Menjadi seorang indigo, bukanlah hal yang di inginkan oleh gadis cantik bernama Lilis Yuliani karena setiap hari ia harus bersinggungan dengan hal yang gaib dan ia tidak bisa menolaknya.
Sosok-sosok itu selalu mengikuti untuk meminta pertolongan ataupun hanya sekedar mengganggu pada Lilis sampai suatu hari ketika ia sedang berjualan bakso bertemu dengan arwah pria tampan namun menyebalkan.
Siapakah arwah itu?????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Oktana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hancurnya Hati Seorang Ayah.....
Pagi harinya Azkara terbangun dari tidurnya. Bocah 4 tahun itu merasakan nyaman sekali tidur di kamar Bahar walaupun Lilis sendiri tidak nyaman dengan bau minyak angin di dalam kamar sang bapak.
"Ujang sudah bangun?" Bahar melihat bocah itu keluar dari kamarnya.
"Sudah!" jawab Azkara dengan suara khas bangun tidur.
"Hayu cuci muka dulu, Aki sudah beli bubur sumsum untuk sarapan" ucap Bahar.
Azkara langsung menuruti begitu saja ucapan Bahar. Ia berlari ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Bahar merasa senang ada anak kecil di rumahnya, mungkin karena Bahar sudah ingin mempunyai cucu jadi menganggap Azkara itu cucunya.
"Aki, sudah" ucap Azkara.
Bahar melihat wajah Azkara yang penuh dengan air, ia pun tersenyum dan segera melangkah ke dalam kamarnya mengambil handuk untuk mengelap wajah Azkara.
Sesudah itu Bahar menyuruh Azkara duduk di kursi kayu lalu menyodorkan sepiring bubur sumsum untuknya.
"Makanlah ini dulu, Teh Lilis belum masak!! Subuh tadi Aki juga ke pasar belum buat makanan apa-apa" ucap Bahar.
Azkara menurut begitu saja lalu ia pun menyuapkan satu sendok demi sendok bubur sumsum itu ke mulutnya.
'Enak bubur sumsumnya?" tanya Bahar.
"Enak Aki" jawab Azkara dengan polosnya membuat Bahar gemas.
Tak lama Lilis juga keluar dari kamarnya sudah dengan pakaian yang rapi.
"Loh mau ke mana Lis sudah rapi begitu?" tanya Bahar.
"Hari ini akan ada penyelidikan kepolisian tentang kematian Mbak Mayang, mamanya Azkara. Aku nitip Azkara ya pak?" balas Lilis.
"Iya Lis tenang saja, Azkara akan Bapak jagain" ujar Bahar.
Tak lama klakson mobil terdengar di halaman kontrakan Lilis. Lilis sudah tahu siapa yang akan menjemputnya.
Belum keluar kontrakan, Lilis me dengar orang itu sudah mengetuk pintu terlebih dahulu.
Terlihat Adrian sudah tampil dengan.pakaian casual membuat ketampanannya melejit 50%.
"Ayo, sudah siap?" tanya Adrian.
"Ayo dok, sudah siap" jawab Lilis.
Orang yang menjemput Lilis adalah dokter Adrian, tentunya ia tidak mau keduluan oleh Bara karena Bara juga sempat mengajak Lilis ke tempat kejadian berdua namun kali ini yang beruntung adalah dokter Adrian.
Keduanya lalu pergi ke TKP alias rumah Mayang...
Sesampainya disana, ia melihat garis polisi sudah melintang mengelilingi rumah Mayang. Wartawan juga sudah banyak yang berkumpul untuk meliput berita mengejutkan ini.
Berbarengan dengan itu Mr Olga juga sudah sampai di depan rumah Mayang. Kening keriputnya mengernyit kala melihat banyaknya orang dan garis polisi melintang di depan rumah sang putri.
"Aku tidak salah ini rumah Mayang, walaupun aku tua tapi aku tidak pikun" ucap Mr Olga.
Rumah itu Ia berikan kepada Mayang atas hadiah pernikahannya dengan Pandu. Mr Olga adalah pengusaha lintas negara, ia menikah dengan wanita asal Indonesia namun bercerai ketika Mayang berumur 15 tahun. Mayang ikut dengan ibunya sementara Mr Olga pulang ke negaranya di Rusia namun masa tuanya ia habiskan di New York.
Walaupun kedua orang tuanya sudah berpisah lama Mayang tetap menjalin komunikasi dengan sang papi dan Mr Olga pun tidak pernah melupakan sang putri bahkan ketika Mayang kuliah S1 sampai S3 di Amerika, Mayang satu rumah dengan Mr Olga. Namun ketika Mayang menemukan cinta sejatinya ia baru pulang ke Indonesia dan menikah meninggalkan Mr Olga di luar negeri.
"Vladimir, ayo kita turun" seru Mr Olga.
Kedua pria berbeda generasi itu turun dari mobilnya berjalan mendekati kerumunan polisi.
"Maaf, kenapa anda semua berkerumun di depan rumah putri saya?" tanya Mr Olga kepada polisi dan orang-orang di sana.
"Maaf anda siapa? Apakah anda keluarga dari Ibu Mayang?" tanya salah satu polisi yang kebetulan itu adalah Sigit Fahrurozi, Omnya Adrian.
"Saya adalah Ayah dari pemilik rumah ini!! Saya sudah lama di luar negeri dan sekarang saya ingin menjenguk anak dan cucu saya" jawab Mr Olga.
Para polisi itu langsung saling pandang seakan paham situasi yang terjadi.
"Ayo Tuan mari ikut saya sebentar"ajak Sigit kepada Mr Olga.
Kini keduanya duduk di kursi depan rumah Mayang. Tiba-tiba riuh kecemasan menyelimuti hati pria tua itu.
"Cepat katakan Pak, apa yang sebenarnya terjadi kenapa ramai sekali di rumah putri saya?" tanya Mr Olga.
"Maaf tuan sebelumnya saya memberitahukan kepada anda bahwa Putri anda yang bernama Ibu Mayang sudah meninggal 2 tahun yang lalu" ungkap Sigit.
Seketika wajah Mr Olga langsung pucat pasi.
"Maksudnya bagaimana ini? Menantu saya selalu bilang bahwa istrinya baik-baik saja tapi kenapa anda bicara bahwa anak saya sudah meninggal" Mr Olga semakin berapi-api dalam berbicara.
"Tolong Tuan dengarkan dulu penjelasan kami, saudara Pandu telah terbukti membunuh Ibu Mayang 2 tahun yang lalu kasusnya baru terbongkar sekarang" ungkap Sigit.
Deg!!!!!
Hati hati seorang ayah mana yang tidak terkejut mendengar jika putri semata wayangnya yang ia sangat cintai dan kasihi sudah tidak ada di dunia ini meninggal dengan cara yang tragis dibunuh oleh orang yang sangat dicintainya.
"Jadi Mayang sudah tiada dan yang melakukan itu adalah Pandu suaminya?" Mister Olga memastikan.
"Benar sekali Tuan, seseorang telah mengungkap kejahatan saudara Pandu dengan istri mudanya yang sudah membunuh ibu Mayang 2 tahun yang lalu dan keduanya juga sudah mengakui perbuatannya. Sementara ini kedua tersangka masih berada di kantor polisi, siang nanti kami akan hadirkan untuk olah TKP" Papar Sigit.
"Arghhhhh. Mayang anakku...Arghhhhhhhhh" pria tua itu langsung menangis meratapi nasib sang putri.
Niat hati ingin memberikan kejutan kedatangannya kepada Mayang malah Ia yang diberi kejutan oleh fakta yang menyakitkan.
"Maafkan Papi, Nak maafkan Papi. Papi tidak tahu kau melewati hidup yang menyedihkan. Maafkan Papi" Mister Olga Menangis dan langsung dipapah oleh asisten pribadinya.
Lalu polisi membawa Mr Olga untuk melihat pembongkaran septic tank yang terdapat jenazah Mayang disana.
"Tuan, apakah anda kuat melihat nya?" tanya Vladimir.
"Seorang ayah harus kuat untuk putrinya" jawab Mr Olga.
Pria tua yang ringkih itu kini sudah berdiri si depan septic tank dan pihak polisi sedang mengebor coran itu.
"Hukhukhuk.. Mayang, jika tahu begini akhirnya aku tidak akan sudi menikahkanmu dengan bajingan itu. Maafkan Papi, Nak maafkan" ucapnya sembari tersedu-sedu.
Coran sudah terbuka, disana di perlihatkan dengan sesuatu yang menggumpal.
"Angkat jenazahnya" perintah Sigit.
Dengan sigap sesuatu yang masih terbalut seprai warna ungu itu di angkat.
Mr Olga melihat itu sangat sakit hati, jiwanya seakan lebur. Cintanya hancur seiring melihat sesuatu yang ada di balik kain seprai itu.
"Buka kainnya" perintah Sigit.
Polisi langsung membuka seprai itu dan benar saja ada jenazah yang sudah menjadi tulang belulang ada di dalamnya.
"Mayang...Arghhhh...Mayang...." Mr Olga berlari lalu mengambil tempurung kepala yang sudah menjadi tengkorak.
"Tuan sudah tuan, biarkan polisi yang mengurusnya" ucap Vladimir membantu agar Mr Olga berdiri.
Jenazah Mayang langsung di masukan kedalam kantung jenazah, dan langsung di bawa ke rumah sakit guna menyelidikan autopsi.
Mr Olga seperti orang linglung, menatap rumah Mayang yang sunyi. Tanpa ia sadari bahwa sedari tadi arwah Mayang menangis dan mengikuti dirinya.
"Papi, maafkan saya Pi..hikhikhik" ucap Mayang.
Lilis dan Bara yang menyaksikan bagaimana terpuruknya Mr Olga mencoba mendekatinya.
"Maaf tuan, saya ingin memberitahukan bahwa anak Mbak Mayang saat ini ada di rumah saya" ucap Lilis.
"Kamu siapa? Kenapa bisa kenal dengan Mayang?" tanya Mr Olga.
"Tuan tidak usah tahu siapa saya, saya hanya orang biasa. Azkara ada di rumah saya, dia baik-baik saja, nanti semuanya saya ceritakan" balas Lilis.
Mr Olga percaya pada gadis di hadapannya.
"Titip dulu cucu saya, setelah masalah ini selesai, saya akan menjemputnya" ucap Mr Olga.
"Tuan tidak usah khawatir, Azkara aman di tangan saya" balas Lilis.
Semangat upnya Thor👍
lanjut thor makin seru!!