Dara memimpikan indahnya kehidupan setelah menikah. Dara mengira menikah dengan orang yang di cintai akan membuat hidupnya bahagia. namun kenyataannya nasib buruk yang didapatkan di rumah suaminya. dia dilakukan bak babu bahkan sering dara mendapatkan caci maki dari mertua ketika pekerjaan rumah ada yang terlewatkan. tidak hanya diperlakukan seperti babu, ketika dara ada selisih paham dengan mertua nya suaminya tidak membela dara bahkan ikut menyudutkan Dara. hal yang paling menyakitkan lagi ketika dara mendapatkan kabar dari temannya jika suaminya selingkuh dibelakang nya. bagaimana kisah Dara selanjutnya. yuk mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jihan Fahera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertemu Dengan Pengacara
Acara makan malam selesai, Bagas mengantar Dita kembali ke apartemennya. Sedangkan Dara memilih untuk tidur dan tidak mengambil pusing suaminya setelah mengantar pulang calon istri pulang atau tidak.
Keesokan harinya, setelah sholat subuh Dara menghubungi Reyhan untuk bertanya apakah hari ini bisa ketemu dan ternyata Reyhan hari ini jadwalnya free yang berarti bisa memenuhi ajakan Dada untuk bertemu di cafenya.
Setelah menghubungi Reyhan, Dara melakukan tugasnya seperti biasa menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah. Dara memasak menu pagi ini telur bumbu Bali, oseng kangkung, dan krupuk. Dara memasak menu-menu enak setiap hari karena mengingat sebentar lagi dia akan bercerai dengan Bagas, anggap saja Dara ingin memberikan kenangan kepada suami dan ibu mertuanya dengan memanjakan lidah suami dan mertuanya agar menjadi kenangan yang tidak dilupakan. Dara sendiri tidak yakin dengan istri kedua Bagas apakah bisa memasak atau tidak tapi itu bukan urusannya.
Setelah memasak Dara mandi dan berdandan tipis-tipis, lalu membangunkan suaminya untuk siap siap berangkat bekerja.
"Mas.. bangun, udah jam setengah enam" ucap Dara lembut sambil menggoyangkan tangan suaminya.
"Hoamm, lima menit lagi" sahut Bagas sambil menarik selimut.
"Nanti kamu telat mas kalau tidur lagi, udah buruan sana mandi" kata Dara cepat.
"Iya-iya bawel banget sih" ucap Bagas lalu duduk sambil senden di ranjang. Setelah rasa ngantuk ya hilang Bagas memperhatikan Dara tanpa kedip.
"Kenapa sekarang kamu kelihatan cantik, terus baju yang kamu pakai bagus gak kayak biasanya" batin Bagas yang melihat perubahan drastis istrinya dari semalam.
"MAS" Ucap Dara berteriak untuk menyadarkan suaminya yang sedang melamun. Bagas yang mendengar Dara berteriak kaget.
"Gak usah teriak bisa gak sih kamu, ini tuh rumah bukan hutan" sengit Bagas.
"Habisnya kamu malah melamun, dipanggil pelan-pelan gak nyaut makanya aku teriak biar kamu sadar" sahut Dara.
"Dek.." panggil Bagas dengan suara manja. Dara yang mendengar Bagas memangil dengan suara berbeda, sudah merasakan aura kucing garong.
"Apa mas?"
"Mas pengen, ayo kita Main kuda kuda"
"Sudah ku duga pasti ada maunya" batin Dara sambil menghelakan nafasnya.
"Gak bisa mas aku lagi halangan" jawab Dara singkat. Bagas yang mendengar jawaban dari Dara mendengus kasar. Tanpa mengucapkan lagi Bagas langsung bergegas mandi.
Dara yang melihat Bagas mandi bergegas menyiapkan baju untuk suaminya. Setelah Bagas sudah rapi mereka menuju ke meja makan untuk sarapan bersama. Dimeja makan tidak ada drama pagi. Setelah selesai sarapan Bagas pamit untuk berangkat kerja dan Dara menuju ke kamarnya.
Pukul 10:00 Dara sudah bersiap menuju cafe. Dara keluar kamar sambil celingak celinguk.
"Tumben rumah sepi, kemana perginya ibu mertua?" Batin Dara. Dara tidak mau mempermasalahkan rumah yang sepi. Dara keluar rumah lalu berjalan kaki Sampek jalan raya. Setelah sampai jalan raya Dara melihat mobil Riska, ya Dara meminta tolong Riska untuk menjemput dirinya di jalan raya agar tidak ada yang curiga.
"Udah lama nunggunya Ris?" Tanya Dara setelah menutup pintu mobil.
"Belum beb, baru sepuluh menit og" ucap Riska santai.
"10 menit?, lumayan lama, sorry ya udah buat nunggu lama" ucap Dara yang merasa bersalah.
"Heleh, gak usah merasa bersalah gitu, loe lupa bahkan gue pernah nunggu loe Sampek satu jam lamanya" sewot Riska sambil menjalankan mobilnya menuju cafe.
Sesampainya di cafe, Dara langsung menuju ke ruang pribadinya. Dara menghubungi Reyhan kalau sudah sampai di cafenya langsung menuju ke ruangannya. Dara tidak mau obrolan nya dengan Reyhan ada yang mendengar.
Tok
Tok
Tok
Bunyi pintu diketuk.
"Masuk" ucap Dara dari dalam.
Ceklek
Terdengar pintu di buka. Dara tidak memperdulikan nya karena Dara mengira yang masuk adalah Riska jadi Dara masih bergelut dengan kertas-kertas yang ada di mejanya.
"Ekhemm..sibuk?" ucap Reyhan yang melihat Dara sangat serius. Dara yang mendengar suara laki-laki langsung mendongakkan kepalanya. Dara menelisik laki laki yang ada di hadapannya.
"Kamu Reyhan?" Tanya Dara memastikan nya karena hari ini dia hanya mempunyai janji dengan Reyhan.
"Iya Dar, Sudah lama gak ketemu, bagaimana kabarmu?" tanya Reyhan yang basa basi sebari duduk berhadapan dengan Dara.
"Kabar ku Alhamdulillah baik rey. Gilak, kamu sekarang udah gak culun lagi Rey, padahal dulu loe itu orangnya culun sukanya pakai kacamata yang besar tapi loe dulu berani mengajak gue pacaran tapi sayangnya gue tolak, eh karena cinta loe gue tolak loe nangis di pojokan kelas hahaha" ucap Dara yang bernostalgia.
Reyhan yang mendengar ucapan Dara merasa malu. Reyhan menjadi teringat masa lalunya. Karena dia berpenampilan culun membuat gak ada yang mau berteman sama dia. Yang mau berteman dengan dia hanya Dara. Lama-lama Reyhan merasa nyaman dengan Dara hingga Reyhan memberanikan diri mengajak Dara ber pacaran.
Masa-masa masih duduk sekolah dasar orang-orang menganggap bahwa itu hanyalah cinta monyet. Tapi perasaan Reyhan sama Dara tidak berubah hingga saat ini Reyhan masih menyukai Dara. Reyhan setelah lulus sekolah dasar langsung diajak orangtuanya ke jakarta jadi dia dan Dara berpisah dan hilang kontak.
Saat lulus kuliah Reyhan mencari informasi tentang Dara karena kenyataan nya Dara sudah menikah. Reyhan yang tau Dara sudah menikah menjadi galau.
Galau Reyhan sirna menjadi sebuah harapan bahwa suatu hari Reyhan bisa menjadikan Dara istrinya ketika Riza menelpon nya untuk meminta tolong mengurus penceraian kakaknya. Tanpa berpikir dua kali Reyhan menyetujui dia mau menjadi pengacara untuk kakaknya Riza.
"Gak dapat gadisnya janda nya pun tak masalah" batin Reyhan yang memang sangat mencintai Dara.
"Lucu ya masa kecil kita dulu. Tapi sekarang kamu sudah sukses". Ucap Reyhan.
"Oh ya, katanya Riza kamu diberi waktu ayahmu 2 Minggu untuk mengurus semua ini, apa benar?" Tanya Reyhan kepada Dara.
"Iya benar. Tapi aku mau sebelum 2 Minggu akte cerai sudah berada ditangan ku." ucap Dara.
"Oke, bisa di atur" sahut Reyhan yang menyanggupi
"Kamu gak mau tau, kenapa aku minta akte cerai sudah berada di tangan sebelum dua Minggu" ucap Dara. Sebenarnya Reyhan penasaran namun Reyhan pikir ini sebuah privasi.
"Emang kenapa?" tanya Reyhan
"Karena 2 Minggu lagi calon mantan suami aku nikah, akte cerai mau aku jadikan kado terindah untuknya" jawab Dara diselingi tawa.
"Bagus itu, suami nikah lagi jangan dibikin sedih, kamu juga punya pilihan, ya ini pilihanmu, mengajukan gugatan tanpa sepengatahuan suami. Suami udah semena mena gak bagus kalau di pertahankan yang ada cuma makan ati nanti" sahut Reyhan.
"Berkas berkas yang aku suruh siapin udah ada semua?"tanya Reyhan kepada Dara. Dara hendak menjawab tapi berhenti karena ada karyawan nya yang mengantarkan makanan.
"Maaf Bu, ini pesanan ibu tadi mau di taruh dimana?" ucap karyawan Dara yang bingung menaruh makannya karena meja yang berada dihadapan Dara dan Reyhan penuh dengan dokumen.
"Ditaruh di meja sana aja mbak" ucap Dara menunjuk meja yang berada tak jauh jendela.
Karyawan tersebut menganggukkan kepalanya lalu menata makanan tersebut.
"Ini berkas berkas sudah aku siapkan disini juga ada foto dan video kalau mereka benar-benar selingkuh bahkan sudah pernah melakukan perzinahan" ucap Dara kepada Reyhan sebari menyerahkan bukti yang dapat memudahkan nya bercerai dengan Bagas.
"Oke, aku usahakan dalam satu Minggu proses penceraian mu akan selesai" kata Reyhan yang tersenyum karena tak sabar menunggu jandanya Dara. Wanita pujaannya dari masa sekolah dasar.
"maafkan aku, jika aku terlalu bahagia mendengarnya sebentar lagi kamu menjadi janda padahal jika di posisimu pasti kamu sangat sedih apalagi melihat suami yang kamu cintai selingkuh
"Makasih ya Rey, sekarang jam makan siang ayo makan dulu" ajak Dara sebari melangkah kakinya menuju meja yang sudah ada hidangan makanannya.
Mereka menikmati makan siang dengan diselingi obrolan ringan. Tak terasa makanan sudah habis karena keasikan ngobrol sampai lupa waktu. Jam sudah menunjukan pukul dua siang Reyhan pamit dan Dara memutuskan untuk pulang. Dara diantar pulang oleh Riska. Sesampainya dirumah.
Ceklek.. Dara membuka pintu rumah dengan menahan nafas dia sual ber siap kalau ada barang yang terbang . Dara celingak celinguk karena rumah terasa sepi.
"Kok tumben sepi?, ibu mertua apa belum pulang?, tapi syukurlah kalau belum pulang gak ada barang terbang" ucap Dara yang tidak mau ambil pusing.
Dara menuju ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya tak lama Dara akhirnya tertidur.
Dor
Dor
Dor
Pintu kamar Dara diketuk dengan kencang. Dara yang pintu kamarnya di gedor terlonjak kaget.
"Astaghfirullah, siapa sih, gedor-gedor pintu ganggu orang tidur aja, hoaam" ucap Dara dengan nada marahnya. Dara berjalan menuju pintu kamarnya.
Ceklek....
Dara membuka pintu kamar dengan wajah cemberut.
"Bagus, jam segini masih tidur. Dari pada tidur, bungkusan bungkusan yang ada dimeja makan kamu tata di piring. Nanti habis magrib Dita calon mantu ibu yang kaya mau kesini. Ingat kamu jangan buat ulah" sentak Bu Dewi sambil melihat penampilan Dara yang tampak berbeda.