Rosa kembali ke Bandung setelah enam tahun menghindari Papa dan Rama, Kakaknya. Selain kembali beradaptasi dengan sekolah baru dan menguatkan hatinya untuk bertemu Rama, Rosa yang kaku juga dikejutkan dengan kedatangan Angkasa. Kakak kelasnya yang adalah anggota geng motor.
Perasaannya dibuat campur aduk. Cinta pertamanya, kebenciannya pada Rama dan Papa, juga rasa kehilangan yang harus kembali dia rasakan.
Bagaimana Rosa yang sulit berekspresi menghadapi semuanya?
Apakah Rosa bisa melaluinya? Apakah Rosa bisa mengembalikan perasaan damainya?
Update setiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noey Ismii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bukit Belakang
“Ada yang dipikirin, Sa?” suara Tiara membuyarkan lamunan Rosa. Tiara sedang menunggu Rosa bersiap-siap. Mereka akan naik ke bukit di belakang rumah nenek.
Rosa tersadar. Dia menggeleng, Rama juga bertanya dengan pertanyaan yang sama tadi malam. Rosa tersenyum, “Sebentar banget aku disini,” dia menghela napas.
Tiara tersenyum. “Kamu sadar atau enggak, Sa? Waktu kamu baru datang, aku hampir gak kenal kamu. Kamu senyum. Senyum yang gak pernah aku liat. Kamu bener-bener senyum,” katanya. Matanya menatap Rosa yang juga menatapnya.
“Aku disini juga sering senyum, kan?”
Tiara menggeleng.
Rosa menunduk. Dia memang berubah. Dia tahu itu. Tapi Rosa menggeleng.
“Pergi ke Bandung adalah langkah paling tepat yang kamu ambil. Kamu menemukan diri kamu. Kita yang terbiasa liat kamu di sini selama enam tahun, pasti tahu ada yang berbeda di kamu. Aku ikut bahagia dengan itu. Terus senyum kayak gitu, Sa,” Tiara mengutarakan isi hatinya selama ini.
Mendengar penuturan Tiara, Rosa tertegun. Benarkah? Dia mungkin tersenyum saat dia melihat chat dari Angkasa. Dia tidak merasa begitu setiap waktu. Tapi Tiara pun sampai menyadarinya. Apakah dia terlalu terbuka.
Apakah dia akan baik-baik saja?
Tapi dia masih merasa marah pada Rama. Dan pada Papa.
Rosa menggeleng, “Aku masih sama, kok. Makasih banget udah nemenin aku terus di sini,” dia tersenyum sambil menggenggam tangan Tiara.
“Aku lebih makasih, kamu bawain banyak banget oleh-oleh. Padahal aku cuma pengen ketemu aja,” balas Tiara menggenggam tangan Rosa.
Rama mengetuk pintu kamar Rosa yang terbuka. Dia sudah bersiap dengan tas ranselnya. “Udah siap, girls?” tanyanya.
Kedua gadis itu mengangguk, kemudian mengikuti Rama keluar rumah. Rosa sudah siap dengan kameranya. Tiara membawa tikar lipat yang dipinjam dari ayahnya.
Rama sendiri sudah memasak dari malam. Hari ini rencananya adalah piknik bersama Rosa. Tiara juga ikut, Ira dan Andi tadinya mau ikut, tetapi mereka ditugaskan untuk mencuci sepatu masing-masing. Uwa menyuruh Rama pergi sendiri, menikmati liburannya. Agar tidak terus diekori oleh dua sepupunya itu.
Rosa dan Tiara sudah beberapa kali menaiki bukit di belakang kampung mereka itu. Sekedar untuk jalan-jalan atau sengaja mencari kayu bakar.
“Kalian sering main kesini?” tanya Rama. Dia berjalan di belakang kedua gadis.
“Kadang, Kak, gak sering karena gak terlalu perlu juga,” Tiara menjawab sambil menyingkirkan ranting di depannya ke pinggir jalan. “Buat nanti dibawa pas turun,” katanya kemudian.
Mereka berjalan melewati jalan setapak yang memang sudah biasa dilewati warga. Rosa masih ingat jalan ke atas bukit ini. Dari atas bukit sana mereka bisa melihat seluruh desa. Kalau sedang kewalahan dengan perasaannya, Rosa akan berlari ke atas sana dan kehabisan napas. Kemudian menjadi lebih tenang setelah duduk dan diam menatap pemandangan.
Itulah kenapa dia suka saat Angkasa mengajaknya ke rumah makan diatas bukit waktu itu. Beberapa kali mereka kembali ke sana lagi. Rosa yang bilang pada Angkasa bahwa pemandanganya disana, mengingatkannya pada bukit ini. mengingatkannya pada tempat tenangnya. Tempat amannya.
Setelah dua kali Angkasa kembali mengajaknya kesana, Rosa mengerti, cowok itu sedang membuatnya merasa nyaman saat kewalahan dengan Rama. Dengan perasaannya.
Entah kenapa, Angkasa seolah tahu jika Rosa sedang memendam marahnya. Setiap kali Rama keterlaluan, setiap kali Papa tiba-tiba mengungkit masa lalu, setiap kali itu juga Angkasa akan mengajaknya keluar. Untuk main, untuk mencari foto, untuk alasan-alasan Angkasa yang dibuat-buat. Dan Rosa akan dengan senang hati setuju pergi.
Rosa tersenyum kecut. Kemana Angkasa sekarang?
“Tiara, tau gak? Rosa punya pacar,” kata Rama setelah mereka sampai di puncak.
Rosa yang sudah siap dengan kameranya melirik Rama. “Belum pacaran,” protesnya sambil cemberut.
Rama terkekeh sedangkan Tiara menutup mulutnya dengan pandangan tak percaya.
“Nembaknya pake lagu, di acara sekolah,” Rama menambahkan.
Tiara mendekati Rosa, “Kemajuan banget, Sa.” Dia kembali melihat Rama, “Dulu disini gak ada yang berani karena langsung nolak siapapun yang deket-deket. Kakak kelas paling ganteng seangkatan pun gak bisa deketin Rosa, loh, Kak Rama,” katanya sambil duduk di tikar yang sudah dibuka Rama.
Rama masih sibuk membuka bekalnya. Meminta Rosa segera duduk. “Angkasa itu juga kakak kelas paling-paling se-sekolah kita,” katanya sambil mengunyah apel. Dengan tangan sibuk menata semua perbekalannya hari ini.
Rosa menatap makanan yang sudah ditata di atas tikar. Kapan Rama punya waktu untuk menyiapkan semuanya ini? Kemarin mereka berdua duduk di luar rumah sampai larut malam.
Rama tidak bertanya apa-apa lagi setelah Rosa tidak menjawab pertanyaan kenapa Rosa terlihat tidak semangat seharian ini. Tapi kebisuan Rosa membuat Rama mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih banyak.
“Wah, Rosa si penakluk cowok ganteng,” Tiara mengambil sepotong semangka.
“Wah, Tiara sekarang cerewet, ya?” Rosa ikut duduk setelah mengambil beberapa foto. Matanya menatap Tiara yang tersenyum dan membereskan kerudungnya.
Tiara mengangguk, “Kita bakal lama lagi gak ngobrol. Jadi aku keluarin semua stok ngomong aku buat enam bulan ke depan,” jawabnya.
Rama tertawa, “Kamu sendiri udah punya pacar?” tanyanya.
Kebisuan Tiara mengundang penasaran Rosa, “Ada?”
Tiara menggeleng, “Gak lah. Mana bisa pacaran, tapi Ayah bilang ada anak temennya yang mau dikenalin,” jawabnya. Dia menarik napas,
“Mungkin kalau anak temennya ayah itu mau sama aku, aku gak akan lanjut sekolah.”
Rosa dan Rama saling berpandangan. Tangan Rosa menggenggam tangan Tiara. Di desa-desa pelosok memang sudah lumrah jika anak gadis sudah besar akan segera dinikahkan. Rosa sudah tau itu sejak melihat kakak kelasnya dulu tiba-tiba mengundurkan diri dari sekolah, kemudian menikah.
“Kamu gak bisa nolak?” tanya Rama.
“Dan jadi perawan tua yang gak nikah sampe tua karena keburu dimakan gosip anak yang kurang ajar?” tanya Tiara.
Rama mengangguk pelan.
“Orang-orang memang udah modern. Aku beberapa kali liat influencer ada yang gak mau nikah, gak mau punya anak, yang bisa milih hidupnya mau kayak apa. Anak desa kayak aku gak punya pilihan, Kak,” Tiara tersenyum muram. Membetulkan kerudungnya yang tertiup angin, dia mengalihkan pandangannya pada hamparan desa.
Rosa menepuk-nepuk pelan punggung tangan Tiara. Memberi dukungan. Dia sendiri tidak punya kata-kata penyemangat untuk Tiara. Hanya saja, temannya itu juga punya perubahan.
Dulu Tiara akan sangat menjaga kata-katanya. Sama pendiamnya dengan Rosa. Tapi melihatnya sekarang, Rosa tersenyum.
Rosa hanya berharap, apapun keputusan dan keadaannya nanti, Tiara akan lebih kuat dan lebih berani.
-o0o-
Matahari sudah menanjak menuju puncaknya saat ketiga remaja itu berjalan menuruni bukit. Tas ransel yang dipakai Rama menjadi ringan setelah mereka menghabiskan perbekalannya. Tikar lipat dijejalkan ke dalam tas Rama saat
Tiara mulai berjalan turun sambil mengumpukan ranting untuk jadi kayu bakar.
Rama ikut mengambil juga.
Rosa tidak ikut-ikutan. Dia masih asik dengan kameranya. Membidik setiap belokan.
Sampai-sampai, dia tidak melihat apa yang ada di depannya. Rosa tergelincir. Tubuhnya terhempas ke lereng landai. Beberapa kali menabrak batang pohon. Kemudian berhenti di tanah yang datar.
“Rosa!”
-o0o-