Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan terselubung
"Bu, aku sudah selesai."
Pie mengangkat tangannya.
"Bawa kemari, Pie." Gadis dengan rambut sepunggung segera berdiri dengan membawa lembar soal dan jawabannya ke meja Guru.
"Kau sudah mengoreksi ulang?" Tanya Guru yang tampak tegas.
"Sudah."
"Ya, kau boleh istirahat."
Pie sontak tersenyum.
"Baik, terima kasih, Bu."
Pie berlalu sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Caca yang memohon untuk diberikan contekan.
Mereka sedang latihan soal-soal untuk menghadapi ujian beberapa bulan lagi. Pie dengan otak pintarnya dengan mudah menjawab soal hanya dalam waktu 30menit.
Pie berjalan ringan menuju taman yang ada di pojok gedung. Ia merebahkan diri di bangku papan yang lebar di bawah pohon ketapang yang rindang.
"Astaga, sejuk sekali di sini."
Getar ponsel menandakan pesan masuk. Pie merogoh ponselnya di dalam saku rok seragam.
"Kau sudah selesai menjawab soal?" Itu pesan dari Kim. Memang tadi ketika ia menuju taman ini melewati kelas Kim dan bertatapan dengan pacar kerennya itu.
"Ya. Apa sulit?"
"Sedikit. Kau di mana?"
"Taman pojok."
"Sendirian?"
"Ada beberapa anak kelas dua, sepertinya."
"Tunggu di sana, aku takkan lama."
"Oke, Kim."
Tak ada balasan lagi, Pie menyimpan ponselnya kembali.
Kurang lebih 20menit berlalu, Kim datang menghampiri Pie yang sedang berbaring di bangku.
Kim menjulurkan sebatang coklat ke atas wajah Pie yang sedang melamun menatap dahan pohon di atasnya.
"Astaga.. Kim?"
Pie beranjak bangun dan duduk. Ia merapikan rambut dan seragamnya.
"Ini, untukmu." Kim dengan senyum yang tak pernah luntur di bibirnya.
Pie menerima coklat tersebut.
"Thanks, Kim." Pie senang sekali Kim memberikan coklat kesukaannya.
"Apa yang kau lakukan di sini selain melamun?"
"Hmm..." Pie membuka bungkus coklat.
"Berpikir."
"Berpikir tentang?" Kim bersandar di pohon dengan satu tangan masuk ke saku celana.
Astaga, pesona Kim membuat Pie tersenyum malu.
"Tentang..mu?" Pie mengerling nakal.
Kim terkekeh pelan. Lalu mereka tertawa bersama.
"Apa sudah banyak yang keluar?"
"Sebagian. Masih ada waktu sekitar 15menit lagi sebelum berakhir."
Pie mengangguk-anggukkan kepalanya sembari memakan coklat.
"Kau suka coklat?"
Pie mengangguk.
"Ya, suka. Ini coklat kesukaanku, Kim."
"Wow. Ternyata feelingku benar."
"Kau mau?"
Kim menggeleng pelan.
"Makanlah, aku membelikannya untukmu."
Pie menatap dalam Kim yang memandang arah lain. Saat tatapan mereka bertemu, Kim tersenyum.
"Kenapa? Ada yang salah di wajahku?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Kenapa kau sering membelikanku makanan? Aku bahkan tak pernah membelikanmu apa-apa."
"Kenapa harus membalas? Aku suka makan, dan kau juga harus makan apa yang kumakan. Aku suka membelikanmu makanan karena aku suka ketika kau makan wajahmu lucu." Kim terkekeh pelan, hal itu membuat Pie malu.
"Kau tak perlu berpikir untuk memberikan aku apapun. Cukup terima pemberianku dan jadi apa adanya dirimu, Pie."
"Kim."
"Ya?"
Pie menggeleng pelan.
"Ada apa, Pie?"
"Tidak jadi."
"Apa? Kenapa?"
"Kapan ulang tahunmu?"
"21 desember."
"Astaga, sudah lewat." Pie melengkungkan bibirnya.
Ia berencana ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada Kim.
"Kita sama." Kim tertawa kecil.
"Kenapa tidak duduk?"
"Ah, iya. Pantas kakiku terasa pegal."
Pie menggeleng mendengar sikap konyol Kim yang terkadang keluar.
"Minggu depan, ekskul karate akan menonton pertandingan di kota."
"Benarkah? Apa kau ikut?"
"Ya."
"Aku juga ingin menonton, apa boleh aku ikut?"
Pie menoleh terkejut
"Aku tak tahu. Tapi kau bisa menanyakan pada guru olahraga. Beliau yang mengatur rencana itu."
Kim mengangguk.
"Apa kau tak ingin aku ikut, Pie?"
"Kau berpikir aku begitu?"
"Aku hanya bertanya."
"Tidak. Aku terkejut kau ingin ikut. Aku merasa senang, itu seperti kencan terselubung kita." Pie tertawa dan diikuti oleh Kim.
"Benar. Kita belum kencan."
"Tidak. Jangan berpikir itu."
"Kenapa?"
"Aku takut ditampar oleh kakakku jika ketahuan berpacaran." Pie tersenyum miris.
"Astaga, seorang playgirl ternyata tahanan."
Kim menatap tak percaya. Selama ini dia mendengar Pie yang beberapa kali berpacaran dengan teman satu sekolah, entah satu angkatan atau adik kelas.
Pie hanya mengunyah coklat dalam senyuman.
"Aku akan menanyakan itu pada guru olahraga."
"Ya, tanyalah. Aku takkan melakukannya untukmu. Haha." Kim hanya mengusik gemas rambut Pie. Hal itu mendapat tatapan tajam dari Pie, Kim hanya tertawa.
"Pie? Kau sedang sibuk?"
Kim menghampiri Pie yang sedang bersama teman perempuannya di depan gudang.
"Ya, kau lihat ini? Kau sudah selesai?" Pie menunjuk buku gambar yang sedang proses pewarnaan.
"Aku sudah selesai. Baiklah, nanti saja." Kim ingin pergi namun ditahan oleh Pie.
"Ada apa, Kim?"
"Tidak, melalui pesan saja, Pie. Nanti ke kantin bersama, Oke?"
Pie mengangguk dan Kim berlalu pergi.
"Apa Kim baik denganmu?"
"Sangat baik dibanding dengan semua mantanku, Betz."
"Sesuai ekspetasiku, Pie. Dia keren dan tampak baik."
Betz menatap punggung Kim yang semakin jauh.
"Benar. Dia begitu."
Mereka kembali menyelesaikan tugas mereka sebelum jam pelajaran berganti.
Pie sedang makan siang setelah pulang sekolah.
"Mama mau ke mana?"
"Ke warung."
"Oh." Pie mengangguk lalu fokus makan kembali.
"Kau di rumah?"
Pesan masuk dari Fang.
Pie mengernyitkan keningnya ketika membaca pesan tersebut.
"Ya, ada apa?"
"Tidak latihan?"
"Bukankah hanya hari Rabu dan Jum'at?"
"Ini Jum'at. Kau lupa?"
"Ya."
Pie sontak memeriksa tanggal di ponsel dan benar, ia melupakan jadwal ekskul hari ini. Ia bergegas mencari sang Mama untuk pamit pergi ke sekolah.
"Kau berangkat?"
"Ya. Sedang siap-siap."
"Aku tunggu di perempatan."
"Tidak perlu."
"Aku bersama Senpai Qie dan lainnya."
"Apa hanya aku?"
"Tidak, kami juga menunggu Zhang."
"Ezti juga belum muncul."
"Ok."
"Santai saja, masih ada waktu."
"Ya."
Ezti menghampiri Pie ke rumah. Ia sudah siap dengan celana karate dan kaos. Seragam karate ia masukkan ke dalam tasnya.
"Aku hampir lupa hari ini latihan."
Ezti terkekeh kecil.
"Kau sudah siap?"
"Ya, ayo kita berangkat. Sensei Qie menunggu di perempatan."
"Benarkah? Kau punya nomornya?"
"Tidak. Fang yang memberitahu."
"Oww.. Kau ehm.. dua?" Ezti melirik genit ke arah Pie yang membola malas.
"Ez, aku hanya dengan Kim. Fang sudah selesai terkubur dalam lumpur lapindo." Ucap Pie kesal.
Ezti tertawa kecil.
"Oke, oke hanya bercanda."
Pie mampir ke warung untuk membeli minum dan cemilan, Ezti pun melakukan hal yang sama.
Jarak mereka sudah dekat dengan Fang menunggu.
"Tapi kulihat Fang seperti masih berharap padamu."
"Ya. Memang."
"Lalu kau merespon apa?"
"Kau berharap aku merespon bagaimana, Ez?"
Pie menoleh dengan mengerutkan keningnya.
"Yaa.. siapa tahu menerima keduanya."
Pie menggeleng pelan.
"Aku tak berniat mendua. Kim sudah cukup."
"Oww.. so sweet~" Ezti tak berhenti menggoda Pie yang sudah terlihat kesal.
"Lihat, Fang menunggumu." Ezti menunjuk dengan dagu ke arah Fang yang berdiri di tepi jalan menunggu Pie.
Laki-laki itu melambaikan tangannya.
Ezti merasa kasihan dengan Fang, ia mewakili Pie membalas lambaian tangan dengan ceria.
"Kau lihat, dia sangat berharap padamu."
Pie mendesah pelan.
"Sudahlah, Ez. Berhenti menggodaku."
"Haha, oke. Baiklah. Jangan marah." Ezti terkikik kecil.