Follow;
FB~Lina Zascia Amandia
IG~Deyulia2022
WA~ 089520229628
Seharusnya Syapala sangat bahagia di hari kelulusan Sarjananya hari itu. Namun, ia justru dikejutkan dengan kabar pertunangan sang kekasih dengan perempuan lain.
Hancur luluh hati Syapala. Disaat hatinya sedang hancur, seorang pria dewasa menawarkan cinta tanpa syarat. Apakah Syapala justru menerima cinta itu dengan alasan, ingin membalaskan dendam terhadap mantan kekasih?
Ikuti terus kisahnya dan mohon dukungannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Adegan Yang Membuat Erlaga Patah Hati
Kepala Syapala menggeleng pelan, wajahnya pias ketakutan. Ujung matanya mengeluarkan bening seperti kaca.
"Lakukan seperti Adik melakukannya dengan Erlaga. Atau anggap saja abang adalah Erlaga. Arkala memohon lagi.
Syapala masih mengggeleng, tubuhnya bergeser dan berjarak. Ia belum siap melakukan kontak fisik apapun dengan Arkala, termasuk permintaannya barusan.
Pintu depan mulai terkuak lebar, bayang Erlaga terlihat berjalan menuju ruang tengah. Desah dua napas bergemuruh dan memburu, pada saat bersamaan, ketika tubuh Erlaga tiba di ruang tengah.
Suara TV terdengar, langkah kaki Laga terhenti ketika matanya melihat bergantian pada Televisi yang masih menyala, disusul sebuah adegan yang mampu membuat matanya terbelalak serta mulut menganga.
Sorot matanya tertuju ke arah dua insan yang bercumbu bertukar saliva tanpa merasa terganggu.
Mereka berpelukan sangat erat tanpa jarak disertai ciuman yang berulang-ulang, terpampang jelas di depan matanya. Hati Erlaga sakit melihat pemandangan itu. Mereka tampak sangat menikmati seperti tidak ada paksaan.
Tangan Erlaga mengepal erat, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ingin protes pun, tidak bisa. Sebab Syapala sudah menjadi istri Arkala.
Dada Erlaga sesak, ia masih menyaksikan pertukaran saliva itu lagi dan lagi. "Pala, bukankah kamu menikah dengan abangku hanya karena sebuah kesepakatan, tapi kenapa kamu sangat menikmatinya?" geramnya dalam hati.
Laga meraih remot di atas meja Televisi, lalu menekan tombol mati pada Televisi itu. Hatinya sudah panas, kalau ia paksakan untuk menyaksikan lagi adegan itu, maka dipastikan dirinya akan terbakar.
Seketika suara Tv itu senyap, menyisakan keterkejutan sepasang insan yang sedang bercumbu, kini refleks melepas cumbuannya lalu menoleh ke arah berdirinya Erlaga, dengan seragam loreng yang masih melekat, kotor berlumuran lumpur yang sudah mengering, sisa latihan hari ini.
Syapala menggeser posisi tubuhnya sedikit dari Arkala. Wajahnya pias dan malu.
"Kamu baru pulang, kenapa selalu larut malam? Oh iya, aku baru sadar kalau kamu sibuk berlatih untuk persiapan Satgas," celoteh Arkala tidak terlihat tegang atau kaget sama sekali. Ia justru merasa puas, adegannya tadi bisa dilihat oleh Erlaga.
"Anggap saja ini balasan dari perbuatanmu semalam, Laga. Kamu telah lancang memeluk istriku," batin Arkala.
Erlaga tidak menjawab, wajahnya menyiratkan kekecewaan yang dalam.
"Oh iya, Sayang. Lebih baik kita lanjutkan adegannya di dalam kamar, di sini ada gangguan teknis," lanjut Arkala sembari dengan cepat meraih pinggang Syapala kemudian digendongnya ala bridal.
Syapala menjerit karena kaget, "Awww, Abang. Turunkan," pintanya. Akan tetapi Arkala tidak peduli. Langkah kakinya kini menuju tangga, sebelum Erlaga mendahuluinya.
Laga menatap kepergian sepasang pengantin baru itu dengan perasaan yang sangat hancur. Tawanya terdengar bahagia, tidak ada kesan bahwa pernikahan itu adalah paksaan.
"Sya, kamu benar-benar bahagia dengan Bang Kala?" gumamnya bertanya di keheningan ruang tengah yang beberapa saat lalu menjadi saksi bercumbunya sepasang pengantin baru.
Erlaga menuju tangga, tubuhnya mendadak lemas, matanya perih. Ia seperti menangis tapi tanpa air mata.
*
*
*
Sementara di dalam kamar ukuran 5x8, Arkala baru saja membaringkan tubuh Syapala, tanpa pemberontakan.
Dua wajah itu kembali sangat dekat, ada kebahagiaan terpancar di wajah Arkala. Dia merasa malam ini akan segera miliknya, memetik madu yang seharusnya memang miliknya tanpa paksaan, dalam keadaan Syapala yang pasrah.
"Kamu tahu, Dik. Abang merupakan pria yang paling bahagia malam ini," akunya bangga. Tidak ada sahutan dari bibir Syapala. Arkala tidak peduli ucapannya tidak dibalas, yang jelas bibir Syapana yang sedikit bercelah yang mempertontonkan barisan gigi putihnya yang rapi, memancing hasrat liar di bibir Arkala kembali bergelora.
Tanpa segan Arkala menautkan kembali bibirnya, membungkam lembut benda kenyal itu tanpa pemberontakan. Justru Syapala membalas seperti di bawah di ruang tengah tadi.
Gairah semakin memuncak. Sebagai lelaki matang yang sudah lama memimpikan hasrat cinta, gemuruh rasa itu menuntunnya begitu saja, tangan Arkala mulai aktif bergerilya melepas satu per satu kancing baju yang bertaut di baju Syapala.
Setengah badan dari Syapala sudah terpampang di depan mata, tanpa perlawanan. Arkala benar-benar percaya diri kalau malam ini dia akan memetik madu itu.
"Ahhhhhhh."
Tiba-tiba Syapala berontak, sekuat tenaga menghempas tubuh Arkala yang sudah menghimpit di atasnya dengan posisi strategis pada tempatnya.
Tubuh Arkala terpental ke samping kiri ranjang. Sementara Syapa menyamping, lalu meraih kemejanya yang sudah terlepas dari tubuhnya untuk menutupinya. Dia benar-benar malu dan marah terhadap Arkala karena sudah berani berbuat lebih.
Tepat saat Syapala mendesah menghempas tubuh Arkala dari tubuhnya. Erlaga berada di depan pintu pasangan pengantin baru itu. Desahan kuat itu, diduganya kalau Syapala baru saja memberikan hal yang paling berharga untuk Arkala.
Laga meninju dinding tembok dengan kuat, rasa sakit di tangannya tidak terasa dibanding rasa sakit yang kini ia rasakan ketika orang yang masih ia cintai telah dimiliki orang lain, tidak lain abang kandungnya sendiri.
"Kamu benar-benar sudah jadi milik Bang Kala, Sya. Luka hatimu yang menganga, kini sudah disembuhkan olehnya. Tapi, lihatlah aku. Sekarang aku yang menerima karma dari luka hati yang pernah kamu rasakan." Erlaga berjalan lunglai menjauh dari kamar Arkala dan Syapala yang diduganya sedang memadu cinta.
Suasana hati Erlaga benar-benar tidak karuan. Padahal sebentar lagi ia akan diberangkatkan ke wilayah konflik. Namun, ketika adegan itu terbayang kembali, Laga bertekad kuat dan memilih meninggalkan tempat kelahiran tercinta demi Satgas dari negara.
Kembali ke kamar Arkala. Susana kembali menegang dan atmosfernya dingin. Syapala baru saja memakai kembali tubuh atasnya dengan kemeja. Dia benar-benar malu saat tadi sadar kalau setengah tubuhnya telah tereskpos dan dilihat Arkala.
"Jangan mendekat," usirnya. Tangannya terangkat di dada.
"Kenapa? Baru saja abang akan memulai ritual kita, tapi Adik mendorong tubuh Abang seperti orang kesetanan," ucapnya diimbuhi tawa kecil.
Syapala memalingkan muka, lalu bangkit dan menuju kamar mandi. Dia benar-benar muak saat melihat Arkala tersenyum penuh kemenangan.
Di dalam kamar mandi, suara deburan air yang ditampung gayung lalu dihempaskan bersamaan gemericik shower yang menyala, terdengar dari dalam kamar.
Arkala mendesah dan menggeleng, sepertinya Syapala sedang membersihkan sisa dari sentuhannya dari sekujur tubuhnya, sampai tidak bersisa.
"Dia benar-benar tidak memiliki rasa apapun terhadapku. Bahkan aku masih dianggapnya najis," gumam Arkala kecewa.
Tidak lama dari itu, Syapala keluar dari kamar mandi. Tubuhnya sudah dibalut bathrobe. Wajahnya basah dan terlihat sembab sisa tangis.
Arkala menatapnya berani, lalu berkata, "Najisnya sudah kamu bersihkan sampai tidak bersisa, Dik?"
Syapala terperanjat, dia merasa sangat bersalah kalau apa yang dilakukannya di kamar mandi, memang tujuannya membersihkan sisa-sisa dari sentuhan Arkala tadi. Dan kini, Arkala mempertanyakannya.
"Saya hanya gerah, dan butuh air untuk mendinginkannya," sahutnya dan berlalu.
"Ketika seorang istri sengaja menolak untuk diajak berhubungan suami istri oleh suaminya, maka malaikat melaknatnya sampai tiba waktu pagi," tukas Arkala menatap kepergian Syapala.
Syapala terhenyak, dadanya terasa sakit ketika kalimat malaikat akan mengutuknya sampai pagi tiba.
Sejujurnya dia sedih dengan keadaan seperti ini. Syapala tidak ingin membuat hati Arkala sedih dan tersiksa.
"Maafkan aku Bang," gumamnya.
.
ud bng cari yg lain yg GK kyk pala yg keras kepala itu😓😓😓
ini yg bikin sakit thor
dan suatu saat pala mau memaafkan laga thooor