentuh adonan atau memeriksa hasil panggangannya, kenangan itu muncul seperti kabut yang menyelimuti pandangannya.

Hari ini, ia ditugaskan untuk mengawasi proses pembuatan keripik pisang yang menjadi primadona pabrik. Ia melihat dengan cermat setiap tahapan—pisang yang dipilih dengan teliti seperti memilih kata-kata yang tepat dalam percakapan, dipotong dengan ketebalan yang sama agar matangnya merata, direndam dalam larutan khusus sebelum digoreng dengan minyak yang panasnya terkontrol dengan baik. Setiap keripik yang keluar dari penggorengan adalah bukti bahwa dengan proses yang tepat dan kesabaran yang cukup, sesuatu yang sederhana bisa menjadi sesuatu yang berharga.

"Kita seperti keripik pisang yang berbeda, Khem dan aku," gumam Murni sambil membalik keripik yang sedang digoreng agar tidak gosong. "Aku memilih untuk tetap di tanah ini, dipanggang dan digoreng dengan resep tradisional yang telah terbukti dari generasi ke generasi. Kamu memilih untuk menjadi sesuatu yang baru, mungkin lebih modern dan dikenal luas, tapi harus meninggalkan rasa dasar yang membuatmu menjadi dirimu sendiri."

Saat bekerja, teman kerjanya, Ibu Roma, mendekatinya dengan senyuman hangat. "Kamu tampak jauh pikiran ya, nak?" ujarnya sambil menepuk bahu Murni dengan lembut. "Jangan biarkan beban hati mengganggu pekerjaan kita ya. Di sini, kita membuat sesuatu yang bisa memberikan kebahagiaan bagi banyak orang—setiap bungkus keripik atau kue yang kita hasilkan bisa menjadi teman ngobrol atau pelipur lara bagi orang yang memakannya."

Kata-kata Ibu Roma seperti embun yang menyirami bunga yang layu. Murni merasakan sedikit panas kembali di dalam hatinya—rasa tanggung jawab yang dulu membuatnya bersemangat untuk bekerja dengan baik. Ia mulai fokus kembali pada tugasnya, tangan yang dulu gemetar karena kegalauan kini bergerak dengan lincah dan pasti. Ia memeriksa suhu oven dengan cermat, mengatur kecepatan mesin dengan tepat, dan memastikan setiap produk yang keluar memenuhi standar kualitas yang tinggi.

Di sore hari, ketika matahari mulai meredup dan pabrik akan segera tutup, Murni berdiri di dekat gudang yang penuh dengan produk siap kirim. Setiap karton yang tersusun rapi seolah menjadi bukti bahwa kerja kerasnya tidak sia-sia. Ia mengambil satu bungkus keripik pisang yang baru jadi, membukanya dengan hati-hati dan mengambil satu lembar kecil. Rasanya renyah dan manis dengan sentuhan asam yang pas—rasa yang sudah ia kenal sejak kecil, rasa yang menjadi bagian dari identitasnya sebagai anak Padang.

"Mungkin inilah jalan yang Tuhan berikan padaku," ujarnya sambil menatap ke arah gudang yang luas. "Aku mungkin tidak bisa menyusun kembali impian tentang cinta yang pernah kubangun bersama Khem, tapi aku bisa menyusun kembali diri ku sendiri melalui setiap produk yang kulakukan. Setiap butir gula yang kubawa, setiap biji wijen yang kukirimkan ke dalam adonan, adalah langkah kecil menuju membangun sesuatu yang berarti—bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk orang lain yang menikmati hasil karya ku."

Saat ia membersihkan area kerja dan menyiapkan segala sesuatunya untuk hari berikutnya, rasa kegalauan yang dulu meluap-luap mulai mereda sedikit demi sedikit. Hidupnya mungkin masih terasa seperti adonan yang belum sempurna, tapi ia tahu bahwa dengan waktu, kesabaran, dan kerja keras yang tepat, ia akan bisa membentuknya menjadi sesuatu yang indah dan bermanfaat. Malam hari mulai menjelma di atas kota , dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Murni merasakan bahwa ada cahaya kecil yang mulai menyala kembali di dalam dirinya—seperti lilin yang dinyalakan di tengah kegelapan, memberikan penerangan pada jalan yang akan ditempuhnya selanjutnya.

 

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!