NovelToon NovelToon
Kiandra Dan Tara

Kiandra Dan Tara

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teman lama bertemu kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.

Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.

Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**

Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.

Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpisahan Setelah Lulus

Kelulusan seharusnya terasa seperti kemenangan.

Tapi bagi Tara, hari itu justru terasa seperti akhir dari sesuatu yang belum sempat ia pahami sepenuhnya.

Lapangan sekolah dipenuhi tenda putih, balon, dan spanduk besar bertuliskan Selamat & Sukses Angkatan Tahun Ini. Semua tampak meriah. Orang tua berdiri berkelompok, saling tersenyum, saling membanggakan anak-anak mereka.

Tara berdiri di barisan belakang, mengenakan toga yang terasa terlalu berat di pundaknya.

Ia melihat sekeliling.

Ada tawa.

Ada pelukan.

Ada air mata bahagia.

Namun tidak ada satu pun yang terasa benar-benar miliknya.

Kursi orang tua di baris depan kosong.

Mamannya tidak datang.

Bukan karena tidak mau—tapi karena jarak dan keadaan yang sudah terlalu rumit untuk dijelaskan.

Dan di sisi lain lapangan, Tara melihat Kia.

Berdiri bersama ibunya.

Sari mengenakan kebaya sederhana, rambutnya disanggul rapi. Wajahnya lelah, tapi matanya hangat saat memandang Kia.

Tara menunduk.

Ada rasa yang sulit ia beri nama di dadanya.

Iri?

Sedih?

Atau penyesalan?

Mungkin semuanya.

Upacara berjalan lambat.

Nama demi nama dipanggil.

Saat nama Kiandra Aulia Pratama disebut, tepuk tangan terdengar cukup keras. Kia melangkah mantap ke depan, menerima map kelulusan, lalu kembali ke tempatnya tanpa banyak ekspresi.

Tidak mencari siapa pun.

Tidak menoleh ke arah Tara.

Dan entah kenapa, itu menyakitkan.

Padahal Tara tahu—ia tidak berhak menuntut apa pun.

Nama Tara Pratama dipanggil menyusul.

Tara melangkah maju dengan langkah sedikit kaku.

Tepuk tangan terdengar, tapi terasa jauh.

Saat ia kembali ke barisan, pandangannya tanpa sadar mencari Kia.

Mata mereka bertemu sekilas.

Tidak ada senyum.

Tidak ada kebencian.

Hanya tatapan singkat yang penuh hal-hal yang tidak pernah terucap.

Dan mungkin… tidak akan pernah.

Setelah acara selesai, orang-orang berhamburan ke lapangan.

Foto keluarga.

Foto sahabat.

Foto kenangan.

Tara berdiri sendiri di dekat pohon flamboyan.

Ia membuka ponsel.

Satu pesan dari mamanya masuk.

Mama: Maaf Mama nggak bisa datang. Kamu sudah hebat sampai sejauh ini.

Tara menutup mata.

Ia membalas singkat.

Tara: Iya, Ma.

Tidak ada aku kangen.

Tidak ada aku butuh Mama.

Ia sudah terlalu lelah untuk menjelaskan perasaannya sendiri.

Sementara itu, Sari memeluk Kia.

“Kamu lulus,” katanya lembut. “Ibu bangga.”

Kia mengangguk pelan.

Ia melihat sekeliling. Melihat wajah-wajah yang akan segera menjadi masa lalu.

Lalu, tanpa sengaja, matanya menemukan Tara.

Sendiri.

Untuk sesaat, ada dorongan dalam dadanya untuk mendekat.

Untuk berkata sesuatu.

Apa saja.

Tapi kakinya tetap diam.

Karena ia tahu—kadang perpisahan tidak selalu terjadi dengan pertengkaran.

Ada perpisahan yang datang karena jarak dan pilihan.

Dan ini salah satunya.

Malam itu, rumah kecil terasa lebih sepi dari biasanya.

Koper kecil milik Tara berdiri di sudut kamar belakang.

Isinya tidak banyak.

Beberapa pakaian.

Buku sekolah.

Dan barang-barang yang tidak pernah benar-benar ia anggap sebagai rumah.

Sari membantu melipat baju terakhir.

“Kamu yakin mau pergi besok pagi?” tanyanya.

Tara mengangguk. “Iya, Tante. Aku diterima kerja di luar kota. Teman Mama bantu.”

Sari tersenyum tipis. “Ibu senang kamu punya rencana.”

Tara menunduk. “Aku nggak mau merepotkan.”

“Kamu tidak merepotkan,” jawab Sari cepat. Lalu ia berhenti sejenak. “Tapi Ibu juga tahu… kamu perlu pergi.”

Kalimat itu diucapkan tanpa luka.

Tanpa tuduhan.

Dan justru itu yang membuat mata Tara panas.

Kia mendengar percakapan itu dari balik pintu kamarnya.

Ia tidak keluar.

Ia duduk di tepi ranjang, memegang ponselnya, membuka dan menutup aplikasi tanpa tujuan.

Ada pesan dari Daffa yang belum ia balas.

Daffa: Jadi… setelah lulus, lo ke mana?

Kia mengetik sebentar.

Menghapus.

Mengetik lagi.

Kia: Kerja dulu. Nanti lihat.

Ia meletakkan ponsel.

Pikirannya tidak pada masa depan.

Tapi pada seseorang yang akan pergi tanpa benar-benar pernah datang.

Pagi datang terlalu cepat.

Langit masih abu-abu saat Tara menarik kopernya ke ruang tengah.

Sari sudah bangun, menyiapkan teh hangat dan roti.

“Kamu sarapan dulu,” katanya.

Tara menurut.

Mereka duduk berhadapan.

Tidak banyak bicara.

Tidak perlu.

Karena ada hal-hal yang terlalu besar untuk dibungkus kata-kata.

Saat Tara berdiri, Sari memeluknya.

Erat.

Tara membalas pelukan itu lebih lama dari yang ia rencanakan.

“Terima kasih,” bisiknya. “Untuk semuanya.”

Sari menepuk punggungnya. “Jaga dirimu.”

Kia keluar kamar tepat saat Tara mengangkat koper.

Mereka berdiri berhadapan di ruang tengah.

Hening.

Lama.

“Kamu berangkat?” tanya Kia akhirnya.

“Iya.”

“Kerja?”

“Iya.”

Kia mengangguk.

Lalu berkata, dengan suara datar tapi jujur, “Semoga berhasil.”

Tara menatapnya.

Ada banyak hal di matanya.

Permintaan maaf.

Penyesalan.

Harapan kecil yang tidak berani ia ucapkan.

“Makasih,” jawab Tara pelan.

Mereka tidak berpelukan.

Tidak berjabat tangan.

Tidak ada janji untuk tetap berhubungan.

Karena mereka berdua tahu—hubungan itu terlalu rapuh untuk dipaksakan.

Di depan rumah, mobil jemputan berhenti.

Tara menaikkan koper.

Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi.

Melihat rumah kecil itu.

Tempat ia belajar bahwa kebaikan tidak selalu datang dari orang yang berkewajiban mencintai kita.

Dan bahwa kebenaran tidak selalu langsung membebaskan—kadang ia justru melukai lebih dalam.

Mobil melaju.

Menghilang di ujung jalan.

Hari-hari setelah itu terasa kosong.

Kamar belakang kembali sunyi.

Tidak ada suara langkah canggung.

Tidak ada cekcok kecil.

Tidak ada kehadiran yang setengah diterima.

Kia membantu ibunya membersihkan kamar.

Ia membuka jendela, membiarkan udara masuk.

“Lebih tenang,” gumamnya.

Sari menatapnya. “Kamu kehilangan?”

Kia terdiam.

Lalu mengangkat bahu. “Mungkin.”

Sari tidak bertanya lagi.

Malam itu, Kia menerima pesan dari nomor tak dikenal.

Tara: Aku udah sampai.

Tara: Makasih… udah nggak ngusir gue waktu itu.

Kia menatap layar lama.

Lalu membalas singkat.

Kia: Jaga diri.

Tara membaca pesan itu di kota yang asing.

Ia tersenyum kecil.

Tidak ada lanjutan.

Dan tidak apa-apa.

Hubungan itu tidak berakhir dengan damai.

Tapi juga tidak lagi dipenuhi kebencian.

Mereka memilih jarak.

Karena kadang, satu-satunya cara untuk bertahan

bukan dengan saling mendekat,

melainkan dengan memberi ruang

agar luka bisa sembuh tanpa terus disentuh.

Dan di usia yang baru saja melewati kelulusan,

Kia dan Tara belajar satu hal yang sama:

Tidak semua keluarga ditakdirkan berjalan bersama.

Beberapa hanya dipertemukan

untuk saling memahami…

lalu dilepaskan.

...****************...

1
sabana
terimakasih
Bela Viona
anak anak tdk salah
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
Bela Viona
owhhh ank manjaaaa ya..
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
Bela Viona
lumayan sesak di episode awal..
blm bisa komen bnyk..
Bela Viona
serius ini blm ada papan komentar ?
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya
sabana: salam kenal jg🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!