Lu Mingyu adalah seorang gadis muda yang bergabung di kelompok dunia bawah, tugasnya sebagai mata mata di kelompoknya, Mingyu sudah terbiasa mendapat luka tembak ataupun benda tajam di tubuhnya, bagi Mingyu itu adalah simbol dari sosoknya yang pemberani dan tidak takut pada apapun, selain itu Mingyu juga memiliki sifat yang babar dan juga suka ceplas ceplos saat berbicara, menurut Mingyu yang paling menakutkan bukanlah musuh yang ingin membunuhnya, melainkan jika tidak punya uang, karna Mingyu gadis yang sangat matrealistis.
Dan suatu hari Mingyu tidak pernah terpikirkan kalau dirinya akan masuk ke jebakan lawan, mobil Mingyu berhasil di sabotase, yang menyebabkan remnya blong dan menabrak pembatas jalan hingga meledak, dan api besar itu melalalap habis tubuh Mingyu yang terkunci di dalam mobil.
Dan saat membuka matanya Mingyu berfikir kalau dia sudah berpindah ke alam baka, karna melihat bangunan sekelilingnya di penuhi dengan warna kuning keemasan, di tambah saat dia melihat tam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Negara Yan
Di salah satu rumah seorang perdana Mentri Negara Yan, terlihat seorang gadis muda duduk di gazebo taman samping rumahnya, dia adalah Lu Mingyu putri satu satunya perdana mentri Lu, yang terkenal bodoh dan juga keras kepala, tapi Lu Mingyu memiliki wajah yang cantik dan juga lahir dari orang tua yang sangat kaya raya, yang menjadi kannya masih memiliki kepercayaan diri.
Sayangnya di Negara Yan wajah cantik atau lahir dari orang tua kaya raya bukanlah sesuatu yang bisa di banggakan, jika tidak memiliki bakat apapun mereka akan tetap di pandang rendah oleh masyarakat di negara Yan, meskipun gadis itu anak pejabat sekalipun.
Dan satu bulan yang lalu Negara Yan di hebohkan dengan berita kalau pria idaman para gadis di negara Yan akan menikah.
Pangeran Rong Cheng atau biasa di panggil dengan Jendral Rong, dia adalah adik bungsu kaisar negara Yan, memiliki wajah yang sangat tampan menjadikan Jendral Rong sebagai idola para gadis muda ataupun tua di negara Yan.
Pangeran Rong Cheng sudah masuk militer sejak usianya baru enam belas tahun, dan saat usianya menginjak dua puluh tahun Pangeran Rong Cheng menjadi pemimpin anggota militer di seluruh negara Yan, dan sejak menjadi pemimpin anggota militer Pangeran Rong Cheng hampir tidak pernah pulang ke istana, dia selalu menghabiskan waktunya di kamp militer.
Hingga suatu hari Pangeran Rong Cheng di panggil kembali oleh Ibunya, karna harus menikah dengab gadis yang sudah di jodohkan oleh mendiang Ayahnyanya atau kaisar sebelumnya.
Masyarakat terkejut saat tahu kalau wanita yang di nikahi oleh Jendral Rong adalah putri perdana mentri Lu, mereka sangat menyangkan perjodohan itu, dari segimanapun Lu Mingyu tidaklah pantas bersanding dengan Jendral Rong.
Sedangkan Lu Mingyu sendiri, dia juga salah satu gadis yang sangat mengidolakan Jendral Rong, Mingyu sangat bahagia saat tahu kalau ternyata dirinya di jodohkan dengan Jendral Rong.
Tapi setelah acara pernikahan mereka selesai, Mingyu harus menelan kenyataan pahit ketika Jendral Rong meninggalkannya di saat malam pengantin mereka, Jendral Rong memilih kembali ke kamp militer saat itu juga.
''Aku peringatkan kamu, untuk tidak berharap apapun di dalam pernikahan ini'' ucap Jendral Rong saat itu dengan expresi datar, lalu keluar meninggalkan Mingyu sendirian di kamar pengantin.
Selama beberapa hari di kediaman Jendral Rong, Mingyu selalu menjadi bahan gosip para pelayan, membuat Mingyu tidak betah dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kediaman Lu.
Setiba di kediaman Lu, Mingyu terus mengurung diri di kamarnya, setiap hari Mingyu terus berharap kalau Jendral Rong pulang dan menjemputnya, tapi hingga hampir tiga minggu belum juga ada tanda tanda Jendral Rong akan kembali, hingga suatu hari Mingyu yang terus melamun menunggu Jendral Rong, tidak sengaja terpeleset di kolam taman kediaman Lu, hingga membuatnya pingsan selama tiga hari, dan saat bangun jiwa yang ada di dalam raga Mingyu sudah di tempati oleh jiwa lain yabg memiliki nama yang sama Lu Mingyu gadis mata mata dari abad dua satu.
''Hah''
Mingyu menghela nafasnya, sembari menyangga dagunya dengan kedua tangannya, dia masih tidak menyangka kalau jiwanya akan melakukan perjalanan waktu ke zaman kerajaan antah berantah, dan menempati raga orang lain yang kebetulan namanya sama dengannya, dan sialnya raga yang ia tempati adalah milik seorang istri yang tak di anggap oleh suaminya, mana masih di kenal bodoh pula dan tak punya bakat lagi, tapi Mingyu masih bersyukur karna raga yang ia tempati putri orang kaya, setidaknya dia tidak perlu bekerja bertaruh nyawa seperti di kehidupannya jika ingin membeli ini dan itu.
''Mingyu''
Mingyu langsung menegakkan tubuhnya, saat Tuan Lu atau ayah Mingyu berjalan ke arahnya.
''Ayah'' sapa Mingyu tersenyum.
''Sedang apa di sini?'' tanya Tuan Lu sembari duduk berhadapan dengan putri semata wayangnya.
Walaupun putrinya bodoh dan tidak memiliki bakat apapun, tapi Tuan Lu sangat menyangi Mingyu, bagi Tuan Lu putrinya adalah sebuah anugrah yang di titipkan oleh Tuhan, yang harus ia jaga dan sayangi, apa lagi sejak istri Tuan Lu meninggal lima tahun yang lalu, Tuan Lu semakin menyayangi Lu Mingyu.
Sayangnya Tuan Lu tidak tahu yang sudah di lakukan oleh Jendral Rong Cheng padan putrinya, karna Mingyu tidak cerita apapun, saat dia kembali ke kediaman Lu, Mingyu hanya mengatakan kalau dia merindukan Ayahnya, dan juga mengatakan kalau Jendral Rong juga harus kembali ke kamp militer, Mingyu tidak pernah menceritakan jika Jendral Rong kembali ke kamp saat malam pengantin mereka, andai Tuan Lu tahu sudah di pastikan dia akan sangat murka.
''Mingyu, nanti sore Ayah harus pergi ke negara tetangga sebagai utusan kaisar'' ucap Tuan Lu agak berat, karna harus meninggalkan putrinya yang baru saja mengalami kecelakaan.
''Berapa hari Ayah?'' tanya Mingyu spontan.
''Mungkin tiga hari''
Mingyu langsung mengulum senyum, akhirnya dia punya kesempatan untuk bebas selama tiga hari.
''Kalau begitu Ayah hati hati, Ayah harus pulang dengan selamat'' ucap Mingyu dengan tersenyum menunjukkan wajah cantiknya.
Tuan Lu juga ikut tersenyum menganggukkan kepala, sembari mengusap surai hitam milik putrinya.
Malam hari Mingyu sudah berpakian seperti prajurit pria, dia berdiri di depan cermin sembari merenggangkan kedua tangannya.
''Hah, rasanya seperti sudah sangat lama tidak berolahraga, apa mungkin ini bawaan dari pemilik tubuh asli'' gumam Mingyu merasakan kaku di sekujur tubuhnya, setelah beberapa saat melakukan
pemanasan dengan gerakan taekwondo.
Tok
Tok
''Masuk!!'' seru Mingyu.
Ceklek
''Nona makan ma,, siapa kamu?!!'' pekik Xiao Fe terkejut melihat pria di dalam kamar Nona Mudanya.
Mingyu langsung membalikkan badannya, dan Xiao Fei seketika membulatkan matanya.
''Nona!''
Mingyu menghampiri Xiao Fei sembari tersenyum.
''No,, Nona, kenapa anda berpakian seperti ini?''
''Fei, aku mau jalan jalan, mumpung Ayah pergi'' sahut Mingyu sembari menutup wajahnya dengan kain tipis berwarna hitam.
''Ta,, tapi kenapa anda harus berpakaian seperti ini?'' tanya Xiao Fei.
Mingyu tersenyum di balik cadarnya. ''Tentu agar tidak ada yang mengenaliku'' ujarnya lalu meraih pisau yang ada di atas buah apel.
''Fei, aku pergi dulu''
''Nona saya ikut''
''Tidak perlu, kamu tunggu di sini saja, aku akan kembali sebelum fajar'' tukas Mingyu dan berlalu pergi melompati jendela kamar.
Xiao Fei terkejut melihat Nonanya dengan mudah melompati jendela kamar, sesuatu yang belum pernah dia lihat sama sekali, tapi beberapa detik kemduian Xiao Fei tersadar, lalu dia buru buru mengejar Nonanya tapi sudah tidak ada.
''Kenapa setelah kejadian terpeleset di kolam, sikap Nona terlihat berbeda'' gumam Xiao Fei.
Saat ini di dalam hutan dekat perbatasan, Mingyu dengan santai duduk di tepi sungai seorang diri, tadi setelah berjalan jalan cukup lama, Mingyu menemukan tempat yang sangat pas untuk menikmati suasana malam, pemandangan di tepi sungai di hutan perbatasan sangatlah indah, jadi Mingyu memilih duduk di sana sembari melahap buah buahan yang ia ambil dari dalam hutan tadi.
''Hah,, andai ada ponsel, langsung aku abadikan moment malam ini'' gumam Mingyu menatap gemerlap bintang di langit malam.
Dan beberapa saat kemudian Mingyu di kejutkan dengan suara pedang yang saling bersahutan.
Trang
Trang
''Sepertinya ada yang bertarung'' gumam Mingyu.
Karna penasaran Mingyu memilih pergi untuk melihat.