Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pantai Dan Kisah Hidup Aira
Tikar dibentang, tas dilempar, sandal entah ke mana. Angin laut bikin rambut semua orang gagal rapi.
“Akhirnya menghirup udara bebas,” Bambang mengangkat tangan dramatis.
“Kalau aku pingsan, jangan bangunin. Ini momen healing.”
“Lebay,” Naya menimpali. “Kamu cuma keringetan.”
Yoan menyalakan panggangan. “Siapa yang lulus ujian tapi nilai mentalnya turun?”
“Aku,” jawab Bambang tanpa dosa.
Damar berdiri dekat air. Aira datang menyusul, lalu Damar memeluk dari samping.
“Eh!” Aira refleks menutup dadanya. “Dam! Aku pakai baju renang!”
Damar menoleh polos. “Terus?”
“Jangan peluk aku kayak gitu!”
Damar mengernyit, mikir serius. “Oh… soal ini?”
“IYA!”
“Tenang. Pas aku peluk juga nggak terasa apa-apa.”
Aira melotot. “Maksud kamu apa?!”
“Lurus,” Damar menunjuk dadanya sendiri.
“Kayak anak SD.”
“AAAAAA!”
Aira langsung ngejar.
“DAMAR BALIK SINI!”
Damar kabur muter-muter sambil ketawa.
“Nggak ada yang perlu di tutupin,”
"DIAM,"
"Nggak ada apa-apa soalnya"
Yoan lompat. “WOI WOI! JANGAN LEWAT SINI!”
Dinan ngakak sambil rekam. “Konten! Konten!”
Bambang teriak, “INI YANG NAMANYA KEJUJURAN TANPA EMPATI!”
Aira hampir nyentuh kaus Damar.
“MAAF!” teriak Damar sambil lari. “Aku nggak bisa bohong?!”
“ITU BUKAN POINNYA!”
Akhirnya Damar berhenti, ngos-ngosan.
Aira juga.
“Kamu tuh… nggak punya perasaan” Aira menunjuknya.
Damar nyengir. “Aku punya perasaan sama kamu.”
Yoan bertepuk tangan. “Fix. Ini pasangan paling ribut se-angkatan.”
Dinan menambahkan, “Dan paling jujur sampai menyakiti.”
Mereka balik duduk, Aira duduk agak menjauh.
Damar nyenggol pelan. “Masih marah?”
“Masih” "Maaf sayang"
Semua bersorak Riuh
Cie... Sayang..
Percakapan beralih.
“Jadi kita naik kelas tiga,” kata Naya.
“Sedangkan kalian ...”
“Langsung kuliah,” sambung Yoan.
“Masuk dunia nyata lebih cepat.”
Dinan menatap laut. “Masih nggak nyangka dulu kita sering bolos kekantin," Dinan menatap Yoan.
"Kecuali dia," Tangan Yoan menujuk Damar.
“Dan di kelas E bikin Bu Silvy hampir pensiun,” Bambang mengangguk haru.
"Gara-gara nilai kita yang selalu sekarat," Sahut Naya.
Merekan tertawa serentak.
Yoan melirik Damar. “Kamu ingat nggak dulu bilang kelas E nggak ada harapan?”
Damar mendesah. “Tolong jangan bahas itu.”
Aira menyeringai. “Tuh kan.”
Yoan terkekeh. “Sekarang malah pacaran sama anak kelas E rengking terakhir pula,”
"Udah nggak yaa, Naik jadi 49,"
“Bercanda Ra ...” Damar cepat-cepat bilang.
"Dan berkat kalian, kita naik peringkat," Kata Bambang tampak terharu.
Naya dan Bambang melirik Dinan dan Yoan.
"Terimakasih Yoan, Dinan," Ucap Naya tulus.
"Itu karena di paksa Damar," Dinan nyeletuk sambil menatap Damar.
"Oh jadi kalian kepaksa," Kata Naya dengan nada bercanda.
"Awalnya," Yoan membenarkan.
"Lumayan lah melatih mental dan kesabaran" Kata Dinan Sambil menarik napas dalam dalam.
Pantai itu penuh tawa, penuh ejekan, dan penuh momen kecil yang nantinya akan mereka rindukan.
Pulang dari pantai, Aira meminta Izin mengantarnya sebentar ke suatu tempat.
Aira turun di jalan kecil dekat pemakaman.
Naya, Bambang, Yoan, Dinan, dan Damar saling pandang, lalu ikut turun tanpa banyak tanya.
Damar berjalan persisi di belakang Aira.
Tangannya masuk ke saku, langkahnya pelan. Ia tahu tempat ini bukan untuk bercanda.
Makam itu sederhana, nisan putih dengan nama Arya terukir rapi.
Aira jongkok pelan, menyapu daun kering yang menempel. Jemarinya gemetar sedikit, tapi wajahnya tenang.
“Kakak ini teman-teman ku, ” kata Aira pelan.
"Meraka baik sama aku,"
Damar berada tepat di belakang Aira, tatapannya tertuju pada nama di nisan.
Yang lain otomatis diam.
“Kak aku cerita sama mereka," lanjut Aira sambil tersenyum kecil.
“Kalau Kakak Kuliah di FK… UGM.” Naya menutup mulutnya.
"Mereka awalnya nggak percaya, Karena aku kelihatan bodoh,"
“Tapi Aku punya Pacar namanya Damar Pintar kaya Kakak dia bantuin aku belajar peringkat ku naik kak,”
Damar maju memeluk Aira.
"Hallo kak Arya Aku Damar, Aku berjanji akan menjaganya," Kata Damar berjongkok di samping Aira sambil menatap pusara itu.
Sedangkan teman-temanya menjaga jarak agak jauh di belakang.
Diperjalanan pulang Aira bercerita kepada teman-temannya.
"Aku anak yatim piatu,"
"Ayah ku meninggal tiga bulan setelah kak Arya,"
Mereka menunduk sebentar kemudian serius mendengarkan cerita Aira.
"Mamah ku Meninggal satu tahun kemudian,"
"Aira Maaf, Aku nggak tau kalau hidup kamu..." Naya tak meneruskan ucapannya dia sebetul ingin menangis namun berusaha menahanya.
"Kamu kelihatan ceria, dan selalu tersenyum, aku nggak tau kalau kamu menyimpan luka seeperti itu" Ucap Yoan.
"Kalau kamu butuh sesuatu atau cerita selama Damar nggak ada,jangan sungkan hubungi aku," Sambung Dinan.
Hari itu persahabatan mereka semakin erat, Aira beruntung bisa bertemu dengan mereka.