Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bravery That Takes You To The Darkest Place
Namanya Florence Hunt. Gadis berdarah Skotlandia yang lahir dan besar di jantung London itu adalah orang pertama yang menyapa Fraya di kelas Biologi. Rambutnya pirang dengan sentuhan highlight cokelat madu yang berkilau setiap kali ia bergerak. Florence memiliki tawa serak yang khas dan senyum yang begitu tulus hingga matanya ikut menyipit ramah—lengkap dengan taburan freckles manis di bawah kedua matanya.
"Aku harus panggil kamu apa? Fay atau Alexa?" tanya Florence saat ia memutuskan untuk menempati bangku kosong di sebelah Fraya.
"Fay boleh. Alexa... hmm, terakhir kali aku dipanggil begitu oleh guru lesku di Indonesia. Kadang malah dipanggil Alex saja. Jadi, terserah kamu," jawab Fraya santai.
Florence mengangguk mantap. "Ok. I think i'm gonna go with Alexa. That name really suits on you. Nama itu terdengar sangat cantik. Aku sering mendengar Alexandra, tapi Alexandrea? Itu unik. Aku menyukainya."
Keakraban mereka terjalin begitu saja. Awalnya Fraya ragu apakah ia bisa bertahan di Milford Hall dengan penampilan yang kelewat biasa—tanpa tas desainer, tanpa aksesori mewah selain Apple Watch hitam, dan hanya sepasang sepatu kets putih yang sudah tidak terlalu putih lagi. Namun, Florence ternyata jauh dari kesan borjuis yang menyebalkan. Gadis itu tidak peduli pada label. Meski desas-desus mengatakan ayah Florence adalah salah satu pengusaha paling sukses di Eropa, Florence tetaplah gadis rendah hati yang menyenangkan.
Suatu hari, bel makan siang berdentang nyaring. Saat mereka sedang sibuk membereskan buku, Florence mendadak memekik kecil sambil menutup mulutnya.
"Ada apa, Flo?" tanya Fraya bingung.
Florence tidak menjawab. Dengan gerakan kilat, ia menyambar tasnya dan menarik paksa lengan Fraya keluar kelas. Fraya bahkan harus terseok-seok menyampirkan tas ke punggungnya karena tarikan Florence yang tidak sabaran.
Begitu sampai di lorong, Fraya nyaris menabrak bahu Florence yang tiba-tiba berhenti. Namun, sebelum Fraya sempat melayangkan protes, ia melihat rona merah menyapu pipi Florence. Gadis itu sedang menatap sesuatu—atau seseorang—dengan binar memuja di matanya.
Fraya mengikuti arah pandang itu. Di sana, di depan deretan loker, berdiri segerombolan cowok yang merupakan "penguasa" tak resmi Milford Hall.
"Kamu naksir salah satu dari mereka?" tanya Fraya.
"Bukan sekadar naksir," bisik Florence dengan aksen British-nya yang kental. "Aku... sedang menjalin hubungan dengan salah satu dari mereka."
Alis Fraya terangkat tinggi. "Serius? Yang mana?"
Florence menunjuk seorang cowok berambut cokelat keriting dengan kulit gelap dan sepasang mata abu-abu yang tajam. Fraya langsung mengenalinya. Axel. Cowok menyebalkan yang tempo hari menjadikannya bahan lelucon di depan kelas.
"Then why you're still here? Go get your man!" goda Fraya.
Seketika, rona bahagia di wajah Florence memudar. Ia menunduk, menghindari tatapan Fraya. "Itulah masalahnya, Alexa. Aku tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa? Dia kan pacarmu."
Florence menarik Fraya sedikit menjauh ke sudut dinding. "Kami... kami backstreet. Tidak ada yang tahu soal hubungan ini."
Fraya melongo. "Backstreet? Really? Is that still be a thing these days?"
Florence mengangguk lemah. "Dia yang meminta. Axel itu primadona sekolah, peringkat kedua setelah si seksi Damian Harding. Dia punya reputasi sebagai penakluk wanita, tapi dia bilang padaku kalau hanya aku yang benar-benar ia jadikan pacar. Dia ingin merahasiakan ini demi keselamatanku, agar aku tidak diserang oleh penggemar-penggemarnya yang gila."
Fraya merasakan firasat buruk. Di matanya, "merahasiakan hubungan" adalah bendera merah paling menyala yang pernah ia dengar. Namun, melihat binar harapan di mata Florence, Fraya memilih untuk menahan diri. Ia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan teman barunya.
"Yah... selama kamu bahagia, Flo," ucap Fraya pelan.
Namun kebahagiaan itu ternyata hanya bertahan satu minggu.
Sore itu, Fraya baru saja keluar dari kelas periode ketiga saat ponselnya bergetar hebat. Di seberang telepon, suara Florence terdengar hancur, terputus oleh isak tangis yang menyesakkan.
"Dia menyelingkuhiku, Alexa... Dia mengkhianatiku."
Fraya berlari menuju taman sekolah, tempat Florence berada. Di sana, Florence sedang menangis tersedu-sedu di pelukan Asa Hemmington, teman baik mereka. Asa adalah cowok pendiam dengan mata hijau jernih dan tubuh jangkung yang selalu terlihat tenang.
"Florence, apa yang terjadi? Bagaimana dia bisa melakukannya hanya dalam waktu seminggu?" tanya Fraya tak percaya.
Asa mengelus pundak Florence dengan raut wajah mengeras. "Sudah kubilang, Axel itu bajingan nomor satu di sini. Geng mereka tidak ada yang beres! Mereka pikir karena mereka punya uang dan kekuasaan, mereka bisa memperlakukan perempuan seperti sampah."
Fraya tertegun. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari mulut Asa yang biasanya hemat bicara.
"Aku pikir dia serius dengan ucapannya waktu itu..." Florence sesenggukan, menyembunyikan wajahnya yang sembap di bahu Asa.
Fraya duduk di sebelah Florence, tangannya mengepal kuat. "Flo... sebenarnya aku ingin memperingatkanmu sejak awal. Di hari pertamaku saja, dia sudah menunjukkan sikap brengseknya. Tapi lupakan itu sekarang. Katakan padaku, bagaimana kamu tahu dia selingkuh?"
Saat Florence menceritakan detail pengkhianatan Axel, darah di kepala Fraya terasa mendidih. Ada sesuatu dalam dirinya yang terpicu—trauma lama atau mungkin rasa keadilan yang meledak-ledak. Ia tidak bisa diam saja melihat orang yang tulus dihancurkan dengan cara sekeji itu.
"Asa," panggil Fraya dengan nada yang mendadak dingin dan datar. "Tolong ambilkan aku secangkir kopi di kafetaria. Kalau bisa, yang ukurannya paling besar."
Florence mengangkat kepalanya, menatap Fraya dengan bingung. "Alexa, aku lagi tidak mau minum kopi sekarang."
Fraya menggeleng pelan, sebuah senyum tipis yang mematikan terukir di wajahnya. "Bukan. Kopi ini bukan untukmu."
Asa dan Florence saling berpandangan, tak mengerti. "Lalu buat siapa?"
Fraya mengusap punggung Florence, matanya menatap lurus ke depan dengan tajam. "You'll see."
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit