NovelToon NovelToon
Wanita Amnesia Itu Istriku

Wanita Amnesia Itu Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Amnesia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.

"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."

Bara memohon dengan mata memelas.

Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.

Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.

Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.

"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.

Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?

Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KENANGAN

Bara mengeringkan rambutnya setelah membersihkan diri dari lumpur yang memenuhi tubuhnya saat bermain bola dengan anak-anak panti sore tadi.

Saat berjalan menuju mushola untuk mengumandangkan adzan maghrib, ia bertemu Aira yang juga akan ke mushola.

"Sayang.. Eh Aira, " panggil Bara.

Aira menoleh dan menatapnya diam.

"Malam ini kita ke pasar malam yuk, belikan cemilan untuk anak-anak, " ajak Bara dengan senyuman manis yang selalu meluluhkan hati Aira.

Aira nampak ragu, tapi akhirnya mengangguk kecil menyetujui.

"Oke, setelah sholat maghrib nanti, aku ijin ke bu Siska. Kamu bersiap ya."

Aira mengangguk lagi, lalu buru-buru masuk ke mushola meninggalkan Bara yang masih tersenyum bahagia.

Aira buru-buru bukan karena kesal, tapi karena tak mau Bara melihat pipinya yang merona. Ia ingin tetap dilihat dingin oleh Bara.

Aira menata sejadah di posisi jamaah wanita, meletakkan mukenanya lalu ke kamar anak-anak untuk memanggil mereka.

"Allahu akbar...Allaaaaahu Akbar.. "

"Allaaaaahu Akbar.. Allaaaaahu Akbar.. "

Hati Aira bergetar mendengar alunan adzan yang dikumandangkan Bara. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit menyentak.. Ia bersandar di dinding sambil memegang kepalanya. Air mata menggantung di sudut.

Suara ini.. suara yang pernah ia dengar dulu.. dan selalu membuat hatinya bergetar. Setiap jeda antara adzan dan iqamah Aira selalu berdoa dalam hati mengharap Allah anugerahkan untuknya calon suami seperti pemilik suara adzan tadi.

Aira terduduk sambil terengah. Beberapa anak-anak yang akhirnya berinisiatif sendiri ke mushola terkejut melihat Aira yang lemah bersandar, duduk di lantai.

"Kak Aira.. Kak.. kakak kenapa? "

"Ambilkan air minum, cepat, " suruh seorang anak perempuan berusia 12 tahun pada anak perempuan yang usianya lebih kecil.

Ia berlari ke dapur mengambilkan minum untuk Aira.

"Laaaa ilaaaaha ilallaaaaah.. "

Suara adzan berakhir, Bara memanjatkan doa setelah adzan lalu menyelipkan doa untuk kesembuhan Aira di setiap waktu mustajab. Salah satunya saat ini.

Konsentrasinya buyar mendengar sayup-sayup kehebohan didepan mushola. Ia mengakhiri do'anya lalu buru-buru keluar.

Ia tersentak melihat Aira yang masih terengah lemah, mengambil gelas dengan tangan sedikit gemetar.

"Aira.. kamu kenapa? " tanyanya panik lalu bergegas menghampiri.

"Kak Aira kenapa anak-anak? " tanya Bara lagi.

Mereka menggeleng.

"Kami datang Kak Aira sudah begini Bang, " ujar si perempuan dua belas tahun itu.

Bara menggendong Aira membawanya ke dalam mushola.

Keringat dingin membasahi wajah Aira yang terlihat pucat.

"Apa ada yang sakit Aira? " tanya Bara lembut.

Aira menatap Bara, ingatannya kembali perlahan seperti puzzle yang hampir sempurna. Tapi melihat wajah pria dia hadapannya muncul badai dihatinya..

Hardikan sang ibu mertua, wajah lelah pria itu saat terlelap di atas brankarnya, wajah bahagianya didepan cermin melihat hasil riasan MUA dengan pakaian pengantin yang indah.

Aira tiba-tiba memeluk Bara. Air mata mengalir deras di pipinya. Ia butuh kehangatan pelukan suaminya. Pelukan yang selalu menenangkannya seperti dulu.

Bara merengkuh tubuh Aira yang kian kurus itu. Ada rasa syukur di hatinya, Aira memeluknya meski dengan mata sembab. Bara mengelus lembut punggungnya.

Anak-anak ke posisi sholat membiarkan keduanya meluapkan emosi dan kerinduan.

"Istighfar sayang.. Astaghfirullahal 'Adzhim.., " pandu Bara.

Aira mengikutinya dengan gerakan bibir tanpa suara.

"Mas.. Maafkan Aira.., " ujarnya lirih.

Bara mengangguk, mencium ubun-ubun Aira yang terhalang hijab.

"Mas selalu maafkan Aira. Jangan sedih lagi ya, " sahutnya menenangkan.

"Kita sholat dulu? "

Aira mengangguk pelan dan bangkit perlahan. Bara menuntunnya ke posisi jamaah wanita.

"Kamu kuat berdiri? "

Aira mengangguk pelan.

Tak lama Siska dan Darma datang menyusul. Mereka saling tatap melihat Bara membantu Aira memakai mukena, lalu segera menghampiri.

"Kenapa Bara? " tanya Siska cemas.

Darma buru-buru membantu Aira menyelesaikan memakai mukenanya.

Bara menggeleng, "Tiba-tiba lemas bu, sudah terduduk di lantai."

Siska mengangguk mengerti, Bara berdiri ke posisi imam menyuruh anak laki-laki tertua yang biasa jadi imam untuk iqamah.

Siska berdiri di samping Aira memastikan ia bisa melakukan sholat tanpa terjatuh.

"Kalau tidak kuat berdiri, jangan dipaksakan. Sambil duduk saja ya."

Aira mengangguk pelan.

"Allaaahu Akbar. "

Sholat maghrib di mulai. Aira terisak mendengar bacaan sholat dari suara Bara, tapi ia berusaha tetap khusyuk.

Sepuluh menit kemudian sholat maghrib selesai.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi.. Assalamu'alaikum warahmatullah."

Bara berbalik ke arah jamaah, memandu dzikir dengan mic yang tergantung di baju kokonya. Setelah doa selesai. Bara menyampaikan tausiyah dengan tema ikhlas.

"Saat kita ikhlas, maka Allah menerima ikhlas kita dan menggantinya dengan keadaan yang lebih baik. Ikhlas itu bukan hal yang mudah tapi juga bukan hal yang mustahil. Makanya ganjaran ikhlas sangat besar dari Allah."

Aira menatap Bara. Bukan hanya menghayati isi tausyiah yang disampaikannya, tapi seolah lama tak melihat sosok pria yang membuatnya sempat ragu untuk menerima lamaran pria itu.

Pria yang terasa jauh dari jangkauan, tapi Allah takdirkan menjadi pendamping Aira.

"Apa ada sesuatu yang kamu rasakan tadi? " tanya Siska membuyarkan lamunan Aira.

"Ada ingatan yang kembali, Bu. Ingatan tentang mas Bara, " ujar Aira.

"Hentakannya sakit sekali, " sambungnya.

"Kamu sudah merasa lebih baik? "

Aira mengangguk. "Bu, apa mungkin Aira bisa bersatu dengan mas Bara? " tanyanya lirih.

"Tak ada yang tak mungkin, Aira. Minta Allah yang kuatkan. Dia mau bertahan denganmu itu sudah sebuah karunia yang luar biasa dari Allah. Coba bicarakan lagi rencananya ke depan bagaimana kalau kalian bersama! "

Aira mengangguk, kini ia juga berharap bisa bersama Bara. Meski entah akan bertahan sampai kapan dengan kondisi kesehatannya ini. Setidaknya, dia ingin memberikan kesan yang baik, pelayanan yang terbaik di tengah keterbatasannya.

"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. "

"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."

Anak-anak berhamburan mencium punggung tangan Bara. Bara tertawa bahagia melihat semangat mereka.

Anak-anak kembali ke kamar mengaji sebentar sebelum makan malam.

"Bagaimana kondisi mu Aira? " tanya Bara menghampirinya.

"Sudah tidak apa-apa, Mas. Terima kasih, " jawab Aira tertunduk malu. Malu karena ia spontan memeluk Bara tadi.

"Alhamdulillah.. jadi, malam ini bagaimana? Jadi pergi? " tanya Bara lagi.

Aira mengangguk pelan.

"Mau kemana? " tanya Siska heran.

"Mau ajak Aira ke pasar malam, Bu. Sekalian cari cemilan untuk anak-anak. Ibu ada yang mau di titip? "

"Oh bagus-bagus. Kalian memang butuh waktu berdua. Ibu tidak titip apa-apa. Pastikan saja kondisi Aira baik-baik saja saat dijalan."

Bara dan Aira sama-sama tersenyum saat mendengar nasihat Siska. Siska paham, Bara ingin mengembalikan momen saat mereka belum menikah dulu.

Aira melipat mukena dan membiarkannya di mushola. Bara melepas sarungnya dan meletakkannya di tempat mukena Aira.

"Titip, " katanya singkat.

Aira tersipu, sambil mengangguk pelan.

Siska sudah menyusul anak-anak memastikan mereka mengaji. Bara dan Aira berjalan menuju motor yang terparkir di samping mushola.

Motor melaju setelah Aira duduk di jok belakang dan memakai helm.

Jarak Panti dengan pasar malam sekitar setengah kilo. Pasar malam, tempat berjualan aneka jajanan dan barang-barang kebutuhan. Pakaian, mainan, perabot rumah tangga, sendal sepatu KW, sosis bakar, sate pentol dan banyak lagi. Hiburan untuk warga menengah ke bawah karena harga dagangan yang terjangkau.

Motor berhenti tepat di warung soto sebelah pasar malam.

"Kita makan dulu yuk, mas laper, " ajak Bara.

Aira mengangguk pelan. Sepanjang jalan mereka tak bicara. Seakan sibuk dengan pikiran masing-masing.

Bara yang menduga Aira sudah luluh, dan Aira yang sibuk mengingat momen kebersamaan nya dulu dengan Bara.

Ya, dulu setiap malam minggu Bara sesekali mengajaknya ke pasar malam sekedar beli jajanan untuk anak-anak panti.

"Bu dua mangkok, nggak pakai kubis sama koya. "

Aira tertegun, "Mas tahu aku nggak suka pakai keduanya? "

Bara tersenyum, "Kita sering makan di sini dulu sayang.. Eh Aira... "

Aira tersenyum malu sambil menunduk. Ia lalu mengedarkan pandangan mencoba mengingat dan mengkonfirmasi yang Bara sampaikan tadi.

"Kita biasa duduk di situ, sayangnya sudah keduluan yang lain, " tambah Bara sambil menunjuk meja yang tepat mengarah ke tenda pasar malam.

"Kenapa? " tanya Aira heran.

"Kamu bilang sekalian dengarin pengamen yang lagi show, karena lagu yang dinyanyikannya lagu masa kamu SMA."

Aira mencoba mendengarkan meski samar-samar. Kepalanya mengangguk, memori lamanya mengulang.. memori saat ia berdendang mengikuti lirik lagu dari siaran radio saat ia masih remaja.

"Sepertinya benar, " gumamnya lirih.

Bara tersenyum, gumaman itu sampai ke telinganya.

Ibu penjual mengantar dua mangkok soto ke hadapan mereka.

"Terima kasih Bu, " ujar Bara yang disambut anggukan.

Aroma kuah soto menari-nari di hidung mereka. Mata Aira berbinar seolah ini kali pertama ia menikmati makanan di depannya. Bara tersenyum geli.

Bara teringat pesan dokter, ia buru-buru menggeser botol sambal ke meja lain. Aira celingak celinguk mencarinya. Bara melipat bibir menahan senyum.

"Mas, botol sambal mana? " tanya Aira masih tak sadar di kerjai.

"Nggak tahu, mungkin habis," sahut Bara masih menahan senyum.

Aira lalu melihat ekspresi Bara yang tidak tertawa lirih hingga jakunnya ikut bergetar.

"Ish.. sengaja ya? " tanya Aira.

"Kata dokter nggak boleh makan itu dulu sayang.. eh Aira."

Aira mendadak cemberut.

"Dikiiiit aja mas, plis. Di panti udah nggak ada sambal masa iya di sini juga nggak boleh, " rengek Aira.

"Ya sudah, sedikit ya."

Bara mengambil bot sambal yang disembunyikannya tadi lalu menekan sedikit dan meletakkannya di mangkuk Aira.

"Ish dikitnya kebangetan, nggak ada rasanya dong?"

"Kalau mau ada rasanya langsung ke mulut aja, mau? " goda Bara.

"Ish.. tegaaa."

Bara tertawa, akhirnya ia menambahkan sedikit lagi ke mangkuk Aira.

Senyum kemenangan menyabit di bibirnya.

"Ekhem.. jadi.. setelah lima belas hari interaksi intens kita, apa ada sesuatu yang hangat? berdebar atau berbinar begitu? " tanya Bara kemudian.

Baru saja Aira mengunyah suapan pertama, tiba-tiba..

UHUKUHUKUHUK

Bara, buru-buru mengambilkan air minum untuk Aira.

"Pelan-pelan, Aira jadi grogi ya? "

"Nggak kok, karena sambal, " elak Aira.

Bara mengulum senyum, ia tahu Aira berbohong.

"Aira.. jawab jujur deh. Apa bener nggak ada rasa sama sekali? " tanya Bara lagi.

Mata Aira mengerling , kepala tertunduk. jantungnya berdegup. Perasaan aneh menjalar ke hatinya. Perasaaan yang dulu pernah Aira rasakan, di situasi yang sama, di tempat yang sama.

Aira mengangguk dengan jelas. Senyuman terulas di bibir Bara, matanya berbinar penuh rasa syukur.

1
falea sezi
bara plin plan males deh cowok kayak gini.. mending Aira kasih jdoh lain yg ortunya nrima Aira thor biar nyesel di bara yg nurut aja kata emak. nya
Happy Kids: skalipun dipaksain yg ada sakit ati. si norma jg pengen ngebet jd kaya 🤭
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. msh on progress yg ini.. di up hari ini .. 🙏🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!