NovelToon NovelToon
Pak Dimas (Guru Gen Z Ganteng)

Pak Dimas (Guru Gen Z Ganteng)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Kukuh Basunanda

Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Bahagia Dari Diana

Sang Fajar menyapa sebelum adzan subuh menggema. Keluar dari toilet rumahnya, Diana tersenyum bahagia. Tangannya menggenggam hasil testpack yang menunjukan garis dua. Ia berjalan cepat menuju kamarnya. Hafidz yang masih tertidur lelap terbangun mendengar jeritan kegirangan dari Diana.

"Ya Allah, Terimakasih" suara kegirangan Diana.

Sambil mengucek-ucek matanya, Hafidz terbangun lalu menatap layar handphone nya yang masih menunjukan pukul 04.00 WIB.

"Kamu kenapa sih beb ? subuh-subuh udah kegirangan gitu ?" tanya Hafidz kepada istrinya.

"Kak Hafidz mau tau banget atau mau tau aja ?" bisik ceria Diana di telinga sang suami.

"Pengin tau banget lah" kata Hafidz.

"Tapi janji yah kalau aku ceritain, kak Hafidz gak boleh kaget" ujarnya.

"Iyah, apaan sih ? aku jadi kepo beb"

"Taaaraaaaa" ujar Diana sembari menunjukan hasil testpack nya.

"Masya Allah, kamu hamil beb ?" tanya hafidz begitu sumringah.

"Iya ayang beb, bentar lagi kamu mau jadi ayah" ucap Diana dengan suara manjanya.

Hafidz segera memeluk erat istrinya lalu mengecup mesra keningnya.

"Ya Allah, Alhamdulillah, akhirnya bentar lagi kita mau jadi orang tua" suara Hafidz sembari memandang wajah istrinya.

"Mulai sekarang kamu gak boleh capek-capek ya beb, kamu harus jaga kandungan anak kita dengan baik yah !" pinta Hafidz kepada sang istri.

"Iyah ayang beb" respon Diana sembari menyandarkan kepala ke bahu hafidz.

Memasuki usia kandungan 5 Minggu, Diana sering menginginkan sesuatu yang aneh sehingga seringkali merepotkan suaminya. Layaknya wanita hamil pada umumnya yang tak lepas dari rasa ngidam.

Di Tengah malam, tiba-tiba saja, Diana ingin makan rujak uleg yang tidak terlalu pedas.

"Ayang beb, aku pengin makan rujak uleg tapi yang gak terlalu pedes yah, beliin dong !" rengek Diana ke suaminya dengan suara manja.

"Hah, mana ada orang jualan rujak tengah malam begini beb, besok lagi yah ?" tawar Hafidz.

"Emm..gak mau, aku maunya sekarang, harus sekarang, nanti kalau gak di turuti, dede bayinya ngiler nih" seru Diana dengan nada memelas.

"Yah tapi kan sekarang udah jam 12 malam, mana ada yang jualan rujak tengah malam begini beb" kata Hafidz kembali.

"Pokoknya aku maunya sekarang" rengek Diana.

"Iyah Iyah Iyah beb, nanti aku carikan sekarang, sabar yah ! " ujar Hafidz.

Tengah malam, Hafidz mencari penjual rujak menggunakan motornya. Usai hampir putus asa, ia akhirnya searching di google. Matanya tertuju ke tulisan "Rujak Yu Darwati" yang hanya berjarak 2 KM dari rumahnya.

Bergegas Hafidz menuju kesana namun warung rujak Yu Darwati sudah tutup. Mau tidak mau, dengan terpaksa, ia mengetok pintu warung itu tengah malam.

"Tok..tok..tok..Assalamualaikum" ucap Hafidz.

Tidak ada satu orang pun yang menyahut salamnya lalu hafidz mengulangi kembali mengetok pintu.

Tok..tok..tok..Assalamualaikum"

Tetap tidak ada satupun orang yang membukakan pintu warung itu. Hafidz berbalik badan menuju motornya, baru beberapa langkah, seorang wanita paruh baya keluar dari warung itu

"Iya, walaikum sallam, maaf, anda siapa ? dan ada apa ya mas ?", tanya wanita itu.

"Sebelumnya saya minta maaf sekali bu ganggu waktu istrahat ibu, saya Hafidz, saya mau beli rujak uleg Bu" respon Hafidz.

"Beli rujak kok tengah malam begini, ya gak ada lah mas" ujar wanita yang bernama yu Darwati.

"Iya bu, saya juga tau tapi istri saya lagi ngidam pengin banget makan rujak uleg yang gak terlalu pedas, makanya terpaksa mengetok pintu warung ibu" ucap Hafidz.

"Oh istrinya lagi ngidam ya mas, kalau istri lagi ngidam memang harus di turuti mas, kasihan nanti dede bayinya ngiler"

"Sebentar saya siapkan bahan-bahannya dulu, nanti saya bikin kan mas" sahut yu Darwati.

"Ya Allah, makasih banyak bu" ucap Hafidz.

"Tapi maaf ya mas karna ini sudah larut malam harganya  dua kali lipat gak papa kan ?" Terang yu Darwati.

"Siap gak papa bu"

30 menit kemudian, yu Darwati keluar membawa pesanan Hafidz.

"Ini rujak ulegnya mas, sesuai pesanan gak terlalu pedes" ujar yu Darwati sembari menyerahkan kantong kresek hitam berisi pesanan rujak Hafidz.

"Alhamdulillah, terimakasih banyak bu" ucap Hafidz.

"Oh ya jadi berapa bu ?" tanya Hafidz.

"30 ribu mas"

"Ini uangnya ya bu, kembaliannya buat ibu" ujar Hafidz.

"Wah, terimakasih banyak mas" sahut yu Darwati.

"Sama-sama bu, saya yang semestinya berterimakasih"

Hafidz kembali menuju rumahnya dengan perasaan gembira bisa mendapatkan rujak uleg yang di inginkan sang istri namun di tengah perjalanan dua orang membawa senjata tajam mengikutinya menggunakan motor. Hafidz yang menyadari dua orang tersebut adalah pembegal, ia mempercepat laju motornya. Pembegal itu berhasil menyalip Hafidz lalu menghadangkannya. Benturan motor Hafidz dan dan sang pembegal tak terelakkan sehingga ketiganya terpental dari motor mereka.

"Bruuggg"

Hafidz bergegas bangun lalu segera mengambil kunci di motornya. Dua pembegal itu langsung bangun dan menodongkan senjata tajam ke Hafidz.

"Bawa sini kuncinya !" seru pembegal itu.

"Mana handphone sama dompet mu ?" tanya pembegal dengan nada keras.

Hafidz terdiam sejenak sambil mengangkat tangan seolah sedang menyerahkan diri namun berlahan ia langsung merebut senjata tajam dari tangan pembegal. Duel sengit satu lawan dua orang akhirnya terjadi. Hafidz dengan liar menyabet sebilah parang besar ke arah pembagal hingga salah satu dari pembegal itu terluka di bagian bahu.

Salah seorang begal melayangkan tendangan keras ke perut Hafidz yang membuatnya terjauh.

"Aaaghhh, sakit banget" ujar Hafidz.

Hafidz yang masih menggenggam sebilah parang besar bersicepat bangun lalu menyabetkan senjata tajam itu ke arah pembegal satunya.

Si pembegal menangkis dengan tangannya hingga darah mengucur deras. Di saat itu, Hafidz dengan sigap memberikan tendangan balasan ke dada pembegal.

"Druugggg"

Pembagal itu jatuh tersungkur menahan rasa sakit.

Momen jatuhnya para pembegal itu di manfaatkan Hafidz untuk kabur menggunakan motornya.

"Kurangajar, dia berhasil kabur" ujar salah satu pembegal.

"Duuuh, son.. son.. gagal maning , gagal maning " ucap pembegal satunya.

Sampai di rumahnya, Hafidz masih menahan rasa sakit di perutnya. Ia segera masuk ke kamarnya namun justru mendapati istrinya sedang tertidur lelap. Ia tidak sampai hati membangunkan sang istri dari tidurnya.

Rujak uleg yang mendapatkannya dengan penuh perjuangan bahkan nyaris merengut nyawa Hafidz di biarkan saja mendingin di atas meja. Hafidz pun ikut tertidur nyenyak.

Suara Adzan subuh mulai menggema, Diana terbangun dari tidurnya. Ia mendekati sang suami lalu berbisik di telinganya.

"Ayang beb, udah adzan subuh yank, yuk sholat berjamaah yuk !" ucap lirih Diana di telinga Hafidz.

"Aku masih ngantuk banget nih beb" sahut Hafidz.

"Oh ya beb, aku udah gak pengin makan rujak uleg, semalam kamu jadi beli gak ?"

Seketika Hafidz langsung terbangun sambil memegang perutnya yang masih sakit.

"Haaaah, jadi kamu gak makan rujaknya ?" tanya Hafidz merasa tercengang.

"Iya gak jadi beb, dede bayinya udah gak pengin" respon Diana.

"Waduh, tau gitu semalam gak tak belikan" ujar hafidz sedikit merasa kesal.

"Maaf ya beb, udah ngrepotin kamu semalam"

"Beb perut kamu kenapa ? Kok di pegangin terus, sakit yah ?" tanya Diana.

"Gak papa kok, semalam cuma kebentur stang motor aja"

"Mau periksa ke dokter ?" tanya Diana kembali.

"Gak usah, aku gak papa kok beb" jawab Hafidz.

"Yakin nih beb ?" tanya Diana.

"Iya beb" respon Hafidz menganggukan kepala.

Hafidz memilih tidak menceritakan kejadian yang ia alami semalam kepada istrinya. Ia takut cerita itu akan mengganggu pikiran Diana. Begitu lah perjuangan seorang suami, ia rela melakukan apapun bahkan terkadang nyawa jadi taruhannya demi sang istri tercinta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!