Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Di Bawah Todongan Pedang Saudara
Gerbang besi hitam di belakang Aethela tertutup dengan dentuman berat, memisahkannya dari keriuhan pertempuran di luar. Di sini, di Aula Utama Benteng, suasana begitu sunyi hingga terasa mencekik. Cahaya matahari tidak mampu menembus jendela kaca patri yang tebal, digantikan oleh obor-obor sihir berwarna ungu redup yang memberikan kesan angker pada pilar-pilar raksasa yang menopang langit-langit.
Aethela berjalan sendirian menyusuri karpet merah yang panjang. Tangannya terikat di depan tubuhnya—bukan dengan tali, melainkan dengan borgol sihir penahan mana yang dipasang oleh pengawal Alaric di pintu masuk.
Ia merasakan kejernihan yang dingin. Borgol itu memang menekan aliran sihirnya, membuatnya merasa mual, tetapi Alaric dan Krow membuat satu kesalahan fatal: mereka mengira sumber kekuatan barunya berasal dari mana eksternal. Mereka tidak tahu bahwa First Flame bukan sekadar sihir; itu adalah entitas hidup yang bersarang di dalam darahnya, sesuatu yang tidak bisa diborgol.
Di ujung aula, di atas takhta tulang naga yang seharusnya diduduki Raja Malakor, duduk Pangeran Alaric dengan kaki menyilang santai. Di sampingnya berdiri Tetua Krow yang memegang tongkat pengendali bayangan, dan di kaki takhta, Elara dan Raja Malakor berlutut dengan leher terjerat rantai bayangan.
"Selamat datang kembali, Adikku," sapa Alaric, suaranya bergema memantul di dinding batu. "Kau tampak... berantakan. Kehidupan liar rupanya tidak cocok untuk kulit putrimu."
Aethela berhenti sepuluh langkah dari takhta. Ia mengangkat dagunya, menatap kakaknya dengan tatapan yang membuat senyum Alaric sedikit goyah. "Dan kau tampak terlalu nyaman duduk di kursi orang lain, Alaric."
"Kursi ini hanyalah batu," Alaric berdiri, menuruni anak tangga takhta. Ia mencabut pedang rampingnya dan mengarahkannya ke leher Aethela. Ujung pedang itu dingin di kulit lehernya. "Yang aku inginkan adalah kekuatan yang menyertainya. Kekuatan yang kau curi."
Di luar dinding benteng, Valerius berjongkok di balik reruntuhan menara pengawas, matanya tertuju pada jendela kaca patri Aula Utama. Ia tidak menyerang. Belum.
Setiap detak jantung terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Membiarkan Aethela masuk sendirian adalah hal terberat yang pernah ia lakukan. Rasa takut dan percaya bertarung hebat di dalam dirinya.
"Pangeran," bisik Thorne di sampingnya. "Para Drake sudah siap di atap. Jika Ratu memberi sinyal, kami akan menghancurkan kaca-kaca itu dan masuk."
"Tunggu sinyalnya," perintah Valerius, suaranya tegang. "Jika kita masuk terlalu cepat, Krow akan membunuh sandera. Aethela harus memutus kendali bayangan Krow terlebih dahulu."
Valerius memejamkan mata, fokus pada ikatan batinnya dengan Aethela. Ia bisa merasakan emosi wanita itu—bukan ketakutan, melainkan konsentrasi yang tajam seperti pisau bedah.
Aku di sini, Aethel, kirim Valerius lewat pikiran. Tepat di balik dinding.
Tunggu, Valerius, suara batin Aethela terdengar tenang namun mendesak. Alaric menginginkan pamer kekuatan. Biarkan dia lengah.
"Kekuatan yang kucuri?" Aethela tertawa kecil, meski pedang Alaric menekan lebih dalam hingga setetes darah mengalir. "Kekuatan ini memilihku, Alaric. Karena aku tidak mencoba memperkosanya seperti yang kau lakukan pada politik Solaria."
Wajah Alaric memerah karena marah. "Jaga mulutmu! Aku melakukan ini demi kejayaan keluarga kita! Obsidiana adalah ancaman. Dengan menguasai tempat ini dan mengambil First Flame, Solaria akan menjadi kekaisaran tunggal!"
"Kau tidak peduli pada Solaria," balas Aethela tajam. "Kau hanya peduli pada bayanganmu sendiri di cermin. Kau iri karena Ayah mengirimku ke sini, bukan kau. Kau iri karena aku, 'si lemah', berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh pasukanmu."
"DIAM!" Alaric menampar wajah Aethela dengan punggung tangannya.
Aethela terhuyung, rasa asin darah memenuhi mulutnya. Ia melihat Elara menangis histeris di lantai, mencoba memberontak namun rantai bayangan Krow semakin mencekik lehernya.
"Cukup dramanya," sela Tetua Krow dengan suara parau. Ia melangkah maju. "Pangeran Alaric, kita tidak punya waktu. Pasukan pemberontak di luar masih menunggu. Kita harus mengekstrak Api itu dari darahnya sekarang, lalu membunuh Raja tua ini untuk mematahkan moral mereka."
Krow mengangkat tongkatnya. Ujung tongkat itu bersinar ungu gelap, diarahkan ke dada Aethela. "Ini akan sedikit menyakitkan, Putri."
Inilah saatnya. Krow sedang memusatkan sihirnya untuk menyerang, yang berarti konsentrasinya pada rantai sandera sedikit berkurang. Aethela harus bertindak cepat.
Ia menatap Elara, memberikan kedipan mata yang hampir tak terlihat. Tunduk.
"Kau menginginkan apinya?" bisik Aethela. "Ambil saja."
Aethela memejamkan mata dan berteriak dalam batinnya. SEKARANG!
Bukan, itu bukan sinyal untuk Valerius. Itu sinyal untuk First Flame di dalam dirinya.
Api putih itu meledak keluar dari pori-porinya, melelehkan borgol sihir penahan di pergelangan tangannya dalam sekejap mata. Logam cair menetes ke lantai.
Alaric terkejut, mundur selangkah sambil melindungi wajahnya dari panas yang tiba-tiba.
Aethela tidak menyerang Alaric atau Krow. Ia menghentakkan kedua tangannya ke lantai batu.
Pulse of Purification!
Gelombang kejut cahaya putih merambat lewat lantai, menghantam rantai-rantai bayangan yang mengikat Elara dan Raja Malakor. Rantai-rantai itu, yang terbuat dari sihir kegelapan, tidak tahan terhadap kemurnian First Flame. Mereka hancur menjadi asap hitam.
"LARI!" teriak Aethela pada Elara.
Di saat yang sama, Valerius melihat kilatan cahaya putih memancar dari celah-celah jendela aula.
"SERBU!" raung Valerius.
PRANG!
Kaca-kaca jendela pecah berhamburan saat Iron-Maw dan para Drake menerobos masuk ke dalam aula, membawa Valerius dan Thorne di punggung mereka.
Valerius melompat turun dari naga bahkan sebelum kakinya menyentuh lantai, pedangnya sudah terhunus dan menyala dengan api hitam-putih. Ia mendarat tepat di antara Aethela dan Alaric, pedangnya menangkis tebasan Alaric yang hendak menyerang Aethela yang sedang berlutut.
Bunga api berhamburan. Mata emas Valerius bertemu dengan mata biru Alaric.
"Sentuh istriku lagi," geram Valerius, suaranya bergetar oleh amarah naga, "dan aku akan mencabuti anggota tubuhmu satu per satu."
Kekacauan pecah di Aula Utama.
Thorne dan para penunggang Drake bertarung melawan pengawal elit Alaric dan makhluk bayangan Krow. Elara segera menyeret Raja Malakor yang lemah ke balik pilar untuk berlindung.
Aethela bangkit berdiri. Napasnya memburu. Ia melihat Valerius mendesak Alaric mundur dengan serangan pedang yang bertubi-tubi. Alaric adalah pendekar pedang yang handal, tapi dia bukan tandingan kekuatan fisik Valerius yang diperkuat naga.
Namun, ancaman terbesar bukanlah Alaric.
"Dasar anak-anak bodoh!" teriak Tetua Krow.
Penyihir tua itu melayang ke udara, dikelilingi oleh aura ungu yang pekat. Dia tidak menargetkan Valerius atau Aethela. Dia menargetkan pilar penyangga utama aula.
"Jika aku tidak bisa menguasai benteng ini, maka tidak ada yang boleh memilikinya!"
Krow menembakkan tombak bayangan raksasa ke arah pilar-pilar batu. Aula mulai runtuh. Bongkahan batu besar jatuh dari langit-langit.
"Dia ingin mengubur kita semua hidup-hidup!" teriak Thorne, menahan reruntuhan dengan perisai tulangnya.
Kepanikan mencoba menguasainya, tapi ia menolaknya. Ia melihat Valerius yang masih terkunci dalam duel dengan Alaric. Ia melihat Raja Malakor yang tidak bisa berjalan cepat.
Ia harus membuat pilihan. Membantu Valerius membunuh Alaric, atau menghentikan Krow meruntuhkan istana.
Ia menatap punggung Valerius. Dia bisa menangani Alaric, batinnya yakin. Tugasku adalah melindungi rumah ini.
Aethela berbalik menghadap Krow yang melayang di udara. Ia merentangkan tangannya, memanggil setiap ons kekuatan First Flame yang tersisa.
"Krow!" teriak Aethela, suaranya menggema di atas gemuruh reruntuhan. "Kau melupakan satu hal tentang Obsidiana!"
Krow menoleh ke bawah, wajahnya bengkok oleh kegilaan. "Apa itu, gadis kecil?!"
"Batu-batu ini..." Mata Aethela menyala perak menyilaukan. "...mereka mendengarkan Ratunya, bukan pengkhianatnya!"
Aethela menghentakkan kakinya. Sihir Resonansi yang ia pelajari saat memurnikan gunung kembali aktif. Ia memerintahkan batu-batu yang jatuh itu untuk berhenti.
Dan mereka berhenti.
Hukum gravitasi seolah dibatalkan. Bongkahan batu raksasa melayang di udara, tertahan oleh jaring cahaya perak.
Krow terbelalak. "Tidak mungkin... kau mengendalikan struktur benteng?"
"Turunlah," perintah Aethela. Ia mengepalkan tangannya.
Salah satu pilar batu yang melayang itu bergerak sesuai kehendak Aethela, melesat seperti peluru meriam dan menghantam Krow di udara.
Penyihir tua itu terlempar, menabrak dinding dengan suara tulang patah yang mengerikan, lalu jatuh ke lantai tak sadarkan diri.
Valerius melihat aksi Aethela dari sudut matanya. Rasa bangga yang membuncah memberinya tenaga ekstra. Ia menangkis serangan Alaric dengan keras hingga pedang pangeran Solaria itu terlempar dari tangannya.
Valerius menendang dada Alaric, mengirimnya jatuh terlentang di tangga takhta. Valerius segera menempelkan ujung pedangnya yang membara ke leher Alaric.
"Menyerahlah," kata Valerius dingin. "Atau aku selesaikan ini sekarang."
Alaric terengah-engah, darah mengalir dari hidungnya yang patah. Dia melihat sekeliling. Krow kalah. Pengawalnya mati atau menyerah pada Thorne. Reruntuhan batu melayang di udara di bawah kendali adiknya.
Dia kalah telak.
"Bunuh aku," tantang Alaric dengan sisa harga dirinya yang angkuh. "Jika kau membiarkanku hidup, aku akan kembali dengan seluruh armada Solaria."
"Kau tidak akan mati sebagai martir, Alaric," sela Aethela.
Aethela berjalan mendekat, batu-batu di udara perlahan diturunkan kembali ke tempat aman. Ia berdiri di samping Valerius, menatap kakaknya dengan tatapan yang penuh belas kasih namun tegas—tatapan seorang penguasa sejati.
"Kau akan hidup," kata Aethela. "Kau akan kembali ke Solaria. Dan kau akan memberitahu Ayah bahwa Obsidiana bukan lagi musuh yang bisa dia mainkan. Beritahu dia bahwa putrinya yang 'dibuang' kini memegang tali kekang naga."
Valerius merasakan ketegangan perlahan meninggalkan tubuhnya. Mereka menang. Bukan hanya pertempuran, tapi perang ideologi.
Valerius menarik pedangnya dari leher Alaric, lalu memberi isyarat pada Thorne. "Borgol dia. Masukkan ke sel bawah tanah sampai kita siap mengirimnya pulang."
Saat Alaric diseret pergi, Valerius berbalik menghadap Aethela. Tanpa mempedulikan debu, darah, dan sisa kekacauan, ia menarik istrinya ke dalam pelukan erat.
"Kau gila," bisik Valerius di rambutnya, mengulang kata-kata yang sama seperti di tebing.
"Aku belajar dari yang terbaik," jawab Aethela, membenamkan wajahnya di dada Valerius, mendengarkan detak jantung yang masih berpacu itu.
Di sudut ruangan, Raja Malakor dibantu berdiri oleh Elara. Sang Raja Tua menatap putranya dan menantunya dengan pandangan yang sulit diartikan—bukan lagi kemarahan, melainkan pengakuan yang hening.
Benteng Obsidian telah kembali ke tangan yang sah. Tapi harga dari kemenangan ini adalah deklarasi permusuhan abadi dengan Solaria.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...