Di usianya yang beranjak remaja, pengkhiatan menjadi cobaan dalam terjalnya kehidupan. Luka masa lalu, mempertemukan mereka di perjalanan waktu. Kembali membangun rasa percaya, memupuk rasa cinta, hingga berakhir saling menjadi pengobat lara yang pernah tertera
"Pantaskah disebut cinta pertama, saat menjadi awal dari semua goresan luka?"
-Rissaliana Erlangga-
"Gue emang bukan cowo baik, tapi gue bakal berusaha jadi yang terbaik buat lo."
-Raka Pratama-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caramels_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Tak terasa hari berganti hari. Jarum jam terus berputar tanpa bisa dihentikan. seratus enam puluh delapan jam dihabiskan untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga dan sang kekasih.
Kini, hari yang dinanti pun tiba, hari dimana perjalanan baru akan dimulai.
Jarak menanti mereka. Harapan menyertai langkah kaki yang pergi, membawa doa agar kelak dapat kembali bersama dengan kesuksesan. Matahari bersinar terang seolah memberi restu, menyaksikan perpisahan yang terasa begitu berat.
Di antara keramaian bandara, sepasang tangan saling menggenggam erat, seakan tak ingin melepaskan. Mereka percaya, cinta akan tetap ada, menguatkan hingga saat mereka kembali pulang dari sebuah penantian panjang. Hingga nanti, saat semuanya telah tercapai, mereka akan bersatu dalam satu ikatan yang lebih kuat.
Mata mereka beradu, seakan sedang berlatih untuk memendam rindu. Lama-lama, wajah mereka saling mendekat, hingga ujung hidung bersentuhan. Napas mereka bercampur dalam kehangatan yang enggan diakhiri. Rissa memejamkan mata, sementara Raka menipiskan jarak di antara mereka.
Begitu lama mereka saling menikmati pelukan sebelum jarak benar-benar memisahkan.
...****************...
Mereka pun kembali ke tempat di mana orang tua Rissa menunggu. Tadinya, mereka berpamitan sebentar untuk mengobrol empat mata. Kini, perpisahan benar-benar terasa nyata.
"Jangan lupa kabarin kalau udah sampai sana. Jangan lupa juga jaga kesehatan, belajar yang rajin," pesan Pak Ryand seraya mengusap pucuk kepala Rissa dengan lembut.
"Jangan telat makan, jangan tidur malam-malam," tambah Mamanya dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Rissa memeluk Papa dan Mamanya secara bergantian, kemudian beralih ke Daeren.
"Eh, jangan nangis! Jagain Mama sama Papa di rumah. Jangan keluyuran mulu!" ujarnya dengan nada bercanda, mencoba mencairkan suasana.
Daeren hanya menyeringai lebar, menampilkan giginya seperti iklan Pepsodent. "Santai aja, Kak! Pasti aman!"
Risa tersenyum kecil sebelum akhirnya berhenti di hadapan cowok bertubuh lebih tinggi darinya, Raka.
Hening sesaat. Mereka saling menatap, berbicara dalam diam. Hanya suara riuh bandara yang terdengar, tapi dunia mereka terasa begitu sunyi.
"Kuliah yang benar di sana," Raka membuka suara, suaranya sedikit bergetar menahan emosi.
"Kamu jauh dari orang tua, juga jauh dari aku. Nggak ada yang bisa jagain kamu, jadi kamu harus bisa jaga diri dan... jaga hati di sana."
Raka menarik napas dalam sebelum melanjutkan, "Aku akan selalu menunggu kamu kembali lagi ke sini."
Senyum terukir di wajahnya, tapi Rissa bisa melihat kesedihan yang tak mampu disembunyikan.
Rissa menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk. Tanpa ragu, ia memeluk cowok itu erat, mencengkeram jaketnya seolah tak ingin membiarkan perpisahan terjadi.
"Kamu juga kuliah yang benar. Jaga hati juga," bisiknya.
"Jangan ngelirik cewek lain di universitas nanti!"
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Raka. Namun, ia buru-buru mengusapnya, tak ingin Rissa melihat.
Dalam hatinya, Rissa berharap ini bukanlah pelukan terakhir mereka. Ia yakin, mereka akan bertemu kembali suatu saat nanti.
...****************...
Panggilan keberangkatan untuk penerbangan ke Istanbul akhirnya terdengar di seluruh penjuru bandara. Jantung Rissa berdegup semakin kencang.
Ia menarik napas dalam, menenangkan diri. Ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru.
Satu per satu, ia kembali menatap keluarganya dan Raka. Senyum mereka penuh dengan harapan, meskipun terselip kesedihan di dalamnya.
"Aku pergi dulu, ya..." ucapnya lirih.
Ia melangkah mundur, lalu berbalik menuju gerbang keberangkatan. Namun, baru beberapa langkah, suara Raka kembali terdengar.
"Rissa!"
Ia menoleh, dan Raka berlari menghampiri nya. Ia memberikan sesuatu kepada Rissa. Sebuah liontin perak dengan ukiran inisial "R²".
"Bawa ini selalu, biar kita tetap merasa dekat," kata Raka dengan senyum lembutnya.
Rissa menggenggam liontin itu erat, matanya kembali berkabut oleh air mata yang tertahan. Tanpa berkata apa-apa, ia hanya mengangguk, lalu kembali melangkah masuk ke dalam area keberangkatan.
Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa ini adalah jalan yang harus ia tempuh. Demi masa depan, demi mimpi-mimpi yang telah lama ia rancang.
Saat melewati pemeriksaan, ia menoleh sekali lagi. Dari balik dinding kaca, ia melihat keluarganya dan Raka masih berdiri di tempat yang sama, melambaikan tangan.
Ia membalas lambaian itu dengan senyum yang terbaik yang ia miliki, lalu akhirnya, melangkah menuju pesawat yang akan membawanya ke negeri yang jauh.
Masa depan menantinya.
Dan di balik jarak yang terbentang, ada cinta yang setia menunggu untuk menyatukan mereka kembali.
...****************...
Di dalam pesawat, Rissa duduk di dekat jendela, menatap landasan yang perlahan menjauh. Ia menggenggam liontin pemberian Raka, membiarkan kehangatan kenangan menyelimutinya.
Di luar, langit mulai berubah warna, menyambut malam dengan semburat jingga yang indah.
Risa menutup mata sejenak, membayangkan wajah orang-orang yang ia tinggalkan. Sebuah janji terukir dalam hatinya—ia akan kembali, membawa kebanggaan dan kebahagiaan untuk mereka.
Pesawat mulai lepas landas, mengantarkannya ke negeri baru, ke kehidupan baru.
Sementara itu, di bandara, Raka masih berdiri di tempatnya, menatap langit yang kini mulai gelap. Ia tahu, perjalanan ini akan panjang. Namun, ia percaya, cinta yang sejati akan selalu menemukan jalannya kembali.
Jarak mungkin memisahkan mereka saat ini, tetapi hati mereka tetap beriringan, menunggu waktu yang tepat untuk kembali bertemu. Entah berapa tahun lagi masa itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...