Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Matahari di taman bermain Los Angeles hari itu terasa begitu bersahabat, menghangatkan tawa anak-anak yang berlarian. Paroline, Fharell, dan Andreas baru saja selesai menaiki komidi putar kecil. Andreas tampak sangat bersemangat, kakinya yang mungil terus menendang-nendang pelan di udara karena kegirangan.
Tiba-tiba, Paroline merasa perlu ke toilet. Ia merapikan sedikit gaunnya dan menatap Fharell yang sedang sibuk membetulkan letak topi Andreas yang miring.
"Fharell, aku titip Sunny sebentar ya? Aku ingin ke toilet sebentar," ujar Paro. Ia kemudian membungkuk, mengusap pipi Andreas dengan penuh kasih. Tanpa sadar, karena sejak tadi telinganya terus-menerus mendengar Andreas memanggil Papa, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya secara alami.
"Main dulu sama Papa ya, Sayang. Mama ke toilet sebentar."
Setelah mengucapkan itu, Paroline langsung berbalik dan berjalan cepat menuju deretan toilet umum. Ia bahkan tidak sempat menyadari apa yang baru saja ia katakan. Kalimat itu keluar begitu tulus, seolah-olah Fharell memang bagian dari potongan puzzle hidup mereka yang selama ini hilang.
Di tempatnya berdiri, Fharell mematung. Kata Papa yang diucapkan Paroline barusan terasa seperti sengatan listrik yang manis, menjalar dari telinga langsung ke jantungnya. Ia menatap punggung Paroline yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.
Deg.
Jantung Fharell berdegup dua kali lebih kencang. Ia sudah sering menggoda Paroline, sudah sering mengklaim dirinya sebagai ayah Andreas di depan teman-temannya. Tapi mendengarnya langsung dari mulut Paroline, wanita yang ia kagumi karena kekuatannya—memberikan dampak yang jauh lebih besar.
"Dia... dia baru saja memanggilku Papa?" gumam Fharell pelan. Senyum lebar yang tidak bisa ia tahan perlahan merekah di wajah tampannya.
Fharell menunduk, menatap Andreas yang sedang menatapnya balik dengan mata besar yang jernih. Ada perasaan hangat yang membuncah di dadanya, perasaan yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa penasaran mahasiswa baru pada senior yang cantik.
"Apakah aku benar-benar jatuh cinta padanya? Bukan hanya sebagai pria yang tertarik pada kecantikannya, tapi sebagai pria yang ingin mengisi ruang kosong di hidupnya dan anak ini?" pikir Fharell dalam hati.
Ketakutan Fharell akan komitmen yang biasanya ia miliki seolah luntur seketika. Kegembiraan itu membuatnya merasa luar biasa bersemangat. Ia mengangkat Andreas tinggi-tinggi ke udara, membuat bayi itu tertawa terpingkal-pingkal.
"Hey, Sunny! Kau dengar itu? Mamamu baru saja memberiku mandat!" Fharell berbicara pada Andreas dengan nada yang sangat antusias, benar-benar mirip seorang ayah muda yang baru saja mendapatkan hadiah terbaik di dunia.
"Dengar ya, Jagoan. Papa menyayangimu. Benar-benar menyayangimu," ujar Fharell sambil mendekap Andreas, lalu menciumi kedua pipi bayi itu hingga Andreas kegelian.
Fharell mulai berjalan-jalan di sekitar area bermain sambil terus mengoceh pada Andreas. Sisi humorisnya kini bercampur dengan insting kebapakan yang anehnya muncul begitu alami.
"Nanti kalau kau sudah besar, Papa akan ajari kau cara mengemudi mobil sport, oke? Tapi jangan bilang Mama. Dan kita akan pergi ke pertandingan basket bersama. Kau harus jadi pria yang pintar dan kuat untuk menjaga Mama Paro, mengerti?"
Ia bahkan mulai mengatur kereta bayi Andreas dengan sangat cekatan, memeriksa botol susu di tas bayi, dan memastikan Andreas tidak kepanasan. Fharell terlihat sangat telaten, benar-benar jauh dari citra pewaris Desmon Group yang biasanya dikelilingi kemewahan dan pelayan.
"Sunny, ayo bilang lagi... Pa-pa," pancing Fharell dengan wajah penuh harap.
"Pa... pa...!" sahut Andreas dengan riang, tangannya menepuk-nepuk pundak Fharell.
Fharell tertawa lepas. Di tengah taman bermain yang ramai itu, ia merasa telah menemukan tujuannya yang baru. Ia tidak lagi peduli pada usianya yang baru 19 tahun, atau bagaimana dunia akan memandangnya. Baginya saat ini, senyuman Andreas dan pengakuan tidak sengaja dari Paroline adalah segalanya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰