NovelToon NovelToon
SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Romansa / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Hayra Masandra

Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.

"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira

"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara

"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidur yang Panjang

Ketegangan yang mencekik selama berjam-jam itu akhirnya mencair saat pintu ICU bergeser terbuka perlahan. Dokter keluar dengan masker yang sudah diturunkan, menampakkan gurat kelelahan namun ada binar lega di matanya.

"Kondisi kritisnya sudah terlewati," ujar dokter, suaranya terdengar seperti melodi paling indah bagi mereka yang menunggu. "Ritme jantung dan pernapasannya sudah stabil. Organ-organnya mulai merespons pengobatan dengan baik."

Isak tangis syukur pecah seketika. Ibu Kara ambruk di pelukan suaminya, kali ini bukan karena putus asa, melainkan karena beban berat yang selama ini menghimpit dadanya seolah diangkat paksa. Genta yang baru kembali dari masjid langsung mengepalkan tangan ke udara, sementara Aira hanya terdiam, memejamkan mata sambil menyentuh dadanya yang bergemuruh.

Namun, dokter belum selesai bicara. Ekspresi wajahnya kembali berubah serius, membuat suasana yang baru saja hangat mendadak hening kembali.

"Hanya saja... ada satu hal yang harus kalian pahami," lanjut dokter dengan hati-hati. "Komplikasi pada saraf pusat dan otak kemarin meninggalkan dampak yang cukup dalam. Meskipun fungsi vitalnya stabil, Kara saat ini berada dalam kondisi koma."

"Koma?" Ayah Kara bertanya, suaranya tercekat. "Sampai kapan, Dok?"

Dokter itu menggeleng pelan. "Kami tidak bisa memberikan batas waktu yang pasti. Bisa hitungan hari, minggu, atau bahkan lebih lama. Ini adalah cara tubuh Kara untuk melindungi dirinya sendiri dari trauma saraf yang hebat. Dia bernapas, dia ada, tapi dia memilih untuk tetap 'tidur' sampai tubuhnya siap untuk bangun kembali."

Harapan yang tadi membumbung tinggi kini mendarat di sebuah dataran sunyi yang bernama kesabaran.

Kara dipindahkan kembali ke ruang rawat intensif. Tidak ada lagi kabel-kabel darurat, hanya ada bunyi teratur dari monitor jantung yang kini berdetak tenang: bip... bip... bip...

Aira masuk ke ruangan itu sendirian. Ia duduk di kursi yang sudah sangat akrab baginya. Ia menatap wajah Kara yang kini terlihat sangat damai, seolah ia hanya sedang tertidur setelah menyelesaikan ujian sekolah yang melelahkan. Tidak ada lagi kerutan di dahi Kara karena menahan sakit.

"Jadi, kamu milih istirahat ya, Ra?" bisik Aira sambil meraih tangan Kara yang terkulai lemas.

Aira tidak menangis sedih. Ia justru tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. Ia mengusap punggung tangan Kara dengan ibu jarinya.

"Nggak apa-apa. Tidur saja dulu yang lama. Kamu pasti capek banget berjuang sendirian lawan rasa sakit itu. Sekarang, giliran aku yang jaga tidurnya. Aku nggak akan ke mana-mana."

Di luar kamar, Genta dan teman-teman yang lain hanya bisa melihat dari balik kaca. Mereka senang Kara masih bernapas, namun kenyataan bahwa sang "Matahari" kini sedang terbenam dalam waktu yang tidak ditentukan membuat hati mereka terasa perih.

"Dia nggak koma, Gen," ujar Aira saat Genta masuk membawakan air minum.

"Maksud lu, Ra?"

"Dia cuma lagi istirahat di dalam Samudera," jawab Aira pelan. "Dan aku akan tetap di sini, menjadi garis pantai yang nunggu dia bangun. Mau itu besok, atau seribu tahun lagi, aku akan tetap di sini."

Malam itu, rumah sakit menjadi saksi sebuah cinta yang tidak lagi menuntut interaksi. Cinta yang rida hanya dengan mendengar suara detak jantung, meski sang pemilik nyawa sedang berkelana di dunia yang tak terjangkau oleh kata-kata.

***

Hari-hari berikutnya di rumah sakit berubah menjadi rutinitas yang sunyi namun penuh arti bagi Aira. Kamar rawat Kara tidak lagi terasa seperti ruang pesakitan yang mencekam, melainkan telah menjelma menjadi sebuah "perpustakaan pribadi" yang hangat.

Setiap pagi, setelah membersihkan diri dan membantu perawat mengganti kain kompres untuk Kara, Aira akan duduk di kursi andalannya. Ia mulai membuka buku-buku tebal milik Kara yang dibawakan oleh Genta dari sekolah—buku kalkulus, biologi molekuler, hingga sastra klasik yang sangat disukai laki-laki itu.

"Kara, hari ini kita bahas tentang Hukum Termodinamika, ya?" ucap Aira lembut, seolah Kara sedang menatapnya dengan penuh perhatian. "Aku tahu kamu sudah hafal di luar kepala, tapi dengarkan saja. Anggap ini dongeng sebelum bangun."

Aira membacakan baris demi baris. Suaranya mengisi kekosongan di antara bunyi detak monitor jantung. Ia mendeskripsikan setiap gambar yang ada di buku, menceritakan bagaimana warna langit di luar jendela, hingga mengabarkan bahwa pohon kamboja di depan rumah sakit mulai berbunga.

Suatu sore, Genta datang membawa setumpuk catatan dari guru-guru mereka.

"Gila ya, Ra," ujar Genta sambil menaruh tasnya. "Lu beneran bacain semua ini buat dia? Dia kan... belum tentu denger."

Aira hanya tersenyum sambil merapikan letak selimut Kara. "Dia denger, Gen. Kiai Mansur bilang, jiwa itu tidak pernah tidur. Kara cuma lagi di ruang tunggu yang sangat jauh. Kalau suasana di sekitarnya sepi, dia mungkin bakal lupa jalan pulangnya. Jadi, aku harus terus manggil dia lewat suara-suara ini."

Aira kemudian mengambil sebuah buku catatan kecil. "Lagipula, kalau dia bangun nanti dan ketinggalan pelajaran, dia pasti bakal ngomel karena nilainya turun. Aku nggak mau denger dia bawel soal itu."

Genta terkekeh, namun matanya menatap haru pada keteguhan Aira. Gadis yang dulunya penuh ketakutan itu kini telah menjadi pilar terkuat bagi mereka semua. Aira bahkan mulai belajar cara melakukan stimulasi saraf ringan pada jari-jari Kara, seperti yang diajarkan oleh terapis fisik.

Ibu Kara, yang kini sering datang membawakan bekal untuk Aira, seringkali hanya berdiri di pintu, tertegun melihat pemandangan itu. Ia melihat Aira yang tak lelah membisikkan doa, membacakan buku, hingga memutar musik instrumen yang menenangkan.

"Terima kasih sudah menjaga 'suara' di kamar ini, Aira," bisik Ibu Kara suatu kali sambil mengusap pundak Aira.

Aira menggenggam tangan Kara yang masih diam membisu. Di dalam hatinya, ia terus berdialog dengan sang pencipta. Ia tidak lagi meminta waktu dipercepat. Ia hanya memohon agar setiap kata yang ia ucapkan bisa menjadi benang merah yang menuntun jiwa Kara kembali dari kegelapan komanya.

Bagi Aira, setiap detik yang ia habiskan di samping Kara yang "tertidur" adalah bentuk syukur bahwa ia masih diberikan kesempatan untuk mencintai, tanpa perlu merasa takut bahwa matanya akan menyakiti. Di kamar itu, Samudera tetap tenang, menjaga sang Matahari yang sedang beristirahat di kedalamannya.

1
nini
suka banget novel ini. Pilhan kata2nya unik tapi menarik dan biqin penasaran. Novel yg beda dgn yg lain. semoga ada karya baru lagi. semangat kakak 😊
𝓝𝓲𝔃𝓪𝓻𝓪𝓪: terimakasii, sehat-sehat yaaa 🤗🤗
total 1 replies
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!