'Betapa kejamnya dunia pada seorang wanita yang belum bergelar ibu.'
Zahra sudah menikah dengan Aditya selama tiga tahun. Namun masih belum dipercaya memiliki seorang anak.
Meskipun belum juga hamil, tapi Zahra bersyukur Aditya dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Zahra merasa hidupnya sempurna dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi takdir berkata lain, suatu hari ia mengetahui bahwa Aditya akan menikah dengan Nadia, teman masa kecil Aditya karena Nadia hamil.
Rasa marah dan kecewa melebur jadi satu dalam hati Zahra. Ia mulai mempertanyakan keadilan dunia.
Mampukah Zahra mengobati hatinya dan menata lagi hidupnya atau ia tetap menggenggam cinta yang menyakitkan tersebut ?
..
Hay readers kesayangan Author, Author kembali lagi nih dengan tema berbeda dari novel sebelumnya. Terus kasih dukungan buat Author ya. Silahkan dikoreksi jika ada salah.
Mohon bacanya tidak di skip-skip ya. Makasih 🙏🫶🤩
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menerima
Zahra dan Mama Febi bergantian menjaga Zafirah di Rumah Sakit. Zafirah tidak bisa pulang cepat sebab masih menunggu hasil pemeriksaan pada kakinya.
Zahra sebenarnya ingin mengambil cuti tapi Zafirah melarangnya. Jadilah Zahra sangat sibuk bolak-balik bekerja, pulang, dan ke Rumah Sakit.
Hal itu dijadikan kesempatan oleh Zafran untuk menyiapkan sesuatu untuk mengejutkan Zahra.
Sebelumnya Zafran sudah mendatangi Papa Yusuf di Universitas tempat Papa Yusuf bekerja. Disana mereka berbicara banyak hal. Tentang keinginan Zafran yang sungguh-sungguh ingin mempersunting Zahra.
Papa Yusuf mempersilahkan niat baik Zafran tersebut. Ia sudah mencari tau seperti apa sosok Zafran tersebut sejak kehadirannya bersama Elio pertama kali ke rumahnya.
Tapi Papa Yusuf berpesan pada Zafran untuk menghormati semua keputusan Zahra nanti. Entah Zafran akan diterima atau ditolak namun Papa Yusuf meminta Zafran berlapang dada.
Seperti halnya Papa Yusuf, Mama Febi pun berpendapat yang sama. Jika Zafran memang ditakdirkan bersama Zahra, maka mereka tidak bisa menghalanginya. Lagi pula, sudah tujuh bulan sejak perceraian Aditya dan Zahra. Dan sudah sangat pantas jika Zahra membina rumah tangga yang baru.
Zafran berencana melamar Zahra di depan Papa Yusuf dan Mama Febi. Mereka juga mengizinkan Zafran mendekor rumah untuk acara tersebut.
Zafirah pun tau tentang rencana tersebut. Ia sebenarnya juga ingin membantu namun apa daya berjalan saja ia tidak bisa.
"Papa dan Mama kemana ?" tanya Zafirah pura-pura bertanya.
"Mereka ada acara di rumah teman Papa. Kita pulang sendiri saja ya," kata Zahra sambil membantu mendorong kursi Zafirah.
"Iya," balas Zafirah tersenyum.
"Kamu terlihat sangat bahagia. Ada apa ?" tanya Zahra penasaran. Karena sejak tadi ia melihat Zafirah tersenyum.
"Tidak apa-apa," balas Zafirah lagi.
Zafirah perlahan naik ke mobil dibantu Zahra. Lalu Zahra mulai mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan diisi dengan perbincangan hangat antar saudara tersebut.
"Baju bridesmaid kamu mungkin besok sudah selesai," kata Zahra.
"Cepat sekali ?"
"Iya. Penjahitnya temanku. Dia memprioritaskan pesanan ku," jawab Zahra dengan memainkan alisnya.
Zafirah hanya tertawa kecil. Melihat Zahra seperti itu mengingatkannya pada Zahra sebelum menikah dulu. Zahra yang penuh tawa dan gembira. Hingga akhirnya mendung selalu terlihat di wajah Zahra tiap kali ada yang bertanya kenapa belum memiliki anak.
Mobil Zahra masuk ke halaman rumah. Ia melihat mobil Papa dan Mamanya terparkir di garasi. Tidak ada keraguan apapun karena menganggap jika kedua orang tuanya menaiki taksi.
"Terima kasih, Pak" kata Zafirah setelah membantunya turun.
"Sama-sama, non" balas Pak Adi.
Lalu Zahra mendorong kursi roda Zafirah memasuki rumah. Tapi kenapa keadaan nampak gelap gulita di dalamnya. Padahal sudah malam tapi tidak ada satu lampu yang dinyalakan di dalam.
"Mungkin Bi Ira lupa menyalakan lampunya. Aku nyalain lampu dulu ya. Kamu disini dulu," kata Zahra.
"Iya," jawab Zafirah. Lalu Zahra melangkah masuk dengan perlahan. Mencari saklar lampu yang ia tau ada disekitar tembok ruang tamu.
Saat lampu dinyalakan, betapa terkejutnya Zahra saat melihat Zafran berdiri tepat di di sampingnya.
Yang lebih mengejutkan lagi, ia melihat ruang tamu tersebut di dekorasi layaknya sebuah pesta. Penuh bunga yang memanjakan mata. Pantas saja sejak masuk tadi ia mencium aroma bunga. Ia kira hanya perasaan nya saja.
Di sebuah meja panjang ada kue yang ukurannya cukup besar. Diatasnya terdapat tulisan 'Zahra, i love you'.
"Tuan Zafran, kenapa..."
"Zahra, apa kamu menikah dengan ku ? menemani hidupku sampai kita sama-sama menua nanti ?" tanya Zafran berlutut di hadapan Zahra sembari menyodorkan sebuah cincin bertahta kan berlian yang besar.
"Tuan, apa yang anda lakukan ?" tanya Zahra terkejut dan tidak percaya jika hari ini rupanya memang akan terjadi. Ia mundur satu langkah. Lalu menoleh mencari Zafirah namun tidak nampak.
"Aku bersungguh-sungguh, Zahra. Aku serius ingin membina rumah tangga dengan kamu. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Tapi aku berjanji akan selalu setia," kata Zafran menatap dalam mata Zahra.
"Apa saya pantas ?" tanya Zahra menitikkan air mata. Bayangan akan di khianati terus Zahra pikirkan. Mungkin sekarang Zafran bisa berkata menerimanya. Tapi jika usia pernikahan berjalan beberapa tahun, rasa cinta pasti bisa pudar. Yang ada hanya keinginan menimang anak namun ia sulit memberikan nya.
"Lebih dari pantas," jawab Zafran tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan keluarga anda ?" tanya Zahra masih ragu meskipun ujung lidahnya sudah ingin berkata iya.
"Mereka setuju dan sangat mendukung. Meskipun mereka belum bertemu dengan kamu, tapi mereka sudah menyetujuinya" kata Zafran lagi.
"Saya takut tidak bisa memberikan anak. Saya takut akan menerima perlakuan yang sama seperti dulu,"
"Tolong jangan samakan aku dengan pria masa lalu kamu," pinta Zafran. Ia masih bertahan di posisinya berlutut di depan Zahra.
"Bismillah... Baiklah, saya bersedia.." ujar Zahra yang begitu melegakan di hati Zafran.
"Alhamdulillah..." terdengar suara riuh dari balik tembok. Zahra terkejut dan mengalihkan pandangannya setelah Zafran memakaikan cincin di jari manis kirinya.
Dari balik tembok tersebut keluarlah Papa Yusuf, Mama Febi, Zafira yang di dorong oleh Tomi, Elio serta dua orang yang belum pernah Zahra lihat. Tapi Zahra menduga mereka adalah orang tua Zafran.
"Zahra, perkenalkan ini Mama dan Papaku. Maaf baru bisa mengenalkan mereka," kata Zafran memperkenalkan Papa Johan dan Mama Sinta.
Mama Sinta tersenyum hangat pada Zahra. Ia yang jarang berhijab sekarang memutuskan memakai hijab karena Zafran bercerita jika Zahra dan Mamanya mengenakan hijab.
Zahra menerima uluran tangan Mama Sinta kemudian menciumnya. Sedangkan pada Papa Johan ia hanya mengangguk dan tersenyum.
"Nak, kenalkan kami orang tua Zafran. Yang sebentar lagi akan jadi orang tua kamu juga. Terima kasih ya sudah mau menerima lamaran anak Mama," ujar Mama Sinta membelai kepala Zahra.
"Kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan-sungkan mengatakannya sama kami ya, nak" timpal Papa Johan.
Zahra terharu dengan penerimaan yang di dapatkan nya. Baru bertemu tapi kedua orang tua Zafran begitu menyambutnya.
"Apa Tante Zahra akan jadi mamanya Elio ?" tanya Elio mendongak menatap orang dewasa yang berada di sekelilingnya.
"Iya, Sayang. Tante Zahra akan jadi mamanya Elio. Elio bahagia ?" tanya Mama Sinta mengelus rambut Elio.
"Tentu saja bahagia, Oma. Akhirnya Elio benar-benar punya mama," kata Elio dengan suara serak. Lalu ia menghambur memeluk kaki Zahra. Zahra segera berjongkok agar bisa membalas pelukan Elio.
"Kenapa Elio menangis ?" tanya Zahra bingung.
"Elio senang sebentar lagi Elio kemana-mana bisa ditemani Mama. Bukan sama Papa saja atau Oma," tutur Elio menahan tangisnya.
"Elio sayang mama..." kata Elio pelan sambil memeluk leher Zahra.
..
karma tak Semanis kurma rasakno.