Seorang Wanita yang berjuang bertahun-tahun menghadapi badai hidupnya sendirian, bukan sebuah keinginan tapi karena keterpaksaan demi nyawa dan orang yang di sayanginya.
Setiap hari harus menguatkan kaki, alat untuk berpijak menjalani kehidupan, bersikap waspada dan terkadang brutal adalah pertahanan dirinya.
Tak pernah membayangkan, bahwa di dalam perjalanan hidupnya, akan datang sosok laki-laki yang mampu melindungi dan mengeluarkannya dari gulungan badai yang tak pernah bisa dia hindari.
Salam Jangan lupa Bahagia
By Author Sinho
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My LB-31
Menatap laki-laki tua itu berada di atas pembaringan, dengan beberapa selang yang menempel ditubuhnya, keadaan belum sadar dan harus mendapatkan perawatan insentif untuk sementara, di ruang ICU kini Darel Mozart berada.
"Kuatkan diri Grandpa, Dryana membutuhkan mu" ucap lirih Evan penuh dengan harapan.
Sementara itu, Dryana yang sudah mendapatkan pesan tentang keberadaan sang Grandpa di Rumah sakit tipe tertinggi di tempat itu sedikit kesal, pasalnya jarak hampir satu setengah jam dari Mansionnya, dan bagaimana mungkin Evan bisa dengan cepat sampai kesana.
Dengan raut khawatirnya, akhirnya Dryana sampai dan segera berlari menuju ruangan tempat di mana sang Grandpa di rawat.
"Dry!" Evan memanggil dan melambaikan tangannya.
"Ev, bagaimana keadaan Grandpa?" Tanya Dryana dengan wajah yang penuh dengan beban dan kekhawatiran.
"Tenanglah, Grandpa berhasil ditangani dengan cepat, tapi masih belum sadar, namun sudah melewati masa kritisnya"
"Ya Tuhan, Syukurlah"
Dryana merasa lega luar biasa, lalu melangkah untuk meminta ijin masuk ke dalam ruangan dengan penjagaan yang sangat ketat.
"Waktu anda hanya 10 menit saja Nona Dryana Mozart, maaf, karena pasien harus mendapatkan perawatan insentif untuk saat ini"
"Saya mengerti, tidak apa-apa" jawab Dryana.
Evan mendekat, lalu memeluknya sesaat, memberikan support ke wanitanya agar lebih kuat menghadapi kenyataan dimana satu-satunya keluarga yang tersisa lemah terbaring di atas tempat tidur di Ruang ICU rumah sakit.
"Aku tidak apa-apa Ev, boleh aku masuk sekarang?"
"Hem, aku tidak bisa menemani Dry, hanya boleh satu orang yang berada disana" ucap Evan.
"Aku tau" Dryana mengangguk pelan.
Kakinya kini melangkah masuk, lalu kemudian melihat bagaimana sang Grandpa berjuang dengan hidupnya, Dryana merasa begitu lemas, hampir saja tubuhnya oleng, namun tembok yang ada di dekatnya segera digunakan untuk menopang tubuhnya.
"Grandpa harus kuat, demi aku, demi Dryana mu" gumamnya lirih, lalu air mata itu tak terbendung lagi.
Bayangan belasan tahun silam memenuhi isi kepalanya, dimana harus melihat kedua orang tuanya berakhir tragis di sebuah rumah sakit dan akhirnya meninggal Dunia.
"Tuhan, jangan kau ambil lagi milikku yang paling berharga, aku tidak sanggup lagi" gumam Lirih Dryana yang masih tersedu-sedu di samping Darel Mozart.
Evan nampak khawatir, dari balik kaca yang masih bisa dilihatnya, keadaan Dryana jelas tidak sedang baik-baik saja.
"Maaf, jika saya tidak bisa masuk ke dalam sana, bisakah anda berada didekat calon istri saya, sepertinya dia sangat terpukul, saya takut akan terjadi sesuatu dengannya" akhirnya Evan meminta bantuan ke salah satu tenaga medis wanita yang berjaga disana.
"Baik, tuan, tidak masalah, anda jangan khawatir"
"Terimakasih" Evan merasa lega karena pelayanan di tempat itu sungguh ramah.
Berdiri cukup lama, membuat Evan merasa sedikit lelah, membawa sang Grandpa dengan kekuatannya sangat menguras tenaga, namun juga merasa bersyukur, dengan hanya beberapa detik yang dilakukan Evan untuk sampai disana, bisa membuat Darel Mozart dapat menerima pertolongan tepat pada waktunya.
Kaki dan tubuhnya beristirahat dengan duduk diatas kursi tunggu, namun tangan dan otaknya kini bekerja cukup keras, menghubungi beberapa orang untuk membuat perhitungan.
"Besok pagi, percepat rencana ku, tidak usah menunggu lagi, bajingan itu harus mendapatkan balasan yang setimpal akan perbuatannya"
"Jadi, segera kita ambil alih semuanya?"
"Iya, besok, pastikan semua menjadi milik SpeedStar Corporat"
"Berarti anda harus datang untuk beranda tangan tuan"
"Tentu saja"
"Akhirnya, beban saya sedikit berkurang Tuan Evan"
"Hem, persiapkan semuanya"
"Siap Tuan, saya pastikan besok semua akan berada di tangan anda"
"Terimakasih kerja kerasmu"
"Sama-sama Tuan"
Baru saja Evan menutup panggilannya, dikejutkan dengan keberadaan seseorang yang sudah duduk didekatnya.
"Dry?"
"Asik sekali ngobrol nya, dengan siapa?" Tanya Dryana yang sepertinya baru saja tiba.
"Oh, dengan teman-teman ku, bagaimana keadaan mu?"
"Aku baik-baik saja, hanya sedih saja melihat keadaan Grandpa"
"Tenanglah, Grandpa sudah mendapatkan penanganan yang terbaik"
"Hem, dirumah sakit sebesar ini dan secanggih ini, tentu saja Grandpa mendapatkan pelayanan terbaik, tapi_" nampak Dryana berpikir.
"Ada apa?" Tanya Evan.
"Pasti sangat mahal Ev, aku sudah tak punya apapun lagi, bisa-bisa aku akan menjual Mansion ku, aku akan tinggal dimana nanti?"
"Di Apartemen ku"
"Ck, jangan bercanda ev, kita bahkan belum resmi menjadi pasangan"
"Ayo segera kita resmikan"
"Ev!, aku serius!"
"Aku juga tidak sedang bercanda Sweety"
Bug
"Akh, jangan melakukan kekerasan dengan calon suami!" Seru Evan menahan sakit lengannya yang di pukul oleh Dryana.
Dryana tersenyum melihat itu semua, tingkah Evan yang terkadang membuatnya jengkel namun sangat dirindukannya.
"Sepertinya ada yang semakin jatuh cinta padaku, apa kau siap menghangatkan ku Sweety?" goda Evan saat Dryana memandanginya.
Dryana hanya memutar matanya, lagi-lagi kelakuan Evan terkadang membuatnya tak habis pikir.
Keduanya kini berakhir di atas kursi tunggu, jika Evan hanya memandangi keadaan Grandpa dari kaca tembus pandang yang masih bisa dilihatnya, Dryana justru teringat akan suatu hal yang dirasa aneh dan tak masuk akal.
"Ev?"
"Hem"
Evan kini mengalihkan pandangan, melihat Dryana dari samping.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Dryana dengan pandangan yang masih lurus kedepan.
Evan mengerutkan kening, apa iya Dryana tak melihat dirinya ada disampingnya, sampai harus bertanya apa yang dia lakukan.
"Aku duduk disebelah mu Sweety"
Mendengar jawaban Evan, Dryana menghela nafas panjang, "aku tau, bukan itu maksud ku"
"Lalu?" Tanya Evan yang masih tidak mengerti.
Kini Dryana menatapnya, lekat dan hanya tertuju pada mata Evan, "Jangan membuatku takut" ucap Dryana.
"Takut?, maksud mu aku membuat mu takut?" Apalagi ini, Evan sampai melebarkan mata mendengar apa yang di katakan oleh kekasihnya, sudah puluhan bahkan jutaan wanita ingin selalu melihat wajahnya, kenapa justru wanita di sampingnya ini takut saat melihatnya?
"Ck, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Ev"
Oh my God, Evan makin tak mengerti, melihat apa maksut Dryana?, dirinya tak berubah jadi apapun dan tetap dengan pesonanya yang tampan tiada tara, lalu Evan menghembuskan napas panjang nya.
"Okey, aku semakin tidak mengerti Dry, katakan dengan jelas, apa maksud mu?, aku bahkan tidak pernah tidur ataupun telan-jang dengan wanita lain di depan matamu kan?"
"Ck, bukan itu, susah sekali bicara serius dengan mu, dan jika sampai kau berani melakukan apa yang kau katakan barusan, aku akan memotong milikmu!" kesal rasanya Dryana, dari tadi kenapa Evan tak mengerti sama sekali.
Evan meringis ngeri, membayangkan jika pusaka pencipta kenikmatan dunia nya akan lepas dari tempatnya, ternyata Dryana sosok yang cukup mengerikan juga, namun sesaat kemudian, Evan tertawa.
"Aku serius Ev, aku melihat mu melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, membuat mereka terpental begitu saja saat menyerang ku dan_"
Dryana men jeda, bingung rasanya mau melanjutkan perkataan, dan hanya hembusan nafas panjang yang di dengar kemudian.
"Dan apa?" Tanya Evan.
Hayo apa?, bisa kasih KOMENnya?, jangan lupa juga LIKE, VOTE, HADIAH dan tonton IKLANNYA.
Bersambung.