Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Malam itu, Rayyan menyelamatkan Lilis yang hendak di lecehkan seseorang, tapi Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang membuat warga desa salah paham, hingga mengharuskannya menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
#30
Suasana kamar masih panas padahal pendingin udara sudah menyala dengan suhu yang paling dingin. Namun, Rayyan belum juga mendapatkan kepuasannya, padahal Lilis mulai kelelahan, karena sudah beberapa kali mencapai pelepasan.
Diantara rasa perih dan penuh sesak di bawah sana, Lilis kembali merintih, mengerang saat Rayyan kembali iseng berhenti di sela-sela permainannya.
Rayyan menikmati wajah Lilis yang frustasi, suara erangan dan desahan wanita itu seolah menjadi bahan bakar tambahan baginya. Hormon endorfin benar-benar menguasai dirinya saat ini, apalagi kini ia tahu bahwa ini sama-sama pengalaman pertama kalinya bagi mereka. Rayyan mau gila rasanya, karena terlalu bahagia.
Ternyata keikhlasan dan niat baiknya menikahi Lilis, kini berbuah manis. Mantan suami Lilis benar-benar pria bodoh, karena melepaskan permata seindah ini. Dan bersyukur sekali karena malam itu Rayyan tak datang terlambat, jika terlambat sedikit saja, mungkin Karman sudah berhasil mengoyak Lilis tanpa ampun.
Pria bernama Karman itu, tinggal menunggu nasibnya saja, karena Rayyan sudah menyebar orang-orang untuk menemukan keberadaan pria itu.
Beberapa saat kemudian, jeritan kecil Lilis menjadi pertanda, ditambah Rayyan pun mulai tak tega melihat wajah lelah istrinya. Sesaat kemudian gelenyar rasa nikmat memancar seketika, manakala Rayyan melepaskan semua ada di dalam tubuhnya, semoga segera membuahkan hasil. Jika sudah berhasil, Rayyan yakin kedua orang tuanya tak akan marah lagi.
Saat ini, tubuh keduanya basah setelah sesi olahraga malam mereka berakhir, walau belum rela mengakhirinya, tapi mau tak mau Rayyan harus memisahkan diri mereka. Istirahat sejenak, bukan ide yang buruk, karena mereka selalu bisa mengulangnya kapanpun dan dimanapun, asal tidak ada yang menghalangi.
Rayyan masih berbaring dengan tubuh lemas, tak ingin egois, pria itu pun menarik Lilis ke pelukannya. Kulit mereka yang basah saling menempel satu sama lain, Rayyan mengecup dan mengusap rambut di kepala istrinya. “Terima kasih, Sayang.”
‘Sayang’
Kalimat itu sungguh berhasil membuat Lilis melayang di awang-awang, dirinya merasa semakin lengkap, di sayangi, dan di hargai. Tak seperti suami pertamanya yang hanya bisa memberinya luka tak kasat mata.
Pelukan Lilis semakin erat, “Aku pun bahagia memberikannya padamu, Mas.” Suara Lilis terdengar samar, karena terlalu lelah pada percobaan pertama mereka.
Rayyan menarik selimut, guna menutupi tubuh mereka yang masih polos, “Boleh Mas bertanya sesuatu?”
“Hmm, mau tanya apa?” Walau kedua matanya nyaris terpejam, Lilis masih berusaha menjawab pertanyaan Rayyan.
“Tolong jangan tersinggung, ya, karena aku murni hanya ingin tahu, agar kedepan kita bisa mengantisipasi keadaan. Jangan sampai kesalahan serupa terjadi di pernikahan kita.”
Lilis tak menyangka Rayyan yang menikahinya secara tiba-tiba, ternyata memiliki pemikiran dan pemahaman se dewasa itu. “Mas mau tanya apa, sih?”
“Kenapa suamimu tak pernah menyentuhmu?”
Pertanyaan Rayyan membuat suasana menjadi tegang setelah rileks beberapa saat yang lalu. Lilis jadi mengingat lagi kepahitan dan hinaan yang pernah Dio lemparkan kepadanya.
“Karena pria itu menginginkan wanita lain menjadi istrinya, kekasih yang telah lama ia pacari, bahak mereka berzina di kamar yang sehari-hari kupergunakan untuk istirahat. Kelakuan mereka, benar-benar menjijikkan, aku—”
Rayyan menghentikan ucapan Lilis, “Sudah cukup, jangan ditambahkan umpatan lain, aku tak suka, calon ibu dari anakku mengucap kalimat kasar.”
Blush!
“Ca-lon ibu, Mas?” tanya Lilis tak percaya, desiran halus menyebar ke seluruh tubuhnya.
“Iya, Mas sangat berharap, semoga anak kita segera hadir di sini,” harap Rayyan sambil mengusap perut Lilis yang masih Rata.
“Mas, serius?”
“Serius, dong, memang kamu tidak?”
Bukan Lilis tak mau, ia hanya terlalu bahagia, sampai-sampai belum percaya dengan ungkapan hati suaminya. “Bukan begitu maksudku, biasanya pasangan muda ingin menunda, apalagi kita belum pernah berpacaran sebelumnya.”
Rayyan menggeram pelan demi menahan sesak dan rasa sakit di dalam dada, ketika ingat pengkhianatan Mitha. Padahal ia sudah berkorban materi dan perasaan sedemikian besar demi kelangsungan hubungan mereka.
“Aku setuju, tapi tak apalah bila kita pacaran sambil menggendong anak. Karena pacaran sebelum menikah itu melelahkan,” ungkap Rayyan.
“Kenapa, Mas? Apakah Mas pernah merasakan kepahitan melebihi yang aku rasakan?”
“Kurang lebih sama, walau aku tak tahu sudah sejauh apa hubungan mereka, tapi aku bersyukur, karena Tuhan membukakan kedua mataku saat ini. Tak terbayang jika aku mengetahuinya setelah kami menikah, karena aku tak berharap wanita seperti dia menjadi calon ibu bagi anak-anakku kelak.”
Tiba-tiba perasaan Lilis melambung tinggi, “Kedua orang tuaku sudah berusia senja, aku ingin mereka merasakan bahagianya menimang cucu dari kita. Terutama Papa, karena aku adalah satu-satunya putra beliau.”
“Kenapa begitu, Mas?” tanya Lilis yang mulai penasaran dengan cerita suaminya.
“Nanti saja aku ceritakan pelan-pelan, kita masih punya banyak waktu bersama, kan?”
“Baiklah, aku menunggu.”
Sebelum benar-benar tidur, keduanya bersih-bersih badan, agar tidur lebih nyaman.
cepet pulih ya lis
pantes lah kalau kurang gizi, lilis banting tulang buat nyari uang kebutuhan emak tiri