NovelToon NovelToon
Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Wanita Karir / Time Travel
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"

Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.

Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.

Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAJA SAKIT PARAH DAN ALIANSI MULAI TERBENTUK

Pagi itu yang seharusnya cerah di ibukota kerajaan tiba-tiba berubah menjadi suram ketika lonceng istana berbunyi tiga belas kali berturut-turut. Semua orang yang mendengar bunyi itu langsung tahu apa artinya. Raja sedang dalam kondisi yang sangat kritis.

Di kediaman Elsworth, Catharina sedang sarapan bersama Duke Henry ketika mereka mendengar lonceng itu bergema di seluruh kota. Ayah dan anak itu saling berpandangan dengan wajah yang berubah serius.

"Ini lebih cepat dari yang kukira," ujar Duke Henry sambil meletakkan cangkir kopinya dengan pelan. "Raja Edward kondisinya memburuk dengan sangat cepat."

"Apa artinya Pangeran Alexander akan segera naik tahta?" tanya Catharina, meski ia sudah tahu jawabannya dari alur cerita asli yang pernah ia baca.

"Kemungkinan besar, ya. Kecuali..." Duke Henry terdiam sejenak, menatap putrinya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Kecuali ada yang berani menantang urutan suksesi yang sudah ada."

"Pangeran Cassian?" sahut Catharina.

Duke Henry mengangguk perlahan. "Cassian punya dukungan kuat dari faksi progresif di dewan kerajaan. Tapi Alexander punya dukungan dari faksi konservatif yang kuat dan sebagian besar militer. Ini akan menjadi perang politik yang sangat brutal dan berdarah."

"Dan kita harus memilih berdiri di sisi mana, ayah."

"Kita sudah memilih sisi kita, Catharina. Sejak kamu memutuskan untuk mendukung Cassian dalam proyek sekolah itu, kita sudah berada di sisinya, mau tidak mau."

Catharina menelan ludah dengan susah. Ini semua menjadi sangat nyata sekarang. Bukan lagi sekadar rencana atau diskusi teoretis. Konflik perebutan tahta benar-benar akan terjadi dalam waktu dekat.

Martha masuk dengan langkah tergesa-gesa, wajahnya pucat. "Yang Mulia, ada surat yang sangat mendesak dari istana. Katanya, untuk Lady Catharina secara pribadi."

Catharina membuka surat itu dengan tangan yang sedikit gemetar tanpa bisa ia kendalikan. Tulisan tangan Seraphina terlihat sangat terburu-buru dan tidak serapi biasanya, tintanya bahkan sedikit luntur di beberapa tempat.

("Catharina,

Ayah koma sejak tadi malam dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Dokter bilang mungkin hanya hitungan hari, bahkan mungkin jam. Alexander sudah mulai menggerakkan semua pendukungnya dan mengintimidasi anggota dewan yang masih ragu. Cassian sangat butuh bantuan sekarang.

Tolong, datang ke istana secepatnya yang kamu bisa. Kita perlu membicarakan strategi dengan sangat serius.

Sera")

Catharina langsung berdiri dengan cepat sampai kursinya bergeser. "Aku harus ke istana sekarang juga."

"Ayah ikut," ujar Duke Henry sambil berdiri juga dengan gerakan yang sama cepatnya. "Ini bukan hanya urusanmu seorang. Ini urusan seluruh keluarga Elsworth dan masa depan kita semua."

***

Istana kerajaan terlihat jauh lebih sibuk dan penuh kekacauan dari biasanya. Pelayan berlarian kesana-kemari dengan wajah panik, penjaga terlihat jauh lebih banyak dari biasanya dengan posisi yang lebih waspada, dan suasana penuh ketegangan yang bisa dirasakan siapa saja.

Catharina dan Duke Henry dipandu oleh seorang pelayan istana ke ruang pertemuan pribadi Pangeran Cassian. Di sana sudah berkumpul Seraphina dengan mata yang sembab, Victoria yang terlihat sangat khawatir, Lucian yang dipanggil lebih awal, dan beberapa Duke serta duchess yang juga mendukung Cassian dengan sepenuh hati.

Cassian berdiri di depan peta besar kerajaan yang tergantung di dinding dengan banyak tanda yang sudah dibuat. Wajahnya terlihat sangat lelah, mata hijaunya yang biasanya penuh sorot jahil dan lelucon sekarang dipenuhi kekhawatiran yang mendalam dan tekad yang kuat.

"Terima kasih sudah datang dengan cepat," sapanya begitu melihat Catharina dan Duke Henry masuk. "Aku tahu ini sangat mendadak, tapi situasinya sudah sangat mendesak dan tidak bisa ditunda lagi."

"Bagaimana kondisi Raja?" tanya Duke Henry dengan nada yang serius.

"Ayah koma sejak semalam dan tidak menunjukkan perbaikan sama sekali. Dokter bilang organ-organ tubuhnya mulai berhenti berfungsi satu per satu. Mungkin hanya dua atau tiga hari lagi, bahkan mungkin kurang." Suara Cassian bergetar sedikit saat mengatakan hal yang sangat menyakitkan ini.

Victoria berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat, menggenggam tangan Cassian dengan lembut tapi erat. Gerakan kecil itu seperti memberikan kekuatan yang Cassian sangat butuhkan.

"Dan Alexander? Apa yang sudah dia lakukan?" tanya Catharina langsung ke inti masalah.

"Dia sudah mulai bertindak seolah-olah dia sudah menjadi Raja," jawab salah satu Duke, Duke Harrison yang terkenal sebagai pembaharu yang vokal. "Kemarin dia memanggil pertemuan dewan darurat tanpa persetujuan dari raja atau dari Cassian. Dia mencoba mendorong dekrit yang akan memberikan dia kekuasaan eksekutif penuh bahkan sebelum raja meninggal."

"Apa dewan menyetujuinya?" tanya Duke Henry dengan nada yang semakin khawatir.

"Terbagi. Empat puluh persen mendukung Alexander, tiga puluh lima persen mendukung Cassian, dua puluh lima persen masih netral atau terlalu takut untuk memilih sisi mana pun," jawab Duchess Margaret, wanita tua yang bijaksana dan sangat dihormati oleh semua kalangan. "Kita perlu membujuk mereka yang netral dan yang ketakutan itu ke sisi Cassian dengan cara yang tepat."

Cassian berbalik menghadap semua orang yang ada di ruangan dengan tatapan yang sangat serius. "Aku tidak ingin menjadi Raja dengan cara intimidasi atau kekerasan. Aku ingin legitimasi yang benar dan diakui semua orang. Aku ingin rakyat mendukungku karena mereka benar-benar percaya pada visi yang aku tawarkan, bukan karena mereka takut pada ancamanku."

"Itu sangat mulia, Cassian. Tapi Alexander tidak akan bermain dengan cara yang adil," ujar Duke Harrison dengan nada yang pahit. "Dia sudah mulai menyebarkan rumor bahwa kamu terlalu lemah, terlalu idealis, bahwa kamu akan menjual kerajaan ke kekuatan asing untuk keuntungan pribadi."

"Semua itu omong kosong total!" seru Seraphina dengan marah yang meluap, tangannya terkepal erat.

"Kita semua tahu itu omong kosong belaka. Tapi rakyat tidak tahu kebenarannya. Mereka hanya mendengar rumor yang terus disebarkan," ujar Victoria dengan frustrasi yang sangat terasa.

Catharina yang sejak tadi mendengarkan semua percakapan dengan sangat saksama, tiba-tiba angkat bicara dengan suara yang jelas. "Kalau begitu kita perlu narasi tandingan yang kuat. Kita perlu menunjukkan kepada rakyat siapa sebenarnya Cassian. Dan kita perlu mengungkap siapa sebenarnya Alexander di balik topeng yang dia pakai."

Semua mata di ruangan itu langsung tertuju pada Catharina dengan penuh perhatian.

"Apa maksudmu dengan itu?" tanya Cassian dengan mata yang mulai berbinar.

"Cassian, kamu punya rekam jejak yang sangat bagus selama ini. Kamu yang mendorong reformasi pajak yang sangat menguntungkan rakyat kecil. Kamu yang memperjuangkan layanan kesehatan yang lebih baik dan terjangkau. Kamu yang mendukung reformasi pendidikan dengan sepenuh hati. Tapi rakyat tidak tahu semua itu karena kamu selalu rendah hati dan tidak pernah mempublikasikan pencapaianmu sendiri."

Catharina berjalan ke depan ruangan, mengambil alih presentasi dengan kepercayaan diri alami yang membuat semua orang mendengarkan dengan serius.

"Kita perlu kampanye yang terstruktur. Kampanye yang benar dan jujur. Kita perlu mempublikasikan semua pekerjaan baik yang sudah Cassian lakukan selama ini. Kita perlu mendapatkan kesaksian langsung dari rakyat yang terbantu oleh kebijakan-kebijakan Cassian. Kita perlu menunjukkan kontras yang jelas antara Cassian yang benar-benar peduli pada rakyat dengan Alexander yang hanya peduli pada kekuasaan dan kekayaan."

"Kampanye? Seperti kampanye politik di negara-negara republik?" tanya Duks Harrison dengan sangat tertarik pada ide itu.

"Tepat sekali. Tapi kita sesuaikan dengan budaya dan kultur kita sendiri. Bukan iklan serangan yang agresif dan kasar, tapi pesan positif yang menonjolkan pencapaian nyata dan visi masa depan yang jelas."

Lucian tersenyum sangat bangga melihat calon istrinya yang begitu cemerlang. "Catharina benar. Dan kita punya semua sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan ini. Aku punya percetakan yang bisa memproduksi pamflet dan surat kabar dalam jumlah besar. Catharina punya jaringan luas dengan para pedagang dan serikat yang bisa mendistribusikan semua itu."

"Aku bisa menggerakkan lingkaran-lingkaran perempuan di seluruh kerajaan," tambah Duchess Margaret dengan semangat. "Para istri dan ibu punya pengaruh yang sangat besar dalam keputusan keluarga. Kalau mereka mendukung Cassian, mereka akan mempengaruhi suami dan anak-anak mereka juga untuk ikut mendukung."

Victoria mengangguk dengan sangat bersemangat. "Dan aku punya koneksi yang kuat dengan para sarjana dan akademisi. Mereka bisa menulis artikel dan esai yang mendukung reformasi Cassian dengan argumen yang sangat kuat."

Cassian menatap semua orang yang ada di ruangan dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena terharu. "Kalian semua benar-benar bersedia melakukan semua ini untukku?"

"Bukan untukmu, Cassian," ujar Duke Henry dengan tegas. "Untuk kerajaan ini. Untuk masa depan yang jauh lebih baik. Kamu kebetulan adalah kendaraan terbaik yang kita punya untuk mencapai masa depan itu."

Cassian terkekeh geli di tengah air mata yang mulai mengalir di pipinya. "Itu mungkin dukungan paling tidak langsung yang pernah aku terima dalam hidupku. Tapi aku akan menerimanya dengan senang hati."

Mereka semua tertawa bersama, ketegangan di ruangan berkurang sedikit untuk sesaat.

"Baiklah, mari kita buat rencana yang konkret," ujar Catharina sambil mengambil kertas dan pena dari meja. "Kita punya maksimal satu minggu sebelum Raja, sebelum kita kehilangan Raja Edward. Dalam satu minggu itu, kita perlu melakukan:

Pertama, memproduksi dan mendistribusikan pamflet yang menonjolkan pencapaian nyata Cassian.

Kedua, mengorganisir pertemuan terbuka di mana Cassian bisa berinteraksi langsung dengan rakyat dan mendengar aspirasi mereka.

Ketiga, mendapatkan dukungan resmi dari tokoh-tokoh yang dihormati seperti pemimpin agama, kepala serikat, dan veteran perang.

Keempat, membantah semua rumor yang disebarkan Alexander dengan fakta dan bukti yang tidak bisa dibantah.

Kelima, menyiapkan argumen hukum yang kuat untuk menantang klaim Alexander kalau dia mencoba memaksakan suksesi dengan cara yang tidak sah."

"Itu sangat banyak yang harus dikerjakan dalam waktu hanya seminggu," ujar Seraphina dengan nada khawatir yang jelas terdengar.

"Makanya kita perlu membagi tugas dengan sangat jelas dan efisien," jawab Catharina sambil mulai menulis pembagian tugas. "Duke Henry dan Duke Harrison menangani lobi di dewan. Duchess Margaret menangani lingkaran-lingkaran perempuan. Victoria menangani dukungan akademis. Lucian menangani produksi media. Seraphina menangani urusan internal istana. Dan aku akan mengoordinasikan seluruh kampanye bersama Cassian."

Semua orang menerima tugas mereka dengan wajah yang sangat serius dan penuh tekad.

"Ada pertanyaan?" tanya Cassian sambil melihat sekeliling.

"Hanya satu," ujar Lucian dengan nada yang lebih serius. "Bagaimana kalau Alexander mencoba menyabotase kita? Bagaimana kalau dia mencoba sesuatu yang sangat drastis dan berbahaya?"

Ekspresi Cassian berubah menjadi sangat gelap. "Maka kita harus sangat berhati-hati. Terutama Catharina, Victoria, dan Seraphina. Kalian adalah perempuan yang paling vokal mendukungku. Alexander mungkin akan menjadikan kalian target utamanya."

"Kami bisa menjaga diri kami sendiri," ujar Victoria dengan kepercayaan diri yang tinggi.

"Aku tahu kalian bisa. Tapi tolong, jangan ambil risiko yang tidak perlu. Aku tidak mau kalian terluka atau dalam bahaya karena aku."

Victoria melangkah lebih dekat ke Cassian, menatapnya dengan sangat intens dan penuh tekad. "Cassian, kami memilih untuk berjuang untukmu. Untuk kita semua. Untuk kerajaan ini. Ini bukan hanya pertarunganmu. Ini pertarungan kita bersama."

Cassian menggenggam tangan Victoria dengan sangat erat. "Terima kasih. Terima kasih kepada kalian semua. Kalian tidak tahu betapa besar artinya ini bagiku."

******

BERSAMBUNG

1
Dedi Dahlia
lihat saja kemenangan kebaikkan yang menang apa kejahatan yang menang semangat 💪💪
Dedi Dahlia
seandainya lucian tidak bisa percaya yang kamu katakan,tinggalkan dia masih banyak lelaki di dunia ini yang lebih baik dari lucian,up semangat 😁😁💪💪
Dedi Dahlia
jangan biarkan kejahatan menang thorr,buat Lucian ingat bukti kejahatan Elise dan Alexander kejahatan selama ini lanjut semangat./Smile//Smile//Pray//Pray/
Murni Dewita
👣
falea sezi
kapok salah sendiri tergoda ma pembokat gatel
CaH KangKung,
👣👣
Wega Luna
belajar beladiri berpedang,otak boleh maju kalo GK diimbangi bela diri sama saja nyetor nyawa,aku punya feeling kalo nanti si Elise di bebaskan Alexander😌 jangan sampai yh thor
putmelyana
next Thor ceritanya
Ayu Padi
yaaah Thor gimn bisa begitu...mereka minum racun ...GK rela laah Thor masa pelayan menang...
Nabil Az Zahra
baru bab 1 mudah"n seterusnya mnarik,
Ayu Padi
sama Thor ...GK sabar ...hrs putus sama Duke ...payah terkenal kejam dingin tp luluh sama pelayan yg penuh drama...
Wega Luna
boleh kah nonjok Alexander,,,,😒😒😒😒💀💀
partini
mati dua kali weh
Wega Luna
jangan sampai Thor ada korban ,
partini
lah pake cara lama dasar Kunti
Fatur Fatur
bikin eliese yang terkena racunnya sendiri thor
Rina Yuli
mampir thor ✋✋✋✋
Wega Luna
si Elise ini bener bener pick me🤣🤣🤣🤣🤣🤣,entah di novel atau di dunia nyata yg namanya Elise itu bikin naik darah
Wega Luna: bener🤣🤣🤣🤣, karena dari dunia nyata sekitar mangkanya aku berani bilang gitu
total 2 replies
partini
kalau terpuruk dan lari ke pelayanan fixx Duk Duk emang rendahan
partini
good story
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!