Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 : Latihan Bela Diri
Merpati putih itu tampak kelelahan, sayapnya mengepak tak beraturan di atas atap Paviliun Anggrek. Suara gaduh akibat serangan pembunuh bayaran tadi jelas membuatnya takut untuk turun. Qinqin, yang masih menggenggam belati berukir bunga seruni, mendongak. Matanya yang tajam menangkap kilatan sesuatu yang ganjil di kaki burung itu.
"Xue, lihat! Merpati itu sepertinya membawa sesuatu," tunjuk Qinqin.
Xue, yang masih mengusap sisa air mata akibat syok, mendongak lesu. "Mungkin itu merpati liar, Nona. Kediaman ini jarang menerima burung pembawa pesan selain untuk urusan militer Jenderal."
"Bukan. Instingku mengatakan itu untukku," gumam Qinqin. Ia bersiul kecil, mencoba memanggil burung itu. Namun, merpati itu justru terbang rendah dan hinggap di dahan pohon persik yang menjorok ke arah kolam.
Tanpa ragu, Qinqin mengangkat sedikit rok gaunnya, bersiap untuk memanjat.
"Nona! Apa yang Anda lakukan? Anda ini istri Jenderal!" pekik Xue tertahan, takut Nyonya Besar Wu tiba-tiba muncul dan mendapat alasan baru untuk menyiksa majikannya.
"Istri Jenderal juga manusia, Xue. Diamlah dan jaga situasi," sahut Qinqin pendek. Dengan kelincahan yang mengejutkan, Qinqin memanjat dahan pohon itu. Meskipun tubuh ini terasa lebih lemah dari tubuh aslinya dahulu, namun tekadnya membuatnya bergerak cepat.
Setelah berhasil meraih sang merpati, Qinqin segera melompat turun. Merpati itu gemetar di tangannya. Benar saja, di kakinya terdapat tabung kecil yang dibungkus kain sutra yang sudah kaku karena noda kemerahan yang mengering.
"Darah?" Qinqin berbisik. Alisnya bertaut.
Ia segera masuk ke dalam Paviliun Anggrek, menarik Xue dan menutup pintu rapat-rapat. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Qinqin membuka gulungan kain kecil itu. Di dalamnya terdapat tulisan yang berantakan, ditulis dengan sisa-sisa tenaga dan cairan merah yang tak lain adalah darah.
"Nona, Ayahmu sakit parah. Jangan percaya pada berita yang kau terima dari rumah. Hati-hati dengan Nyonya Bai. Surat-surat rintihanmu selama ini dibakar habis. Segera bertindak sebelum semuanya terlambat."
Membaca tulisan itu, tiba-tiba dada Qinqin terasa sesak. Bukan sesak karena napasnya, melainkan perasaan emosional dari pemilik tubuh asli yang masih tertinggal di dalam raga ini. Air mata tanpa sadar menetes di pipi Qinqin. Ingatan-ingatan tentang seorang pria tua yang selalu membelikannya manisan saat kecil, pria yang tersenyum hangat meski tubuhnya lemah, kini membanjiri benaknya.
"Siapa Bibi Sun, Xue?" tanya Qinqin tiba-tiba. Suaranya berubah parau.
Xue mengerutkan kening, tampak berpikir keras. "Bibi Sun? Hamba baru mengabdi pada Nona setelah Anda menikah dan pindah ke sini. Tapi... hamba pernah mendengar Nona menyebut nama itu saat sedang mengigau waktu sakit dulu. Bukankah dia pengasuh lama Anda di Timur?"
Qinqin meremas kain berdarah itu. "Jadi dia pengasuhku... dan dia mempertaruhkan nyawanya untuk mengirimkan ini. Nyonya Bai benar-benar wanita licik."
Kemarahan mulai membakar diri Qinqin. Ia menatap belati di atas meja, lalu menatap kain berdarah itu. Segalanya mulai jelas sekarang. Jika ayahnya di Timur sakit parah dan Nyonya Bai mengendalikan semua informasi, maka Qinqin di Barat hanyalah bidak yang sengaja dibuang agar tidak bisa menghalangi rencana Nyonya Bai menguasai harta keluarga.
"Xue, aku butuh lebih dari sekadar kunci dapur. Aku butuh kekuatan fisik untuk melindungi diri sendiri," ujar Qinqin dengan nada tegas. "Panggil Huo Lu. Katakan padanya aku ingin menagih janji Jenderal untuk memberikan apa pun yang kuminta."
Tak lama kemudian, Huo Lu tiba di depan paviliun. Ia tampak waspada, tangannya masih siaga di hulu pedang. "Nona Muda, Jenderal memerintahkan hamba untuk mengawasi Anda, bukan untuk menjadi pelayan pribadi Anda."
Qinqin keluar dari pintu dengan tatapan tajam. "Huo Lu, Jenderalmu bilang aku boleh minta apa saja. Dan sekarang, aku minta kau mengajariku cara berkelahi. Terutama cara menggunakan belati dan cara menjatuhkan lawan yang lebih besar dariku."
Huo Lu tertegun. Ia menatap Qinqin seolah wanita itu baru saja kehilangan akal sehatnya. "Anda? Belajar bela diri? Nona, tangan Anda terlalu halus untuk menggenggam senjata."
Qinqin berjalan mendekat, menatap lurus ke mata Huo Lu. "Tangan halus ini hampir saja tergorok tadi pagi. Jika Jenderalmu sedang sibuk berperang, aku tidak bisa hanya diam menunggu maut. Ajari aku, atau aku akan pergi ke pasar dan mencari orang lain untuk mengajariku."
Huo Lu melihat keseriusan yang luar biasa di mata itu. Ia menghela napas panjang. "Hamba harus melaporkan ini pada Jenderal."
"Silakan. Tapi selagi kau melapor, ambilkan aku pakaian yang lebih ringkas. Gaun-gaun ini terlalu ribet untuk dipakai bertarung," sahut Qinqin.
Malam itu, di lapangan belakang yang tersembunyi, Qinqin memulai latihannya. Huo Lu memberinya beberapa dasar gerakan langkah kaki agar ia tidak mudah dijatuhkan.
"Lebih rendah, Nona! Kaki Anda harus kuat menapak tanah!" seru Huo Lu.
Qinqin jatuh berkali-kali ke tanah yang keras. Lututnya memar, telapak tangannya lecet. Namun, setiap kali ia merasa ingin menyerah, bayangan kain berdarah dari Bibi Sun dan wajah pucat ayahnya muncul. Ia bangkit lagi, berkali-kali.
Dari kejauhan, di atas menara pengawas, Wu Lian berdiri diam. Ia memperhatikan bagaimana istrinya yang dulu sangat penakut, kini terus bangkit meski tubuhnya sudah gemetar karena kelelahan.
"Berubah drastis," gumam Wu Lian.
Wu Lian turun dari menara dan berjalan mendekati area latihan. Huo Lu segera memberi hormat, sementara Qinqin berhenti dengan napas tersengal-sengal. Keringat membasahi wajahnya, membuat rambutnya berantakan.
"Kenapa kau memaksakan diri sampai seperti ini?" tanya Wu Lian dingin.
Qinqin menyeka keringatnya dengan punggung tangan. "Karena aku tidak mau mati konyol. Dan karena aku punya hutang nyawa yang harus dibayar di Timur."
Wu Lian menyipitkan mata. "Timur? Kau ingin kembali ke sana?"
Qinqin menatap mata Wu Lian dengan berani. "Aku akan kembali suatu saat nanti. Tapi tidak sebagai orang lemah yang bisa diusir begitu saja. Aku akan kembali untuk mengambil apa yang menjadi milikku."
Wu Lian terdiam sejenak. Ia merasakan api kemarahan sekaligus tekad yang murni dalam diri Qinqin.
"Huo Lu, jangan hanya mengajarinya jalan kaki," ujar Wu Lian tiba-tiba. Ia mencabut sebuah belati kecil dari pinggangnya---senjata yang ramping namun sangat tajam---dan melemparkannya ke arah Qinqin.
Qinqin menangkapnya dengan sigap.
"Gunakan itu. Itu senjata sungguhan. Jika kau ingin bertarung, jangan setengah-setengah," lanjut Wu Lian sebelum berbalik pergi.
Qinqin menatap belati di tangannya. "Terima kasih, Jenderal," bisik Qinqin.
Ia kembali menatap Huo Lu. "Ayo lanjut. Jangan berhenti sampai aku bisa membuatmu mundur satu langkah saja."
Huo Lu tersenyum tipis, mulai merasa kagum. "Baik, Nona. Bersiaplah."
Di dalam hatinya, ia berjanji, Ayah, bertahanlah. Aku akan datang membawa perhitungan bagi mereka yang menyakitimu.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂