Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Perasaan yang sebenarnya ada
Setelah membersihkan diri Ziya tak lagi keluar dari kamarnya, ‘kayanya Neng Ziya marah banget sama saya, tapi kenapa atuh dia marah, apa saya melakukan kesalahan?’ batin Asep.
‘Apa mungkin dia lagi ada masalah sama pacarnya? Ah tapi itu bukan urusan saya atuh,’ dia hendak berlalu pergi, namun dia masuk kembali, kemudian berdiri di depan pintu kamar Ziya.
“Neng, malam ini jadwal saya Ronda, Neng gak papa saya tinggal sendiri?” Tak ada sahutan dari sang pemilik kamar.
“Kalau ada apa-apa Neng teriak aja ya, saya gak jauh ko pos Rondanya di depan sana,” sambung Asep meski tak dapat jawaban dari Ziya, setelah itu iya pun pergi sambil membawa senter.
Di pos Ronda sudah nampak beberapa orang bapak-bapak termasuk Udin yang juga giliran jaga malam seperti dirinya, akhir-akhir ini banyak yang kehilangan ternak mereka seperti Ayam, kambing dan lain-lain bahkan sampai ada yang kehilangan sayuran yang hendak di panen esok hari.
“Asep jeng Udin bagean tungu di pos waenya, ken abdi jeng Kang Agus anu nguriling mah,” (Asep sama Udin giliran jaga di pos aja, biar saya sama Kang Agus yang keliling) Ucap Mang Diman.
“Muhun Kang, siap,” (Iya Kang siap) Sahut Asep.
Mereka pun berlalu, kini hanya tinggal Asep dan Udin yang berada di pos, mereka duduk ditemani segelas kopi di hadapan masing-masing.
“Kenapa wajah kamu kaya gitu Sep?” tanya Udin karena melihat tampang lesu sahabatnya.
“Neng Ziya marah sama saya Din,” ungkapnya diiringi helaan nafas berat.
“Marahan kenapa atuh, suami istri beneran aja bukan,” sindir Udin.
“Gak tahu, saya juga gak ngerti tiba-tiba aja dia marah dan bilang kaya gini, peran lu disini tuh sebagai suami atau sebagai pengasuh? Gitu katanya,” cerita Asep.
Hah? Udin menggaruk kepalanya tak gatal, “Ini mah saya juga gak ngerti atuh Sep, kenapa gak kamu tanya aja langsung sama Istri kamu,” nasihat Udin.
“Saya gak berani atuh Din, apa lagi sekarang dia lagi marah. Saya cuma pengen Neng Ziya merasa nyaman dan aman di tempat ini, meski hanya tiga bulan saya ingin bisa membuat dia bahagia, apa saya salah Din?” keluhnya.
“Salah, sejak awal emang semuanya udah salah. Pertama, niat kalian menikah itu salah, kedua kamu suka sama wanita yang gak suka sama kamu itu juga salah,” jelas Udin secara gamblang.
“Kamu bener Din, seharusnya saya gak berharap apa-apa soal pernikahan ini, saya juga sadar diri saya ini bukan siapa-siapa di hadapan wanita seperti Neng Ziya,” Asep tersenyum pahit.
Ya, sejujurnya Asep menyukai Ziya. Awalnya dia menganggap pernikahan ini sebagai beban yang tiba-tiba harus dia pikul tanpa aba-aba, namun ketika dia membawa Ziya pulang ke Desa dan melihat betapa rapuhnya dia, membuat rasa ingin melindungi itu tiba-tiba muncul begitu saja, benih-benih cinta seolah tumbuh seiring waktu. Namun fakta tentang siapa dan apa niat pernikahan ini membuat Asep tetap membentengi perasaannya, dia selalu mengingatkan pada dirinya, menyukai boleh tapi rasa ingin memiliki jangan.
Saat masih kecil Asep hanya bisa melihat Ziya dari kejauhan, bagi Asep Ziya seperti seorang putri yang harus dia layani bukan dia cintai, mungkin memang perasaan itu hadir saat itu. Namun, Asep cukup tahu diri dia dan Ziya jelas jauh berbeda.
Apa lagi wanita itu punya pria yang sepertinya sangat ia cintai hingga ia rela melakukan apa pun untuknya. Kini Asep hanya ingin menghabiskan waktu tiga bulannya dengan tenang, itu saja. Tapi sepertinya tidak dengan Ziya, itu pikirnya.
‘Apa Neng Ziya gak betah disini ya? Apa dia gak tahan sama orang kampung seperti saya?’ Asep menghela nafas berat.
“Udah atuh jangan di pikirin terus, mending kita ngopi,” saran Udin, dia enggan terlalu banyak mencampuri tentang masalah percintaan rumit sahabatnya, apa lagi dia juga masih lajang bingung juga harus memberi saran apa.
Setelah itu mereka pun memilih pembahasan soal yang lain, jika terlalu larut membahas masalah tentang Ziya takutnya ada menguping pembicaraan mereka.
Sementara di rumah, gadis itu sebenarnya belum terlelap dia tak sanggup menghadapi Asep tadi, dia benar-benar merasa bersalah karena melampiaskan amarahnya pada Pria itu.
“Ah, aturan gue minta maaf dulu tadi, ck,” keluhnya, beberapa kali dia mengintip keluar jendela berharap teman serumahnya cepet kembali, namun waktu terus bergulir jam pun menunjukkan waktu 00:21 dini hari, namun Asep belum juga kembali.
“Ngeronda itu sampe jam berapa sih, sampai subuh kah? Gila jam segini di belum pulang,” desahnya, “kayanya gue gak akan bisa minta maaf hari ini. Ck Ziya, lu tuh harus perbaiki sikap lu yang jutek itu, astaga.”
***
Keesokan harinya, Ziya bangun pukul 8 pagi.
“Mampus, gue kesiangan.” Dia beranjak cepat, sejenak merapikan diri agar tidak terlihat terlalu acak-acakan, kemudian ia pun keluar dengan langkah pelan, dia mengedarkan pandangannya ke semua arah.
‘Ko sepi? Asep udah pergi kah?’ dia berjalan menuju dapur, disana juga kosong.
‘Apa dia di kamarnya?’ atensi Ziya beralih kesana, sejenak dia ragu untuk mengetuk pintu kamar Asep, namun dia tetap melakukannya.
Tak ada sahutan, dari sang pemilik kamar, tampaknya dia memang sudah pergi ke ladang.
Ziya menghela nafas berat, dia berjalan kembali ke dapur kemudian membuka tudung saji di atas meja, sarapan sudah tersaji seperti biasa.
Ziya menghela nafas berat, tiba-tiba sebuah ide terbersit di otaknya. Dia lekas membersihkan diri terlebih dahulu kemudian kembali ke dapur.
“Emh masak apa ya?” dia membuka lemari pendingin, banyak bahan makanan disana tapi dia bingung mau masak apa.
Dia membuka layar gawainya, mencoba menemukan resep di internet, namun tentu saja itu tidak berhasil karena sinyal di ponselnya hilang semua.
“Ck, gimana orang-orang disini bisa tahan gak pake internet sih, sumpah jelek banget sinyalnya.” Keluhnya sambil menaruh ponselnya sembarang tempat.
“Oke, gue masak yang gue tahu aja,” ucapnya.
Ziya pun mulai memasak setelah menentukan menu makanan yang ingin dia buat, seperti, telur balado, sayur asem dan tempe orek.
Dua jam berlalu, Akhirnya masakannya pun siap, dia memasukannya kedalam rantang susun bersiap membawanya ke ladang.
Ziya tersenyum menatap rantang yang telah berisi makanan itu, dia ingin minta maaf pada Asep lewat makanan itu.
Ini kedua kalinya dia masak buat cowok, setelah Regan tentunya.
Ziya pergi ke kamar untuk berdandan, terlebih dahulu, hanya berupa bedak tipis dan lipstik saja, berdandan berlebihan di tempat ini juga tidak akan cocok, setelah itu dia pun keluar sambil menjinjing rantang berisi masakannya. Dia melenggang dengan senyum tipis senantiasa menghiasi bibirnya, dia sudah dapat membayangkan ekspresi Asep saat mencicipi masakannya.
Saat langkahnya hampir mendekati ladang, matanya menangkap dua sosok yang tengah bicara berdua di tepi jalan, matanya langsung mengenalinya, itu Asep dan seorang wanita berhijab, siapa dia?
Dan sialnya, Ziya melihat Asep tersenyum pada wanita itu, nyut... Dia merasakan sakit di ulu hatinya, lagi-lagi dia memilih untuk menghindar dan bersembunyi di balik dinding rumah Siti yang memang tak jauh dari area ladang milik Asep.
😍❤❤💪💪💪
siapa yg akan ngakuin perasaan duluan..
asep aapa ziyaaaaa...
🤣🤣😄😄😄❤😍😍😍😍❤❤💪💪💪
segera putusin regan...
❤❤❤💪💪💪
Biar si benalu cari duit sendiri
❤❤😍😍💪💪
klao Asep gk cinta ma kmu ziyaa..
🤣🤣😄❤❤❤😍💪💪💪
ziya auto njerittt..
aaaaa..
🤣🤣😄😄😍😍😍❤💪💪💪
jangan samlai pak raden manfaatin ziya yaaa😍❤❤❤❤💪💪💪
jgn sampai siti curiga..
klao perlu ziya cium asep di depan siti..
🤣🤣😄😍❤❤❤❤
😍💪😍😍💪💪❤❤❤