"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Suasana di meja makan rumah Mama Ratna masih terasa tegang setelah kepergian Rini. Aroma parfum mahal Rini masih tertinggal, kontras dengan bau keringat dan kecemasan yang terpancar dari wajah Abdi. Mama Ratna tidak berhenti berceloteh, memuja-muja kekayaan Rini seolah janda itu adalah juru selamat dunia.
"Sudahlah Abdi tunggu apa lagi? Rini itu tulus! Dia punya toko emas, punya tanah di mana-mana. Dibandingkan Disa yang cuma pegawai kantor dan sudah berani menginjak-injak kamu, Rini itu jauh lebih menjanjikan!" desak Mama Ratna sambil membereskan piring.
Abdi hanya diam, namun otaknya mulai bekerja secara pragmatis. Dia butuh seratus juta untuk Amel dan dia butuh jaminan hidup karena gajinya habis disita Disa. Akhirnya, dengan berat hati, Abdi mengangguk. "Besok aku akan temui Disa. Aku akan minta dia cabut laporan untuk Amel."
"Halah ngpapain kamu harus ketemu wanita tidak tahu diri itu Abdi." Kesal Mama.
"Mah Disa itu istri aku." Jawab Abdi yang memilih untuk waras.
"Tapi wanita yang disebut sebagai istri kamu itu yang akan membuat Adik kamu itu sensara Mas." Kesal Amel.
Mama langsung mengangguk dengan ucapan Amel, jujur saat ini Abdi benar-benar binggung.
Keesokan harinya, Abdi mendatangi kantor Disa. Dia menunggu di lobi dengan perasaan rendah diri, apalagi melihat Disa turun dari lift dengan langkah anggun, dikawal oleh seorang pria yang Abdi kenali sebagai Rio, pengacaranya.
"Ada apa lagi, Mas? Belum puas tinggal di rumah Mamamu?" tanya Disa dingin, bahkan tidak mempersilakan Abdi duduk di sofa lobi.
"Dis, ayo kita bicara baik-baik. Aku... Aku akan turuti maumu, tapi tolong cabut laporan Amel. Dia adikku Dis, dan tolong kasihan dia," ujar Abdi dengan nada memelas yang dibuat-buat.
Disa tertawa renyah, tawa yang membuat bulu kuduk Abdi merinding. "Oh, jadi tawaran dari janda itu sudah kamu terima? Cepat juga ya. Berapa dia bayar harga dirimu, Mas? Seratus juta? Atau seharga toko emasnya?"
Abdi tersentak. "Kamu... kamu tahu soal Rini?"
"Aku tahu segalanya, Mas. Termasuk rencana Mamamu yang mau menjodohkanmu dengan janda itu," Disa melipat tangannya di dada. "Kamu mau kuta cerai kan? Boleh. Tapi ada satu hal yang belum kamu baca di draf gugatanku."
Disa memberikan selembar map cokelat kepada Abdi. Saat Abdi membukanya, wajahnya mendadak pucat pasi. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Ini... apa ini, Dis?! Surat sita jaminan atas rumah Mama?!" teriak Abdi tertahan, matanya melotot menatap dokumen legal tersebut.
"Rumah itu dibangun menggunakan uang nafkah yang kamu gelapkan selama tiga tahun, Mas. Itu adalah harta bersama secara hukum, karena aliran dananya berasal dari gaji suamiku yang seharusnya jadi hak istri dan anak," ujar Disa dengan nada tenang namun mematikan. "Aku sudah mendaftarkan sita jaminan ke pengadilan. Jadi, kalau kamu mau nikah sama janda itu, silakan. Tapi jangan harap kamu bisa membawa Mama dan adik-adikmu tinggal di rumah itu lagi."
"Disa! Kamu kenapa tega! Itu rumah Mama!"
"Bukan, Mas. Itu rumah yang dibangun di atas penderitaan Fikri. Rumah itu akan aku uangkan untuk biaya sekolah Fikri sampai kuliah nanti," Disa memakai menetap Abdi dengan tatapan membunuh . "Sampaikan salamku pada janda kamu itu ya, Bilang padanya, kalau dia mau suaminya punya rumah, dia harus beli rumah baru, karena rumah Mamamu... sebentar lagi akan dipasang papan 'Disita Pengadilan'."
Abdi berdiri mematung di tengah lobi kantor yang megah itu. Surat di tangannya gemetar. Dia datang membawa harapan dari Rini, tapi pulang membawa berita kiamat untuk Mamanya.