Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Angin Puyuh
Bagian dalam Menara Kaisar Angin bukanlah tangga spiral biasa seperti yang dibayangkan Li Tian. Begitu mereka melangkah melewati gerbang utama, dunia di sekitar mereka berputar.
Tidak ada lantai, tidak ada langit-langit. Hanya ada ribuan koridor batu yang melayang di dalam ruang hampa, dihubungkan oleh jembatan angin yang transparan. Arus udara di sini begitu tajam hingga bisa memotong besi.
"Ini bukan arsitektur fisik," kata Su Yan, menahan jubahnya yang berkibar liar. "Ini adalah Dimensi Saku. Kaisar Angin melipat ruang di dalam menara ini menjadi labirin tanpa ujung."
"Kiri! Ke kiri!" seru Xiao Yu, melihat jarum kompas di tangannya yang berputar gila-gilaan sebelum berhenti di satu titik. "Darahku... menara ini merespons darahku!"
"Pimpin jalan, Xiao Yu!" perintah Li Tian. "Kita tidak punya banyak waktu sebelum monster di luar sana sadar."
Mereka berlari menyusuri koridor batu yang sempit. Di kiri dan kanan mereka adalah jurang tanpa dasar yang menderu. Angin puyuh kecil muncul secara acak, mencoba menyedot mereka keluar dari jalur.
"Berat... jadilah berat!"
Li Tian mengaktifkan aura gravitasi dari Cakar Naganya, menciptakan medan pemberat di sekitar mereka bertiga agar tidak terhempas angin.
Tiba-tiba, seluruh menara bergetar hebat.
BOOOOM!
Suara ledakan diredam oleh dinding dimensi, tapi getarannya terasa nyata.
"Dia masuk," kata Zu-Long tegang. "Naga Putih itu... dia tidak mengikuti jalan labirin. Dia menjebol dinding dimensi!"
Di lantai dasar, jauh di bawah mereka, Ye Chen baru saja meledakkan gerbang masuk. Dia melihat labirin koridor yang rumit itu dengan tatapan bosan.
"Labirin?" Ye Chen mendengus. "Jalan tikus untuk para tikus."
Dia merentangkan sayap cahayanya.
"Kurangi!"
Ye Chen tidak membagi kekuatan musuh, tapi membagi kepadatan ruang di depannya. Dinding dimensi yang memisahkan lantai dasar dan lantai atas menipis, lalu robek.
Ye Chen terbang lurus ke atas, menembus lantai demi lantai, menghancurkan rintangan dengan terjangan tubuhnya yang diselimuti cahaya.
BLAM! BLAM! BLAM!
Di lantai atas, Li Tian merasakan getaran itu semakin dekat.
"Gila!" umpat Li Tian. "Cepat, Xiao Yu!"
Mereka sampai di sebuah ruangan luas yang menghalangi jalan menuju puncak. Ruangan itu tidak memiliki lantai, hanya sebuah Pusaran Angin Raksasa yang bertiup kencang dari bawah ke atas. Di tengah pusaran itu, terdapat batu-batu pijakan kecil yang bergerak cepat.
"Zona Pisau Angin," kata Su Yan, melempar sebuah batu kerikil ke dalam pusaran.
Zring!
Batu itu hancur menjadi debu halus dalam sekejap. Angin di sana setajam silet.
"Kita tidak bisa melompat," kata Su Yan pucat. "Qi pelindung kita akan terkikis habis sebelum sampai di seberang."
Li Tian menatap pusaran itu, lalu menatap Pedang Hitam Tanpa Mata di punggungnya.
"Kita tidak melompat," kata Li Tian. "Kita akan menancap."
Li Tian mencabut pedang raksasanya. Dia memeluk Su Yan dengan tangan kirinya dan mendudukkan Xiao Yu di bahunya.
"Pegangan!"
Li Tian melompat.
Bukan ke batu pijakan, tapi langsung ke tengah badai.
Angin tajam menyambar tubuh mereka.
"GRAVITASI MAKSIMAL: JANGKAR NAGA!"
Li Tian mengalirkan seluruh Qi-nya ke Pedang Hitam. Berat pedang itu yang semula 1.200 jin mendadak terasa seperti 10.000 jin.
Alih-alih terhempas angin ke atas, tubuh mereka jatuh lurus ke bawah—menembus arus angin dengan kecepatan tinggi.
Li Tian mengarahkan pedangnya ke dinding seberang.
JLEB!
Pedang Hitam itu menancap dalam ke dinding batu di sisi lain pusaran, menjadi paku pasak yang menahan beban mereka bertiga.
"Naik!"
Li Tian menggunakan pedang itu sebagai tangga darurat, melompat ke tepian aman di seberang. Jubah mereka robek-robek, tapi kulit mereka utuh.
"Berhasil," napas Su Yan tersengal. Wajahnya merah karena dipeluk erat oleh Li Tian barusan, tapi dia segera menenangkan diri.
"Pintu puncak!" tunjuk Xiao Yu.
Di depan mereka, sebuah pintu emas raksasa dengan ukiran dua naga (satu hitam, satu putih) berdiri kokoh.
Li Tian berlari mendekat. Dia mendorong pintu itu.
Terkunci.
"Butuh kunci... atau darah..." Xiao Yu maju, menggigit jarinya.
Namun, sebelum darah Xiao Yu menyentuh pintu...
KRAAAK!
Lantai di belakang mereka meledak.
Pecahan batu beterbangan. Sesosok bayangan putih melesat keluar dari lubang ledakan, mendarat dengan mulus di antara mereka dan pintu emas itu.
Ye Chen.
Dia tidak berkeringat sedikit pun. Jubah putihnya masih bersih tanpa noda debu. Sayap cahayanya mengepak pelan, memancarkan partikel biru yang indah.
"Kalian cukup gesit untuk ukuran tikus," kata Ye Chen, suaranya tenang namun bergema di seluruh ruangan.
Li Tian menarik Xiao Yu ke belakang punggungnya. Su Yan menghunus pedang esnya, memasang kuda-kuda tempur.
"Kau tidak sopan. Kami yang sampai duluan."
"Dulu dan sekarang tidak ada artinya," Ye Chen menatap pintu emas di belakangnya, lalu menatap sarung tangan perunggu di tangan Li Tian.
Tatapan Ye Chen berhenti di sana. Matanya yang biru menyipit.
"Sarung tangan itu..."
Sebuah suara lain, suara yang dingin terdengar bukan dari mulut Ye Chen, melainkan dari sayap di punggungnya.
[...Aku merasakan baunya. Bau busuk dari masa lalu...]
Itu suara Bai-Long.
Cakar Naga Li Tian berdenyut panas. Permata hijaunya menyala.
"Kau masih sombong seperti biasa, Kadal Putih," balas Zu-Long melalui mulut Li Tian (suaranya berubah menjadi ganda).
Mata Ye Chen melebar sedikit. Dia menatap Li Tian dengan ketertarikan baru yang mengerikan.
"Jadi benar," kata Ye Chen. "Kau adalah pewaris Naga Hitam. Takdir memang punya selera humor yang buruk, memberikan pusaka sekuat itu kepada manusia lemah sepertimu."
Ye Chen mengangkat tangannya.
"Minggir. Atau Kukurangi keberadaanmu menjadi nol."
Li Tian tidak mundur. Dia justru maju selangkah, Pedang Hitamnya diseret di lantai, menciptakan percikan api.
"Kau mau lewat?" Li Tian menyeringai liar, aura ungunya mulai mendidih. "Langkahi dulu mayatku."
"Permintaan dikabulkan."
BOOM!
Pertarungan antara dua Pewaris Naga akhirnya pecah di depan pintu harta karun.