Di Benua Langit Sembilan, Xiao Yuan adalah jenius tak tertandingi yang memegang Sumsum Naga Suci. Namun, di malam pernikahannya, ia dikhianati oleh tunangannya, Ling’er, yang meracuninya dan membedah tulang naganya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya. Xiao Yuan dibuang ke Jurang Keputusasaan dalam kondisi cacat.
Namun, takdir tidak berhenti. Roh Naga Kuno yang tertidur di dasar jurang menyatu dengan jiwanya yang hancur. Dengan bantuan Yun’er, gadis misterius dari klan terbuang, Xiao Yuan merangkak naik dari neraka. Kali ini, ia tidak akan menjadi pelindung dunia, melainkan Dewa Naga yang akan menghancurkan siapa pun yang pernah menginjaknya. "Jika langit menghalangi jalanku, aku akan merobek langit!".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Mahkota Tulang dan Darah
Permukaan Danau Kesunyian yang tadinya tenang seperti cermin hitam, mendadak bergolak hebat. Gelembung-gelembung udara raksasa naik ke permukaan, membawa aroma darah purba dan karat yang menyengat. Di pinggir danau, kepanikan mencekam kelompok Baraka. Yun’er berdiri mematung, jemarinya terkepal kuat di depan dada. Melalui ikatan jiwa yang mereka miliki, ia merasakan rasa sakit yang luar biasa seperti tulang-tulang Xiao Yuan sedang dipatahkan satu per satu dan disusun kembali menjadi sesuatu yang bukan manusia.
"Yuan... kumohon, bertahanlah," bisik Yun’er, air matanya jatuh ke pasir abu-abu Dunia Antara.
Namun, perhatian mereka segera teralih ke langit. Gumpalan awan abu-abu di atas lembah terbelah oleh seberkas cahaya emas yang sangat tajam. Kereta perang perak yang ditarik oleh empat kuda sembrani meluncur turun dengan keanggunan yang mematikan. Di atasnya, Xiao Tian berdiri dengan zirah ilahinya yang berkilau, menatap rendah ke arah mereka semua seolah-olah mereka hanyalah semut yang menunggu untuk diinjak.
"Hawa keberadaan yang menjijikkan," Xiao Tian berbicara, suaranya menggelegar memenuhi lembah. "Jadi, adikku yang malang bersembunyi di dalam air kotor ini? Sungguh tempat yang cocok untuk sampah sepertinya."
Xiao Tian melompat turun dari keretanya, mendarat dengan dentuman yang menggetarkan tanah. Ia melirik Yun’er, dan matanya berkilat penuh nafsu serakah. "Gadis Phoenix... kau menyia-nyiakan kecantikan dan garis keturunanmu untuk pecundang itu. Kemarilah, jadilah pelayanku, dan aku akan memberimu kematian yang tidak terlalu menyakitkan."
Baraka dan Long Chi menghalang di depan Yun’er. "Kau harus melangkahi mayat kami dulu, Pangeran Sombong!" teriak Baraka sambil mengacungkan tombak tulangnya.
Xiao Tian tertawa kecil, sebuah tawa yang meremehkan. "Mayat? Itu permintaan yang mudah dikabulkan."
Saat Xiao Tian mengangkat tangan kanannya untuk melepaskan serangan penghancur, ledakan dahsyat terjadi di tengah danau.
BOOMMM!
Air hitam membubung tinggi ke langit, berubah menjadi es tajam dalam seketika. Dari dalam pusaran air itu, sesosok bayangan melesat keluar dan mendarat dengan keras di antara Xiao Tian dan kelompok Yun’er.
Asap dingin mengepul dari tubuh sosok itu. Saat asap menipis, semua orang terbelalak. Itu adalah Xiao Yuan, namun penampilannya telah berubah total. Zirah hitamnya kini dilapisi oleh sisik-sisik emas yang muncul dari balik kulitnya. Di atas kepalanya, sebuah mahkota yang terbuat dari tulang naga putih melingkar, dengan sebuah permata merah darah di tengahnya yang berdenyut seperti jantung.
Matanya bukan lagi emas atau hitam, melainkan merah menyala dengan pupil vertikal yang memancarkan aura kehampaan. Di tangannya, Pedang Keruntuhan Abadi kini menyatu dengan tombak milik Panglima Long Wei, membentuk sebuah senjata baru: Glaive Naga Kiamat.
"Xiao... Yuan?" Baraka bergumam, merasa ngeri dengan tekanan aura yang dikeluarkan pemuda itu.
Xiao Yuan tidak menjawab. Ia hanya menatap Xiao Tian. Di dalam kepalanya, suara Panglima Long Wei masih terngiang: "Mahkota ini adalah beban dari jutaan naga yang jatuh. Kau tidak lagi bertarung untuk dirimu sendiri, Xiao Yuan. Kau bertarung untuk ras yang telah dihapus dari sejarah."
"Lihatlah dirimu," Xiao Tian mencibir, meski matanya menunjukkan kewaspadaan yang tidak bisa disembunyikan. "Kau memakaikan tulang-tulang busuk di kepalamu dan menganggap dirimu raja? Kau tetaplah sampah yang kubuang dari dek kapal tempo hari!"
Xiao Tian melesat maju, tinjunya dialiri energi Sembilan Matahari Ilahi. "Mati kau, noda sejarah!"
Xiao Yuan hanya mengangkat Glaive-nya dengan satu tangan.
KRAK!
Tinju Xiao Tian yang seharusnya bisa menghancurkan sebuah kota kecil, tertahan dengan mudah oleh bilah senjata Xiao Yuan. Gelombang kejut dari benturan itu meratakan seluruh bebatuan di sekitar mereka. Yun’er dan yang lainnya terlempar mundur oleh tekanan udara.
"Kau bicara soal sejarah, Xiao Tian?" Xiao Yuan bicara, suaranya kini terdengar seperti ribuan naga yang berbisik serempak. "Tapi kau lupa, sejarah ditulis oleh pemenang. Dan hari ini... tanganmu yang kotor tidak akan bisa memegang pena itu lagi."
Xiao Yuan memutar Glaive-nya, melakukan serangan balik yang sangat cepat. Sembilan Tebasan Neraka: Tebasan Kesembilan
Kiamat Naga
Sebuah bayangan naga raksasa yang terbuat dari api hitam dan es biru meledak dari senjata Xiao Yuan. Xiao Tian terbelalak, ia terpaksa mengeluarkan perisai ilahi terkuatnya. Namun, perisai itu hancur berkeping-keping dalam sekejap.
"ARGH!" Xiao Tian terlempar sejauh ratusan meter, zirahnya retak, dan darah emas mengalir dari sudut bibirnya.
Ini adalah pertama kalinya sang Pangeran Mahkota terluka oleh seseorang dari dunia rendah. Kemarahannya meledak. "Berani-beraninya kau! Aku adalah putra Kaisar Langit! Aku adalah takdir itu sendiri!"
Xiao Tian merobek jubahnya, memperlihatkan sebuah segel di dadanya yang mulai bersinar merah. Ia hendak memanggil kekuatan terlarang yang bisa menghancurkan seluruh Dunia Antara.
Namun, Xiao Yuan sudah berada di depannya dalam sekejap. Mahkota di kepalanya bersinar merah darah. Melalui ikatan jiwanya, Yun’er bisa merasakan kemarahan Xiao Yuan yang kini terkendali kemarahan yang dingin dan terarah.
"Takdirmu berakhir di sini, Xiao Tian," desis Xiao Yuan.
Ia menghujamkan Glaive-nya tepat ke arah jantung Xiao Tian. Namun, tepat sebelum mata pisau itu menembus, sebuah portal dimensi terbuka di belakang Xiao Tian dan sebuah tangan raksasa dari cahaya menarik sang Pangeran masuk kembali ke Alam Atas.
"Yuan! Dia melarikan diri!" teriak Yun’er.
Xiao Yuan berdiri di depan portal yang mulai tertutup. Ia tidak mengejar. Ia tahu tubuhnya saat ini mencapai batasnya. Mahkota tulang di kepalanya perlahan menghilang, masuk kembali ke dalam jiwanya. Zirah emasnya memudar, menyisakan Xiao Yuan yang bersimbah darah namun dengan aura yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Ia berbalik dan berjalan menuju Yun’er. Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Xiao Yuan limbung dan jatuh. Yun’er dengan sigap menangkapnya, mendekap kepala Xiao Yuan di dadanya.
"Kita menang, Yuan... kita menang," isak Yun’er.
"Belum..." bisik Xiao Yuan lemah. "Xiao Tian hanya pelari... musuh sebenarnya... ada di balik gerbang itu."
Long Chi mendekat dengan wajah serius. "Xiao Yuan, kau telah mengenakan Mahkota Tulang. Kau secara resmi telah menyatakan perang terhadap seluruh Alam Atas. Sekarang, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Kita harus menuju Jembatan Patah untuk menyeberang ke wilayah musuh sebelum mereka mengirim tentara yang lebih besar."
Di tengah kelelahan itu, Xiao Yuan menggenggam tangan Yun’er. Ia merasakan denyut jantung Yun’er yang kini menjadi satu dengan miliknya. Ia tidak lagi sendirian dalam dendam ini. Ia memiliki ratu, dan ia memiliki tentara yang bangkit dari kubur.
Saat mereka bersiap meninggalkan lembah, Baraka menemukan sebuah pesan yang ditinggalkan di reruntuhan kereta perang Xiao Tian. Sebuah gulungan kertas yang bertuliskan: "Ibumu tidak berada di penjara langit. Dia telah dibawa ke 'Menara Keputusasaan' di wilayah terluar untuk dijadikan tumbal pembukaan Gerbang Iblis." Xiao Yuan yang tadinya lemah, mendadak berdiri dengan mata yang kembali menyala. Namun, di saat yang sama, ia menyadari bahwa permata di mahkotanya tadi telah meninggalkan bekas hitam di dahinya sebuah tanda bahwa ia mulai kehilangan sisi manusianya.
perjuangan suamiku:istriku surgaku😍
perjuangan suamiku:istriku Surgaku😍