Hancurnya Dunia Aluna Aluna Seraphine, atau yang akrab dipanggil Luna, hanyalah seorang siswi SMA yang ingin hidup tenang. Namun, fisiknya yang dianggap "di bawah standar", rambut kusut, kacamata tebal, dan tubuh berisi, menjadikannya target empuk perundungan. Puncaknya adalah saat Luna memberanikan diri menyatakan cinta pada Reihan Dirgantara, sang kapten basket idola sekolah. Di depan ratusan siswa, Reihan membuang kado Luna ke tempat sampah dan tertawa sinis. "Sadar diri, Luna. Pacaran sama kamu itu aib buat reputasiku," ucapnya telak. Hari itu, Luna dipermalukan dengan siraman tepung dan air, sementara videonya viral dengan judul "Si Cupu yang Gak Tahu Diri." Luna hancur, dan ia bersumpah tidak akan pernah kembali menjadi orang yang sama.
Akankah Luna bisa membalaskan semua dendam itu? Nantikan keseruan Luna...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : PERJAMUAN TERAKHIR DI PURI VON HESS
Langit di atas Zurich berubah menjadi kelabu gelap saat helikopter Eurocopter hitam hasil bajakan Luna dan Xavier membelah awan tipis di atas Danau Zurich. Di bawah sana, kemewahan kota perbankan itu tampak tenang, namun di balik dinding-dinding batu purinya, konspirasi paling busuk di Eropa sedang mencapai puncaknya. Luna mencengkeram tuas kendali dengan sarung tangan kulit yang sudah robek di beberapa bagian. Matanya lurus menatap sebuah bangunan megah yang berdiri di puncak bukit, Puri Von Hess.
Puri itu bukan sekadar tempat tinggal; itu adalah benteng kuno yang telah menjadi pusat saraf kekuatan The Council selama berabad-abad. Malam ini, lampu-lampu kristal di aula utama puri tersebut menyala terang, menandakan bahwa pertemuan darurat tujuh kepala keluarga Seraphine sedang berlangsung.
"Kita punya waktu sepuluh menit sebelum sistem pertahanan udara puri menyadari kode akses helikopter ini sudah kadaluwarsa," suara Xavier terdengar melalui intercom, serak namun penuh fokus. Ia sedang berada di bagian belakang, mempersiapkan peralatan elektronik dan senjata sisa yang mereka miliki.
Luna menarik napas panjang. "Xavier, apakah kamu sudah berhasil menghubungkan sinyal satelit ke jaringan The Keepers?"
"Sudah, Luna. Kevin sudah bersiaga di stasiun bumi. Begitu kita mendarat dan aku mengaktifkan pemancar utama di punggungku, rekaman pembunuhan ibumu akan disiarkan ke setiap layar digital di gedung ini, di bursa saham Zurich, hingga ke papan iklan di Times Square. Dunia akan melihat apa yang Sophia dan Madam Celine lakukan sepuluh tahun lalu."
Luna menatap pantulan wajahnya di kaca kokpit. Wajah yang dulu penuh ketakutan kini tampak seperti pahatan batu es. "Mereka pikir mereka bisa mengubur kebenaran di bawah salju Alpen. Malam ini, salju itu akan mencair oleh api yang mereka nyalakan sendiri."
Helikopter itu menukik tajam. Sistem peringatan di dasbor mulai berbunyi bip dengan frekuensi cepat—tanda bahwa radar puri telah mengunci mereka.
"Pegangan, Luna! Manuver ekstrem!" teriak Xavier.
Luna membanting tuas ke samping, menghindari tembakan peringatan dari menara penjaga. Helikopter itu meluncur rendah di atas hutan pinus, hanya beberapa meter dari pucuk pepohonan, sebelum akhirnya melesat menuju halaman luas di tengah Puri Von Hess. Luna tidak mendarat dengan lembut; ia menjatuhkan helikopter itu dengan pengereman udara yang kasar tepat di depan pintu masuk utama, menciptakan kepulan debu salju yang membutakan mata para penjaga.
Begitu roda helikopter menyentuh tanah, pintu samping terbuka lebar. Xavier melompat keluar lebih dulu, melepaskan rentetan tembakan presisi dari senapan mesin ringannya ke arah kamera pengawas dan sensor otomatis di gerbang utama. Gerakannya sangat efisien, sebuah tarian kematian yang telah ia pelajari selama bertahun-tahun sebagai agen elit.
Luna melangkah keluar dari kokpit. Ia mengenakan mantel hitam panjang yang menutupi gaun hitam di baliknya pakaian yang ia pilih secara sengaja sebagai lambang duka sekaligus penghakiman. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet militer yang terhubung langsung dengan hard drive titanium milik ibunya.
"Nona, tetap di belakangku!" perintah Xavier saat mereka merangsek masuk ke dalam lobi puri yang megah.
Para penjaga puri, yang biasanya hanya menghadapi ancaman diplomatik, tampak tidak siap menghadapi serangan frontal yang seberani ini. Kebingungan mereka menjadi keuntungan bagi Xavier. Ia melumpuhkan dua penjaga di pintu masuk dengan teknik pertarungan jarak dekat, membuat mereka jatuh tanpa sempat menarik pelatuk.
"Kita menuju aula lantai tiga," ucap Luna, suaranya dingin dan stabil. "Sophia ada di sana bersama Madam Celine."
Saat mereka menaiki tangga marmer yang melingkar, alarm di seluruh puri mulai meraung. Suara langkah kaki sepatu bot militer terdengar menggema dari koridor atas. The Council mulai mengerahkan unit elit mereka.
"Luna, ambil ini!" Xavier melemparkan sebuah granat kejut ke arah koridor depan.
BLAAARRR!
Cahaya putih menyilaukan dan suara frekuensi tinggi melumpuhkan unit elit yang baru saja muncul. Luna berlari melewati mereka tanpa ragu. Ia bisa merasakan adrenalin yang memompa setiap sel tubuhnya. Rasa sakit dari luka-lukanya di gunung kemarin seolah lenyap, digantikan oleh hasrat akan keadilan yang membara.
Mereka sampai di depan pintu ganda kayu ek raksasa yang dihiasi ukiran emas—pintu masuk menuju Aula Perjamuan Terakhir. Xavier berdiri di sisi pintu, memeriksa sisa peluru di senjatanya.
"Begitu pintu ini terbuka, tidak ada jalan kembali, Luna," bisik Xavier. Ia menatap Luna, dan untuk sesaat, ada kekhawatiran yang tulus di matanya. "Apapun yang terjadi di dalam, jangan berhenti bicara. Biarkan dunia mendengar suaramu melalui pemancar ini."
Luna mengangguk. Ia meletakkan tangannya di atas gagang pintu emas itu. "Aku sudah berhenti berlari sepuluh tahun lalu, Xavier. Malam ini, aku pulang untuk menagih hutang."
Dengan satu dorongan kuat, pintu ek raksasa itu terbuka lebar. Suasana di dalam aula mendadak hening. Tujuh kepala keluarga paling berpengaruh di Eropa, yang sedang duduk mengelilingi meja perjamuan panjang berisi makanan mewah, menoleh serentak.
Di ujung meja, duduk Grand Dame Sophia dengan gaun perak yang sangat kaku, dan di sampingnya adalah Madam Celine, yang tampak terkejut namun tetap berusaha mempertahankan wajah angkuhnya.
"Aluna?" suara Madam Celine bergetar, separuh tidak percaya melihat cucunya berdiri di sana dengan wajah penuh jelaga dan mata yang tajam.
"Selamat malam, Nenek. Selamat malam, Sophia," ucap Luna, melangkah masuk ke dalam aula dengan langkah yang bergema di lantai marmer. Xavier berdiri di belakangnya, senjatanya teracung waspada ke arah para pengawal yang bersiap menarik senjata mereka di sudut ruangan.
Sophia berdiri, bibirnya membentuk senyum yang sangat tipis dan mengerikan. "Sangat impresif. Kamu selamat dari badai Alpen dan membajak helikopterku. Kamu benar-benar memiliki darah von Hess yang keras kepala itu."
"Aku tidak datang untuk bicara tentang darah, Sophia," Luna mengangkat tabletnya tinggi-tinggi. "Aku datang untuk memutar film pendek untuk kalian semua. Sebuah film tentang apa yang terjadi sepuluh tahun lalu di ruangan yang sama di puri ini."
"Jangan konyol, Aluna. Kamu tidak punya apa-apa," desis Madam Celine. "Keamanan siber Seraphine tidak mungkin ditembus oleh gadis sepertimu."
"Aku tidak menembus sistemmu, Madam. Aku menggunakan sistem ayahku," Luna menekan tombol 'Execute' pada tabletnya.
Seketika, seluruh lampu kristal di aula meredup. Dinding-dinding aula yang biasanya ditutupi permadani mahal kini berubah menjadi layar proyeksi raksasa melalui teknologi proyektor tersembunyi yang diretas oleh Kevin dari jarak jauh.
Rekaman hitam putih mulai diputar. Suara ibunda Luna, Althea, terdengar menangis, memohon belas kasihan saat Sophia dan Madam Celine memaksanya menandatangani surat penyerahan hak waris.
Wajah-wajah kepala keluarga lainnya di meja makan berubah menjadi pucat. Mereka saling berbisik dengan nada panik. Rahasia yang selama ini terkunci rapat kini disiarkan secara langsung.
"Matikan! Hentikan ini sekarang juga!" raung Sophia pada para pengawalnya.
Namun, sebelum pengawal bisa bergerak, suara Luna kembali menggelegar melalui sistem suara puri yang telah diretas.
"Kalian tidak bisa mematikannya, karena saat ini, rekaman ini sudah disiarkan secara live ke seluruh bursa saham dunia! Saham Seraphine Global sedang terjun bebas sekarang juga!" Luna melangkah mendekat ke arah Madam Celine. "Kamu menjual ibuku demi kekuasaan. Sekarang, aku akan menghancurkan kekuasaanmu demi ibuku."
Madam Celine tampak gemetar, wajahnya yang tua kini tampak sangat rapuh di bawah sorotan video kejahatannya sendiri. "Aluna... aku melakukan itu untuk melindungimu..."
"Jangan sebut namaku dengan mulut yang penuh dengan kebohongan!" Luna menghantam meja makan dengan tangannya. "Malam ini, perjamuan kalian berakhir. Dan hukum dunia akan menjemput kalian semua."
Aula perjamuan itu kini tak ubahnya sebuah teater penghakiman. Suara isak tangis Althea di rekaman sepuluh tahun lalu masih bergema dari dinding-dinding marmer, mengisi setiap sudut ruangan dengan rasa bersalah yang mencekam. Di layar proyeksi, terlihat jelas bagaimana Madam Celine menyerahkan pena kepada ibunda Luna dengan tatapan mata yang seolah menganggap Althea hanyalah sampah yang harus disapu dari silsilah keluarga.
"Cukup, Aluna! Cukup!" Madam Celine berteriak, suaranya pecah dan gemetar. Ia mencoba berdiri, namun lututnya yang renta seolah tidak lagi sanggup menahan beban dosa yang baru saja ditelanjangi.
Luna berdiri tegak, membiarkan cahaya proyeksi mengenai wajahnya, menciptakan bayangan yang dramatis. "Kenapa, Madam? Apakah kebenaran terlalu menyilaukan untuk mata tuamu yang sudah terlalu lama terbiasa dengan kegelapan? Kamu membuang anakmu sendiri, lalu kamu mencoba membentukku menjadi monster sepertimu agar kamu merasa bahwa apa yang kamu lakukan pada Ibu adalah hal yang 'perlu'. Tapi lihat aku sekarang. Aku bukan monstermu. Aku adalah cerminmu."
Sophia von Hess, yang sejak tadi terdiam, tiba-tiba tertawa. Tawa yang kering, pendek, dan penuh kegilaan. Ia mengambil sebuah gelas kristal berisi anggur merah senilai ribuan dolar, lalu menghantamkannya ke meja perjamuan hingga hancur berkeping-keping.
"Kamu pikir dengan drama televisi ini kamu bisa meruntuhkan kami, Aluna?" Sophia berdiri, matanya berkilat dengan kedinginan yang mematikan. "The Council bukan hanya sekadar reputasi atau saham. Kami adalah pemilik bank yang membiayai negara-negara tempat media itu berdiri. Satu telepon dariku, dan berita ini akan menghilang dalam satu jam. Satu perintah dariku, dan kepalamu akan dipajang di gerbang puri ini sebagai peringatan bagi siapa pun yang berani melawan."
Sophia memberi isyarat dengan jarinya. Tiba-tiba, pintu-pintu rahasia di balik rak buku terbuka. Muncul sekelompok pria berseragam hitam tanpa lencana unit pembunuh pribadi Sophia yang dikenal sebagai The Vultures. Mereka tidak membawa senjata api biasa, mereka memegang senjata dengan peredam suara dan pisau-pisau taktis yang dirancang untuk eksekusi tanpa suara.
Xavier segera menarik Luna ke belakang tubuhnya, senjatanya terarah pada Sophia. "Jangan ada yang bergerak! Atau kepala Grand Dame ini akan pecah lebih dulu sebelum pisau kalian menyentuh kami!"
"Xavier, Xavier..." Sophia melangkah perlahan mengelilingi meja. "Kamu adalah produk terbaik dari sistem kami. Kamu tahu betul bahwa kamu tidak bisa membunuhku. Karena jika aku mati, seluruh sistem keamanan di puri ini akan terkunci secara otomatis dan gas termit akan dilepaskan. Kita semua akan terpanggang hidup-hidup. Kamu tidak akan membiarkan 'Ratu'-mu mati begitu saja, bukan?"
Ketegangan di aula itu kini berada di titik didih. Keheningan yang mengikuti ucapan Sophia terasa seperti tarikan napas terakhir sebelum badai. Luna bisa merasakan detak jantung Xavier yang stabil namun kencang di balik punggungnya. Ia tahu Xavier sedang menghitung setiap kemungkinan, setiap celah untuk meloloskan mereka dari kepungan The Vultures.
"Xavier, lakukan," bisik Luna pelan.
"Tapi Nona..."
"Lakukan!" perintah Luna dengan otoritas yang tak terbantahkan.
Xavier tidak lagi bertanya. Ia melepaskan satu tembakan ke arah lampu kristal raksasa yang menggantung tepat di tengah ruangan.
PRANGGG!
Lampu seberat ratusan kilogram itu jatuh menghantam meja perjamuan, memercikkan api dan serpihan kristal ke segala arah. Di tengah kegelapan yang mendadak dan kepulan debu, Xavier bergerak. Ia bukan lagi sekadar pelindung; ia adalah mesin penghancur.
Suara benturan daging, logam, dan teriakan tertahan memenuhi aula. Xavier menggunakan kegelapan sebagai sekutunya. Ia bergerak di antara The Vultures dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Luna merunduk di bawah meja perjamuan yang berat, tangannya masih memegang erat tablet kendali.
"Kevin! Matikan seluruh pasokan listrik puri sekarang!" Luna berteriak melalui komunikatornya.
"Selesai, Luna! Seluruh blok Zurich Utara sekarang gelap gulita!" suara Kevin terdengar mantap dari kejauhan.
Di tengah kegelapan total, hanya sinar laser merah dari kacamata night vision Xavier yang terlihat menari-nari. Luna melihat Madam Celine merangkak di lantai, mencoba menuju pintu keluar. Rasa benci sempat memenuhi hati Luna, ia ingin mengakhiri nyawa wanita itu di sana. Namun, ia ingat wajah ibunya. Ibunya tidak menginginkan darah; ibunya menginginkan keadilan.
Tiba-tiba, lampu darurat berwarna merah menyala, memberikan efek visual yang mengerikan pada aula yang kini sudah berantakan. Xavier berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh tubuh para pembunuh Sophia yang sudah tidak bergerak. Ia terluka; sebuah sayatan di lengan kirinya mengeluarkan darah, namun ia tetap berdiri tegak.
Sophia, yang masih berdiri di ujung meja dengan tenang, mengeluarkan sebuah pistol kecil berlapis emas dari balik gaunnya. Ia menodongkannya tepat ke arah Luna. "Permainan berakhir, Aluna. Jika aku harus hancur, setidaknya aku akan membawa garis keturunan von Hess bersamaku ke neraka."
Xavier mencoba bergerak, namun seorang anggota Vultures yang masih tersisa mencengkeram kakinya, menahannya selama beberapa detik yang sangat krusial.
KLIK.
Suara pelatuk Sophia ditekan. Luna memejamkan mata, bersiap untuk kegelapan abadi. Namun, suara yang terdengar bukanlah ledakan peluru, melainkan sebuah dentuman keras dari pintu utama yang diledakkan.
Pintu aula hancur berkeping-keping. Debu putih dari runtuhan tembok memenuhi udara. Dari balik kabut debu, muncul sekelompok pria berseragam taktis biru gelap dengan lencana yang sangat dikenal di seluruh Eropa, The International Financial Police. Di depan mereka, berdiri seorang pria paruh baya dengan wajah kaku dan setelan jas yang rapi.
"Sophia von Hess, Madam Celine Seraphine," suara pria itu tenang namun berwibawa melalui pengeras suara. "Berdasarkan bukti yang baru saja disiarkan secara global, dan data aliran dana ilegal yang diterima oleh Interpol satu jam yang lalu, Anda berdua ditahan atas tuduhan konspirasi pembunuhan, pencucian uang, dan pengkhianatan ekonomi internasional."
Sophia tertegun. Pistol emasnya perlahan turun. Ia menoleh ke arah Luna dengan tatapan tidak percaya. "Bagaimana... bagaimana bisa kepolisian internasional sampai ke sini secepat ini?"
Luna berdiri perlahan, membersihkan debu dari mantelnya. Ia menatap Sophia dengan senyum dingin. "Kamu pikir aku hanya menyiarkan video itu untuk mempermalukanmu? Kevin sudah mengirimkan seluruh ledger keuangan von Hess yang aku curi dari brankas kemarin langsung ke markas besar Interpol di Lyon. Aku tidak datang ke sini untuk membunuhmu, Sophia. Itu terlalu mudah. Aku datang untuk memastikan kamu membusuk di sel yang paling gelap, melihat semua asetmu disita oleh negara, dan menyadari bahwa namamu akan dihapus dari sejarah."
Madam Celine jatuh terduduk di kursi yang masih tersisa. Ia menatap Luna dengan air mata yang mengalir, namun Luna membuang muka. Tidak ada pengampunan bagi orang yang menukar nyawa anaknya dengan saham perusahaan.
Xavier mendekat ke arah Luna, ia mengambil mantelnya dan menyelimuti bahu Luna yang gemetar. "Sudah selesai, Luna. Kita menang."
Saat polisi mulai memborgol Sophia dan Madam Celine, para kepala keluarga Seraphine lainnya hanya bisa tertunduk, menyadari bahwa era kekuasaan absolut mereka telah berakhir malam ini di tangan seorang gadis yang pernah mereka anggap sebagai sampah.
Luna berjalan keluar dari aula, melewati barisan polisi yang kini memberikan jalan baginya dengan penuh hormat. Ia tidak merasa bahagia; ia hanya merasa ringan. Beban sepuluh tahun itu akhirnya terlepas. Namun, saat ia sampai di balkon puri dan menatap kota Zurich yang gelap, ia menyadari satu hal.
"Xavier," panggil Luna.
"Ya, Nona?"
"Perjalanan kita belum benar-benar berakhir, bukan? Masih ada orang-orang di balik layar yang mendukung Sophia. Orang-orang yang membiarkan ayahku mati."
Xavier menatap tajam ke arah kegelapan kota. "Musuh yang sebenarnya tidak pernah berdiri di panggung, Luna. Mereka ada di bayang-bayang. Tapi sekarang, Anda bukan lagi mangsa. Anda adalah badai yang mereka takuti."
Hawa dingin Zurich seolah membeku di udara saat barisan mobil kepolisian internasional membawa pergi sosok-sosok yang pernah dianggap sebagai dewa di Eropa. Sophia von Hess dibawa dengan wajah kaku tanpa ekspresi, sementara Madam Celine tampak ringkih, seolah-olah usia aslinya baru benar-benar menghantamnya saat kekuasaannya runtuh. Puri Von Hess yang megah itu kini dipenuhi garis polisi kuning dan tim forensik digital yang menyisir setiap inci kejahatan yang tersisa.
Aluna berdiri di balkon utama puri, menatap butiran salju yang mulai turun kembali, menutupi bekas-bekas darah dan ledakan di halaman bawah. Di tangannya, ia memegang jam saku perak milik ayahnya. Jam itu telah berhenti berdetak, namun bagi Luna, waktu seolah baru saja mulai berjalan kembali.
"Nona, ambulans sudah siap untuk membawa Anda dan Bibi Siti ke tempat yang aman," suara Xavier terdengar di belakangnya. Langkah kakinya berat, dan Luna bisa melihat perban di lengannya mulai merembeskan darah, namun pria itu tetap berdiri tegak layaknya pilar yang tak tergoyahkan.
Luna berbalik, menatap Xavier dengan mata yang kini tidak lagi menyimpan kebencian, melainkan kekosongan yang damai. "Xavier, lihatlah tempat ini. Berabad-abad mereka membangun dinding ini untuk melindungi rahasia mereka, namun hanya butuh satu kejujuran untuk meruntuhkannya. Apakah kamu pikir ini benar-benar sudah berakhir?"
Xavier berjalan mendekat, berdiri di samping Luna di balkon. Angin malam menerbangkan helai rambut mereka. "Dalam dunia seperti ini, 'akhir' hanyalah kata lain untuk jeda sebelum badai berikutnya, Luna. Anda telah memotong kepala ular di Zurich, namun tubuhnya masih melingkar di belahan dunia lain. Tapi untuk malam ini... ya, Anda telah memberikan keadilan bagi ibu dan ayah Anda."
Tiba-tiba, seorang petugas Interpol mendekati mereka, membawa sebuah kotak logam kecil yang baru saja ditemukan dari ruang kerja rahasia Sophia. "Nona von Hess, kami menemukan ini di brankas tersembunyi yang tahan api. Nama Anda tertera di atasnya, dengan tulisan tangan Adrian von Hess."
Luna menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Saat ia membukanya, tidak ada emas atau permata di dalamnya. Hanya sebuah rekaman suara usang dan selembar tiket kapal laut menuju Indonesia tertanggal sepuluh tahun yang lalu.
Luna menekan tombol play pada alat pemutar di dalam kotak tersebut. Suara ayahnya kembali terdengar, namun kali ini suaranya lebih jernih, penuh dengan nada perpisahan.
"Aluna, jika kamu membaca ini, berarti ibumu telah gagal membawamu lari dariku. Maafkan aku karena darah von Hess di nadimu adalah magnet bagi iblis. Di dalam kotak ini, ada sebuah koordinat di Jakarta. Bukan tentang harta, tapi tentang sebuah makam tanpa nama. Carilah di sana, dan kamu akan menemukan alasan sebenarnya mengapa aku tidak pernah kembali untukmu."
Luna merasakan dadanya sesak. Ada rahasia lain yang lebih dalam dari sekadar uang dan kekuasaan. Sesuatu yang telah menunggu di tanah kelahirannya sendiri selama satu dekade.
Dua hari kemudian, Luna meminta izin khusus untuk menemui Madam Celine di pusat penahanan tingkat tinggi Zurich. Ia ingin melihat wajah wanita itu untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggalkan Eropa.
Di balik kaca tebal, Madam Celine duduk dengan pakaian penjara berwarna abu-abu. Rambut putihnya yang biasanya tertata sempurna kini tampak acak-acak. Ia menatap Luna dengan mata yang sayu, namun masih ada sisa-sisa kebanggaan Seraphine di sana.
"Kamu datang untuk menertawakanku?" tanya Madam Celine dengan suara serak.
"Aku datang untuk bertanya satu hal," sahut Luna dingin. "Kenapa? Kenapa kamu membiarkan Sophia membuang Ibu padahal kamu tahu Ibu mencintaiku lebih dari segalanya? Apakah Seraphine Global benar-benar bernilai lebih dari nyawa anakmu sendiri?"
Madam Celine tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas kering. "Cinta adalah kelemahan, Aluna. Aku melihat ibumu lemah karena Adrian. Aku melihatmu lemah karena ibumu. Aku pikir dengan memisahkan kalian, aku bisa membuatmu menjadi baja. Aku ingin kau menjadi penguasa yang tidak bisa dihancurkan."
"Dan pada akhirnya, akulah yang menghancurkanmu," Luna mencondongkan tubuhnya ke arah kaca. "Kamu bukan membentuk baja, Madam. Kamu menciptakan badai. Dan badai itu sekarang telah menyapumu ke tempat yang paling hina."
Madam Celine terdiam. Ia menatap tangan Luna yang kini mengenakan jam saku Adrian. "Adrian... pria itu tidak pernah mati karena sakit, Aluna. Dia mati karena dia menolak menyerahkan kunci terakhir padaku. Dia memilih mati di tangan para eksekutor Sophia daripada membiarkan aku mengendalikanmu."
Darah Luna berdesir. "Maksudmu... Ayah dibunuh atas perintahmu?"
"Aku hanya memberikan persetujuan. Sophia yang melakukannya," bisik Madam Celine tanpa penyesalan. "Dan sekarang, rahasia itu akan membusuk bersamaku di sini. Pergilah, Aluna. Kembalilah ke selokanmu. Tapi ingatlah, darah Seraphine di nadimu tidak akan pernah membiarkanmu hidup dalam kedamaian."
Luna berdiri, tidak sudi mendengarkan satu kata pun lagi. Ia berjalan keluar dari ruang kunjungan, meninggalkan Madam Celine dalam kegelapan selnya. Di koridor penjara yang dingin, Luna menyadari bahwa musuh yang ia lawan selama ini bukanlah manusia, melainkan ideologi keserakahan yang telah mendarah daging dalam keluarganya.
Bandara Internasional Zurich tertutup salju tipis saat Luna, Xavier, dan Bibi Siti berjalan menuju jet pribadi yang telah disiapkan oleh sisa-sisa jaringan The Keepers. Kevin sudah berada di dalam, sedang memastikan jalur penerbangan aman dari gangguan intelijen The Council yang tersisa.
Luna berhenti di depan tangga pesawat, menatap langit Swiss yang kelabu untuk terakhir kalinya. Ia membawa kemenangan di pundaknya, namun ia juga membawa luka baru yang jauh lebih dalam.
"Xavier," panggil Luna pelan.
Xavier menoleh, ia kini mengenakan setelan hitam baru, namun tatapannya tetap waspada seperti biasa. "Ya, Nona?"
"Kamu sudah bebas sekarang. Perjanjianmu dengan Madam Celine sudah hangus. Kamu punya cukup uang untuk hidup mewah di mana pun di dunia ini. Kenapa kamu masih ikut denganku ke Jakarta?"
Xavier terdiam sejenak. Ia melihat ke arah cakrawala, lalu kembali menatap Luna. "Saya pernah bilang, saya mengikuti Anda bukan karena nama Seraphine. Saya mengikuti cahaya di tengah kegelapan Anda. Jakarta adalah tempat di mana semua ini dimulai, dan saya ingin berada di sana saat Anda menemukan akhir yang sesungguhnya. Selain itu... siapa yang akan menjaga Anda dari serigala-serigala baru jika saya tidak ada?"
Luna tersenyum, sebuah senyuman yang kali ini mencapai matanya. "Kalau begitu, bersiaplah. Karena kali ini, kita tidak pulang sebagai mangsa."
Pesawat lepas landas, membelah awan Zurich menuju timur. Di dalam pesawat, Luna membuka kembali catatan ayahnya tentang makam tanpa nama di Jakarta. Ia menyadari bahwa pertempuran di Zurich hanyalah pembuka. Ada konspirasi yang jauh lebih tua yang tertanam di tanah Jakarta, melibatkan orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai kawan.
Di kejauhan, fajar mulai menyingsing di atas benua Asia. Sang "Ratu yang Terbuang" telah pulang, bukan lagi untuk menuntut warisan, melainkan untuk menggali kebenaran yang terkubur dalam-dalam.
Luna menang telak, namun rahasia tentang kematian ayahnya membawanya kembali ke Jakarta untuk konspirasi yang lebih besar. Siapakah yang terkubur di makam tanpa nama itu? Dan kejutan mengerikan apa yang menanti Luna di tanah kelahirannya?
🔥 LIKE jika kalian puas melihat Luna menghadapi Madam Celine untuk terakhir kalinya di penjara!
💬 KOMEN Apa teori kalian tentang "Makam Tanpa Nama" di Jakarta? Siapa sebenarnya yang dikubur Adrian di sana?
📢 SHARE penutup babak Eropa ini! Perjalanan balas dendam sesungguhnyai di Jakarta!
banyak yang pake ya nama itu di novel indo ..
titip jejak ya thor