Sejak kecil Celine Attea selalu berdiri di sisi Ethan Solomon Montgomery, Presiden Direktur Montgomery Group sekaligus pemimpin organisasi dunia gelap Amox. Celine adalah satu-satunya perempuan yang mampu masuk ke semua pintu keluarga Montgomery. Ia mencintai Ethan dengan keyakinan yang tidak pernah goyah, bahkan ketika Ethan sendiri tidak pernah memberikan kepastian. Persahabatan, warisan masa kecil, ketergantungan, dan cinta yang Celine perjuangkan sendirian. Ketika Cantika, staf keuangan sederhana memasuki orbit Ethan, Celine merasakan luka bertubi-tubi. Max, pria yang tiba-tiba hadir dalam hidup Celine membawa warna baru. Ethan dan Celine bergerak dalam tarian berbahaya: antara memilih kenyamanan masa lalu atau menantang dirinya sendiri untuk merasakan sesuatu yang baru. Disclaimer: Novel ini adalah season 2 dari karya Author, “Falling in Love Again After Divorce"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melangkah
Celine melangkah masuk ke Bloom Collection, dan suasana langsung terasa hidup. Ruang utama lantai dua dipenuhi aktivitas. Kru dan staf mondar-mandir dengan ritme cepat namun teratur. Rak-rak pakaian edisi terbaru Bloom berjajar rapi di sepanjang dinding, masing-masing dilabeli nama koleksi dengan tulisan tipis. Beberapa pakaian digantung terpisah, dibungkus plastik bening, menunggu giliran dikenakan. Di sudut ruangan, meja panjang dipenuhi aksesoris: anting, kalung, clutch, sepatu hak dengan berbagai tinggi, semuanya disusun berdasarkan tema pemotretan hari itu.
Lampu-lampu studio sudah menyala. Softbox besar diarahkan ke backdrop kain satin berwarna ivory yang jatuh menjuntai. Di sisi lain, terdapat backdrop kedua dengan nuansa gelap yang dipersiapkan untuk konsep editorial yang lebih bold. Kamera-kamera dengan lensa berbeda terpasang di tripod, siap digunakan kapan saja.
Beberapa staf menoleh begitu melihat Celine masuk.
“Pagi, Bu Celine.”
“Selamat datang, Bu.”
“Senang melihat Anda di sini, Bu.”
Celine membalas dengan anggukan kecil dan senyum tipis. Tidak ada satu pun tanda bahwa hidupnya baru saja jungkir balik.
“Kau sudah datang.”
Letta keluar dari salah satu ruang fitting sambil membawa laptop yang masih terbuka, layar menampilkan moodboard pemotretan. Rambutnya sedikit berantakan, tanda pagi yang sibuk. Ia meletakkan laptop itu di meja terdekat, lalu tanpa banyak kata langsung memeluk Celine, menepuk punggungnya dengan hangat.
“Aku tidak tahu harus mengatakan apa,” katanya lirih.
Celine melepaskan pelukan itu perlahan.
“Jangan melihatku dengan tatapan itu,” katanya tenang. “Anggap saja aku hanya pergi ke pesta lalu selesai. Tidak ada pernikahan.”
Letta terdiam sepersekian detik lalu memeluk Celine lagi, kali ini lebih semangat.
“Astaga, Celine. Aku bangga padamu,” katanya antusias. “Hempaskan dan cari yang baru.”
Ia melepaskan pelukan itu sambil tersenyum lebar.
“Aku punya beberapa kenalan. Kau tenang saja, mereka semua tampan, baik, kaya…”
“Stop,” potong Celine sambil mengangkat tangan. “Kau membuatku terdengar seperti perempuan yang tidak laku.”
Letta tertawa lepas.
“Aku hanya senang kau tidak terpuruk,” katanya jujur.
“Siapa bilang aku tidak terpuruk?” Suara Celine tiba-tiba datar.
Letta langsung kaku, senyumnya memudar. Ada rasa bersalah yang muncul dengan cepat.
Celine tersenyum, menepuk lengan Letta bercanda.
“Aku bukan tidak terpuruk,” katanya lembut. “Aku hanya sedang mengobati diri, Letta.”
Letta mengangguk pelan, mengerti sepenuhnya. Cinta yang telah membersamai hati Celine sejak kecil, bukan perkara mudah.
“Sudah, jangan bahas ini lagi.” lanjut Celine. “Mana fotografernya?”
“Oh iya, sebentar,” jawab Letta cepat. “Aku panggilkan.”
Baru beberapa langkah Letta menjauh, suara Celine menahannya.
“Letta.”
Letta menoleh.
“Untuk sementara, jangan ada yang tahu tentang kegagalan pernikahanku.” ucapnya pelan. “Sampai Montgomery mengumumkannya sendiri.”
Letta mengangguk memahami. Ia meletakkan kedua tangannya di depan mulut, ekspresinya sungguh-sungguh.
“Tenang saja, mulutku rapat.” katanya mantap.
Montgomery bukan hanya nama Ethan, tapi juga Ariana, Sean, Florence dan Serena. Sebuah keluarga dengan sejarah, pengaruh, dan reputasi yang dibangun puluhan tahun. Celine tidak pernah lupa bagaimana mereka menyayanginya, menerima dirinya sebagai bagian dari dunia mereka, bahkan sebelum ia menjadi istri Ethan.
Jika berita ini dilepas tanpa kendali, bukan hanya merusak nama satu orang, melainkan seluruh nama Montgomery. Pasar, relasi bisnis, kepercayaan publik, semuanya bisa runtuh hanya karena satu narasi yang salah waktu.
Celine tidak ingin lupa diri. Ia tahu batasnya. Ia hanya akan melangkah sampai sejauh ini, menguatkan dirinya, berdiri dengan elegan, memastikan ia tidak runtuh di ruang publik. Selebihnya, biarlah keluarga Montgomery yang bekerja. Mengatur skenario, menentukan waktu, mengemas kebenaran, agar saat berita itu dinaikkan tidak berubah menjadi skandal.
Celine melangkah lebih dalam ke ruang studio. Ia menyentuh salah satu koleksi Bloom Collection dengan hati-hati. Di sini ia adalah Celine Attea, pemilik sekaligus perempuan yang sedang belajar berdiri utuh kembali.
“Kau serius ingin melakukan ini?” tanya Letta, nadanya setengah khawatir.
Celine mengangguk tanpa sedikit pun keraguan. Tatapannya lurus, tatapan seorang perempuan yang sudah mengambil keputusan dan tidak berniat menoleh ke belakang.
Ia melangkah ke ruang ganti dan melepaskan gaun yang dikenakannya. Dua staf mendekat dengan sigap dan profesional. Tangan-tangan terlatih itu membantu Celine mengenakan rancangan Bloom Collection yang akan diluncurkan akhir bulan ini, gaun dengan potongan berani namun tetap berkelas. Kainnya ringan, jatuh mengikuti lekuk tubuh dengan anggun, memperlihatkan kesan bebas dan kuat sekaligus. Tidak berlebihan, seperti pemakainya.
Letta mengamati dari kejauhan, lalu mengangguk mantap.
“Aku mendukungmu,” katanya akhirnya, penuh keyakinan.
Tim make-up segera mendekat, salah satunya mengangkat sisir dan palet riasan.
“Bu Celine, kita tata ulang rambut dan make up sedikit ya…”
Celine mengangkat kedua tangannya, menolak dengan halus.
“Tidak.” Suaranya lembut, tapi tegas.
Ia berdiri di depan cermin tinggi, lalu menyibakkan rambutnya sendiri. Dengan gerakan santai, ia menggulung rambutnya sembarangan ke atas, mengikatnya longgar, membiarkan beberapa helai jatuh bebas di sisi wajah dan lehernya.
“Aku ingin seperti ini,” katanya.
Kulitnya tampak sedikit lembap oleh keringat tipis. Wajahnya tidak dipoles ulang. Riasan minimal yang masih menempel justru memberi kesan yang jujur.
Celine menatap bayangannya sendiri di cermin. “Aku ingin kelihatan hidup. Tidak sempurna dan tidak dibuat-buat.”
Petugas make-up terdiam, terpukau sesaat.
Ada sesuatu dari aura Celine yang tak bisa dijelaskan dengan teknik atau produk. Keanggunan yang tidak dipaksakan. Kecantikan yang lahir dari keberanian untuk menjadi diri sendiri. Luka yang belum sepenuhnya sembuh, namun tidak lagi disembunyikan.
Salah satu staf tanpa sadar berbisik, “She’s… perfect.”
Letta tersenyum kecil, menyilangkan tangan di dada. Ia tahu, pemotretan ini tidak akan biasa saja. Ini bukan sekadar kampanye koleksi baru, tapi juga langkah yang baru. Untuk pertama kalinya, Celine Attea berdiri di depan kamera sebagai wajah dari Bloom Collection itu sendiri.
Lampu-lampu studio menyala perlahan. Latar polos berwarna krem hangat dipadukan dengan kain tipis yang bergerak pelan tertiup kipas, bayangan dedaunan yang jatuh lembut di dinding, refleksi cahaya yang dibuat menyerupai matahari sore.
Celine melangkah dengan yakin ke tengah set. Begitu kamera terangkat, tubuhnya bergerak seolah ia telah melakukannya seumur hidup. Ia memiringkan bahu sedikit, membiarkan kain gaun jatuh alami mengikuti garis tubuhnya. Langkahnya ringan, sikapnya santai, namun setiap gerakan memiliki intensi. Tatapannya tidak selalu menatap kamera; kadang ia menoleh ke samping, menurunkan dagu, atau memejamkan mata sejenak, seolah sedang menikmati angin di musim panas yang hanya ia rasakan sendiri.
Klik.
Klik.
Klik.
Photographer bahkan lupa memberi arahan.
“Teruskan… iya, jangan diubah,” ucapnya akhirnya, nyaris seperti gumaman.
Celine bergerak luwes, bukan karena teknik yang dipelajari, melainkan karena ia melakukannya sepenuh hati. Ada kejujuran dalam setiap pose, ada ketenangan yang memikat. Tidak berusaha terlihat cantik, dan justru karena itu… ia terlihat luar biasa.
Ia menyelipkan jari ke bagian leher, tersenyum tipis tanpa niat menggoda. Senyum itu tidak ditujukan pada siapa pun, melainkan lahir dari dalam dirinya sendiri. Saat rambut-rambut halus di pelipisnya bergerak, Celine hanya mengibaskan kepala ringan, membiarkannya tetap acak.
“Bu Celine, Anda tidak membutuhkan arahan saya,” kata sang photographer akhirnya, menurunkan kameranya sesaat. “Kau tahu persis apa yang kamera butuhkan.”
Celine hanya tersenyum kecil, dan sekali lagi photographer mengambil potret itu dengan cepat.
Celine memiliki bakat untuk menarik atensi. Aura yang membuat orang ingin melihat lebih lama, ingin memahami, ingin tahu cerita di balik tatapan itu. Ini bukan tentang pose yang sempurna, atau busana semata. Ini tentang seorang perempuan yang bangkit, dan belajar mencintai dirinya sendiri.
Berharap Cantika kapok oleh ancaman Rega, kalaupun si Cantika mau mencoba lagi jadi racun untuk si SEthan, berharap Rega juga tidak melupakan dan merealisasikan ancamannya.
Kalau aku sih dukung Cantika,bisa liat juga gimana kata hati Ethan...mau tetap ngurus Cantika atau fokus ke Celine... Rega,kamu ganggu Cantika aja,udah berbinar tuh matanya liat Ethan.akhirnya mewek liat pisau mu 😆😆😆😆
mampus kau 🤣🤣🤣
baru di gertak Rega aja udah nangis, gimana mau jadi pendamping Ethan 😆😆😆