Nana Ayunda adalah gadis cantik yang ceria dan selalu mengutamakan kebahagian orang terdekatnya. Terutama Mama dan Abangnya.
Ia juga selalu menyingkat nama orang sesuka hatinya.
Nana menyukai sahabat kakaknya yang hanya dianggap adik olehnya, akankah Nana bisa mendapatkan cintanya yang penuh perjuangan itu? Atau akan dianggap seorang adik untuk selamanya?
ikuti kisah Nana Ayunda dengan penuh canda dan air mata.
Selamat membaca Terima kasih
mohon dukungannya🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kak meyla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Keri yang kebetulan usai meeting dengan kliennya hendak pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang tertinggal di ruang kerjanya, sebenarnya dia ingin meminta Nana untuk mengantar ke kantor, tapi dia kasihan kepada adiknya itu, sehingga dia memilih sendiri untuk pulang mengambil berkas tersebut. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, namun sekitar 40 menit akhirnya tibalah dia di kediamannya. Belum juga keluar dari mobilnya dia sudah mengeryitkan keningnya, Ada mobil yang terparkir di depan rumahnya dan dia sudah menduga siapa pemilik mobil itu.
Keri kemudian turun dengan langkah cepat, emosinya sudah mulai tak terkendali dia dengan cepat berjalan masuk ke dalam kediamannya, dia masuk tanpa mengucapkan salam, karena emosinya lebih mendominasi saat ini, apa lagi saat melihat tangan adiknya di pegang oleh suaminya, bukan cuma itu dia melihat dengan jelas Zaidan memeluk adiknya sedangkan Nana membalas pelukan itu, sehingga dia menjadi sangat murka luar biasa.
"Lepaskan tangan kotormu darinya." Teriaknya menggelegar, baru saja dia masuk ke dalam rumah tapi sudah di suguhi pemandangan yang membuatnya menggeram kesal luar biasa.
Nana yang mendengar teriakan Keri seketika melepas genggaman tangan suaminya, dia tiba-tiba bergidik melihat kemarahan Abangnya, kali ini Nana begitu takut.
"Apa kamu belum mengerti juga dengan apa yang aku katakan, apa kamu tidak mengerti bahasa manusia Zaidan." Titahnya dengan tajam dengan mengeraskan rahangnya, Keri sampai tak tau harus berbuat apa lagi untuk menjauhkan mereka berdua.
"Keri aku mohon kamu jangan se egois ini terhadap adikmu, kamu berbuat seperti ini malah akan menyakiti hatinya,"
Keri tersenyum kecut akan apa yang di katakan oleh Zaidan, perkataannya seperti menyanyi adiknya padahal sebaliknya. "Apa kamu bilang tadi, menyakiti hatinya, Haa," Keri berdecih. "Jadi selama ini apa yang kamu lakukan untuk adikku, apa kamu mau bilang jika selama ini kamu membahagiakannya. Begitu...!!!"
Zaidan seketika terdiam, dia tau jika Keri sengaja menyindirnya, apa lagi saat ini dia melihat Keri begitu emosi sehingga dia memilih untuk diam, menurutnya ini bukan waktu yang tepat untuk membawa Nana pergi dari rumah ini.
"Kau silahkan keluar dari rumahku, kamu tau'kan pintu keluarnya di mana." Titahnya dengan bersedekap dada dengan memberikan jalan agar Zaidan segera ke luar dari rumahnya.
Zaidan yang di usir seketika menatap wajah Nana yang tengah berkaca-kaca menatapnya, dia kemudian mendekat, " Sayang aku pulang dulu, nanti aku akan menjemputmu, tunggu suasananya mereda." Bisik Zaidan kepada Nana kemudian berlalu dari sana, dia tak ingin bertengkar dengan Keri, Nana yang akan terkena imbasnya terhadap perbuatannya, sehingga dia memilih mengalah untuk sekarang ini.
Setelah kepergian Zaidan, Keri mendekat kepada adiknya dengan mata yang tak terbaca. "Apa kamu lupa dengan perjanjian itu Nana? Atau kamu sengaja mengingkari janjimu itu?"
Nana diam terpaku menatap Keri dan dengan cepat dia menghapus air matanya. " Aku_"
Belum juga dia melanjutkan perkataannya Keri sudah lebih dulu menyela.
"Apa kamu berubah pikiran?" Tanya Keri datar dengan menatap ke dua bola mata adiknya.
"Abang maafkan Nana..." Ucapnya dengan menangis sesegukan sehingga tak bisa lagi melanjutkan perkataannya.
"Dengan kamu mengatakan seperti itu berarti kamu memilihnya dari pada keluargamu sendiri, berarti kamu sudah siap kehilangan keluargamu." Dengan berat hati Keri harus mengatakan walau hatinya berdenyut nyeri, Keri sudah tak bisa mentolerir sikap adiknya itu.
"Silahkan kamu kemasi barangmu dan keluar dari rumah ini, aku tak akan melarangmu lagi, silahkan kamu jalani hidup sesukamu..." Jedanya dengan menghela nafas panjang. "Tapi seperti kesepakatan kita sebelumnya, jangan pernah anggap aku lagi sebagai Abangmu dan jangan lagi menginjakkan kakimu ke rumah ini, jika suatu saat ada masalah terjadi dalam hidupmu jangan pernah mengadu kepadaku atau kepada Mama, karena kami sudah menganggapku tiada."
Deg...
Jantung Nana seperti ditikam ribuan pisau, perkataan Zaidan begitu menyakitkan baginya. Dia sampai susah bernafas. Nana menggelengkan kepalanya pelan, dengan mata berkaca-kaca dia begitu tak percaya jika sekarang Keri mengusirnya dari sini.
"Abang_"
"Jangan mendekat... Aku tak suka penghianat sepertimu, kamu sudah berjanji untuk menjauhinya tapi tadi kamu malah berpelukan dengannya." Keri begitu murka, dia sampai tak mau menyebut lagi dirinya sebagai Abang, dia kemudian ingin pergi dari hadapan adiknya, tapi baru melangkah Nana sudah memeluknya dari belakang dengan begitu erat.
"Abang jangan bilang begitu." Nana menghela nafas dalam-dalam kemudian berucap sesuatu yang akan menyakiti hatinya. "Atur Nana sesuka Abang... Dan satu lagi, aku tadi memeluknya untuk terakhir kalinya Bang, sebagai bentuk perpisahan." Titahnya dengan berbohong.
"Aku tidak percaya lagi denganmu, kamu begitu sering membohongiku,"
"Nana tidak berbohong kali ini Abang, Nana benar-benar berkata jujur, tadi hanya salam perpisahan yang aku berikan dan aku sengaja membiarkannya memelukku untuk yang terakhir kalinya."
Walau tadi Nana mengatakan jika akan menerima Zaidan kembali, tapi saat ini dia berubah pikiran, setelah melihat Keri murka luar biasa, maka dia berniat untuk melupakan Zaidan, dia akan merelakan cintanya demi orang yang dia sayangi walau harus mengorbankan perasaannya.
Keri memegang ke dua bahu Nana dengan erat kemudian berkata. "Aku percaya kali ini padamu, tapi ketika kamu ketahuan berbohong, kamu jangan harap Abang akan memaafkanmu." Titahnya dengan tatapan tajam, sedangkan Nana hanya menganggukkan kepalanya, dia akan menekan perasaannya demi kebahagian Abang dan Mamanya.
"Ia Bang, pengang omongan Nana kali ini saja." Ucapnya dengan berlalu pergi kemudian mengusap air matanya yang telah lancang membasahi wajah cantiknya. Helaan nafasnya begitu menyesakkan dada, mau tak mau dia harus melakukan ini.
"Baiklah sepertinya tak ada lagi harapan untuk bersamanya, aku kira aku akan berjuang bersamanya tapi setelah melihat kemurkaan Bang Keri, aku jadi tau sepertinya sudah tak ada jalan lagi untuk aku tetap bersama Mas Zaidan." Gumamnya dengan masuk ke dalam kamarnya dengan memengang dadanya yang terasa nyeri.
Dia mengambil ponsel yang berada di balik kantong celananya, sebelum Zaidan pergi dari hadapannya dia memasukkan sesuatu di saku celana Nana, yang Nana sendiri tidak tau apa, karena Zaidan hanya mengatakan. "Aku akan menghubungimu nanti."
Nana menatap lekat ponsel yang di berikan Zaidan padanya, sudah lama dia tak berkomunikasi dengan Zaidan semenjak ponselnya di sita oleh Abangnya sehingga Nana tak bisa menghubunginya, tapi sesaat Nana mengatahui jika Rena masuk rumah sakit Keri tiba-tiba memberikan Nana ponsel baru agar mudah di hubungi, tapi dia tau jika ponsel itu sudah di sadap oleh Keri sehingga dia tidak berani menghubungi Zaidan lagi.
"Apa aku menelponnya sekarang dan mengatakan aku tidak bisa bersamanya lagi, dengan kata lain aku menarik kata-kata ku tadi jika aku ingin berjuang bersamanya, tapi pasti dia akan kecewa." Gumamnya pelan. Sehingga Nana berpikir cukup keras apa yang harus dia katakan kepada Zaidan nantinya, apa Nana harus berterus terang saja.
Tak lama ponsel yang di pegangnya berbunyi menandakan ada pesan masuk, dia kemudian melihat ponsel itu dan betapa terkejutnya saat membaca pesannya.
......................
"Aku tunggu di bawah, ayo kita kabur bersama."
🌹🌹 buat kakak author biar semakin semangat update 💪🥰🥳🥳
malah bakal bikin bang Keri tambah marah itu mah . 🤦♀️
maaf ya, Kaka author. ikut esmosi baca nya 🙏