Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Kalimat-kalimat dari Tuan Aris bagaikan petir yang menyambar kesadaran Adnan di tengah badai penyesalannya.
Kata "Tabayyun" terus bergema di telinganya, menghakimi setiap jengkal kesombongannya yang kemarin merasa paling benar.
Teguran keras dari Tuan Aris menyadarkan Adnan sepenuhnya bahwa ia telah gagal menjadi nahkoda bagi rumah tangganya sendiri.
Ia telah menukar iman dan logika sehatnya dengan emosi sesaat yang dipicu oleh fitnah murahan.
Dengan langkah gontai namun penuh tekad, Adnan menuju musala rumah sakit yang sepi di ujung lorong.
Di bawah cahaya lampu yang temaram, ia bersujud di hadapan Sang Pencipta.
Ia melakukan sholat taubat dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Setiap bacaan salatnya terputus oleh isak tangis yang tertahan.
Saat sampai pada gerakan terakhir, Adnan bersujud sangat lama.
Dalam sujud itu, ia menumpahkan segala kehinaannya, mengakui betapa kerdilnya ia sebagai seorang suami dan seorang ustadz yang seharusnya menjadi pelindung.
"Ya Allah, hamba yang zalim ini memohon ampunan-Mu. Hamba telah menyakiti titipan-Mu yang paling berharga dengan lisan dan keraguan hamba. Kembalikan lah kesadaran Kinan, Ya Allah. Meskipun setelah itu hamba harus kehilangan dia selamanya karena perceraian yang ia minta," rintih Adnan dalam sujudnya.
Waktu seolah berhenti. Adnan tenggelam dalam penyesalan yang begitu dalam sampai tidak sadar bahwa di ruang perawatan, sebuah keajaiban kecil sedang terjadi.
Di atas tempat tidur putih itu, jari manis Kinan bergerak sedikit.
Kelopak matanya yang sejak kemarin terbuka tanpa arah, perlahan mulai bergetar.
Kesadarannya yang seolah terkunci di dalam ruang gelap yang sunyi, mulai mendengar suara isak tangis yang sangat ia kenal—suara yang memanggil namanya dengan penuh kepedihan dari kejauhan batinnya.
Meskipun matanya masih menatap kosong, sebuah kristal bening perlahan muncul di sudut matanya yang indah.
Air mata Kinan mengalir melewati pelipisnya, membasahi bantal yang menopang kepalanya yang terbalut perban.
Di tengah ketidaksadarannya, jiwa Kinan seolah sedang berpamitan dengan semua rasa sakit yang ia terima.
Ia menangis dalam diam, meratapi cinta yang ia bangun dengan air mata, namun dihancurkan oleh ketidakpercayaan orang yang ia cintai.
Saat Adnan akhirnya menyelesaikan salatnya dan kembali ke kamar dengan wajah yang basah oleh air mata, ia terpaku di ambang pintu. Ia melihat garis basah di pipi istrinya yang pucat.
"Kinan?" bisik Adnan, suaranya bergetar hebat. Ia berlari kecil mendekat, tangannya gemetar menghapus sisa air mata itu.
"Sayang? Kamu dengar Mas? Kamu bangun?"
Namun, Kinan belum sepenuhnya kembali. Ia hanya menangis dalam "tidur" panjangnya, menyisakan tanda tanya besar bagi Adnan: apakah air mata itu tanda ia memaafkan, ataukah tanda bahwa ia benar-benar sudah siap untuk pergi dari hidup Adnan selamanya?
Jantung Adnan serasa berhenti berdetak saat melihat kelopak mata Kinan perlahan merapat. Setelah berjam-jam menatap kosong, kini Kinan memejamkan matanya sepenuhnya.
Garis air mata yang tadi mengalir masih menyisakan jejak basah di pipinya yang pucat.
Ketakutan hebat seketika menyergap Adnan. Ia takut ini bukan pertanda kesembuhan, melainkan pertanda bahwa istrinya benar-benar menyerah pada rasa sakitnya.
"Kinan? Sayang! Buka matamu, jangan tutup seperti ini!" seru Adnan yang panik.
Suaranya bergetar hebat. Ia berkali-kali menekan tombol darurat di samping tempat tidur dengan tangan yang gemetar. Karena merasa tidak sabar, ia berlari ke pintu lorong dan berteriak sekuat tenaga.
"Dokter! Suster! Tolong istri saya! Matanya tertutup, Dokter!"
Hanya dalam hitungan detik, beberapa perawat dan dokter jaga berlari masuk ke ruangan.
Mereka segera memeriksa denyut nadi dan reaksi pupil Kinan.
Adnan dipaksa mundur, memberinya ruang untuk tim medis bekerja.
Ia hanya bisa berdiri di sudut ruangan, meremas tangannya sendiri sambil terus merapalkan doa di balik bibirnya yang membiru.
"Tenang, Ustadz Adnan. Mohon tunggu di luar sebentar," pinta seorang perawat dengan nada tenang namun tegas.
"Tapi dia tadi menangis, Sus! Dia menangis lalu menutup matanya. Tolong pastikan dia tidak apa-apa," rintih Adnan sebelum pintu kamar itu ditutup rapat di depannya.
Di luar ruangan, Adnan jatuh terduduk di lantai, bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin.
Bayangan wajah Kinan yang memejamkan mata dengan sisa air mata itu terus menghantuinya.
Penantian kali ini terasa jauh lebih menyiksa daripada sebelumnya.
Adnan menyadari bahwa hidupnya kini benar-benar bergantung pada seberapa kuat Kinan ingin bertahan menghadapi luka yang ia goreskan sendiri.
Menit-menit penantian di luar ruang perawatan terasa seperti berabad-abad bagi Adnan.
Ia terus mondar-mandir, sesekali menyandarkan keningnya di kaca pintu yang buram, mencoba menangkap bayangan aktivitas di dalam.
Ketakutan akan kehilangan Kinan secara permanen membuatnya nyaris kehilangan napas.
Akhirnya, pintu terbuka. Dokter keluar sambil melepas sarung tangan medisnya, wajahnya tampak jauh lebih relaks dibandingkan satu jam yang lalu.
Ia menatap Adnan yang sudah berantakan dengan tatapan menenangkan.
"Ustadz Adnan, tenanglah. Ini kabar baik," ucap Dokter sambil menepuk bahu Adnan.
Adnan mendongak, matanya yang sembab menatap dokter dengan penuh harap.
"Bagaimana istri saya, Dok? Kenapa dia memejamkan mata setelah menangis tadi?"
"Itu adalah reaksi emosional yang luar biasa dari alam bawah sadarnya. Penjelasan dokter bahwa Kinan telah melewati masa kritis," jelas sang dokter dengan senyum tipis.
"Momen saat dia menangis menunjukkan bahwa saraf sensoriknya mulai merespons stimulus dari luar. Dan mengenai matanya yang tertutup, kini ia sedang tidur secara alami."
Adnan menarik napas panjang, sebuah kelegaan yang luar biasa menyerbu dadanya hingga ia hampir limbung.
"Tidur alami? Jadi bukan koma lagi, Dok?"
"Bukan. Tubuhnya sangat kelelahan secara fisik dan mental. Saat ini, otaknya sedang melakukan pemulihan. Biarkan dia tidur, jangan diganggu dulu. Ini adalah cara tubuhnya untuk menyembuhkan luka dan trauma yang ia alami. Jika kondisinya stabil seperti ini, kemungkinan besar saat bangun nanti kesadarannya sudah pulih sepenuhnya."
Adnan menyeka air mata yang kembali jatuh, namun kali ini adalah air mata syukur.
"Alhamdulillah, Ya Allah, terima kasih."
"Namun, Ustadz," Dokter menahan langkah Adnan sejenak dengan nada bicara yang berubah serius.
"Kesehatan fisiknya mungkin membaik, tapi kesehatan mentalnya masih sangat rentan. Saat dia bangun nanti, pastikan dia berada di lingkungan yang tenang dan tidak mendapat tekanan emosional lagi. Dia butuh merasa aman."
Adnan mengangguk mantap. "Saya mengerti, Dok. Saya akan menjaganya."
Setelah dokter pergi, Adnan masuk ke kamar dengan langkah sangat pelan, nyaris tak bersuara.
Ia melihat Kinan yang kini tampak lebih tenang. Napasnya teratur, tidak lagi satu-satu seperti sebelumnya.
Wajahnya yang pucat perlahan mulai kembali berwarna.
Adnan duduk di kursi samping tempat tidur, menatap wajah istrinya dengan penuh cinta dan penyesalan yang mendalam.
Ia tahu, perjuangan yang sesungguhnya baru akan dimulai saat Kinan terbangun nanti.
Ia harus siap menghadapi kemungkinan terburuk: kenyataan bahwa Kinan mungkin tetap pada pendiriannya untuk pergi.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅