Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25.Kembali ke kamp.
Malam di Kamp Perbatasan Timur terasa lebih dingin dari biasanya.
Barak kayu panjang itu berderit pelan setiap kali angin menabrak dindingnya. Lampu minyak kecil yang digantung di tengah ruangan bergoyang samar, membuat bayangan para prajurit yang sudah lebih dulu kembali tampak panjang dan bergeser di lantai.
Pintu barak terbuka pelan.
Yun Lan masuk tanpa suara.
Pakaiannya sudah kering setengah, tapi rambutnya masih lembap. Wajahnya pucat bukan karena dingin, melainkan karena sisa adrenalin yang belum sepenuhnya turun dari dadanya.
Ia terlambat.
Sangat terlambat.
Semua orang sudah kembali.
Xin yang sedang duduk bersandar di tiang kayu langsung menoleh tajam.
“Dari mana saja kau?” suaranya rendah, tapi cukup untuk membuat beberapa kepala lain ikut menoleh.
Shi berhenti mengunyah makanan keringnya.
Han mendongak.
Qiao mengangkat alis.
Tatapan mereka tidak marah. Tapi jelas… mempertanyakan.
Yun Lan tidak menjawab seketika. Ia berjalan masuk dengan langkah pelan, berusaha terlihat senormal mungkin.
Yun yang sedang duduk di sudut ruangan langsung memperhatikan perubahan napas Yun Lan. Terlalu cepat. Terlalu tidak rata. Ia mengenal tanda itu.
Yun Lan baru saja melakukan sesuatu yang berat.
Sangat berat.
“Perutku…” Yun Lan akhirnya bersuara pelan. “Tiba-tiba sakit saat di kolam air panas tadi, jadi...jadi aku mencari tempat untuk buang air besar.”
Xin mengernyit.
“Sakit perut sampai selama itu?”
Nada suaranya bukan mengejek. Tapi curiga.
Yun Lan menunduk, mengangguk pelan. “Aku harus menjauh. Tidak enak kalau di dekat kalian.”
Shi mengibaskan tangan. “Kau memang terlalu sering sakit. Seperti orang kota yang tidak pernah kena angin hutan.”
Han mendengus pelan. “Atau terlalu banyak makan ikan sungai mentah.”
Beberapa dari mereka tertawa kecil.
Tegangan di ruangan sedikit mengendur.
Tapi Xin belum sepenuhnya percaya. Tatapannya masih tertahan di wajah Yun Lan.
Yun yang melihat itu langsung angkat bicara dengan nada santai.
“Kalau kau berdiri menatapnya begitu, perutnya bisa sakit lagi, Xin.”
Beberapa orang terkekeh.
Yun melanjutkan, “Tadi saat di sungai, aku memang melihat wajahnya sudah pucat. Kupikir dia hanya kedinginan.”
Yun berbohong dengan sangat tenang.
Suaranya datar.
Wajar.
Seolah memang benar begitu.
Xin akhirnya menghela napas. “Lain kali bilang saja. Jangan membuat kami mencarimu.”
Yun Lan mengangguk cepat. “Maaf.”
Ia segera menuju tempat tidurnya di pojok barak.
Duduk.
Menunduk.
Berusaha mengatur napas.
Tangannya tanpa sadar menyentuh pergelangan sendiri. Masih terasa getaran dari pukulan yang tadi ia berikan di belakang leher Hong Lin.
Ia memejamkan mata.
Wajah pria itu terlintas lagi.
Cara ia berkata “Maaf” berulang kali.
Bukan dengan nada pria cabul.
Bukan dengan nada merendahkan.
Tapi… sungguh-sungguh.
Yun Lan mengatupkan rahangnya pelan.
Rasa bersalah merayap pelan seperti air dingin yang menyusup ke celah pakaian.
Bagaimana ini jika pria itu adalah pemimpin di kamp ini?, pikirnya yang cemas.
Yun yang duduk tidak jauh darinya menatap sekilas. Ia tidak bertanya. Tidak menegur.
Tapi matanya tajam.
Ia tahu.
Yun Lan bukan sakit perut.
Dan sesuatu telah terjadi malam ini.
Di tempat lain.
Di bangunan utama komando Kamp Perbatasan Timur.
Komandan Zhou berdiri di depan meja kayu besar dengan kedua tangan bertumpu di permukaannya.
Lampu minyak di atas meja menyala terang.
Peta wilayah perbatasan terbentang luas di depannya.
Beberapa titik diberi tanda merah.
Angin malam masuk lewat celah jendela, membuat ujung peta sedikit berkibar.
Seorang prajurit jaga berdiri di dekat pintu.
“Masih belum terlihat tanda-tanda kedatangan dari Perbatasan Utara, Komandan.”
Zhou tidak menjawab.
Tatapannya tetap pada peta.
Rahanya mengeras.
Seharusnya Hong Lin sudah tiba malam ini.
Perjalanan dari Utara ke Timur memang tidak singkat. Tapi jika berangkat sesuai waktu, ia tidak mungkin terlambat sejauh ini.
Hong Lin bukan orang ceroboh.
Bukan orang yang akan terlambat tanpa alasan.
Zhou berjalan pelan ke jendela.
Menatap gelap hutan di kejauhan.
Angin malam membawa suara pepohonan yang bergesekan.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
“Siapkan dua regu kecil,” katanya pelan. “Berangkat saat fajar. Ikuti jalur sungai.”
“Baik, Komandan.”
Zhou menatap kegelapan lebih lama.
Ada firasat aneh yang tidak bisa ia jelaskan.
Sesuatu tidak beres.
Tapi ia belum tahu apa.
Sementara itu.
Di bawah pohon besar dekat sungai.
Hong Lin mulai bergerak.
Sangat pelan.
Rasa nyeri di belakang lehernya seperti dipukul batu.
Kelopak matanya terasa berat.
Ia membuka mata sedikit.
Langit masih gelap.
Bulan sudah hampir tenggelam di balik awan.
Ia mencoba mengingat.
Hutan.
Pertarungan.
Pedang.
Dan—
Seorang wanita.
Bayangan itu datang begitu jelas hingga membuatnya terdiam.
Rambut basah.
Gerakan ringan seperti bayangan.
Tatapan mata yang tajam di kegelapan.
Ia mencoba bangkit, tapi kepalanya berdenyut.
Tangan menyentuh tanah basah di sampingnya.
Ia mengerang pelan.
“Ah…”
Baru saat itu ia sadar pedangnya tergeletak beberapa langkah dari tubuhnya.
Dan pakaiannya kotor oleh tanah.
Ia menelan ludah.
Perlahan ingatan kembali menyatu.
Wanita itu menyerangnya tanpa suara.
Tanpa ragu.
Tanpa ampun.
Tapi… tidak membunuhnya.
Hong Lin mengangkat tangan ke belakang leher.
Titik pukulannya tepat.
Presisi.
Dilakukan oleh seseorang yang benar-benar terlatih.
Bukan orang sembarangan.
Ia terdiam cukup lama.
Mengingat.
Yang paling ia ingat bukan pedangnya.
Bukan gerakannya.
Tapi tatapannya.
Mata itu.
Dingin.
Marah.
Dan… takut.
Seolah ia sedang melindungi sesuatu yang sangat penting.
Hong Lin menghela napas panjang.
“Siapa wanita itu…” gumamnya pelan.
Rasa penasaran aneh tumbuh di dadanya.
Bukan rasa dendam.
Bukan rasa marah.
Tapi sesuatu yang lebih rumit.
Ia tidak merasa diserang.
Ia merasa… disalahpahami.
Dan entah kenapa, itu membuatnya ingin bertemu wanita itu lagi.
Bukan untuk bertarung.
Tapi untuk bertanya.
Fajar belum sepenuhnya terbit ketika kabut tipis mulai turun di hutan.
“Jika aku menemukannya, aku akan buat perhitungan dengan nya. ”gumamnya sambil menahan rasa marah karena dikalahkan oleh seorang wanita.
Harga diri Hong lin yang di kenal sebagai prajurit iblis di medan perang, ternyata bisa di lumpuhkan oleh wanita misterius.
Cahaya pucat mulai merembes di antara dahan pohon.
Hong Lin akhirnya berhasil berdiri.
Sedikit goyah.
Ia mengambil pedangnya, membersihkannya sekilas, lalu menyarungkannya kembali.
Tangannya meraba dada.
Lencana itu masih di tempatnya.
Ia terdiam sesaat.
Berarti wanita itu melihatnya.
Melihat lambang ini.
Dan tetap memilih melumpuhkannya, bukan melukainya.
Hong Lin menatap ke arah sungai.
Jejak langkah semalam sudah menghilang tertutup embun dan daun jatuh.
Tapi ia tahu satu hal.
Wanita itu pasti berasal dari kamp.
Karena tidak ada orang luar yang bisa bergerak secepat itu di hutan ini tanpa tersesat.
Ia mengangkat wajah menatap arah Perbatasan Timur.
Sinar matahari pertama mulai menembus kabut.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Hong Lin merasa berdebar bukan karena perang.
Melainkan karena mengingat tatapan seorang wanita misterius di tengah kegelapan malam.