Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.
Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
“Aku harus cari cara agar Pak Hazel mau menyentuhku dengan sukarela, bukan karena paksaan,” gumam Maira sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamar.
Langkahnya tak beraturan. Sesekali dia berhenti di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri dengan raut penuh perhitungan. Apalagi malam ini adalah malam terakhir Hazel menginap di apartemennya minggu ini. Besok, giliran Hazel bermalam di tempat Nadia.
“Tapi gimana caranya?” desah Maira pelan. Kepalanya terasa penuh.
“Aha… dekati dia dengan kelembutan, buat dia jatuh cinta,” katanya lagi, lalu tertawa kecil tanpa humor.
“Masalahnya, gimana caranya? Wong aku aja gak pernah jatuh cinta.”
Maira mendengus, lalu tiba-tiba berhenti melangkah. Seolah mendapat ide, dia langsung meraih tas selempangnya dan keluar dari kamar. Tujuannya jelas, pasar terdekat. Kalau kelembutan lewat kata-kata terasa mustahil, mungkin dia bisa mencoba lewat perut.
Di pasar, Maira sengaja memilih bahan makanan dengan teliti. Udang segar, ikan tongkol yang masih keras dan berkilau, bumbu dapur lengkap, juga terasi pilihan. Tangannya cekatan, seolah dia sudah memiliki niat sejak melangkah keluar apartemen.
Sesampainya di rumah, Maira langsung menyanggul rambutnya asal. Celemek dia kenakan, lalu dapur kecil apartemen itu pun mulai dipenuhi suara pisau yang beradu dengan talenan. Gerakannya luwes, rapi, dan penuh fokus.
Hari ini dia ingin membuat udang asam manis dan gulai ikan tongkol. Nasi putih dimasak agar nanti bisa disajikan hangat. Tak ketinggalan sambal terasi, pelengkap yang menurutnya tak boleh absen.
Aroma masakan perlahan memenuhi ruangan. Setelah semuanya matang, Maira menata hidangan di atas meja makan dengan rapi. Dia sempat memperhatikan susunannya, memastikan semuanya terlihat menggugah selera.
Setelah itu, dapur kembali dia bersihkan hingga tak tersisa noda sedikit pun.
Merasa semuanya sudah sempurna, Maira memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian sambil menunggu Hazel pulang.
Namun, semua gerak-geriknya ternyata tak luput dari pantauan Hazel lewat layar ponsel. Matanya menatap serius rekaman CCTV apartemen Maira.
“Hmm, lagi penasaran sama apa yang dilakuin istri kedua kayaknya nih?” goda Devin, yang sejak tadi memperhatikan ekspresi Hazel.
Hazel mengernyit.
“Dia masak sebanyak itu buat siapa?”
“Buat lo kali,” jawab Devin santai, tapi yakin.
“Gue ragu,” Hazel menghela napas pelan.
“Ragu kenapa?”
“Atau jangan-jangan lo curiga dia naro sesuatu di masakannya?” Devin menaikkan alis.
“Bukan gitu,” elak Hazel cepat.
“Lo tau sendiri gimana dia selama ini. Segala cara dipake biar gue mau nyentuh dia. Siapa tau ini juga ada maksudnya,” lanjut Hazel, nadanya terdengar penuh kewaspadaan.
Devin terkekeh.
“Kalau lo takut, ajak gue aja makan ke sana. Kalau kenapa-kenapa, kan ada gue.”
Hazel berpikir sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
“Ide bagus juga tuh.”
***
Maira akhirnya memutuskan mengenakan gaun super mini yang menempel sempurna di tubuhnya. Potongannya berani, memperlihatkan kaki jenjang yang selama ini memang suka dia pamerkan saat menggoda para tamu di club malam tempat dia bekerja. Menurutnya, jika makanan saja belum cukup menggoda, maka penampilan seksi akan menjadi senjata pamungkas.
Dia berdandan tipis, jauh berbeda dari gaya menor yang biasa dia gunakan untuk menarik perhatian Hazel. Kali ini riasannya lembut, bibirnya hanya dipoles lipstik tipis berwarna nude, memberi kesan manis sekaligus menggoda. Maira menatap dirinya di cermin, tersenyum puas, lalu menarik napas dalam-dalam.
Tak lama kemudian, suara bel apartemen berbunyi.
Jantung Maira berdegup sedikit lebih cepat. Dia mengibaskan rambutnya pelan, lalu melangkah menuju pintu dengan gerakan penuh percaya diri. Setiap langkahnya dibuat perlahan, seolah ingin memastikan kesan pertama yang sempurna.
“Selamat datang, Pak Hazel nan tampan dan rupawan,” ucapnya dengan nada menggoda begitu pintu terbuka.
Namun senyumnya langsung mengeras.
Yang berdiri di hadapannya bukan hanya Hazel.
Maira terdiam, wajahnya perlahan memanas saat menyadari ada pria lain di samping Hazel. Rasa malu langsung menyergapnya, membuatnya ingin menutup pintu kembali. Sementara pria asing itu justru tersenyum tipis, jelas menyadari situasi canggung tersebut.
“Awas kamu,” ujar Hazel ketus sambil menarik Devin menjauh selangkah.
Pandangan Hazel membulat saat melihat apa yang dikenakan Maira. Apalagi sekarang ada Devin yang ikut menyaksikan.
“Eh… Pak Hazel,” ucap Maira gugup, suaranya pelan dan penuh kegugupan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Hazel membuka jas yang dikenakannya lalu langsung menyampirkannya ke tubuh Maira, menutupi gaun minim itu. Setelah itu, dia mendorong Maira masuk ke kamar dengan langkah tegas.
Saat Hazel menutup pintu kamar, Maira sempat menoleh ke belakang. Dia tersenyum sumringah ke arah Devin sambil melambaikan tangan kecil, seolah tak merasa bersalah sama sekali.
Di dalam kamar, Hazel menghela napas panjang.
“Siapa pria tampan tadi?” tanya Maira santai, seolah kejadian barusan bukan hal besar.
“Teman saya,” jawab Hazel ketus.
“Ganteng banget,” Maira berseru kagum, matanya berbinar dengan ekspresi lucu.
“Nanti kenalin saya ya. Jangan lupa kasih nomor HP-nya.”
“Jangan gila kamu,” balas Hazel cepat.
“Ganti pakaian kamu,” perintahnya kemudian, nada suaranya tegas.
“Iya, iya, sayang,” jawab Maira mengangguk sambil tersenyum. Sebelum Hazel sempat bereaksi, Maira berdiri berjinjit dan mengecup pipinya dengan cepat.
“Ka-kamu,” Hazel menunjuk Maira dengan mata terbelalak.
Wajahnya langsung merah padam. Tanpa menunggu reaksi lebih jauh, dia berbalik dan keluar kamar dengan langkah tergesa.
Hazel benar-benar tak menyangka, Maira bisa seberani itu.
Sementara Maira tersenyum puas karena berhasil menggoda Hazel, meski dengan sentuhan kecil.