NovelToon NovelToon
Dia Lagi Dia Lagi

Dia Lagi Dia Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Pelakor jahat / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Khodijah Lubis

Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengenal (Lagi) Pak Dokter

Notifikasi masuk di ponsel Tafana.

Grup baru dibuat: TAFANA MENCARI CINTA

Tafana memejamkan mata, menekan pelipisnya. Ya Tuhan…

Ravindra: "Selamat datang di grup resmi pencarian jodoh Tafana. Aku admin."

Tafana hampir melempar ponselnya.

Tafana: "Ravindra, nama grupnya NORAK."

Ravindra: "Fungsional. Langsung ke tujuan."

Reon: "Tafa, Giska ajak kamu nih main keliling mall besok. Mau nggak?"

Tafana berhenti mengetik sejenak.

Ravindra: "Aku ikut. Biar aman. Sekalian observasi. Aku kan mak comblang."

Tafana: "Aku ke mall, bukan wawancara kerja."

Reon: "Acara santai kok. Ikut aja Vin."

Ravindra: "Tuh boleh."

Tafana membayangkan itu. Kepalanya langsung nyut-nyutan.

-oOo-

Ketika berkumpul di lobi mall, Tafana dan Reon menatap heran pada pakaian Ravindra. Sementara mereka memakai kaus dan celana jeans kasual, Ravindra lebih memilih mengenakan kemeja dan pantofel, lebih seperti pertemuan bisnis.

"Nggak ribet, Vin?" tanya Reon, khawatir.

"Aku terbiasa begini," jawab Ravindra cuek.

"Terserah kamu aja lah," Tafana menahan tawanya. Ia menggenggam tangan Giska yang bersemangat.

-oOo-

Food court mall itu riuh tapi hangat—bau kopi, mentega, dan ayam goreng bercampur di udara. Mereka memilih meja dekat jendela. Giska duduk di antara Tafana dan Ravindra, kaki kecilnya bergoyang-goyang tak sabar.

Chicken cordon bleu mendarat di depannya, masih mengepul. Tafana mengajak Giska berdoa dahulu sebelum makan. Tanpa diminta, Tafana meraih pisau. Ia memotong rapi, menyesuaikan ukuran suapan, lalu mendorong piringnya lagi ke arah Giska.

“Panas. Tunggu dingin dulu,” katanya ringan.

Giska menurut, setelah hangatnya aman ia melahapnya. Keju meleleh, sedikit menetes di sudut bibirnya.

Tafana segera menyodorkan tisu, mengusapnya pelan. Ia melirik gelas. “Kalau sedang makan, minumnya dikit aja, ya. Nanti kembung.”

“Iya, Kak,” jawab Giska, patuh, lalu menyuap lagi.

Obrolan mengalir tanpa ceramah. Tafana menanyakan sekolah, teman favorit, dan apakah Giska suka menggambar. Sesekali tertawa, sesekali mengangguk, ritmenya pas—tidak mendominasi.

Reon memperhatikan dari seberang meja. Bahunya mengendur. Ada rasa tenang yang jarang ia temui, seperti menemukan rumah dalam gerak kecil yang tepat.

Ini, pikirnya. Ini yang aku harapkan.

Ravindra menatap tangan Tafana yang cekatan mengatur piring, tisu, sedotan. Ada kejutan kecil yang menampar kesadarannya. Hal-hal sederhana itu tak pernah terlintas di kepalanya dulu. Bukan karena Tafana tak pernah melakukannya, melainkan karena ia tak pernah benar-benar memperhatikan.

Ia menyeruput kopi, pahitnya tertinggal. Tafana menoleh, tersenyum singkat, lalu kembali pada Giska—dan Ravindra tahu, ada dunia yang selama ini luput darinya.

-oOo-

Playground mall itu seperti dunia lain—warna-warni menyala, teriakan kecil bersahut-sahutan, dan lantai empuk yang menipu siapa pun yang merasa masih lincah.

Begitu mereka tiba di depan gerbang, Reon mencondongkan badan ke Tafana. “Aku sama Tafana tunggu di luar aja ya,” katanya santai, seolah itu keputusan paling wajar sedunia.

Tafana melirik Ravindra. Ragu.

Ravindra langsung angkat dagu, sok santai. “Take your time. Aku bisa tangani Giska. Santai. Cuma anak kecil.”

Kalimat itu menggantung di udara. Menunggu waktu untuk menghantam balik.

Giska sudah menarik tangan Ravindra lebih dulu. “Om Rav, ayo ke kolam bola!”

“Kolam bola?” Ravindra menatap lautan bola plastik itu dengan curiga, tapi gengsi menolak mundur. “Gas.”

Lima detik kemudian, ia melompat masuk dan kesulitan bergerak. Bola-bola bergeser, menelan pijakannya. Ravindra mencoba berdiri. Gagal. Ia mendorong ke kiri, terpeleset. Ke kanan—jatuh lagi.

“Om-om jatuh!” teriak seorang anak.

Sebuah tubuh kecil menabraknya. Lalu satu lagi menginjaknya, bahkan menibannya.

Ravindra terduduk pasrah, tangan mengais udara, ekspresi panik setengah tertelan bola.

Giska terbahak. Tertawa sampai badannya terlipat, tangannya memegangi perut. “Om Rav lucuuu!”

Ravindra berusaha tersenyum, keringat mulai muncul. “Om… memang lagi pemanasan.”

Butuh bantuan dua anak dan satu pegangan jaring untuk akhirnya ia keluar. Rambutnya acak, kemeja rapi kini kusut.

Belum sempat bernapas, Giska menariknya lagi. “Sekarang main rumah-rumahan!”

Ravindra menuruti Giska ke area mini market, dengan rak kecil dan kasir mainan.

“Giska jadi ibu,” kata bocah itu tegas. “Om Rav anak.”

Ravindra berkedip. “Sebentar. Kenapa Om yang jadi anak?”

“Karena Om nggak bisa antri barusan,” jawab Giska cepat. Final.

Tersinggung sedikit, Ravindra membuka mulut, lalu menutupnya. Ia duduk di lantai, menyilangkan kaki, pura-pura cemberut. “Ibu, aku mau permen.”

“Bilang apa?” Giska menyilangkan tangan, gaya orang dewasa.

“Ehm… tolong.”

“Nah. Anak pinter.” Giska menyerahkan permen plastik. “Habis itu beresin mainan.”

Ravindra menatap permen itu. Menatap Giska. Lalu menurut. Mengembalikan mainan satu per satu ke tempatnya.

Di kejauhan, Reon dan Tafana mengamati. Tafana menahan tawa. Reon menggeleng kecil, senyum hangat tak hilang.

Di lantai empuk itu, kebenaran sederhana terungkap: secara sosial, Giska jauh lebih dewasa daripada Ravindra. Dan Ravindra—untuk pertama kalinya—tidak punya bantahan.

-oOo-

Ravindra masih duduk selonjor di lantai empuk, punggungnya bersandar ke dinding busa. Napasnya sedikit terengah, kemejanya kusut, harga dirinya entah tertinggal di kolam bola atau di rak mini market.

Giska berdiri di depannya, memiringkan kepala, menatapnya dengan serius yang tidak sesuai usia.

“Om capek ya?”

Ravindra refleks mengibaskan tangan. “Enggak kok.”

Giska mendengus kecil. “Ayah juga sering bohong gitu.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi tepat sasaran.

Ravindra terdiam. Senyumnya yang tadi dipaksakan mengendur. Ia menelan ludah, tidak siap ditelanjangi oleh seorang anak lima tahunan.

Giska mendekat satu langkah. “Sini, Om.” Tangannya yang kecil menyentuh bahu Ravindra. “Giska pijitin.”

Sebelum Ravindra sempat menolak, jari-jari mungil itu sudah menekan bahunya—asal, tidak teratur, tapi penuh niat baik. Gerakannya lucu, seperti meniru apa yang pernah ia lihat.

Ravindra kaku. Lalu perlahan, bahunya turun. Ketegangan yang sejak tadi ia tahan, runtuh tanpa izin.

“Oh,” gumamnya pelan. “Makasih, Giska.”

Giska tersenyum puas, masih memijat. “Kalau capek tuh bilang. Biar nggak jatuh-jatuh lagi.”

Ada tawa kecil di sekeliling mereka. Tapi Ravindra tidak ikut tertawa. Dadanya terasa hangat, asing, seperti disentuh di tempat yang lama ia abaikan.

Di kejauhan, Reon berhenti bicara. Tafana juga memperhatikan, matanya melembut.

Ravindra menatap lantai. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak sedang mengawasi, tidak mengatur, tidak memegang kendali.

Ia sedang dirawat, oleh seorang anak.

Dan entah kenapa, itu jauh lebih menyentuh—dan jauh lebih jujur—daripada semua peran yang biasa ia mainkan.

-oOo-

Reon dan Tafana duduk berdampingan di bangku kayu dekat playground. Di hadapan mereka, dinding kaca dipenuhi bayangan anak-anak yang berlarian. Reon memegang gelas kopi panas, sementara Tafana menggenggam es krim cup yang sudah mulai meleleh di tepinya.

“Kamu pura-pura santai,” kata Tafana sambil menatap ke dalam area bermain. “Padahal dari tadi matamu nggak lepas dari Giska.”

Reon terkekeh kecil. “Refleks. Kayak napas.” Ia menghela napas, lalu menyesap kopi. “Begitulah kalau jadi orang tua sendirian.”

Tafana meliriknya. “Sendirian itu capeknya dobel, ya? Capek fisik, capek mikir.”

Reon mengangguk pelan. “Kadang aku ngerasa bersalah. Kerja kebanyakan, waktu buat dia jadi sisa-sisa.” Ia berhenti sejenak. “Takut suatu hari dia sadar kalau ayahnya nggak selalu ada.”

Tafana terdiam, sendok es krimnya berhenti di udara. “Aku takut juga,” katanya jujur.

Reon menoleh. “Takut apa?”

“Takut nggak sanggup,” jawab Tafana tanpa berbelit. “Takut cuma jadi orang dewasa yang numpang lewat di hidup anak kecil. Takut bikin luka tanpa sadar.”

Reon menatapnya lama, tidak menyela.

Tafana melanjutkan, suaranya lebih pelan. “Aku nggak jago ngurus anak. Aku nggak paham cara bujuk anak, nggak paham tantrum, dan aku gampang panik.” Ia tersenyum kecil, agak menertawakan dirinya sendiri. “Tapi aku bisa hadir.”

Reon mengernyit, bukan bingung, tersentuh.

“Hadir itu penting,” katanya akhirnya. “Malah lebih penting dari semua konsep parenting.”

Tafana mengangguk. “Aku nggak pengin jadi ibu karena kewajiban. Tapi aku percaya, kalau suatu hari aku berdiri di samping anak kecil, aku bisa berdiri dengan jujur.”

Di balik kaca, Giska tertawa lepas, sementara Ravindra tampak kewalahan mengikutinya.

Reon tersenyum tanpa sadar. Untuk pertama kalinya sejak lama, rasa berat di dadanya terasa terbagi.

-oOo-

Tafana dan Reon kembali ke area playground. Reon berhenti sejenak, seolah harus menyesuaikan diri dengan pemandangan di depannya.

Ravindra duduk selonjor di pinggir kolam bola. Rambutnya berantakan, kemeja rapi yang tadi ia kenakan kini kusut tak keruan. Napasnya naik turun, seperti baru lari maraton, satu kaus kaki bahkan sudah terlepas entah sejak kapan.

Begitu melihat Tafana, Giska langsung berlari keluar. Tangannya kecilnya meraih tangan Tafana tanpa ragu.

“Kak Tafa! Tadi Om Rav jatuh dua kali! Terus Om sama aku main masak-masakan!” ceritanya heboh, kata-katanya tumpang tindih.

Tafana tertawa, menyimak dengan sabar. Sementara Reon menggendong putrinya sambil berjalan. Ketiganya tampak seperti keluarga kecil yang bahagia.

Ravindra memperhatikan dari tempatnya duduk. Tidak ikut tertawa. Tidak ikut bicara. Ada sesuatu yang runtuh pelan-pelan di dadanya. Ia sadar, kehadirannya tak lagi penting di lingkaran kecil itu.

Untuk pertama kalinya, Ravindra mengerti: ada dunia yang berjalan baik-baik saja tanpa kendalinya. Dan di dunia itu, ia hanyalah figuran.

1
falea sezi
jangan buat balik ya g rela q dpet laki bekas jalang.. wong perjaka aja banyak
nuraeinieni
akhirnya tafana hamil,,,,,semoga ravindra selamat dan cepat sembuh,spy dengar khbar bahagia.
amilia amel
terus bersinar ya tafana
Serenarara: Iya kaka. Ehh..🤭
total 1 replies
amilia amel
semangat tafana
amilia amel
akhirnya sadar juga kamu
falea sezi
lahh nikmati aja sampah yg kau pungut emas kau buang hehehe.. jangan buat balik Thor gk rela lah q dpet laki bekas kaya ravindra yg bekas jalang ihh jijikkk/Puke/
amilia amel
permata berlian kau lepas
batu kali kau dapatkan
falea sezi
hahaha nunggu ravindra nangess nyesel dan uda buang berlian demi sampah gmna tuh rasanya vindra
Serenarara: Yoi! Biar impas.
total 1 replies
Arin
Biar Ravindra rasakan apa yang namanya di khianati orang yang dia cintai.... Ternyata Yunika ada main sama mantan adik ipar🤣🤣🤣🤣
Serenarara: Biar ngaca dia.
total 1 replies
falea sezi
cpet cerai resmi g rela q balikan ma bekas jalang tafana berhak dpet yg setia thor
amilia amel
masih berhubungan dengan orang-orang di masa lalu Tafana
Arin
Tafana jadinya seperti lagi nostalgia🤭🤭Yang jadi kandidat calon Tafana orang-orang di masalalu, masa masih sekolah😁😁😁
falea sezi
hmmm penyesalan mu bakal g guna raf kehilangannya berlian demi sampah bau
amilia amel
akhirnya 2 sahabat sudah berbaikan dan iru berkat Ravindra
nuraeinieni
baru rasa kehilangan tafana,makanya kejar tafana,tinggalkan yunika.
amilia amel
kapokmu kapan vin....
yang kamu pilih malah obralan, padahal ada yang eksklusif
Frida Fairull Azmii
boleh gak sih thor jodohnya tafa sama flores aja,kaya nya dia tipe setia.. jgn sma ravin lg aah msa iya kakak ipar sama adik ipar udah tau rasa terumbu karang si nika..iyuuuuhh..tp bingung jg sih tafa hamilapa ngga ya,soalnya hadiah aniv nyawktu itu kecil kemungkinan tespek kali yah..
amilia amel
apa bener Sierra sejahat itu?
yang katanya sahabat tapi menusuk s
dari belakang 😓😓
Frida Fairull Azmii
waahh..jdi curiga d balik semua masalah tafana si siera ini nih sumber nya.. soalnya komunikasi antara tafa sma rivan jg gara" d bikin sibuk sma butiknya,kacau sih
nuraeinieni
aduh kenapa sierra jahat sama tafana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!