“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Sepanjang jalan pulang, Yuda nyaris tak benar-benar sadar sedang mengendarai motornya ke mana. Helm terpasang terpasang di kepala, angin sore menampar wajahnya, tapi pikirannya tertinggal jauh—pada sepasang mata teduh yang menahan air mata, pada punggung kecil yang dipaksa kuat di rumah yang tak pernah ramah.
Ning.
Setiap kata Bu Sumi. Setiap teriakan Dewi. Setiap tatapan orang-orang di warung tadi—semuanya berputar di kepalanya seperti rekaman rusak yang diputar berulang-ulang.
Anak pembawa sial.
Yuda mengepalkan tangan di setang. Rahangnya mengeras.
Ia berhenti di sebuah coffee shop kecil di pinggir jalan. Bastian sudah duduk di sana, rokok menyala di bibirnya, wajahnya serius begitu melihat Yuda datang.
“Telat,” komentar Bastian singkat.
“Banyak yang terjadi, Bas,” jawab Yuda sambil duduk.
"Apaan? Lu ke sini pake motor itu lagi?"
Yuda tak langsung menjawab, ia mengambil segelas kopi yang sudah disiapkan. Tak langsung diminum.
Beberapa detik hening.
“Lu kepikiran dia, ya?” tanya Bastian akhirnya.
Yuda menghela napas panjang. “Gue liat langsung hari ini, Bas. Rumah itu… bukan tempat buat Ning.”
Bastian mengangguk pelan. Ia sudah tahu cukup banyak, meski tidak semua perlu diucapkan. “Lu yakin mau sejauh itu?”
Yuda menatap kopi hitam di depannya. “Gue pernah janji sama seseorang,” katanya pelan, suaranya turun satu oktaf. “Janji buat jagain dia. Dan sekarang… gue juga pengin. Bukan cuma karena janji.”
Bastian menatapnya lama, lalu mematikan rokok. "Dia... Cepet banget bikin lu berubah pikiran."
Yuda tersenyum kecut.
"Rasanya, .... ada sesuatu yang buat gua ingin bawa dia keluar dari sana," sahut Yuda tanpa ragu.
Bastian tersenyum tipis. "Kalau gitu, jangan setengah-setengah."
Yuda mengangguk. Keputusan itu kini terasa bulat, meski konsekuensinya berat.
****
Di rumah sakit, Dewi melangkah cepat menuju kamar rawat Ridho. Bu Sumi mengikutinya dengan wajah penuh harap. Tanpa izin, mereka masuk.
Ridho sedang duduk setengah bersandar. Matanya menoleh ketika melihat mereka.
“Mas Ridho…” suara Dewi dibuat selembut mungkin. Ia langsung mendekat, menggenggam tangan Ridho. “Alhamdulillah, kamu sadar.”
Ridho menatap wajah Dewi. Ada rasa asing—tapi juga keinginan percaya. “Kita… kenal?”
Dewi tersenyum, matanya berkaca-kaca palsu. “Aku Dewi. Kekasih kamu, Mas.”
Ridho mengernyit. Ada yang janggal, tapi kepalanya masih berat. “Kekasih…?”
“Iya,” sahut Dewi cepat. "Mas... Beneran lupa sama aku juga?" sambungnya terisak.
"Maaf, aku... Enggak ingat apapun."
"Ya Tuhan... Kenapa takdir sekejam ini?" Dewi terisak semakin pilu. "Mas, kita mau nikah. Kita udah rencanain semua. Tapi kamu kecelakaan."
Ridho menatap Dewi, lalu berganti pada bu Sumi. Wanita itu mengangguk pelan.
"Apa benar, dia pacarku? Aku pernah mencintai dia?" pikir Ridho.
"Mas, maafin Dewi. Ibu Mas Ridho nyalahin Dewi gara-gara Mas kecelakaan sepulang dari rumah Dewi. Hiks hiks..."
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
"Apa-apaan ini?" suara ibu Ridho meninggi. Ayah Ridho di belakangnya tampak sama marahnya. "Siapa yang izinkan kalian masuk?"
Bu Sumi terdiam. Dewi kaget sesaat, tapi segera memasang wajah sedih. "Tante, Dewi cuma—"
"Kamu jangan lancang!" potong ibu Ridho tajam. "Masuk kamar anak saya tanpa izin, lalu ngomong sembarangan!"
Ridho menoleh bingung. "Ibu… apa benar Dewi kekasihku?"
Ibunya Ridho menegang. "Tidak."
Dewi langsung menyela, "Mas Ridho, kamu lupa, tapi aku enggak. Kita pacaran lama—"
"Cukup!" suara ibu Ridho bergetar menahan amarah. Tangannya mengepal. "Dia celaka selepas dari rumah kalian! Kalian tidak berhak di sini!"
Melihat ibunya yang marah pada Dewi, Ridho merasa apa yang Dewi katakan benar.
"Dewi mungkin benar kekasihku, buktinya, ibu benar marah pada Dewi. Seperti yang Dewi katakan," pikir Ridho.
"Ibu! Cukup!"
"Ridho..." suara Bu Pur melemah.
"Biarkan Dewi di sini."
"Ridho! Kamu hilang ingatan, Nak. Jangan percaya padanya."
"Tapi... Dia orang terdekat. Dia bisa bantu aku mengingat agar ingatanku cepat kembali, kan?"
Bu Pur menarik napas dalam-dalam, menatap anaknya yang tampak pucat dan bingung. Ia tak ingin anaknya dimanfaatkan begini. Tapi, bisa Bu Pur lihat, keinginan Ridho untuk mengingat masa lalunya.
Ia memilih diam. Tapi tatapannya pada Dewi penuh peringatan.
"Jika kau macam-macam, aku enggak akan tinggal diam."
Dewi menelan ludah. Ia tahu, untuk sekarang, ia belum bisa melawan. Namun, setidaknya dia sudah dapatkan Ridho untuk bisa dia pengaruhi.
****
Malam mulai turun ketika Dewi dan Bu Sumi pulang. Di rumah, Ning sedang berdiri di atas sajadah, salat dengan khusyuk. Dewi melihatnya dari kejauhan, rasa kesal kembali membuncah.
"Sok agamis! Sok alim!" sindir Dewi sinis begitu Ning selesai dan menoleh. "Doanya buat siapa? Buat ngerebut calon orang?"
Ning menunduk. "Ini kewajiban, Mbak."
"Halah," Dewi mendengus. Ia pindah ke ruang tamu, lalu berteriak. "Ning! Ambilin minum!"
Ning menghela napas. Selalu begitu. Dia memang selalu diperlakukan seperti babu. Tidak masalah, Ning iklas melakukannya. Ia anggap sebagai balasan pada wanita yang merawatnya. Apalagi, sedari kecil, terus-terusan disebut anak pelakor. Tidak tau diri dan kalimat yang menyakitkan.
"Ning! Beresin tuh, kulit kacang!"
Ning kembali menurut.
Hingga akhirnya Dewi menyandarkan tubuhnya, menyilangkan kaki. "Denger ya. Aku udah ketemu sama Mas Ridho dan kami berniat buat nikah tahun ini. Jadi, biar kamu enggak jadi penganggu, kamu nikah aja sama Yuda."
Ning tertegun. "Maksud, Mbak?"
"Goblok banget! Gitu aja enggak ngerti! Nikah. Kelar. Kamu keluar dari rumah ini."
Ning terdiam. Dadanya sesak.
"Jangan kamu pikir bisa merusak kebahagiaan ku sama Mas Ridho ya. Jangan jadi kayak Ibumu!"
"Mbak... Aku..."
"Apa? Kamu mau nolak ? Udah bagus kamu sama Si tukang ojek itu! Kamu tuh enggak pantes sama Mas Ridho!" Dewi berdiri, emosinya naik."Jadi, jangan pernah berpikir buat rebut Mas Ridho dariku!" Tangannya mendorong bahu Ning kasar.
Tubuh Ning oleng... Kruk yang jadi penyeimbang lepas dari tangan. Suaranya berdentang beradu dengan lantai. Ning limbung, dia sudah siap jatuh ke lantai yang keras...