Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Audit dan Luka Lama
Rapat luar biasa Ardhana Capital diadakan dua hari setelah berita lama itu kembali mencuat.
Ruangan dewan dipenuhi wajah-wajah yang selama ini hanya menatap Alina sebagai simbol bukan pemimpin. Beberapa tampak gelisah, beberapa lain jelas tidak senang.
Pamannya duduk di ujung meja panjang, ekspresinya datar.
Alina masuk tanpa ragu.
Hari ini ia tidak memakai warna lembut seperti biasanya. Setelan hitam sederhana membingkai sikapnya yang tegas. Rambutnya diikat rapi. Tidak ada perhiasan mencolok.
Hanya ketenangan.
“Rapat saya buka,” ucapnya jelas.
Beberapa anggota dewan saling berpandangan.
“Kita di sini karena artikel yang terbit kemarin,” lanjut Alina. “Dan saya tidak ingin Ardhana Capital terlibat dalam konflik keluarga yang berujung pada instabilitas pasar.”
Pamannya menyandarkan tubuh.
“Jadi?” tanyanya ringan.
“Saya mengusulkan audit forensik independen atas laporan keuangan lima tahun sebelum kasus lama itu mencuat,” kata Alina.
Ruangan langsung riuh.
“Untuk apa membuka luka lama?” sergah salah satu anggota dewan senior. “Kasus itu sudah berlalu.”
“Justru karena belum pernah benar-benar diselesaikan,” jawab Alina tenang. “Reputasi perusahaan keluarga saya hancur tanpa keputusan hukum yang jelas. Dan sekarang isu itu digunakan lagi.”
Tatapannya beralih ke pamannya.
“Jika kita yakin tidak ada kesalahan internal, audit hanya akan memperkuat posisi kita.”
Keheningan menyebar.
Pamannya tersenyum tipis. “Kau ingin membersihkan nama ayahmu dengan menyeret perusahaan ini?”
“Saya ingin membersihkan nama Ardhana,” balas Alina.
Nada suaranya tidak naik.
Tapi tegas.
Salah satu direktur muda angkat bicara. “Jika audit menemukan pelanggaran, dampaknya bisa besar.”
“Jika ada pelanggaran,” ulang Alina, “maka kita memang harus menghadapinya.”
Ia berdiri lebih tegak.
“Saya adalah pemegang saham mayoritas. Dan sebagai pemimpin, saya memilih transparansi daripada ketakutan.”
Kata-kata itu menggantung berat di udara.
Akhirnya, setelah diskusi panjang dan tatapan tak bersahabat, usulan audit disetujui dengan suara tipis.
Pamannya tidak menyetujui.
Tapi ia juga tidak bisa menghentikannya.
Sore itu, Alina duduk sendirian di ruang kerjanya di kantor Ardhana.
Keputusan sudah diambil.
Namun jantungnya tetap terasa berat.
Pintu diketuk pelan.
Arsen masuk.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Alina mengangguk kecil. “Audit disetujui.”
Arsen menghela napas lega. “Itu langkah besar.”
“Langkah berbahaya,” koreksi Alina.
Arsen duduk di hadapannya.
“Bahaya yang perlu.”
Alina memijat pelipisnya.
“Aku tahu Paman tidak akan tinggal diam. Dia pasti sudah menyiapkan sesuatu.”
Arsen terdiam sejenak.
“Kalau audit menemukan bukti pemalsuan tanda tangan ayahmu, itu bisa jadi kasus hukum.”
“Dan kalau tidak?”
“Kalau tidak, kita tetap punya narasi bahwa kau memilih transparansi.”
Alina menatapnya lama.
“Kau selalu melihat dua sisi,” katanya pelan.
“Karena aku tidak bisa kehilangan lagi,” jawab Arsen tanpa sadar.
Alina terdiam.
“Apa maksudmu?”
Arsen tersenyum samar, tapi matanya tidak.
“Dulu, ketika ayahku sakit keras, keluarga besar berebut posisi sebelum ia benar-benar pergi. Aku berdiri di tengah kekacauan itu sendirian.”
Ia menunduk sebentar.
“Aku tidak ingin melihatmu melalui hal yang sama tanpa seseorang di sampingmu.”
Hati Alina terasa hangat dan perih sekaligus.
Ia bangkit dan berdiri tepat di depan Arsen.
“Kau tidak sendirian waktu itu,” katanya lembut. “Kau hanya belum tahu siapa yang berdiri diam di belakangmu.”
Arsen mengangkat wajah.
“Apa maksudmu?”
Alina tersenyum tipis.
“Aku mengikuti perkembangan Wijaya Group bahkan sebelum kita menikah. Ketika keluargamu berusaha menyingkirkanmu dari posisi CEO, aku memastikan beberapa investor besar tetap percaya padamu.”
Arsen membeku.
“Kau… sudah melindungiku?”
“Aku tidak ingin pemimpin seperti dirimu jatuh hanya karena intrik keluarga.”
Keheningan menyelimuti mereka.
Kali ini bukan karena konflik.
Tapi karena kesadaran baru.
“Aku kira kau hanya memanfaatkan pernikahan ini,” gumam Arsen.
“Awalnya mungkin,” jawab Alina jujur. “Tapi tidak semuanya.”
Tatapan mereka bertemu.
Tanpa jarak.
Namun dunia luar tidak memberi mereka waktu terlalu lama untuk momen tenang.
Malam itu, seorang auditor independen menelepon Alina.
“Kami menemukan sesuatu,” suara di ujung sana terdengar serius.
Jantung Alina berdegup cepat.
“Apa?”
“Dokumen transfer dana yang mencurigakan ternyata terhubung dengan perusahaan konsultan yang dimiliki kerabat dekat anggota dewan lama.”
“Siapa?”
Nama yang disebut membuat napasnya tercekat.
Itu bukan hanya pamannya.
Tapi juga salah satu sepupunya orang yang selama ini bersikap netral.
“Apakah ada bukti pemalsuan tanda tangan?” tanya Alina pelan.
“Ada indikasi kuat. Kami masih mengumpulkan verifikasi grafologi.”
Setelah telepon ditutup, Alina duduk terdiam.
Ini bukan lagi dugaan.
Ini hampir menjadi fakta.
Arsen melihat perubahan di wajahnya.
“Sudah ada hasil?”
Alina mengangguk perlahan.
“Dan?”
“Lebih besar dari yang kita kira.”
Ia menceritakan semuanya.
Arsen mendengarkan tanpa menyela.
“Jika ini dipublikasikan, Ardhana bisa terguncang hebat,” katanya akhirnya.
“Aku tahu.”
“Tapi ini juga kesempatan membersihkan semuanya.”
Alina menatap jendela, melihat pantulan dirinya sendiri di kaca.
Seorang wanita yang dulu bersembunyi di balik nama kecil.
Kini berdiri di ambang keputusan yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan warisan keluarganya.
“Aku tidak takut kehilangan jabatan,” katanya pelan. “Aku hanya takut menghancurkan keluarga sepenuhnya.”
Arsen berdiri di belakangnya.
“Keluarga yang dibangun di atas kebohongan sudah retak sejak awal.”
Kalimat itu sederhana, tapi benar.
Alina menutup mata sejenak.
“Aku akan menunggu laporan final,” katanya. “Dan setelah itu, aku sendiri yang akan mengumumkannya.”
Arsen memegang tangannya.
“Aku bersamamu.”
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Alina merasa luka lama ayahnya bukan lagi beban pribadi.
Itu menjadi perjuangan bersama.
Namun jauh di dalam, ia tahu
Saat kebenaran diumumkan, bukan hanya pamannya yang akan jatuh.
Seluruh fondasi kekuasaan lama Ardhana akan runtuh.
Dan di atas reruntuhan itu, ia harus berdiri sebagai pemimpin baru.
Pertanyaannya bukan lagi siapa mempermainkan siapa.
Melainkan
Apakah ia siap membayar harga untuk kebenaran itu?
(BERSAMBUNG)