Maula, harus mengorbankan masa depannya demi keluarga.
Hingga suatu saat, dia bekerja di rumah seorang pria yang berprofesi sebagai abdi negara. Seorang polisi militer angkatan laut (POMAL)
Ada banyak hal yang tidak Maula ketahui selama ini, bahkan dia tak tahu bahwa pria yang menyewa jasanya, yang sudah menikahinya secara siri ternyata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Waktu berjalan begitu cepat, dan hari-hari ku jalani seperti biasa.
Di pagi hari aku membantu anak-anak bersiap, menyiapkan segalanya termasuk sarapannya.
Sampai tak terasa, dan karena begitu aku menikmati pekerjaanku, tahu-tahu sudah genap tiga bulan aku bekerja di rumah keluarga seorang TNI.
Dan selama tiga bulan ini aku sama sekali tak mengambil cuti liburku. Pernah satu kali ijin untuk menemui ayah sebentar, namun bukannya aku di sambut hangat olehnya, dia malah menanyakan kenapa perutku belum juga membesar.
Sampai detik ini ayah mengira kalau aku benar-benar hamil. Sudah susah payah aku jelaskan pun bukannya percaya, dia justru menuduhku aborsi.
Dari situ aku berfikir, terkadang semua memang tak perlu di klarifikasi, dan membiarkan mereka dengan prasangkanya.
Yang terpenting aku tidak merepotkan mereka, tidak pernah merugikan mereka, apalagi meminta makan padanya.
Cukup diam biar waktu yang tunjukkan.
Mengenai Naka dan Hazel, mereka benar-benar anak sopan, selalu patuh pada perkataanku dan sangat menghormatiku.
Mungkin karena sikap mereka pula aku bisa betah dan nyaman berada di sini.
Semoga saja pak Nugraha, suami dari bu Ella akan bersikap baik padaku setelah pulang dari tugasnya nanti. Begitu juga dengan pak Aril.
Tapi aku yakin ayahnya anak-anak itu orang baik. Buktinya Naka dan Hazel tumbuh menjadi pribadi yang baik dan penuh kasih sayang.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, aku kembali naik ke lantai dua untuk mengecek apakah anak-anak sudah siap dengan seragamnya atau belum, terutama Hazel. Dia masih perlu bantuanku untuk mengenakan seragam sekolah.
Ah iya, aku yang di beri waktu dua bulan untuk membuat Hazel bersedia masuk sekolah, akhirnya sebelum waktu yang telah di tentukan, aku sudah berhasil membawa anak itu ke sekolah.
Dengan memberikannya edukasi tentang sosialisasi, kadang juga memperlihatkan video di youtub dari berbagai sumber, Hazel yang begitu antusias pun tiba-tiba ingin pergi ke sekolah. Tentu saja hal itu membuat keluarganya bahagia.
"Mas Naka sudah siap?" Aku menatapnya bangga ketika sudah berada di lantai dua dan melihatnya sudah berpakaian rapi.
"Sudah, bu"
"Turun ke bawah ya! Tunggu ibu dan adek di meja makan"
"Iya, bu"
Anak itu langsung melangkah menuju tangga, sementara aku berjalan ke arah kamar Hazel.
"Gimana Hazel? Bisa pakai baju sendiri?"
"Bisa.. Tapi lama-lama"
"Nggak apa-apa, namanya juga masih belajar" Ku hampiri anak gadis yang sedang berdiri di depan cermin. "Boleh ibu bantu?" Tanyaku meminta izin.
"Eugh" Dia pun bergegas membalikkan badan, dan langsung berhadapan denganku.
Aku berjongkok, menyamakan tinggi level Hazel.
Ku buka kancing baju yang terpasang dengan asal, lalu membetulkannya satu-persatu.
Namanya saja anak-anak, mungkin butuh waktu berjam-jam untuk memakai seragamnya.
Satu menit berlalu, kemeja dan juga rok sudah menempel di badan Hazel. Ku bantu mengenakan sabuk lalu kaos kaki dan sepatu sepatu.
"Okay, sudah siap" Ujarku sambil membetulkan rambut yang sudah ku kepang dua sesaat setelah mandi tadi.
"Makasih bu"
"Sama-sama"
Ternyata ajaranku untuk mengucapkan terimakasih jika seseorang membantunya dan memberikan sesuatu, benar-benar di lakukan oleh kakak beradik ini.
"Sebelum kita turun untuk sarapan, ibu tak bosan-bosannya mengingatkan Hazel untuk jangan takut dan terus maju. Jadi Hasel juga jangan bosan dengar nasehat ibu, iya"
"Iya" Sahutnya.
"Pintar!" Pujiku seraya mengusap salah satu pipinya
"Kita turun yuk, mas Naka sudah nungguin di bawah"
"Ibu Maula, nanti setelah ibu antar mas Naka dan Hazel, ibu langsung pulang aja. Nggak usah tunggu Hazel, Hazel sudah berani sendiri"
"Alisku menukik tajam begitu mendengarnya.
"Yakin sudah berani?"
"Iya, Hazel udah punya teman, jadi ibu pulang saja"
"Okay deh, ibu percaya Hazel sudah jadi anak pemberani"
"Makasih karena ibu Maula sudah ajarkan Hazel dan mas Naka" Katanya membuatku otomatis merasa senang.
"Sama-sama sayang" Aku tersenyum lebar. "Ayo turun" Ajakku lalu menggandeng tangan Hazel.
Ketika melewati tempat tidur, ku sambar tas sekolahnya lalu berjalan keluar kamar.
****
Setibanya di sekolah, aku tak memenuhi keinginan Hazel agar langsung pulang setelah mengantarnya. Diam-diam aku masih berada di area sekolah karena masih ragu-ragu, takut kalau tiba-tiba kepercayaan dirinya kembali menurun seperti beberpa waktu lalu, dan akhirnya dia tantrum tanpa ada yang bisa menanganinya.
Bukan tantrum yang gimana-gimana, hanya saja tidak mau berhenti nangis sambil memanggil-manggil ayahnya.
Untunglah, aku cepat-cepat datang, dan langsung bisa mengatasi mood Hazel yang kadang masih suka naik-turun.
Duduk di sebuah bangku, ku mainkan ponsel untuk mengusir rasa jenuh yang menyerangku.
Sudah dua jam aku duduk di sini sambil berselancar di dunia maya, tiba-tiba ponselku berbunyi.
"Naomi! Pasti minta uang lagi" Lirihku sedikit geram.
Dengan malas ku geser ikon hijau lalu menghadapkan layar ponsel ke wajahku.
"Ada apa?" Tanyaku to the point. Rasanya aku malas sekali kalau harus berbasa-basi dengannya.
"Ayahmu tuh, katanya pandangannya mengecil, padahal nggak menyipitkan mata. Pas ibu cek ke dokter, dokter mengatakan harus segera di operasi, kalau tidak kemungkinan ayah akan buta permanen"
"Operasi? Bukannya dokter bilang jika rutin minun obat, mata ayah bisa bertahan hingga lima tahun? Kenapa mendadak dokter memutuskan operasi?"
"Ya mana aku tahu"
"Ibu rutin menebus obat ayah kan?"
"Ya iya lah, tapi nggak tahu tuh ayahmu. Rutin juga atau enggak minum obatnya"
"Kan aku sudah pesan ke ibu harus di awasi kalau minun obat"
"Ayahmu itu bukan anak kecil, meski ibu sudah mengawasinya, tapi dianya aja yang nanti-nanti. Terus ujung-ujungnya obatnya nggak di minum. Mau menyalahkan ibuku?"
Aku mendesah pelan, benar-benar putus asa menghadapi keluargaku sendiri yang maksanya minta ampun, egois, terkadang salah pun tidak mau di salahkan.
Aku sendiri seperti serba salah juga, tapi seandainya aku tak peduli pasti akan lebih salah. Lagi pula aku nggak ada niat buat mengabaikannya.
Hanya lelah...
"Kapan operasinya?" Tanyaku setelah hening sesaat.
"Ya kalau bisa secepatnya"
"Berapa biayanya?"
"Sekitar dua puluh lima juta"
"Dua puluh lima juta?" Kataku kaget.
Dari layar ponsel, Naomi tampak menganggukkan kepala.
"Kalau belum ada uang, bisa di bantu pakai kacamata dulu. Kacamata yang ping tebal. Harganya sekitar dua jutaan"
"Akan aku usahakan" Mengalah. Entah usaha apa yang akan aku lakukan. Aku baru ada uang dua belas juta di rekening. Masih kurang setengahnya lagi. Walaupun dua hari lagi aku baru akan menerima gaji ke tiga, tetap saja masih belum cukup.
"Jangan lama-lama!" Desisnya membuyarkan fokusku.
Tak merespon, aku langsung mematikan panggilannya.
Baru saja memasukkan ponsel ke dalam tas, benda itu kembali berbunyi.
Aku yakin pasti Naomi lagi yang telfon.
Ku raih kembali ponselnya, dan tanpa menatap layar langsung ku tempelkan di telingaku setelah menggeser tombol angkat.
"Ada apa lagi si? Kan sudah ku bilang akan aku usahain"
"Apanya yang mau di usahain?"
Suara itu bukannya Naomi justru suara milik laki-laki. Saat ku lihat ternyata mr F yang menelfonku.
"Maaf, ku kira adikku yang telfon?" Pungkasku setelah menempelkan kembali ponselnya di telinga kanan.
"Yakin adiknya yang telfon?" Tanyanya dingin.
"Mau percaya ya silakan, enggak ya nggak apa-apa. Aku nggak memaksamu buat mempercayaiku"
Ku dengar helaan nafas panjang darinya, sedetik kemudian dia berkata.
"Lusa temui aku di apartemen. Aku sampai di sana sekitar pukul empat sore, sebelum jam itu kamu sudah harus di sana"
"Sudah pulang dari dinasnya?"
"Besok mampir dulu ke supermarket beli bahan makanan, terus masakin aku" Tandasnya alih-alih menjawabku.
"Hmm"
Selain membeli bahan makanan, sepertinya aku juga harus beli pengaman, aku sedang dalam masa subur, takut kalau benihnya justru akan tumbuh di rahimku.
Buat apa punya anak darinya kalau endingnya cerai. No way.
sama aku pun juga
next Thor.... semakin penasaran ini