Lintang Ayu Sasmita merasa terguncang saat dokter mengatakan bahwa kandungannya kering dan akan sulit memiliki anak. Kejadian sepuluh tahun silam kembali menghantui, menghukum dan menghakimi. Sampai hati retak, hancur tak berbentuk, dan bahkan berserak.
Lintang kembali didekap erat oleh keputusasaan. Luka lama yang dipendam, detik itu meledak ibarat gunung yang memuntahkan lavanya.
Mulut-mulut keji lagi-lagi mencaci. Hanya sang suami, Pandu Bimantara, yang setia menjadi pendengar tanpa tapi. Namun, Lintang justru memilih pergi. Sebingkai kisah indah ia semat rapi dalam bilik hati, sampai mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Pandu
"Pandu ... Lintang mana?"
Gurat sumringah di wajah Ningrum berangsur pudar saat mendapati kenyataan bahwa hanya menantunya yang datang. Tidak ada Lintang di samping Pandu. Apa mungkin putri bungsunya itu masih di luar menyapa teman, atau masih menyiapkan sesuatu, atau ....
"Lintang di rumah, nggak bisa ikut ke sini."
"Kenapa, Pandu? Apa Lintang masih marah sama Ibu? Apa dia nggak ingin tahu keadaan Ibu sekarang?" jawab Ningrum. Mata cekungnya berkaca-kaca, mungkin sebentar lagi menangis.
"Ibu sendiri ingin tahu tidak keadaan Lintang sekarang bagaimana?"
"Apa maksudmu, Pandu?"
Pandu tersenyum miring. "Depresinya Lintang kambuh lagi. Sekarang dia hanya diam dengan tatapan kosong. Psikiater harus bolak-balik memeriksanya, tiga kali dalam sehari semalam. Dan Ibu tahu apa yang membuat dia seperti itu? Ibu dan anak-anak kesayangan Ibu. Kalian telah sukses membunuh mental Lintang. Apa kalian puas? Terutama Ibu. Apa Ibu sangat puas sekarang? Ibu tidak hanya sukses menghancurkan fisik Lintang dengan membuat kandungannya kering, tetapi juga sukses membunuh kejiwaan Lintang sampai dia tak tahu lagi bahagia itu seperti apa."
"Nggak! Nggak mungkin Lintang seperti itu sekarang! Dia pasti baik-baik saja. Pandu, kamu hanya menakuti Ibu, kan?" Ningrum menatap Pandu sambil menggeleng-geleng, tak ingin percaya dengan apa yang dikatakan Pandu barusan.
Namun, lelaki yang menjadi menantunya itu hanya tertawa meremehkan.
"Aku tidak heran kalau Ibu tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Karena selama ini, mana pernah Ibu memikirkan Lintang. Sakitnya dia, kecewanya dia, sama sekali tidak penting di mata Ibu. Makanya enak-enak saja menghujat dan menghakimi Lintang dalam setiap kesempatan. Seolah-olah mencaci maki Lintang itu adalah kebutuhan wajib yang harus terpenuhi. Ahh, bukan Ibu saja, melainkan juga Mas Albi dan Mbak Tari. Mungkin mereka akan kelaparan ya, Bu, kalau nggak mencari masalah dengan Lintang. Makanya hobi banget memfitnah Lintang ini itu, dan Ibu ... dengan bangga menelan mentah-mentah fitnahan itu. Dengan perbuatan Ibu yang seperti itu, memang apa yang Ibu harapkan? Lintang tetap baik-baik saja? Kalau dulu yang Ibu lahirkan robot, mungkin bisa. Sayangnya Lintang hanya manusia biasa yang punya hati dan pikiran, Bu."
Air mata Ningrum berderai mengiringi kata demi kata yang keluar dari bibir Pandu. Wanita yang biasa angkuh itu kini mulai merenung dan memikirkan semua sikapnya selama ini, yang tanpa sadar membuat anaknya rapuh dan depresi.
"Aku dengar dari Mas Benny, katanya Ibu juga pengin ketemu Mas Albi dan Mbak Tari ya? Sembuh dulu, Bu, biar bisa lepas dari infus. Terus nanti bisa ke kantor polisi. Karena mereka berdua nggak akan kembali, mereka akan mendekam di penjara."
Ningrum menganga sambil menggeleng-geleng. Walau tak ada kata yang terucap, tetapi jelas ... hatinya menyiratkan penolakan. Memang ibu mana yang mau melihat anak-anaknya di penjara?
"Aku sudah menyewa pengacara besar, dan Mbak Rayana juga siap menjadi saksi. Kami berdua akan menuntut Mas Albi dan Mbak Tari seberat-beratnya. Hukuman mati kalau perlu, Bu."
"Nggak, Pandu! Nggak! Kamu jangan melakukan itu, Pandu! Ibu mengaku salah. Atas nama mbak dan masmu Ibu minta maaf, Pandu. Ibu akan bersujud di kakimu jika itu bisa melunakkan hatimu, Pandu!"
"Tidak, Bu. Percuma. Ibu bersujud tidak akan membuat keadaan Lintang semakin baik. Kecuali Ibu bisa mengembalikan waktu dan memperbaiki masa lalu Lintang, masalah ini tidak akan terjadi."
"Itu mustahil, Pandu. Ibu—"
"Iya. Memang mustahil, Bu, seperti aku yang juga mustahil melunakkan hati. Hukuman untuk Mas Albi dan Mbak Tari akan tetap kukejar. Mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal," pungkas Pandu.
Ningrum tak bisa berkata-kata lagi. Selain sesal yang kian mengimpit dada dan membuatnya sesak, kepala juga mendadak sakit. Keringat dingin kembali membasahi kening dan pelipis. Napas pun ikut tersengal-sengal dengan tiba-tiba.
Melihat kondisi mertuanya yang memburuk, Pandu lekas memanggil dokter. Alasannya bukan khawatir, melainkan takut jika Ningrum meninggal lebih cepat. Pandu tidak rela. Mertunya itu harus melihat dulu Albi dan Utari dijatuhi hukuman berat, agar dia juga merasakan beban mental seperti Lintang.
Setelah dokter datang, Pandu keluar, lantas bertemu Benny di depan pintu.
"Apa yang terjadi dengan Ibu? Kenapa dokter datang dengan langkah cepat?"
"Sesak." Pandu menjawab singkat.
"Kenapa?"
Pandu hanya mengedikkan bahu.
"Kamu nggak ngomong apa-apa, kan?"
"Ngomong apa memangnya?"
"Ya kali aja kamu bahas Mas Albi dan Utari."
Pandu tersenyum miring. "Ibu nanya, jadi kujawab. Kujelaskan pada Ibu kalau aku akan menuntut mereka seberat-beratnya."
"Kamu gila, Pandu! Kondisi Ibu lagi buruk kayak gitu, kamu malah bahas akar permasalahannya. Kamu tahu nggak, gara-gara melihat Mas Albi dan Utari ditangkap polisi Ibu jadi drop. Kamu egois ya, nggak mikirin keadaan Ibu!"
Dengan cepat Pandu mencengkeram kerah kemeja Benny. Sangat kuat. Lantas, ia mendorong tubuh Benny hingga membentur pilar rumah sakit.
"Kamu nyuruh aku mikirin Ibu? Selama ini Ibu atau kalian ada yang mikirin Lintang, nggak? Kamu tahu gimana keadaan Lintang sekarang? Jauh lebih buruk dari Ibu. Mentalnya hancur gara-gara kalian!" bentak Pandu disertai kilatan amarah di matanya.
Benny tak bisa menjawab. Cengkeraman Pandu membuatnya tercekik dan tak bisa mengeluarkan suara, untuk bernapas saja tersendat-sendat.
"Mas Albi dan Mbak Tari yang membuat Lintang dilecehkan, dan Ibu yang memaksanya untuk abor-si. Gara-gara kalian, kandungan Lintang kering dan nggak bisa punya anak. Tapi, dengan tidak tahu malunya, kalian menghujat Lintant dan menyebutnya mandul. Di mana hati nurani kalian, hah? Sekarang saat mereka akan dipenjara, aku kalian paksa untuk melunakkan hati? Heh, maaf, aku bukan malaikat. Aku nggak bisa sesabar itu." Napas Pandu memburu, dadanya sampai ikut naik turun.
Benny masih tak bersuara. Hanya tangannya yang terus berusaha melepaskan cengkeraman Pandu.
"Dengar baik-baik ya, aku nggak akan menyerah! Aku akan menuntut hukuman untuk kakak dan istrimu, seberat-beratnya. Jika hukum nggak bisa melakukan itu ... tangaku sendiri yang akan melakukannya."
Pandu menyeringai, tepat di depan wajah Benny. Lelaki itu sampai bergidik ngeri karena sebelumnya tak pernah melihat Pandu seperti itu.
Belum sempat Benny memikirkan jauh ucapan Pandu, kepalan tangan itu sudah mendarat di sudut bibirnya. Sangat keras. Meninggalkan sakit, panas, perih yang bercampur menjadi satu. Bahkan, saking kerasnya pukulan itu, tubuh Benny sampai terhuyung dan nyaris jatuh.
Baru saja Benny berhasil menyeimbangkan tubuh, Pandu sudah hengkang dari hadapannya. Meninggalkan Benny mematung dalam perasaan yang tak karuan.
Bersambung...
Takut nya kamu tidak bisa menanggapi ucapan 2 dari mereka Beny dan ibu mu
Duh Pandu di pecat
Akan berdampak nggak ya ke Lintang , kalau Lintang tahu Pandu di pecat
lanjut thor
Kalau memang lintang anak hasil selingkuh,yg patut disalahkan adalah orang yg berselingkuh itu.
Emang dia bisa memilih dan memaksa terlahir dr perut siapa?
Sungguh2 bodoh,atw malah mereka berdua ini sakit jiwa kurasa sehingga bisa dg mudah tanpa rasa bersalah berbuat kejam dan sadis
kpd saudara mereka sendiri.
Sekarangpun sdh disidang dan mendengar kondisi lintan yg dpresi parah,tidak ada sedikitpun rasa bersalah atw menyesal dihati mereka.
depresi berat
lanjut thor 🙏💪😘