Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.
Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.
Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.
Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepuluh tahun kemudian
Bismillahirrahmanirrahim.
Hi, readers...!
Senang berbagi cerita TANAH WONOSOBO dengan kalian. Novel ini merupakan kelanjutan kisah yang belum selesai dari LANGIT WONOSOBO. Buat yang belum baca, wajib baca dulu ya~
Sebelum kita mulai, aku ingin menyampaikan bahwa—sebagai penulis hobi tentu akan ada banyak kekurangan serta kesalahan. Oleh karena itu, aku mohon maaf dan berikan kritik yang membangun.
Jangan lupa selalu tinggalkan komentar dan mohon dukungannya. 🤗🙏
...----------------...
Sepuluh tahun kemudian....
Waktu telah mengubah banyak hal, namun kenangan bersama Arumni seperti tidak pernah lekang oleh waktu, Galih masih saja menyimpannya dalam doa.
Rama mulai beranjak remaja, wajahnya kian mirip Galih, senyumnya hampir sama persis, sementara kulitnya putih seperti almarhumah ibunya 'Mita'
Ramadyan Islamadhani Pratama, nama yang Galih beri pada seorang anak yang lahir dari ibu yang bernasib malang akibat ulahnya.
Selama itu semua orang tidak pernah menceritakan tentang hubungan antara Galih, Arumni, dan juga Mita—pada Rama dan juga Arzetya anaknya Arumni dari pernikahannya dengan Aditya.
Malam itu menjadi malam pertama, saat Rama merasa sangat ingin tahu tentang masa lalu ayah dan juga Arumni yang ia sebut sebagai ibunya selama ini. Ia pun membuka lemari, tempat dimana ada album foto yang masih terlihat begitu bersih dan juga rapi, meski sudah bertahun-tahun lamanya.
Lembar demi lembar ia buka, dipandangnya wajah muda ayah dan ibunya saat mereka sedang duduk bersanding berpakaian pengantin. Kakek yang ia sebut mbah kakung yang sudah meninggal dua tahun silam, dan nenek yang ia sebut mbah ibu yang kini semakin renta—semua tampak sangat bahagia. Di sana juga terlihat foto pak Yadi dan bu Sari yang belum pernah Rama kenal sebelumnya.
Sudut bibirnya membentuk bulan sabit, ia meraba foto dua orang yang tampak begitu serasi dalam foto pernikahan itu.
Cklek!
Pintu terbuka membuat Rama menoleh cepat, "ayah." Ucapnya saat melihat sang ayah berdiri di ambang pintu.
Galih berjongkok mendekati Rama dengan album foto yang Rama letakan di lantai. Dielus puncak kepala anak tersayangnya itu. "Kamu lagi ngapain, Rama? Kenapa buka lemari ayah?" Tanya Galih dengan lembut.
"Maaf, ayah. Aku cuma mau lihat foto ayah sama ibu waktu menikah," ucapnya.
Galih mengambilnya sambil memandang kenangan manis itu, ia berdiri lalu duduk di tepi tempat tidur, yang diikuti oleh Rama duduk di hadapannya. Senyumnya tampak mengembang, wajahnya terlihat lebih sumringah dari sebelumnya.
"Aku mau tanya, ayah."
"Bertanya lah, Rama. Apa yang ingin kamu tahu?" Ucap Galih tanpa menoleh, ia masih fokus pada album foto itu.
"Kenapa ayah sama ibu harus bercerai?" Pertanyaan Rama yang membuat Galih membelalakkan matanya, namun tetap berusaha tenang seperti bukan masalah serius, Galih tetap membuka lembar demi lembar kenangan itu. "Ayah, kenapa ayah sama ibu bercerai?" Rama mengulang pertanyaan setelah menunggu beberapa saat sang ayah hanya terdiam.
Galih melirik ke atas, lalu kembali menatap foto pernikahan itu. "Ayah sama ibu tidak jodoh, Rama," jelas Galih.
"Tapi masalahnya apa, ayah?" Rasa penasarannya mulai bertambah.
Galih menghela napas dalam-dalam, lalu menutup album itu. "Semua karena salah ayah!" Ucapnya tenang namun tegas.
Sejenak Rama berpikir, "aku lihat ayah sangat menyayangi ibu, ibu juga sangat baik pada ayah, tapi kenapa kalian harus berpisah?"
"Karena salah ayah, Rama!" Tegas Galih lagi, "tapi kamu tenang saja, ayah sama ibu akan tetap menyayangi kamu seperti orang tua teman-teman mu yang lain." Galih mencoba mengalihkan perhatian, ia merasa belum siap reaksi apa yang akan Rama beri, jika dirinya menceritakan yang sebenarnya.
"Aku tahu, ayah." Rama merasa tidak puas atas jawaban Galih, "ayah!"
Galih menatap lembut, "apa lagi, sayang?"
"Kalau begitu, pasti ibu sama ayah mau mengajak ku liburan sama-sama, kan? Ini kesempatan untuk kita berfoto, seperti keluarga utuh yang lain." Harapan Rama.
"Rama, ibu sudah punya keluarga yang baru. Sekarang oma Alin lagi sakit, dan ibu mu harus menjaganya."
"Aku rasa ibu selalu tidak adil!" Tukas Rama. "Lihat saja, ibu cuma mementingkan keluarga baru ibu saja." Ucapnya lalu pergi dengan membanting pintu.
Galih bingung, bagaimana dia akan bercerita pada Rama? Semua kesalahan ada pada dirinya dan almarhumah ibunya yang tak sanggup Galih ceritakan.
Tadinya Galih tidak ingin membuka album foto itu, tapi karena Rama sudah mengambilnya, Galih jadi membukanya lagi. Kini Galih memantapkan duduknya, membuka ulang mulai dari halaman paling awal. Lama... ia pandangi foto pengantin yang paling serasi itu.
"Waktu telah membawa banyak perubahan, tapi kenangan tentang mu tidak pernah pergi, Arumni." Gumamnya pelan, "aku masih mengingat setiap detail, senyum pertama saat di gerbang sekolah itu, setiap tutur kata mu yang begitu lembut, dan sentuhan—" ucapnya terhenti saat Galih menyadari bahwa Arumni telah berbahagia bersama keluarga barunya.
Galih menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya dengan ber bantal satu tangan, sementara satu tangannya memeluk album foto itu. "Aku tahu itu tidak mungkin, tapi aku masih berharap kita bisa kembali ke waktu itu lagi, Arumni."
Suara pintu terbuka pelan membuat Galih tidak menyadari bahwa ibunya sudah berada di sana. "Galih!" Panggil bu Susi yang kini mulai bertenaga lemah.
Seketika membuat Galih terkaget, ia segera duduk. "Ibu. Ibu belum tidur?"
Bu Susi duduk menghadap Galih, "Galih, mungkin sudah saatnya Rama tahu yang sebenarnya. Ini demi kebaikan kita semua, supaya Rama tidak terus salah sangka pada Arumni." Tutur bu Susi yang dibalas anggukan dari Galih.
"Iya, bu. Aku akan cari waktu yang tepat, agar Rama bisa menerima dengan lapang dada atas perbuatan aku dan ibunya dulu."
Bu Susi kembali berdiri, ia menepuk pundak anaknya. "Ya sudah, ibu tidur dulu," lirihnya lalu pergi meninggalkan Galih di kamarnya.
...****************...
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/