Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Penyamaran: Genta si Tukang Ojek
"Nggak. Pokoknya nggak."
Genta berdiri mematung di tengah ruangan, menatap setumpuk pakaian yang baru saja gue beli dari pasar kaget subuh tadi dengan tatapan jijik. Kalau tatapan mata bisa membakar benda, baju-baju itu pasti sudah jadi abu sekarang.
"Genta, dengerin gue," gue mencoba bicara sesabar mungkin, kayak lagi ngebujuk anak kecil yang nggak mau minum obat. "Orang-orang itu tahu muka lo. Editor Kepala Aksara Muda yang dulu rapi, klimis, dan wangi parfum mahal. Kalau lo keluar pakai kemeja slim-fit itu lagi, kita bakal ketahuan sebelum sampai ujung gang!"
"Tapi kenapa harus ini, Aruna?" Genta mengangkat jaket kulit sintetis yang sudah mengelupas di sana-sini dengan ujung jarinya. "Ini baunya seperti keringat yang sudah mengendap sejak zaman kolonial. Dan celana ini... ini celana bahan yang menggantung di atas mata kaki. Secara estetika, ini sangat menghina profesi editor!"
"Ini namanya penyamaran, Genta! Bukan fashion show!" balas gue geregetan. "Buruan pakai, atau gue tinggal lo di sini sendirian bareng tikus-tikus itu!"
Sepuluh menit kemudian, Genta keluar dari balik tirai pembatas. Gue nyaris tersedak.
Pria itu benar-benar berubah. Rambut klimisnya sengaja gue acak-acak pakai sedikit minyak goreng biar kelihatan lepek. Di bawah hidungnya, nangkring kumis palsu yang sedikit miring—hasil sisa properti drama kampus yang masih gue simpan. Jaket kulit lecek itu beneran bikin dia kelihatan kayak tukang ojek pangkalan yang lagi stres karena sepi tarikan.
"Gimana?" tanya Genta pelan, suaranya terdengar sangat menderita. Dia mencoba menarik celananya ke bawah, tapi kain itu tetap setia menggantung di atas mata kaki, pamer kaos kaki putihnya yang nggak nyambung.
Gue menahan tawa sampai perut gue sakit. "Sempurna. Sumpah, nyokap lo pun nggak bakal ngenalin lo kalau ketemu di jalan."
"Saya merasa seperti draf novel yang salah cetak," gumamnya sambil melihat pantulan dirinya di cermin retak.
Kami keluar lewat pintu belakang, menuju motor tua milik tetangga kontrakan yang gue sewa harian. Genta naik ke atas motor bebek tua itu dengan gerakan kaku. Dia terlihat sangat nggak nyaman memegang setang motor yang sudah bergetar hebat bahkan sebelum dinyalakan.
"Pegangan yang kuat," ucap Genta saat mesin motor mulai dihidupkan, mengeluarkan asap tipis dari knalpotnya.
Gue naik ke jok belakang, lalu secara refleks melingkarkan tangan gue di pinggangnya. Gue bisa merasakan tubuh Genta yang mendadak menegang saat perutnya bersentuhan dengan lengan gue. Tapi kali ini, gue nggak peduli soal kecanggungan itu.
Saat motor mulai melaju membelah jalanbgang yang sempit, gue menyandarkan pipi gue di punggungnya yang tertutup jaket kulit bau apek itu. Gue memejamkan mata, memeluknya makin erat seolah-olah dia adalah satu-satunya pegangan yang gue punya di dunia ini.
"Genta..." bisik gue lirih, hampir tenggelam oleh suara bising mesin motor.
"Ya?"
"Jangan sampai ketangkap ya. Gue nggak tahu harus gimana kalau lo nggak ada."
Gue bisa merasakan tangan Genta yang sebelah kiri melepaskan setang sejenak, lalu menepuk pelan tangan gue yang melingkar di perutnya. Gestur kecil yang bikin rasa takut gue sedikit hilang.
"Saya nggak akan ke mana-mana, Aruna," suaranya terdengar lebih mantap sekarang, nggak ada lagi nada keluhan soal celana pendek atau jaket lecek. "Penulis dilarang kehilangan editornya sebelum ceritanya selesai. Pegangan yang kencang, kita harus pindah ke draf selanjutnya."
Di atas motor tua yang batuk-batuk itu, di antara polusi dan penyamaran yang konyol, gue ngerasa deg-degan yang beda. Bukan karena takut dikejar penjahat, tapi karena gue sadar kalau gue baru saja menyerahkan seluruh hidup gue ke tangan tukang ojek gadungan berkumis miring ini.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻