NovelToon NovelToon
Monarch: The King Who Refused To Die

Monarch: The King Who Refused To Die

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Perperangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Sistem / Fantasi
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Sughz

Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.

Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch.22. Ashes Beneath Briarhold

Kelompok Theo dengan cepat sampai di kota Briarhold, mereka sudah masuk ke dalam kota setelah Halvar menunjukan statusnya pada penjaga gerbang.

Sejak di luar gerbang, suasana muram sudah menyambut mereka, tapi di dalam gerbang, suasana tampak lebih berat bagi semua orang.

“Apa mereka semua para pengungsi dari desa sekitar?” tanya seseorang pada Marek.

“Yah, melihat dari wajah mereka, para bandit sudah menyerang banyak desa di sekitar sini.” jawab Marek.

Sejak memasuki kota, semua orang sadar skala penyerangan bandit benar-benar berubah sekarang.

Banyak dari anak-anak dan wanita yang meringkuk di pinggir jalan.

Tenda-tenda darurat juga berdiri di sepanjang jalanan.

Dengan cepat mereka melangkah untuk menemui walikota.

.

.

Seorang wanita membungkuk memberi hormat saat kelompok Theo tiba di bangunan tempat walikota.

Halvar turun dari kuda, mendekatinya.

“Selamat datang tuan Halvar Rein.” ucap wanita itu dengan hormat. “Saya Marielle, pelayan walikota.”

“Apa aku bisa menemuinya sekarang?” tanya Halvar tanpa basa-basi.

“Beliau sudah menunggu anda di ruangannya.”

“Baiklah,” Halvar menoleh Marek. “Ikutlah!!!”

Marek menggaruk kepalanya.

“Di dalam kereta ada penduduk dari desa Grayma, bisa kau urus mereka?” ucap Halvar pada Marielle

Marielle hanya mengangguk, lalu menyuruh para prajurit mengurus kereta dan lima wanita yang di dalamnya.

Lalu Halvar menoleh pada Theo. “Kau... juga ikut kami.” lalu melangkah masuk ke dalam gedung.

“Tunggu apa lagi, Ash?” tanya Marek yan melihat Theo masih duduk di kursi kusir.

“Ya!” Theo turun dari kereta lalu mengikuti langkah Marek dan Halvar.

.

“Silahkan masuk tuan-tuan.” ucap Marielle berdiri di depan ruangan dengan pintu yang terbuka.

Mereka bertiga masuk dengan langkah tenang.

Marielle melirik pada Theo saat dia berjalan di depannya, merasa heran kenapa seorang kusir ikut dalam pertemuan.

Di dalam, seorang pria paruh baya sedang berdiri dekat jendela—menatap keluar dengan mata yang sayu.

Halvar, Marek, dan Theo berdiri diam menatapnya pria itu, membuat suasana ruangan menjadi hening.

Pria itu menghela napasnya.

“Salam tuan Corvin Valmor,” ucap Halvar memberi salam dengan penuh hormat. Pria itu menoleh. Sekarang tampak jelas wajah lelahnya. “Kau sudah besar sekarang Halvar,” ucapnya sambil tersenyum.

“Duduklah,” Corvin berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan itu.

Theo mengamati Corvin, merasa bahwa dia bukan orang biasa.

‘Tubuhnya sangat terlatih, tapi aku tak bisa merasakan Mana atau apa pun dalam tubuh orang itu, apa kau bisa merasakannya, Lily?’

[TING]

“Tidak, saya rasa dia sudah kehilangn Mana Locusnya tuan.”

‘Pria yang malang,’ Theo mengikuti Halvar yang sudah duduk di hadapan Corvin, dia dan Marek hanya berdiri di belakang kursi Halvar.

“Aku dengar ada kelompok yang akan membasmi bandit di Grayma, apa itu kelompokmu?”

“Benar tuan, aku dan Marek memimpin pembersihan bandit di Grayma,” jawab Halvar.

Corvin tersenyum. “Melihat kau di sini, kurasa kalian berhasil,”

Halvar mengangguk.

“Itu semua berkat, ketua kelompok prajurit bayaran Marek, tuan.”

“Hoo, benarkah,” Corvin menatap Marek, lalu melirik pada Theo. “Lalu siapa anak kecil yang kau ajak itu?”

“Ah, dia...”

“Dia anak buahku yang paling berharga tuan,” potong Marek dengan cepat.

Theo langsung menatap Marek. ‘Lihatlah orang tak tahu diri ini!’

“Siapa namamu, nak?” tanya Corvin.

“Ash, hanya Ash.” jawab Theo.

Corvin tersenyum kecil.

“Nama yang bagus. Semoga hidupmu seperti nama itu.”

Semua orang diam.

“Jadi sekarang kita akan ke intinya, apa yang membuat kalian kemari?” tanya Corvin.

“Benar paman... ah, maksudku tuan..”

“Kau bisa memanggilku paman Halvar, aku juga ikut membesarkanmu saat masih di bawah ayahmu.”

Halvar tersenyum canggung. “Baiklah paman.”

Lalu Halvar menceritakan semua informasi yang sudah didapat.

Corvin diam sebentar.

“Lalu apa rencanamu?”

“Kita akan menunggu bantuan dari ibu kota, lalu akan langsung menyerang camp bandit dengan kekuatan penuh.” jelas Halvar.

Corvin mendengus pelan.

“Memang berapa prajurit yang bisa dikerahkan oleh kerajaan hanya untuk menumpas bandit?”

“Apa kau tahu berapa jumlah para bandit yang ada di camp itu?”

“Apa kau bisa langsung percaya oleh informasi dari seorang bandit?”

“Apa....”

Corvin mencecar Halvar dengan banyak pertanyaan, membuatnya bingung. Marek pun menjadi ikut bingung mendengar banyak pertanyaan dari Corvin.

“Ingatlah satu hal Halvar, kerajaan tidak akan mengirim banyak prajurit kerajaan dalam penumpasan bandit, mereka selalu menyerahkan tugas itu pada para penjabat lokal untuk menyelesaikan.” jelas Corvin.

“Apa paman tak bisa berbuat apa pun? Bukankah paman adalah mantan komandan pasukan kerajaan.” ucap Halvar.

“Aku hanya orang buangan Halvar, apa kau lupa apa yang terjadi padaku?” tanya Corvin dengan nada tenang.

Halvar terdiam. “Ma-maaf paman.”

Corvin tersenyum tenang.

“Aku juga sudah sering mengirim surat pada kerajaan, tapi sampai sekarang tak ada tanggapan dari mereka, aku juga tak bisa mengirim prajuritku untuk penumpasan. Kota ini sekarang sangat kewalahan dengan para pengungsi.” jelas Corvin. “Aku sudah kehabisan dana untuk membuat kontrak pada prajurit bayaran, aku sudah mengirim banyak dari mereka. Tapi tak ada hasil.”

Ruangan langsung hening saat ini. Marek dan Halvar tak bisa berkata apa-apa.

‘Sial, aku sudah lelah berdiri,’ gumam Theo kesal.

“Kita lakukan dulu pengintaian,” ucap Corvin.

“Pengintaian?” tanya Halvar bingung.

“Ya, kau utus orangmu untuk memvalidasi informasi itu.”

“Benar kita lakukan saja seperti itu,” timpal Marek. “Aku yang akan berangkat!!”

Semua orang menoleh Marek.

“Benarkah?” tanya Halvar.

Marek mengangguk, lalu menatap Theo. “Hei, bocah kau juga harus ikut!!!”

“Aku?” tanya Theo. “Kenapa?”

“Itu informasi yang kau dapat, kan? Jadi kau harus bertanggung jawab,” jawab Marek.

Theo tak bisa membalas, hanya mendengus pasrah.

“Baiklah, jadi sudah di putuskan.” ucap Corvin. “Halvar kau tunggu saja bantuan dari kerajaan di sini, setelah mereka kembali kita bisa menentukan langkah selanjutnya.”

“Baik paman,”

Setelahnya mereka berempat mendiskusikan semua rencana pengintaian dan hari keberangkatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!