NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Matahari sudah condong ke barat ketika Kenan dan Joe memutuskan pulang. Mobil BMW putih Kenan memasuki halaman rumahnya. Dengan langkah tegap, Kenan keluar dari mobil. Para bodyguard sedang latihan fisik di halaman, diganggu oleh Kai yang selalu jahil dan menjadikan semua bodyguard papinya itu sebagai kuda bermainnya.

“Ck! Tuyul itu selalu aja ganggu latihan mereka, Ken,” gerutu Joe sambil berdiri di samping Kenan.

Kenan tak menanggapi, ia hanya memperhatikan sesaat melihat anaknya bermain,lalu ia berjalan santai masuk ke rumah.

“Emang dasarnya budeg,” gumam Joe kesal, lalu ikut menyusul Kenan.

“Assalamu’alaikum,” ucap Kenan saat masuk ruang keluarga.

“Waalaikumsalam,” sahut semua yang ada, termasuk Papi Bas, Mami Amara, dan Nathan.

Kenan segera menuju Mami Amara dan meringkuk di bahunya dengan wajah lelah.

"Mamiii" rengek Kenan dengan manja pada sang mami, Kenan duduk di dekat mami Amara dengan kepala nya yang berada di bahu maminya dengan wajah lelah.

"Capek, nak?” tanya Mami Amara sambil mengelus rambut Kenan.

“Sedikit, Mam,” jawab Kenan.

"Alah lebai banget jadi orang! tadi aja di luar wajah lo datar aja tu! Lagian di kantor perkerjaan yang lo kerjain cuma seuprit, capek dari mana dodol? Aunty jangan percaya sama jelmaan bus tayo ini,Aunty. "celetuk Joe, mencoba memancing Kenan.

“Brisik!!” sergah Kenan.

Joe pun tak memperdulikan ucapan Kenan, ia memilih bergabung dengan papinya yang sedang makan pisang goreng.

“Om nggak cemburu istri om ditempel-empel sama duda itu?” tanya Joe, mencoba memanasi Papi Bas.

“Sebenernya cemburu, tapi mau gimana lagi,Joe. Kasihan. Udah tiga tahun duda ini nggak ada yang ngasih belaian manja sama dia, jadi yaudah lah om biarkan aja kali ini,” jawab Papi Bas sambil makan pisang goreng.

Mami Amara menegur mereka, “Sudah, jangan jahili Kenan terus. Biar dia istirahat dulu.”

Joe pun akhirnya diam, bergabung makan pisang goreng.

“Bagaimana keadaan Alvian, Nat?” tanya Papi Bas menatap Nathan. Ia sudah mendapatkan laporan dari rumah sakit bahwa Alvian sedang dirawat.

Nathan langsung menoleh pada Papi Bas. Bahkan Mami Amara pun ikut menatap dengan wajah khawatir.

“Alvian siapa, Pi?” tanya Mami Amara dengan nada heran.

“Alvian anaknya Dika dan Yasmin, Mi,” jawab Papi Bas. Mami Amara langsung teringat tentang anak sahabatnya itu. Mereka memang sering bertemu karena arisan dan persahabatan lama dengan keluarga Yasmin.

“Astaghfirullah… Alvian sakit apa, Nat?” tanya Mami Amara sambil menoleh pada Nathan, jelas terkejut dan khawatir.

“Bang Vian mengidap GERD, ditambah kelelahan dan stres yang berlebihan. Sepertinya banyak masalah hingga dia sampai lupa jaga kesehatan,” jawab Nathan dengan nada serius.

Mereka semua sedikit terkejut mendengar penjelasan Nathan. Kenan dan Joe yang tadinya santai juga ikut terlihat tegang mendengar kondisi Alvian.

“Sepertinya iya. Karena papi dengar Dika berencana mengangkat Alvian menjadi CEO dan direktur utama perusahaan, bisa jadi Alvian terlalu fokus pekerjaan hingga lupa tentang kesehatannya,” ujar Papi Bas menambahkan, menegaskan pendapat Nathan.

“Bagaimana kalau besok kita jenguk Alvian, Pi?” saran Mami Amara dengan nada lembut, khawatir tapi peduli.

“Boleh, sebaiknya memang kita jenguk dia,” jawab Papi Bas, setuju dengan usulan istrinya.

“Kalau begitu, besok Nat tunggu di rumah sakit aja, Pi,” tambah Nathan, ikut setuju dengan rencana tersebut.

“Kenan sama Joe nggak bisa ikut, Pi. Besok ada meeting penting. Tadi kita juga sudah jenguk Alvian,” jawab Kenan tenang.

Semua terkejut mendengar jawaban Kenan, kecuali Joe dan Nathan yang memang sudah tahu.

“Kok bisa? Bukannya tadi di kantor? Kapan kamu sempat jenguk Alvian?” tanya Papi Bas penasaran.

“Orang dia yang ngater Aru kerumah sakit sambil pegang-pegang tangan anak gadis orang ,om. Modus buaya crocodile nya keluar, " celetuk Joe santai sambil tersenyum nakal.

Mami Amara menatap Kenan dengan tajam, tiba-tiba bertanya, “Kenan… kamu suka sama Aru?”

Kenan sedikit terkejut, menatap Mami Amara sambil menahan senyum dan memerah wajahnya. Joe menepuk bahu Kenan, menambahkan, “Liat tuh, Ken, Aunty udah tau semuanya.”

Kenan hanya bisa menghela napas panjang, tidak bisa membantah pertanyaan Mami Amara, sementara Nathan menahan senyum tipis melihat tingkah Joe dan Kenan.

...****************...

Malam hari dirumah sakit,

Keluarga Wiratama masih berada di rumah sakit hingga malam. Aru masih setia mendampingi Alvian untuk bangun dan minuman.

Setelah cukup lama tertidur Alvian kembali terbangun karena harus. Dengan telaten, Aru membantu Alvian untuk minum. Kakaknya bersandar pada dasbor tempat tidur, perlahan menyesap air yang diberikan Aru melalui sedotan.

Melihat Alvian mulai sadar, ada rasa lega yang mengalir di hati Aru, Alvaro, dan Bisma. Setelah Alvian selesai minum, ia dibantu kembali berbaring di kasur oleh Alvaro dan Bisma.

“Kepalanya masih pusing, dek?” tanya Bisma sambil berdiri di samping Aru, menatap Alvian yang terlihat lemah.

Alvian hanya menggeleng pelan, tak ada tenaga untuk bicara.

“Nanti kalau ada yang sakit, bilang sama Phi ya,” lanjut Bisma. Alvian mengangguk pelan.

“Ya sudah, kalau gitu sebaiknya kamu istirahat lagi supaya cepat sembuh,” sambung Bisma.

Efek obat pada infus membuat Alvian perlahan terlelap kembali.

Ayah Dika dan mama Yasmin hanya duduk diam, tersenyum melihat interaksi anak-anaknya. Mereka bangga melihat kehangatan dan perhatian yang muncul di antara keempat anak mereka.

Setelah Alvian tertidur, Aru dan Alvaro kembali duduk di sofa, tak ingin mengganggu istirahat kakaknya. Mereka mulai berdiskusi tentang siapa yang akan menemani Alvian malam ini.

“Sebaiknya Ayah, Mama, Phi Bisma, sama bang Alvaro pulang dulu. Biarlah Aru aja yang jaga Kak Vian disini,” kata Aru mantap.

“Kamu yakin, Nak? Kamu juga masih ada pekerjaan di kantor,” tanya mama Yasmin, khawatir.

Aru tersenyum. “Iya, Ma. Urusan kerja udah

diurus sama Zidan. Lagian besok phi Bisma ada operasi, Ayah juga meeting pagi, dan bang Varo harus kerumah sakit. Mama jangan sampai kelelahan. Biarlah aku aja yang nemenin Kak Vian malam ini.”

Ayah Dika ragu sejenak. “Kalau gitu, sebaiknya Vari juga ikut nemenin kamu di sini.”

“Tapi besok aku ada meeting sama Ayah,” sahut Aru.

“Biar itu urusan Ayah. Ayah nggak mau kalian capek sampai sakit karena jaga Vian,” tegas Ayah Dika.

“Benar, Dek. Abang nemenin kamu,” kata Alvaro sambil tersenyum mendukung.

“Ya udah, kalau begitu, adek setuju,” sahut Aru.

“Baiklah, Ayah, Mama, dan Phi Bisma balik dulu. Nanti Mama suruh bibi antar baju ganti untuk kalian. Jangan lupa istirahat juga,” kata mama Yasmin sambil tersenyum hangat.

“Iya, Ma,” jawab Aru dan Alvaro serempak.

“Assalamu’alaikum,” pamit Ayah Dika dan Bisma.

“Waalaikumsalam,” jawab Aru dan Alvaro.

Keduanya kembali duduk di sofa, Aru menatap Alvian yang masih tertidur. Alvaro bersandar di atas paha Aru, asyik bermain game online di ponselnya, sementara Aru membalas chat dari Joe terkait urusan kontrak dengan Om Bara di Kama Company.

Beberapa saat kemudian, Alvaro merasa perutnya lapar. Ia menutup permainan dan bangkit, ia menoleh ke Aru.

“Dek, abang mau ke kantin dulu. Mau nitip apa?”

Aru menoleh sejenak. “Beliin adek kopi sama roti aja, Bang,” jawabnya.

“Oke, Abang pergi dulu,” kata Alvaro, Aru mengangguk. Alvaro bangkit dari sofa dan berjalan keluar kamar.

Aru kembali fokus pada Alvian. Sesekali matanya menoleh ke arah kakaknya untuk memastikan kondisinya tetap baik..

Bersambung...............

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!