Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 19_Obat Terbaik
Marco berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Anya, dia tidak menyentuhnya tapi Anya bisa merasakan panas dari tubuh Marco.
"Karena wanita-wanita itu mencintai Marco Valerius sang penguasa," jawab Marco dengan suara rendah.
"Mereka mencintai kekuasaanku, uangku, dan namaku. Tapi kamu... kamu menolong pria yang hampir mati di gang kotor tanpa tahu siapa dia. kamu menatapku seolah-olah aku hanyalah manusia biasa yang butuh bantuan. Aku tidak pernah mendapatkan itu seumur hidupku, Anya."
Marco perlahan melingkarkan lengannya di pinggang Anya, kali ini Anya tidak meronta.
"Di duniaku, semua orang adalah predator atau mangsa. Tapi saat bersamamu, aku merasa aku bisa berhenti menjadi predator. kamu adalah kedamaianku Anya, dan aku akan melakukan apa pun untuk menjaga kedamaian itu, meskipun aku harus membakar seluruh dunia." ucap Marco.
Anya terdiam, ia mulai mengerti bahwa obsesi Marco berakar dari kekosongan jiwa yang sangat dalam.
Marco bukan hanya ingin memilikinya sebagai barang, tapi sebagai jangkar agar ia tidak hanyut dalam kegelapan sifatnya sendiri.
Namun, rasa syukur Anya terganggu oleh satu kenyataan pahit.
"Tapi kamu tetap menculikku, Marco. kamu membunuh masa depanku," ucap Anya getir.
Marco memutar tubuh Anya agar menghadapnya, dia mengangkat dagu Anya, memaksa gadis itu menatap matanya yang kelam namun penuh gairah.
"Aku akan memberimu masa depan yang lebih baik dari apa pun yang bisa kamu bayangkan Anya, kamu bisa belajar apa saja, memiliki apa saja, yang aku minta hanyalah satu yaitu jangan pernah mencoba pergi dariku."
"Dan kalau aku mencoba?"
Tatapan Marco berubah menjadi sangat tajam, mengingatkan Anya kembali bahwa pria di depannya adalah seorang raja mafia.
"Maka aku akan menyeretmu kembali, tidak peduli seberapa jauh kamu berlari. Aku akan menghancurkan siapa pun yang membantumu. Aku lebih baik melihatmu membenciku di sini, daripada melihatmu bahagia dengan orang lain."
Anya merinding, itulah definisi obsesi yang paling murni dan menakutkan.
Di pulau yang indah ini, di tengah kemewahan ini, ia tetaplah seorang tawanan.
Bedanya, kali ini penjara itu tidak memiliki dinding kaca, melainkan lautan luas yang tidak mungkin diseberangi.
Malam itu, Marco mengadakan makan malam kecil di pinggir pantai, hanya mereka berdua, ditemani suara deburan ombak dan cahaya api unggun kecil.
Marco mencoba segala cara untuk menghibur Anya, dia menceritakan kisah-kisah lucu dari masa mudanya yang belum pernah ia ceritakan pada siapa pun.
Dia memberikan Anya sebuah kotak kecil berisi kalung berlian biru yang harganya mungkin bisa membeli kedai kopi tempatnya dulu bekerja sepuluh kali lipat.
Anya menerima semuanya dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Dia menyadari bahwa mulai sekarang, hidupnya adalah sebuah sandiwara.
Dia harus bersikap manis agar Marco tidak menyakiti lebih banyak orang lagi.
Dia harus menjadi "cahaya" bagi Marco, agar kegelapan pria itu tidak menelan orang-orang tak bersalah lainnya.
Saat mereka kembali ke vila, Marco menuntun Anya ke kamar utama.
"Tidurlah," kata Marco lembut.
"Aku akan menjagamu dari luar, tidak akan ada Antonio, tidak akan ada peluru di sini."
Anya duduk di tepi tempat tidur, menatap Marco yang hendak beranjak pergi. "Kamu... kamu tidak tidur di sini?"
Marco berhenti, sebuah kilatan kejutan muncul di matanya, diikuti oleh gairah yang tertahan.
"Aku tidak ingin memaksamu, Anya. Aku ingin kamu yang memintaku."
Anya menunduk dia tahu memberikan sedikit "umpan" akan membuat Marco lebih lunak dan memberinya lebih banyak ruang gerak di masa depan.
Ini adalah pertaruhan yang berbahaya, namun ia harus melakukannya.
"Malam ini saja... aku tidak ingin sendirian. Aku masih takut dengan suara ledakan itu," bohong Anya, meskipun rasa takutnya memang nyata.
Marco tidak membuang waktu. Dia mendekat dan naik ke tempat tidur, menarik Anya ke dalam pelukannya.
Dia memeluk Anya dengan sangat protektif, seolah-olah jika dia lengah sedikit saja, Anya akan diculik oleh bayangan malam.
Di dalam pelukan Marco, Anya menatap langit-langit kamar.
Ia merasa sangat asing dengan dirinya sendiri, gadis pelayan kopi yang jujur itu kini sedang belajar memanipulasi seorang monster.
Namun, jauh di lubuk hatinya, ada rasa takut yang lebih besar yaitu bagaimana jika suatu saat nanti, ia bukan lagi sedang bersandiwara? Bagaimana jika ia benar-benar jatuh cinta pada monster yang telah menghancurkan dunianya?
Di luar sana, laut bergejolak, dan di daratan, Antonio sedang merencanakan langkah terakhirnya.
Marco mungkin merasa aman di pulaunya, namun dia lupa bahwa badai yang sesungguhnya belum benar-benar dimulai.
Sinar matahari pagi di Isola di Luce tidak pernah terasa kasar.
Cahayanya menyaring masuk melalui tirai linen putih yang halus, menari-nari di atas lantai kayu ek yang hangat.
Anya terbangun dengan perasaan yang sangat asing yaitu ada beban hangat yang melingkar di pinggangnya, ia tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa itu adalah tangan Marco.
Pria itu masih tertidur lelap di sampingnya, di bawah cahaya pagi yang lembut, wajah Marco terlihat jauh lebih muda.
Garis-garis keras di keningnya memudar, dan rahangnya yang biasanya terkatup rapat kini tampak rileks.
Namun, bahkan dalam tidurnya pun, cengkeraman tangan Marco pada pinggang Anya tidak mengendur seolah-olah alam bawah sadarnya pun waspada bahwa Anya bisa terbang menghilang kapan saja.
Anya menatap wajah itu cukup lama ia teringat betapa mengerikannya pria ini saat menghabisi nyawa musuh-musuhnya, namun di sini, ia hanyalah seorang pria yang tampak haus akan kasih sayang.
'Aku harus tetap tenang.' batin Anya.
'Hanya dengan cara ini aku bisa tahu cara keluar dari sini.' lanjutnya dalam hati.
Anya bergerak sedikit, mencoba melepaskan diri dengan sangat perlahan agar tidak membangunkan sang singa.
Namun, begitu ia bergeser beberapa sentimeter, mata Marco langsung terbuka.
Tidak ada proses transisi dari tidur ke bangun tapi matanya langsung tajam, waspada, dan langsung terkunci pada sosok Anya.
"Mau ke mana?" tanya Marco, suaranya parau khas orang bangun tidur, namun tetap mengandung nada posesif yang kuat.
Anya memaksakan sebuah senyum tipis yaitu sebuah "senjata" yang mulai ia pelajari kegunaannya.
"aku cuma mau ke balkon Marco, udara paginya kelihatan segar." ucapnya.
Melihat senyuman itu, ketegangan di tubuh Marco seketika mencair.
Ia menarik Anya kembali ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Anya sambil menghirup aroma sabun mandinya dalam-dalam.
"Tunggulah sebentar lagi, tetaplah di sini bersamaku." serunya dengan suara parau-nya.
"kamu sudah lebih baik?" tanya Anya, tangannya ragu-ragu menyentuh bahu Marco yang kokoh.
"Luka di perutmu... apa masih sakit?"
Marco mendongak, matanya berbinar karena perhatian kecil yang diberikan Anya.
"Jauh lebih baik karena ada kamu. kamu adalah obat terbaikku, Anya." ucap Marco.
Anya merasakan sedikit mual di perutnya mendengar rayuan itu, tapi ia tetap menjaga ekspresinya.
"Kalau begitu, biarkan aku membantumu mengganti perban nanti setelah sarapan. aku ingin kamu cepat sembuh total."
Marco mengecup kening Anya dengan penuh perasaan. "Apapun yang kamu mau, Cara mia."
.
.
Cerita Belum Selesai.....
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪